Anak ibarat “kertas kosong berwarna putih”. Tiada dosa. Tiada cela. Yang melukis, menggambar dan mewarnai pertama kali adalah orang tuanya; ayah dan bunda. Tak pelak, peran orang tua memberi warna kertas kosong itu begitu penting dan menentukan. Itu sebabnya, Rasulullah Saw mengingatkan, setiap bayi terlahir fitrah (suci/bersih/tak bercela). Orang tuanyalah yang menjadikannya Yahudi, Nashrani atau Majusi (HR al-Bukhari, Muslim, dll).

Karena masa depan anak, baik duniawi maupun ukhrawi sangat tergantung pada situasi rumahnya, maka tugas utama orang tua adalah menyelamatkan masa depan mereka (Qs. al-Tahrim: 6). Tugas berat memang, yang karenanya tidak bisa dipandang sebelah mata. Dengan sengaja meninggalkan anaknya dalam kondisi keselamatan dunia-akhiratnya terancam, maka orang tua bertanggungjawab atas efek perilakunya di masyarakat. Semestinya orang tua begitu khawatir membiarkan anak-anaknya dalam keadaan lemah ekonomi (Qs. an-Nisa: 9), agama dan sebagainya.

Selain ditegaskan al-Qur’an dan Hadis, pentingnya peran keluarga membentuk karakter anak juga disampaikan banyak pemikir muslim. Ahmad bin Muhammad bin Ya’qub bin Miskawaih misalnya, baginya peran lingkungan (keluarga/masyarakat) sangat menentukan model karakter anak. Hidup di lingkungan baik, anak akan baik. Tumbuh di lingkungan bermasalah, anak akan bermasalah. Karena itu, pola asuh orang tua terhadap anaknya penting diperhatikan. Dalam bahasa Sosiologi, hubungan orang tua-anak ini disebut “hubungan dalam” (kebalikan “hubungan dangkal” yang terjadi dengan pihak non-keluarga). Interaksi ini berlangsung terus-menerus tanpa batas, yang karenanya sangat membekas.

Views All Time
Views All Time
178
Views Today
Views Today
1

LEAVE A REPLY