Merelakanmu

0
5

Waktu terus berjalan seiring irama senandung rindu yang tersirat di lubuk hati yang terdalam. Rasanya baru kemaren kita bersama, bercanda bahkan bercerita apa saja yang membuat senyuman di setiap bibir orang yang mendengar terbuka lebar.

Andai saja waktu bisaku putar maka akan aku ulang semua cerita yang tersirat di hati ini tentangmu adikku. Meskipun dirimu bukan adik kandungku maupun adik kandung dari suamiku namun aku telah menganggapmu seperti adikku sendiri. Semua ini karena silaturrahmi yang dirimu jalin semasa hidupmu.

Aku tahu, sedalam apapun aku kehilangan dirimu belum sebanding dengan yang dirasakan oleh istri soleha tercintamu. Wanita yang begitu soleha serta sabar dan tegar saat harus berpisah dari dirimu. Aku sendiri berusaha menahan agar bulir bening hangat ini tidak mengalir di sudut mata indahku namun sekuat apapun aku berusaha selalu gagal karena aku sangat merindukanmu serta kehilangan dirimu.

Aku sangat menyesal mengapa tidak bisa menemani hari – hari terakhirmu adikku. Pedih, pilu, sedih yang kurasakan jika mengingat dirimu. Inilah garis kehidupan yang harus dijalani yang tidak bisa siapapun mengingkarinya.

Aku sedih tidak bisa menemani dirimu yang berjuang disana saat – saat hari terakhirmu karena harus bolak – balik masuk rumah sakit sementara aku disini juga harus bolak – balik ke Pekanbaru dalam rangka operasi mata mama yang hampir setahun mama tidak bisa melihat indahnya dunia akibat katarak yang menyerang kedua mata mama.

Meskipun dirimu jauh disana namun berkat kecanggihan teknologi hampir setiap hari aku bisa mendengar suaramu melalui telepon genggam kesayanganku. Masih teringat jelas di ingatanku ketika Hari Rabu saat menelponmu dan dirimu berujar  berkali – kali ingin pulang. Dengan sedikit menghibur aku selalu menyemangati dirimu dengan semua tawa dan canda meskipun kita berjauhan.

Ternyata hari itulah terakhir aku mendengar suara serta tawamu karena Hari Jum’at pagi tepatnya pukul 11.00 WIB dirimu kembali kepada Sang Maha Pencipt Langit dan Bumi. Hatiku tersentak, terhenyak dan semua rasa pedih begitu mendalam kurasakan di lubuk hati terdalamku.

Ternyata di Hari Rabu itulah dirimu pamit kepadaku karena akan menghadap Sang Maha Pencipta Langit dan Bumi. Padahal aku sudah berencana akan menjengukmu di  Hari Sabtu namun semua sudah ketentuan serta kehendakNYA. Aku akan selalu mendoakanmu agar Sang Maha Pencipta Langit dan Bumi menempatkamu di tempat yang layak disisiNYA.

Selamat jalan adikku meskipun hingga kini masih susah diriku untuk merelakan kepergianmu. Kami keluarga besar di Duri menyanyangimu sepenuh hati. Semoga dirimu Husnul Khotimah saat menghadapNYA.

Akan aku jalin selalu silaturrahmi yang selama ini terjaga meskipun tanpa adanya dirimu bersama kami. Dariku yang sangat menyanyangimu……………..

Views All Time
Views All Time
23
Views Today
Views Today
1

LEAVE A REPLY