MENJALIN TITIK SIMPUL PROGRAM KERJA SEKOLAH

0
18

Saut Marasi Manihuruk, S.Pd.

Sekolah sedikitnya memiliki beberapa titik simpul yang harus dijalin sedemikian rupa agar dapat mencapai visi dan misinya secara utuh.

Titik simpul satu yaitu olah hati, pikir, rasa, dan raga. Dari semua olah ini, harapannya adalah adanya proses pengolahan yang baik sehingga dalam praktik kehidupan siswa sehari-hari termanifestasi dalam daya hati yang baik, daya pikir yang baik, daya rasa yang baik, dan daya raga yang baik.

Titik simpul dua yaitu adanya Penguatan Pendidikan Karakter (PPK) yang dikerangkakan dalam nilai-nilai relijius, nasionalis, mandiri, integritas, dan gotong royong. Tentu saja, penumbuhan nilai-nilai ini memerlukan upaya, proses, waktu, biaya, dan konsistensi dari para pengelola kebijakan di tingkat sekolah. Penumbuhan ini seiring dengan proses penyeimbangan ragam kecerdasan yang dimiliki oleh para peserta didik. Juga, diperlukan ragam pendekatan dan metode untuk menumbuhkembangkan kualitas karakter ini dalam rincian kegiatan sehari-hari yang dirajut sedemikian rupa untuk menghasilkan kualitas lulusan yang sejalan tujuan pendidikan nasional.

Titik simpul tiga, adanya kontinum dari Standar Pelayanan Minimal (SPM) dan Standar Nasional Pendidikan (SNP). Sekolah berkewajiban untuk menetapkan standar yang menaik dari hal-hal yang utama hingga kepada hal-hal lebih utama dalam perjalanan daya dan upaya yang dilakukan untuk menghasilkan insan yang cerdas dan berakhlak mulia. Diperlukan kecermatan untuk menyusun pemenuhan standar ini sesuai dengan analisis K3A dari seluruh warga sekolah. Kontinum ini juga merupakan rencana strategis sekolah dalam mencapai tujuan dan sasaran yang diharapkan secara kolektif di sekolah.

Titik simpul empat, aktivitas yang berbuah pada produktivitas, kreativitas, daya tarik, inovasi, dan pengukuran yang sahih. Langkah-langkah pembelajaran yang disusun dalam Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) idealnya dicirikan oleh nilai-nilai ini. Adakah para guru memiliki refleksi yang segera setelah melaksanakan pembelajaran yang telah ditetapkan durasinya? Adakah para guru secara terus menerus meningkatkan produktivitasnya dari satu RPP ke RPP berikutnya? Adakah setelah menyelesaikan satu standar kompetensi atau kompetensi para guru melakukan pengukuran yang sahih dan ajeg? Adakah kapur dan papan tulis sudah digantikan dengan produk teknologi sehingga pembelajaran berdaya tarik dapat disajikan? Tentu saja, masih banyak pertanyaan-pertanyaan reflektif lainnya untuk tujuan-tujuan hasil tersebut di atas.

Titik simpul lima, pengelolaan pendidikan yang berbasis sekolah atau sering juga disebut Manajemen Berbasis Sekolah (MBS). Diperlukan kepemimpinan sekolah yang kuat dengan menerapkan model-model kepemimpinan yang sesuai kondisi dan tekstual atau kontekstual. Harapannya seluruh model-model ini mampu merajut titik-titik simpul yang ada di sekolah mulai dari yang terlihat secara kasat mata ataupun yang tidak terlihat, mulai dari yang terasakan sampai yang tidak terasakan, mulai dari yang tersurat hingga yang tidak tersirat, mulai dari yang teknis hingga ke yang non teknis. Singkatnya, menjalin titik simpul adalah pekerjaan kita semua di sekolah; oleh karena itu, marilah kita bekerja sama dan sama bekerja untuk merajutnya di hari-hari kerja pedagogis kita dengan harapan kita dapat menghasilkan peserta didik yang mampu bersaing pada zamannya dengan menjadi pemain yang produktif, kreatif, inovatif dan bukan menjadi pelongo yang pasif dan pasrah melewati hari-harinya tanpa dapat berkontribusi secara aktif dan progresif bagi Indonesia kita.

Views All Time
Views All Time
101
Views Today
Views Today
1

LEAVE A REPLY