MENUNGGU WAKTU

0
20

#Menemubaling.
by Endang IGI Sukoharjo

Setelah masing-masing peserta membubuhkan tanda tangan mereka, sesaat hening. Semua duduk dengan tenang dan berpasrah pada Tuhan. Para siswa mengawali sebuah aktivitas dengan harap-harap cemas.Nampak dari wajah-wajah cerdas itu tersirat kekhawatiran akan hasil yang nanti akan mereka peroleh.

Pelan namun pasti, mereka mulai memasukkan username dan password di komputer masing-masing. Dengan hati-hati mereka memeriksa identitas dan mata uji yang harus mereka tempuh hari ini.

Ya, Hari ini adalah hari pertama UN BK tahun 2016-2017. Mata pelajaran yang harus mereka taklukan hari ini adalah bahasa Indonesia. UN BK yang merupakan singkatan dari Ujian Nasional Berbasis Komputer atau Computer Based Test. UN BK yang dilaksanakan di daerah kami pada tahun ini adalah tahun kedua.

Menurut prosedur standar UN BK tahun iniin, seyogyanya setiap laboratorium komputer yang digunakan untuk UN BK hanya berisi 20 peserta dengan 1 pengawas, tetapi masing-masing sekolah yang siswanya ikut UN BK tidak semuanya memiliki fasilitas yang sangat cukup. Biasanya terkait dengan keterbatasan jumlah ruang laboratorium komputer. Maka kebijakan yang ditempuh dan masih dapat ditolerir adalah tiap laboratorium bisa berisi maksimal 40 peserta dengan 2 pengawas dan 1 proktor.

Waktu mulai bergulir perlahan. Rasanya begitu lambat. Meski ruang ini ber-ac namun semakin lama mulai terlihat dari dahi yang mengernyit penuh peluh mengalir. Suara alat pendingin ruangan seakan semakin menambah mencekam suasana.

Di sudut ruangan, seorang peserta terlihat meletakkan kedua tangannya di kepala, seolah ingin menopang beban yang mulai terasa memberati otaknya .Desah nafasnya pun mulai terdengar diselingi bola matanya bermain kesana kemari. Dari kejauhan terlihat lucu sekali.

Semakin lama beberapa siswa mulai nampak kegerahan. Benar kiranya, alat pendingin ruangan ini tak mampu mendinginkan otak mereka yang mulai kepanasan. Mau tidak mau mereka harus menyantap soal-soal ujian yang terpampang.

Sebagian lagi ada yang berkomat-kamit deperti berdoa. Rupanya mereka sedang membaca soal. Mereka lalu tersenyum sendiri .Nampak terlihat mereka yang tersenyum itu bisa menjawab soal tersebut dengan mudahnya.

Detak jam dinding samar-samar terdengar, tik tik tik.Begitu pula suara pinggang yang berkeretek meliuk ke kanan dan ke kiri.

Sebagian siswa masih tampak menikmati hidangan soal di layar monitor dengan khusyuk. Jari-jemari mereka masih asyik menari diatas mouse yang bergoyang pelan diatas meja komputer .Sebuah keyakinan terlihat jelas dari sorot mata mereka bahwa tugas hari pertama UN BK ini bisa mereka lewati dengan sebaik-baiknya.

Tak terasa waktu yang semula bergerak lamban kini seolah berlari. Sesi pertama UN BK pada hari ini sudah hampir mendekati akhir. Seolah tanpa halangan, smua tampak lancar mengalir

Tiba-tiba salah satu peserta mengacungkan telunjuk nya dan mengatakan kalau komputernya error. Dari wajahnya tergurat kecemasan yang amat sangat, begitu pula dengan wajah peserta ujian yang lain. Mereka bertanya-tanya, akankah hal serupa terjadi pada mereka.

Melihat hal itu para petugas ruangan segera mengambil tindakan. Dengan penuh kesigapan proktor dan teknisi segera mengatasi masalah tersebut. Masalah selesai dan peserta tadi bisa kembali bernafas lega dan kembali tersenyum bahagia. Pada akhirnya, dia bisa menyelesaikan 10 nomor soal yang tersisa.

20 menit menjelang akhir nampak seorang siswi terantuk-antuk dengan alunan kepala ke atas dan kebawah. Mungkin saking letihnya berfikir, dia terlihat menikmati rasa kantuk yang menyergapnya. Sesekali matanya melek lalu tangannya kembali memainkan mouse yg dia pegang erat, lalu sejurus kemudian kembali terpejam. Pemandangan ini berlangsung beberapa saat hingga dia benar-benar bisa membuka matanya kembali untuk mengecek jawaban-jawaban dari soal yang dia harus santap selama 2 jam.

Akhirnya UN BK pada hari pertama berhasil dilalui dengan lancar. Semua nampak lega, meski tak dipungkiri masih nampak guratan kekhawatiran di wajah para peserta. Satu hal yang pasti, setidaknya bagian mereka sudah mereka rampungkan dengan sebaik-baiknya. Dan untuk selebihnya, biar Tuhan yang menuntaskan. Semua hanya bisa berserah diri dan berdoa untuk hasil yang terbaik. Semua tinggal menunggu waktu dimana hasil yang akan mereka peroleh tentulah turut ambil bagian dalam torehan nasib pada masa depan mereka……

Views All Time
Views All Time
118
Views Today
Views Today
1

LEAVE A REPLY