MERAJUT KEBERSAMAAN

0
3
MERAJUT KEBERSAMAAN

Oleh: Ida Rusmiyati

 

 

Kebiasaan kami sebelum Ramadhan, sebelum bel pukul 07.00 berdering kami yang terdiri dari; aku dan beberapa guru lainnya paling suka berkumpul di ruang dapur sekolah untuk bersama-sama ngopi dan juga ada yang ngeteh.

“ Assalamualaikum wr wb, dengan ini sidang majelis kopi saya buka…!” begitu kata Pak Sutris guru Bahasa Jawa, yang kami sambut dengan tawa ceria.

Ya kebiasaan kelompok kami kalau pagi adalah selalu bersama ngopi dan ngeteh. Konvensi yang secara tidak sengaja ini terbentuk dengan sendirinya. Saat tiba di sekolah secara otomatis dan tanpa dikomando, biasanya kami langsung menuju ruang dapur untuk sekadar duduk minum dan mengobrol bersama. Rasanya majelis kopi dan teh ini akan sepi bila salah seorang dari kami tidak hadir.

“ Maaf hari ini saya tidak bisa memberikan nafkah lahir!” kata Pak Hadi teman kami seorang guru Bahasa Inggris, kami pun tertawa geli mendengarnya. Kami paham yang dikatakannya dengan nafkah lahir, yaitu makan atau perbekalan.

Kami memang sangat sering bergantian membawa makanan untuk dimakan dan dinikmati bersama-sama. Kebersamaan dan saling berbagi ini membuat ukhuwah di antara kami semakin erat. Kalimat ini sangat terngiang di telinga dan otak kami. Ini adalah ciri khas dari pak Hadi.

Kebersamaan kami tidak hanya pagi hari saja bahkan siang hari jika haus dan lapar mendera kami juga masih menjaga kebersamaan, ya…bersama makan…bersama minum. Hahahhahhahh.

“ Yook kita mencari kehangatan bersama!” kata Pak Hadi

“ Ayooo…!” jawab kami serentak

Kala itu siang hari cuaca mendung dan dingin, sementara perut kami mulai kosong.

Mencari kehangatan artinya mencari makanan/ minuman hangat/ panas untuk dinikmati. Minuman hangat keistimewaan kami adalah kopi, jahe, dan teh. Sedangkan untuk makanan hangat kesukaan kami adalah bakso Ds. Mendhiro.

“ Bu Ida kakinya masih sakit ya?” tanya Pak Asep

“ Iya Pak…nggak tahu ini salah urat kayaknya, padahal saya sudah pijat, tidak tanggung-tanggung sudah ada 3 orang yang memijat kaki saya Pak, tapi mengapa belum sembuh juga.” kataku dengan sedih.

Kakiku memang kecetit pada bagian belakang lutut, tampaknya ada urat yang mlengseh.

“ Begini Bu Ida, saran saya kalau berobat jangan di tukang bakso…!” kata Pak Asep dengan serius sambil menahan tawa.

Mendengar hal itu aku mengernyitkan dahiku berusaha memahami apa yang dikatakan pak Asep.

“ Kok di tukang bakso sih pak Asep?” tanyaku.

“ Iya Bu Ida…kan ada bakso spesial urat…kalau bakso special urat  enaknya ya dimakan…!” jawab Pak Asep, kontan teman-temanku lainnya tertawa mendengarnya.

“ Lha…kakinya bu Ida kan salah urat…jadi jangan berobat ke tukang buat bakso urat…ntar malah nggak sembuh!” begitu penjelasan Pak Asep.

Aku pun sontak menjadi geli dan tertawa.

“ Hahahhah…hahhahha….hahha, Pak Asep ini, kok ada-ada aja!” kataku sambil tertawa yang tak tertahankan.

Ya banyak cerita tentang kebersamaan kami, tidak hanya cerita lucu, ada juga cerita tentang sejarah, keagamaan dan sebagainya yang  turut mengambil bagian dari perbincangan kami.

Walau saat ini bulan Ramadhan, Ruang dapur ditutup rapat, kami tidak bisa ngopi dan ngeteh bersama karena kami sedang menjalankan ibadah puasa, semangat kebersamaan tetap melekat erat di hati kami.

Betapa indahnya kebersamaan ini. Seperti yang sudah disampaikan dalam Hadits berikut ini,

 

“Orang mukmin terhadap mukmin lain seperti bangunan, saling menguatkan satu sama lain.”

(HR. Bukhari dan Muslim dari Abu Musa).

 

“ Allah memperkuat kebersamaan.” (HR. Tirmidzi dari Ibnu Abbas)

 

Marilah kita menjaga kebersamaan sampai akhir hayat.

 

 

Ungaran, 30 April 2021

 

#30harimenulisramadhan

#gbmharike-18

 

 

 

 

ReplyForward
Views All Time
Views All Time
37
Views Today
Views Today
1

LEAVE A REPLY