Meraih Ketenangan Hati

0
10

Secara naluri, setiap manusia menginginkan kebahagiaan dan ketenangan hati. Dan bagi setiap muslim, hendaknya merasa tenang jika senantiasa mengingat Allah, sebagaimana firman-Nya : “(Yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka manjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram”(QS.Ar-Ra’du,  3:28).

Dari ayat di atas, Allah SWT berjanji akan memberikan ketenteraman bagi siapa saja yang mengingat-Nya. Akan tetapi, mungkin kita pernah merasa bahwa ketenangan itu tak kunjung datang walaupun kita telah berusaha mengingat Allah sebagaimana perintah-Nya tersebut. Apabila Anda pernah merasakan hal tersebut maka yang harus disalahkan adalah diri kita karena Allah tidak mungkin menyalahi atau melanggar janji-Nya. Ada beberapa hal yang mungkin perlu kita perbaiki, diantaranya adalah sebagai berikut :

Pertama, Bersihkan hati dengan taubat. Ketenangan ada di hati. Maka hati haruslah bersih agar bisa merasakannya. Sedangkan hati yang keras dan hitam, tidak akan merasakan nikmatnya ibadah dan ketenangan yang kita dambakan. Adapun salah satu cara agar hati kita kembali bersih, lembut dan terang kembali adalah dengan bertaubat kepada-Nya, sebagaimana yang disabdakan oleh Rasulullah Saw : “Sesungguhnya hati saya kadang keruh, maka aku beristighfar dalam satu hari sebanyak seratus kali.” (Musnad Ahmad, no.18002). Dalam hadits ini, Rasulullah Saw beristighfar 100 kali ketika hatinya sedang merasa keruh, padahal Beliau sudah dima’sum. Apalagi kita yang dosanya bertumpuk, seharusnya lebih sering mengucapkan istighfar setiap harinya. Sehingga hati kita yng mungkin sudah mati dihidupkan kembali oleh-Nya dan hati kembali bercahaya, sebagaimana yang Allah SWT firmankan ;

“Dan apakah orang yang sudah mati kemudian Dia Kami hidupkan dan Kami berikan kepadanya cahaya yang terang, yang dengan cahaya itu Dia dapat berjalan di tengah-tengah masyarakat manusia, serupa dengan orang yang keadaannya berada dalam gelap gulita yang sekali-kali tidak dapat keluar dari padanya?…”.(QS.Al-An’am, 6:122).

Oleh karena itu, sediakanlah selalu waktu untuk memohon ampun kepada-Nya. Kosongkanlah hati dan pikiran kita dari segala kesibukan duniawi karena tanpa kekhusyukan hati, mustahil kita akan merasakan ketenangan batin yang kita harapkan. Apalah artinya kita shalat, baca Quran, dzikir dan mengikuti pengajian kalau hati dan pikiran selalu berputar mengingat harta yang kita kumpulkan, jabatan yang ingin kita kuasai, status yang kita banggakan dan segala perkara dunia yang membuat hati kita tidak konsentrasi mengingat Allah. Selain itu, bersihkan juga hati kita dari segala amarah, benci, iri dengki, sombong dan segala penyakit hati lain yang mungkin saat ini sedang bercokol di dalam diri kita. Cobalah untuk meresapi setiap bacaan shalat yang kita kerjakan, hayati setiap bacaan Quran yang kita baca per ayat, dan nikmati setiap dzikir yang kita lafazkan sehingga hati kita pun turut berdzikir. Insya Allah ketenangan akan menyelimuti jiwa dan raga kita.

Kedua, Ridha dengan takdir Allah SWT. Setiap manusia pasti diuji dengan berbagai cobaan dan musibah. Dan ketika kita tidak pasrah atau ridha terhadap ketentuan-Nya, hati kita pasti akan tersiksa dan gundah gulana. Padahal, tidaklah ada musibah kecuali pasti atas kehendak-Nya. Hayatilah sabda Rasulullah Saw berikut :“Sesungguhnya besarnya balasan tergantung besarnya ujian, dan sesungguhnya Allah Ta’ala apabila mencintai suatu kaum maka Allah akan menguji mereka (dengan suatu musibah), maka barangsiapa yang ridha maka baginya keridhaan (dari Allah) dan barangsiapa yang marah maka baginya kemarahan (Allah).” (HR. At-Tirmidziy no.2396 dari Anas bin Malik). Jika kita ingin mendapatkan ketenangan dan keridhaan-Nya, maka terimalah kenyataan serta ridhalah atas apa yang telah Allah tetapkan karena seorang mu’min akan senantiasa ditimpa musibah sampai ia bertemu Allah dalam keadaan tidak mempunyai dosa lagi, sebagaimana hadits : ” Dari Abu Hurairah Radiyallahu ‘Anhu dia berkata, Rasulullah – Shalallahu ‘Alaihi wa Aalihi Wasallam – bersabda : Ujian ( cobaan ) akan senantiasa menimpa seorang mukmin dan mukminah pada dirinya, harta, dan anaknya sehingga ketika dia bertemu dengan Allah dia tidak punya kesalahan lagi “ (HR. Tirmizi no : 2399).

    Ketiga, Sabar dan berdoalah. Ketika terkena musibah, bersabarlah sebagaimana perintah Allah : Dari Nabi saw., beliau bersabda: Allah Subhaanahu wa Ta’ala berfirman: “Hai anak Adam, jika kamu bersabar dan ikhlas saat tertimpa musibah, maka Aku tidak akan meridhai bagimu sebuah pahala kecuali surga.” (HR. Ibnu Majah). Kemudian berdoalah sebagaimana Rasul Saw ajarkan : ” Tidak ada seorang hambapun yang apabila ditimpa musibah kemudian dia mengucapkan – Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un, Ya Allah berikanlah pahala bagiku karena musibah ini dan berikanlah saya ganti yang lebih baik -, niscaya Allah akan memberikan pahala karena musibah itu dan memberikan ganti yang lebih baik”. Kemudian Ummu Salamah mengatakan : ketika Abu Salamah meninggal maka akupun mengucapkan doa yang diperintahkan oleh Rasulullah – Shalallahu ‘Alaihi wa aalihi Wasallam – maka Allah pun memberikan yang lebih baik kepadaku yaitu Rasulullah – Shalallahu ‘Alaihi wa aalihi Wasallam…( HR. Muslim no : 918). Insya Allah kita akan mendapatkan ketenangan hati di  atas musibah yang sedang kita alami…

 

Views All Time
Views All Time
22
Views Today
Views Today
1

LEAVE A REPLY