MENYIKAPI PERMASALAHAN DI SEKOLAH MELALAUI SUPERVISI PENDIDIKAN

0
28

Candra Sihotang
Guru MTsN 1 Kota Subulussalam
cand.otank90@gmail.com

Secara etimologi supervisi berasal dari bahasa Inggris, yaitu supervision yang artinya pengawasan atau sering juga disebut pengarahan. Kalau dahulu orang sering menyebutnya supervisi sebagai kegiatan penilikan atau pemeriksaan. Misalnya seorang pengawas melakukan penilikan ke sekolah-sekolah yang menjadi sasaran pemeriksaannya.
Secara morfologi supervisi terdiri dari dua kata yaitu super dan vision. Super artinya atas atau lebih, sedangkan vision berarti lihat, tilik, dan awasi. Jadi supervisi berarti melihat, menilik dan mengawasi dari atas. Hal ini menunjukkan bahwa orang yang melihat atau menilik lebih tinggi dari orang yang ditilik atau diawasi. Bila supervisi dilakukan di sekolah, maka orang yang lebih tinggi tersebut adalah kepala sekolah. Maka kepala sekolah melakukan supervisi terhadap guru-guru.
Pentingnya supervisi dilakukan didasari atas perlakukan yang kurang sehat terhadap guru. Guru cenderung diperlakukan sebagai objek bukan subjek. Hal ini terlihat dari kecenderungan menyalahkan guru ketika pendidikan gagal. Bayangkan saja guru harus mengajar sesuai dengan target kurikulum. Guru harus membuat satuan pelajaran, menyiapkan lembar kerja siswa, melaksanakan berbagai macam tes dan menuliskannya dalam bentuk jurnal dan sebagainya. Guru juga harus bertindak sebagai wali kelas dengan perangkat administrasi yang luar biasa banyaknya. Guru juga harus mampu menjadi piket harian dengan berbagai tanggung jawab yang harus diampunya. Kadang juga guru harus melakukan berbagai kegiatan ekstrakurikuler misalnya mengajar les sore. Berbagai kegiatan tersebut harus dilakukan dengan waktu yang sangat sedikit. Kadang tanpa disadari guru telah melupakan tugas utamanya sebagai guru. Anehnya, apabila ada kelemahan kurikulum maka dianggap kelemahan guru, padahal guru tidak ikut menyusun kurikulum.
Secara prosedural guru tidak punya jalur untuk menyampaikan kelemahan kurikulum. Sebenarnya kepala sekolah yang dapat menampung semua itu, namun ia lebih banyak tenggelam dengan urusan pengorganisasian. Sehingga ada istilahnya guru seperti ayam kehilangan induk. Banyak kepala sekolah lupa akan tugasnya sebagai supervisor. Mereka kadang berlagak seperti komandan perang ketimbang seorang leader.
Tindakan kepala sekolah kadang didukung oleh oknum-oknum tertentu yang mengelola pendidikan dan pembinaan guru separoh hati. Mereka akan selalu menyuarakan pentingnya peningkatan mutu guru. Namun dipihak lain mereka menekannya. Sebut saja seorang guru yang ingin meningkatkan pendidikan melalui tugas belajar. Guru tersebut dipotong tunjangannya tanpa ada kompensasi. Kalau ada tunjangan tambahan dicari-cari jalan memotongnya atau paling kurang memperlambat penyerahannya. Malah kalau ada guru yang ingin kuliah dengan biaya sendiri terbentur dengan berbagai peraturan yang menghalanginya. Oknum-oknum tersebut mencari peraturan yang bisa mengganjalnya. Selain itu, seorang guru ingin mengikuti kegiatan peningkatan mutu guru berupa workshop. Namun tak jarang kepala sekolah menghalanginya dengan dalih jangan meninggalkan jam mengajar. Padahal jika dilihat sehari-hari banyaknya guru tidak hadir dengan alasan yang tidak jelas tidak ada penanganan khusus. Yang menyedihkan kalau sampai pada urusan naik pangkat, untuk memenuhi kredit harus melakukan macam-macam dengan waktu yang sangat terbatas. Di satu pihak tindakan tersebut baik, namun di lain pihak dapat mengurangi umur sehat guru.
Bukan hanya itu yang ditimpakan kepada guru, ada lagi misalnya kalau terjadi perkelahian siswa dianggap kelalaian guru. Padahal tidak semua perkelahian tersebut murni terjadi di sekolah. Kalau siswa tidak naik kelas atau nilai UN rendah dianggap guru tidak pandai mengajar, padahal sudah dari awal orang tua siswa diberi tahu. Tetapi orang tua tersebut acuh. Atas dasar tersebut sudah seharusnya supervisi pendidikan dilakukan. Agar titik terang dari permasalahan dapat diatasi dengan cermat tanpa menyalahkan satu pihak.
Bagaimana melakukan supervisi di sekolah?
