Menjaga Cengkeraman Pancasila

    0
    31


    “Aku Indonesia, Aku Pancasila
    Garuda di dada, Merah Putih Jaya
    Walau banyak suku dan beda agama
    Dalam Pancasila Indonesia Jaya”.

    Itulah sebait lirik dari lagu “Aku Indonesia – Aku Pancasila”,  yang sarat dengan makna. Lagu yang dipersembahkan untuk memperingati hari lahir Pancasila tiga tahun silam. Baru tiga tahun bangsa Indonesia memperingati secara rutin hari lahirnya Pancasila. Yaitu tanggal 1 Juni, dengan ditandai warna merah dalam kalender nasional.

    Secara historis, lahirnya Pancasila diawali dari usulan Ir. Soekarno. Dasar dari usulan tersebut adalah kebangsaan (nasionalisme), kemanusiaan (internasionalisme), musyawarah, mufakat, perwakilan, kesejahteraan sosial, dan ketuhanan yang berkebudayaan. Yang sering disebut dengan lima prinsip Pancasila.

    Kelima prinsip Pancasila tersebut,  Kemudian ditetapkan dalam UUD 1945 melalui sidang PPKI pada tanggal 18 Agustus 1945. Pelaksanaan penetapan jeda sehari dari hari kemerdekaan Republik Indonesia. Mulai dari lahir, yaitu saat Ir. Soekarno mengusulkan sampai dengan ditetapkannya Pancasila sebagai falsafah bangsa, tidaklah langsung disetujui. Berkali-kali persidangan dilakukan untuk mencapai mufakat dalam menetapkan Pancasila sebagai dasar bangsa.

    Itulah perjuangan para founding fathers kita saat memperjuangkan NKRI, tidak memperdulikan tenaga dan biaya. Semua dilakukan untuk keberlangsungan kehidupan bangsa Indonesia. Saat ini tinggallah kita menikmati hasil perjuangan mereka yang tanpa lelah.

    Seiring berjalannya waktu Pancasila mengalami berbagai guncangan, bahkan pemberontakan-pemberontakan yang bertujuan untuk mengganti Pancasila sudah berlangsung beberapa kali. Diantaranya pemberontakan PKI madiun 1948, Pemberontakan DI/TII tahun 1953, dan pemberontakan PKI tahun 1965. Dari ketiga pemberontakan besar tersebut ternyata pancasila masih bisa mengeluarkan taringnya untuk mempertahankan diri dan masih bisa mencengkeram erat sebagai dasar negara Indonesia.

    Waktu terus berlalu, perubahan begitu cepat. Pola pikir bangsa Indonesia pun berubah. Termasuk generasi milenial, yang merupakan generasi multitasking. Kita tidak akan bisa menduga apa yang terjadi esok hari. Ancaman senantiasa terus mengintai disetiap detik. Yang harus dipikirkan kita semua, masihkah bangsa Indonesia mampu menjaga cengkeraman Pancasila?
    ***

    Ternyata tidak mudah untuk mempertahankan Pancasila di bumi Indonesia. Berbagai ancaman senantiasa menghantui disetiap gerak dan langkah bangsa Indonesia. Ancaman itu ada yang disadari, dan ada yang tidak disadari. Seperti yang terjadi di sebuah sekolah negeri di wilayah saya beberapa bulan yang lalu. Kegiatan ekstra kurikuler khususnya rohis, disorot tajam oleh berbagai elemen. Karena tanpa disadari saat foto bersama salah satu anggota rohis membentangkan bendera dari ormas islam yang diduga bertentangan dengan ideologi Pancasila. Sebuah kekuatiran yang membuncah bagi para penegak NKRI.

    Kita tidak bisa mengelak, bahwa kehidupan di Indonesia adalah beragam. Baik suku, agama, budaya, dan norma-norma kehidupan pun beragam. Namun dengan Pancasila yang di tetapkan sebagai manual book bagi bangsa Indonesia, sejatinya kita adalah satu. Lima sila dari Pancasila yang diorasikan bung Karno dengan berapi-api. Mengapa menggunakan simbol angka lima. Karena bung Karno senang dengan simbolik angka, yang saat itu beliau analogikan dengan jari manusia yang jumlahnya lima, Rukun islam juga ada lima. Bilangan lima yang lainnya adalah ksatria dalam pewayangan yaitu Pandawa Lima.

