Momentum Ramadhan, menuju Perbaikan Diri di Tengah Pandemi

1
16

Bagi umat Islam, Ramadhan adalah bulan suci yang selalu ditunggu-tunggu kehadirannya. Dengan berbagai cara, umat Islam menyambut Ramadhan dengan penuh harap dan suka cita. Betapa tidak, di bulan ini (Ramadhan) umat Islam tidak hanya dijanjikan dengan kemuliaan, akan tetapi ampunan dan janji kebahagiaan di akhirat kelak.

Itulah sebabnya, setiap muslim dimana saja berada semuanya berlomba mengisi bulan ini dengan berbagai amalan utama seperti salat, tadarrus al-Quran, dan tentu saja puasa Ramadhan. Sehingga keberkahan, kemuliaan dan ampunan yang dijanjikan selama sebulan penuh tidak terlewatkan dengan begitu saja.

Namun Ramadhan tahun ini berbeda, yaitu kita berada di masa Pandemi Covid 19. Banyak hikmah yang diperoleh dari momentum Ramadhan ini, tentu kesadaran akan bersikap dan perilaku yang baik itu sangat diharapkan dan sedapat mungkin sikap dan perilaku buruk harus dihindari. Kesadaran akan kekurangan, kealpaan dan kesalahan masa-masa sebelumnya harus melahirkan kesadaran untuk memperbaiki diri dan menyempurnakannya di masa kini dan mendatang. Bulan Ramadhan yang sarat dengan rahmat, maghfirah dan janji kebahagiaan dan kesejahteraan ini seyogyanya menjadi awal dan momentum menuju perbaikan diri, dengan melakukan dan mengaktualisasikan berbagai amal-amalan Ramadhan yang pahalanya berlipat ganda.

Begitu banyak amal-amalan ibadah yang dapat dikerjakan selama bulan suci Ramadhan, menunjukkan bahwa bulan Ramadhan penuh dengan keberkahan dan penuh maghfirah. Karena secara teologis, melaksanakan ibadah puasa berarti pertanda dari ketaatan dan kepatuhan kita kepada Allah SWT. Nilai teologis ini jelas sekali ditunjukkan oleh ayat al-Quran surat al-Baqarah ayat 183 dengan tujuan akhir : “supaya kalian bertakwa”. Hal ini menunjukkan bahwa dengan berpuasa manusia akan mampu menggapai derajat kemanusiaan tertinggi.

Namun demikian, nilai takwa sebagai tujuan yang terpenting dari pelaksanaan ibadah puasa hanya akan memiliki makna apabila diaktualisasikan dalam konteks sosial. Oleh karena itu, pelaksanaan ibadah puasa secara sosiologis harus memberikan dampak pada lahirnya sikap-sikap solidaritas dan kepekaan sosial. Dengan kata lain, pelaksanaan ibadah puasa hanya akan memiliki nilai takwa, apabila kita dapat mentransformasikan makna teologis puasa menuju realitas sosial, sehingga kebahagiaan religius dapat dirasakan bersama, baik secara etis maupun secara moral.

Dalam sosial-ekonomi misalnya, ibadah puasa harus menjadikan setiap pelakunya mampu melihat dan tergerak untuk membantu sesama, apalagi di tengah masyarakat kita saat ini tengah dilanda wabah pandemi Covid-19 yang mengakibatkan jutaan orang kehilangan pekerjaannya. Sebab tanpa kesadaran semacam itu (kepekaan sosial), maka ibadah puasa hanya akan menjadi perbuatan individual, tanpa memiliki bekas pada kehidupan sosial yang lebih luas.

Konsekuensinya, apabila pelaksanaan ibadah puasa sama sekali tidak mampu merubah manusia untuk menjadi peka dan memiliki solidaritas sosial, maka apa yang disinyalir oleh Rasulullah SAW benar-benar akan terjadi: “Betapa banyak orang yang berpuasa, yang diperolehnya dari puasa itu hanyalah lapar dan dahaga saja” (H.R. Ibn Khuzaimah dan Tabrani).

Tentu saja, agar ibadah puasa yang kita lakukan dapat memberikan manfaat dan hikmah, baik secara individual maupun sosial, kita dituntut untuk melaksanakannya secara baik dan benar, sebagaimana yang dicontohkan oleh Rasulullah SAW. dengan kata lain, pelaksanaan ibadah puasa tidak dapat dilepaskan dari amalan-amalan ibadah lain, seperti salat tarawih, tadarrus al-Quran, dan penyucian diri dengan cara memberikan zakat fitrah.

Melaksanakan ibadah puasa sesuai dengan tuntunan Rasulullah SAW, pada akhirnya akan memberikan hikmah teramat besar. Beberapa hikmah puasa yang dipandang penting dan relevan bagi kehidupan kita dalam bermasyarakat dan bernegara saat ini ialah :

Pertama, puasa dapat menimbulkan sikap toleran dan dermawan. Karena orang yang sedang melaksanakan ibadah puasa ikut merasakan orang yang kelaparan dan kehausan. Dari sini akan muncul kesadaran terhadap sesama merasakan betapa menderitanya saudara-saudara kita yang tidak makan dan minum, karena memang tidak ada yang dimakan akibat kemiskinannya. Rasulullah SAW bersabda: “Tidak beriman seseorang yang hidupnya kekenyangan, sedangkan ia tahu tetangga di sevelahnya kelaparan” (H.R. Thabrani).

Kedua, puasa mampu mendidik diri untuk berdisiplin. Karena, untuk bisa mencapai derajat puasa yang benar dan baik, mau tidak mau kita harus berlaku disiplin sepanjang hari, sehingga kita terhindar dari perilaku yang dapat membatalkan puasa.

Ketiga, ibadah puasa akan melahirkan sikap-sikap solidaritas dan kepekaan sosial. hikmah ini tidak saja ditunjukkan oleh kemampuan kita untuk menahan diri dari makan dan minum, sebagaimana sering dialami oleh kaum fuqara dan masakin, tetapi juga dibuktikan dengan kesadaran diri untuk bersedia menyisihkan sebagian kecil dari kekayaan kita untuk bersedekah dan membayar zakat fitrah.

Semoga Ramadhan tahun ini menjadi momentum untuk memperbaiki diri di tengah pandemi Covid 19 yang berdampak pada sendi-sendi kehidupan yang luas dengan lebih peka terhadap lingkungan sosial, terutama tetangga sekeliling rumah kita.

 

Bekasi, 21 Mei 2020

Penulis,

 

Afip Miftahul Basar, M.Pd

Guru SMPIT Nurul Fajri

Cikarang Barat – Bekasi –  Jawa Barat

Views All Time
Views All Time
20
Views Today
Views Today
1

1 COMMENT

LEAVE A REPLY