Supervisi adalah bantuan dalam pengembangan situasi mengajar yang lebih baik. Melalui supervisi seorang supervisor (kepala sekolah) akan memberikan layanan kepada guru-guru di sekolah yang bertujuan untuk menghasilkan perbaikan instruksional, belajar, dan kurikulum. Supervisi sebagai prosedur memberi arah serta penilaian secara kritis terhadap pengajaran. Melalui supervisi guru-guru akan terbantu dalam melakukan aktivitasnya secara efektif.
Seorang kepala sekolah harus mampu melihat dan membedakan objek apa yang harus disupervisi. Karena objek supervisi itu dapat manusianya atau kegiatannya. Kalau objek supervisinya adalah manusianya maka yang harus ditilik adalah sikap guru terhadap tugasnya, moral kerjanya, kejujuran, ketaatan terhadap peraturan di sekolah, kerajinan, kecakapan kerja, kemampuan dalam bekerja sama, dan wataknya. Jika objek sasaran supervisi adalah kegiatannya, maka tiliklah cara bekerjanya dalam hal ini cara mengajar yang baik (pedagogik), pendekatan terhadap siswa, efisiensi kerja, dan hasil kerja.
Melalui pemilhan objek sasaran supervisi, maka dapat dilakukan tindankan pengawasan (controling) dan supervisi (supervision). Supervisi lebih menitikberatkan kepada manusianya, sedangkan pengawasan melihat apakah yang dikerjakan sudah sesuai dengan yang dikehendaki.
Untuk mengatasi berbagai permasalahan di sekolah sudah seharusnya penyelesaiannya melalui supervisi. Supervisi dilakukan secara menyeluruh dan totalitas. Kepala sekolah tidak cukup sekedar melakukan rapat dan melakukan teguran lisan. Sesuai dengan tujuan supervisi, bukan untuk mencari kesalahan sebanyak-banyaknya yang dilakukan guru, namun lebih kepada penyelesaian masalah dan pembinaan guru.
Adapun supervisi yang memungkinkan dilakukan secara menyeluruh diantaranya adalah melalui supervisi dalam administrasi personalia, supervisi dalam pemeliharaan sarana dan prasarana, supervisi dalam penyelenggaraan perpustakaan, supervisi dalam penyelenggaraan administrasi keuangan, supervisi dalam penyelenggaraan kafetaria, dan supervisi dalam kegiatan ko-kurikuler.
Supervisi dalam dalam admnistrasi personalia dilakukan untuk melihat apakah ada pegawai (guru dan staf) bermasalah dalam kenaikan pangkat, soal pembagian tugas guru, ada tidaknya kartu pegawai, kendali kenaikan gaji berkala, dan lain-lain yang berhubungan dengan personalia. Melalui supervisi personalia yang rutin tidak akan dijumpai guru-guru yang pangkatnya bermasalah. Pembagian jam mengajar yang adil dan merata juga dapat mempengaruhi kinerja guru dalam mengajar. Serta terhindarnya sikap kecemburuan sosial akibat pembagian tugas dan tanggung jawab yang tidak sesuai dengan beban mengajar guru. Supervisi dalam pemeliharaan sarana dan prasarana dilakukan untuk melihat kondusif dan layaknya gedung dan alat-alat seperti kursi, meja, ruang belajar, papan tulis, dan lain-lain. Selanjutnya supervisi dalam penyelenggaraan perpustkaan, yaitu soal kondisi buku, pelayanan, ketertiban, dan lain-lain. Supervisi dalam administrasi keuangan dapat dilakukan untuk melihat apakah pengeluaran sesuai dengan aturan, ketepatan pembayaran gaji atau honor lainnya kepada pegawai dan guru. Supervisi dalam pengelolaan kafetaria dapat dilakukan untuk melihat dan membina kebersihan tempat dan makanan di lingkungan sekolah, serta soal soal ketertiban siswa yang jangan sampai menjadi tempat bermain, bolos, dan merokok. Supervisi ko-kurikuler mengawasi dan membina apakah kegiatan tersebut jangan sampai mengganggu kegiatan belajar siswa, kesehatan, dan keamanan.
Dari uraian di atas sudah sepatutnya kepala sekolah menyikapi seluruh permasalahan di lingkungan sekolah dengan supervisi pendidikan. Supervisi dapat berbentuk supervisi makro atau tidak langsung dan supervisi mikro atau langsung. Supervisi makro maksudnya di sini adalah supervisi pengajaran yang merupakan rangkaian kegiatan pengawasan pendidikan yang bertujuan untuk memperbaiki kondisi-kondisi baik personil maupun material yang memungkinkan terciptanya situasi belajar yang lebih baik. Sedangkan supervisi mikro (langsung) dilakukan untuk membina langsung guru melalui tindakan klinis. Supervisi imikro pelaksanaanya diibaratkan dengan praktek kedokteran, yaitu hubungan antara supervice dan supervisor bagaikan pasien dengan dokter.

Views All Time
Views All Time
163
Views Today
Views Today
1

LEAVE A REPLY