    Harapan besar bung Karno saat itu, bahwa Pancasila sebagai dasar mendirikan Negara Indonesia yang nantinya Pancasila tetap kekal dan abadi. Pancasila tidak hanya melampaui batas-batas nasional, namun Pancasila bisa digunakan secara internasional. Kata-kata Soekarno yang semakin menggelorakan semangat bangsa Indonesia saat itu, bangunlah dunia ini kembali!, bangunlah dunia ini kokoh, kuat dan sehat!, bangunlah suatu dunia di mana semua bangsa hidup dalam damai dan persaudaraan!, bangunlah dunia yang sesuai dengan cita-cita umat manusia!. Putuskan sekarang hubungan dengan masa lampau!, sehingga kita bisa mempertanggungjawabkan diri terhadap masa depan.

    Pesan moral Soekarno tersebut tak lekang oleh waktu. Jadi mencermati isi dari Pancasila menunjukkan bahwa keberadaan Pancasila tetap bisa mengikuti perkembangan zaman. Hanya bagaimana generasi sekarang mampu memaknai sila-sila dari Pancasila tersebut. Apakah cukup hanya menghafal lambang-lambang Pancasila atau hanya menghafal kalimat yang dituliskan dalam Pancasila tersebut.

    Namun kenyataanya, menghafal pun tidak mampu. Seperti yang pernah saya lihat di layar televisi seorang wakil rakyat saja tidak mampu menghafal dengan benar, apalagi memaknai. Yang akhirnya hanya menjadi bahan lelucon bagi yang melihatnya. Kalau Pancasila sudah menjadi bahan lelucon, maka di mana letak kesakralannya?.

    Memaknai Pancasila memerlukan proses yang panjang, karena makna dari tiap sila harus terinternalisasi dalam setiap jiwa dan manusia Indonesia. Mereka yang memaknai harus benar-benar teruji. Isi dari Pancasila adalah hakekat manusia Indonesia seutuhnya. Sebuah pembiasaan sepertinya diperlukan untuk menggembleng generasi milenial. Karena generasi milenial adalah ksatria masa depan yang akan menahkodai bangsa ini.

    Pendidikan dalam keluarga bisa sebagai alternatif untuk menumbuhkan jiwa pancasilais. Karena dalam keluarga, orang tua bisa melakukan pembiasaan dan improvisasi untuk membantu perkembangan pribadi anak-anaknya. Dalam keluarga bisa dimulai mengenalkan bagaimana berketuhanan, bagaimana berkemanusiaan yang adil dan beradap, bagaimana mewujudkan persatuan, bermusyawarah, dan berkeadilan sosial. Semua dimulai dari lingkup kecil. Apabila orang tua kuat menumbuhkan jiwa pancasilais, niscaya akan tertanam pula dengan kuat jiwa nasionalisme anak. Tentunya dibarengi dengan membiasakan ketataatan pada agama yang dianutnya.

    “Lantas, bagaimana memulainya, orang tua saja belum cukup pengetahuan tentang Pancasila. Berarti ada Pendidikan Pancasila untuk ibu-ibu untuk menguatkan ideologi pancasila pada anak-anaknya?”.

    Seorang ibu menanyakan dengan penuh semangat ketika ngobrol lewat  google meet. Yach, sekedar pengobat rindu tidak pernah ngumpul arisan.

    Akhirnya disepakati pertemuan arisan selanjutnya diisi materi tentang Pancasila, dan narasumbernya ya salah satu ibu yang tergabung dalam arisan di lingkungan kami dan sekaligus guru PPkn di Sekolahnya.

    Eh, saking semangatnya lupa ternyata bulan depan masih protokoler Pandemi covid-19. Batal deh pertemuannya. Tapi, bukankah kita sudah punya slogan Indonesia Terserah. Yah terserahlah, yang penting kita waspada pada kesehatan keluarga kita dan waspada pada ideologi-ideologi yang akan memapar anak-anak kita. Selamatkan Ideologi kita, jangan berideologi terserah. Selamat Memperingati hari lahirnya Pancasila.

    #Selamatkan Pancasila
    #selamatkan keluarga dari Corona

    Views All Time
    Views All Time
    21
    Views Today
    Views Today
    1

    LEAVE A REPLY