MOTIVASI BELAJAR

0
169
ADI SUPRAYITNO
prinsip Multipt Accut Approach (Pendekatan Pembelajaran yang mengembangkan seluruh potensi peserta didik) pada siklus I ini sudah menunjukkan penguasaan mengalami peningkatan

MENINGKATKAN MOTIVASI BELAJAR GEOGRAFI MELALUI MULTIPT ACCUT APPROACH PADA SISWA KELAS XII-IS-1 SEMESTER GANJIL

DI SMA NEGERI 6 MADIUN. KOTA MADIUN

TAHUN PELAJARAN 2015/2016.

 

OLEH:

Drs. ADI SUPRAYITNO. M.Pd  

adi.suprayitno.sma6@gmail.com

SMA NEGERI 6 MADIUN. KOTA MADIUN

Jalan. Suhud Nosingo Nomor 1 Kota Madiun Jawa timur, Indonesia

 

ABSTRAK

 

Drs. ADI SUPRAYITNO. M.Pd , 2015 : Meningkatkan Motivasi Belajar Geografi Pada Kompetensi Dasar Menjelaskan Pembuatan Peta Melalui Multipt Accut Approach (Pendekatan Pembelajaran Yang Mengembangkan Seluruh Potensi Peserta Didik) Siswa Kelas XII-IS-1 Semester Ganjil Di SMA Negeri 6 Madiun. Kota Madiun tahun Pelajaran 2015/2016..

 

Kata-kata Kunci       : Motivasi, Belajar, Geografi, Peta, Multipt Accut Approach (Pendekatan Pembelajaran Yang Mengembangkan Seluruh Potensi Peserta Didik)

 

Dengan menggunakan prinsip Multipt Accut Approach (Pendekatan Pembelajaran yang mengembangkan seluruh potensi peserta didik) pada siklus I ini sudah menunjukkan penguasaan mengalami peningkatan, tetapi penguasaan yang telah dicapai itu sebenarnya masih perlu ditingkatkan lagi. Hal ini dapat dilihat dari banyaknya siswa yang sudah mencapai skor penguasaan 65 atau lebih. Pada tabel 4.2 dapat diperoleh bahwa baru 63,27% siswa yang mencapai penguasaan 65 atau lebih. Sedangkan suatu kelompok (kelas) dikatakan tuntas apabila paling rendah 85% siswa yang mencapai skor penguasaan 65 atau lebih. Penyebab sehingga masih kurang siswa yang mencapai skor penguasaan 65 atau lebih, diantaranya adalah siswa yang aktif masih didominasi oleh siswa tertentu. Mereka yang aktif itu pada umumnya juga yang aktif pada pertemuan­pertemuan sebelumnya. Pada siklus kedua ini, rata-rata skor penguasaan siswa semakin meningkat. Rata-rata itu meningkat dari 66,92 yang dicapai pada siklus I menjadi 73,84 pada siklus II. Hal itu menunjukkan bahwa penguasaan siswa terhadap bahan ajar pada siklus II semakin meningkat pula. Penguasaan siswa terhadap bahan ajar pada siklus II sudah tergolong tinggi menurut kategori yang digunakan. Meningkatnya penguasaan siswa itu merupakan indikator yang menandakan bahwa bentuk pembelajaran yang dilakukan dengan menggunakan prinsip Multipt Accut Approach (Pendekatan Pembelajaran yang mengembangkan seluruh potensi peserta didik) dan keberagaman pada siklus II semakin memberikan hasil yang lebih baik. Meningkatnya penguasaan siswa didukung oleh semakin meningkatnya median dari skor penguasaan yang dicapai dari hasil tes pada akhir siklus II. Pada siklus II median skor penguasaan siswa sudah mencapai 74,00. Median sebesar itu menunjukkan bahwa dari 49 orang yang ikut tes pada akhir siklus II, dapat diperoleh 24 orang siswa yang mencapai penguasaan paling tinggi 74,00 dan 30 orang siswa penguasaannya paling rendah 74,00. Meningkatnya median tersebut sesuai dengan hasil pengamatan pada saat pembelajaran berlangsung. Di mana perhatian siswa dalam mengikuti pelajaran semakin baik dibandingkan pada siklus sebelumnya. Siswa yang tidak mengerti bahan pelajaran yang sedang dibahas diberikan bimbingan secara langsung. Sedangkan yang sudah mengerti tentang bahan pelajaran yang sedang dibahas, diberi kesempatan mengungkapkan pendapatnya. Meningkatnya penguasaan siswa ditandai pula dengan munculnya tanggapan-tanggapan yang berkaitan dengan bahan pelajaran pada saat proses pembelajaran berlangsung. Tanggapan tersebut umumnya menunjukkan bahwa bahan pelajaran yang telah dibahas sudah dimengerti dan siswa sudah dapat mengetahui hubungannya dengan pengetahuan yang sudah dimiliki. pada siklus terakhir ini, terlihat rata-rata skor penguasaan siswa masih tetap menunjukkan adanya peningkatan. Meningkatnya rata-rata skor penguasaan itu memberikan indikasi bahwa penguasaan siswa terhadap bahan pelajaran semakin meningkat pula pada siklus III. Oleh karena itu, bentuk tindakan yang dilakukan pada siklus ini memberikan hasil yang lebih baik dari pada tindakan pada siklus sebelumnya. Meningkatnya penguasaan siswa juga ditandai dengan semakin banyaknya siswa yang mencapai skor penguasaan 65 atau lebih. Siswa yang mencapai skor penguasaan 65 atau lebih sebanyak 85,11% dan ini menunjukkan bahwa penguasaan siswa terhadap bahan pelajaran pada siklus III sangat tinggi. Di samping itu kelas yang menjadi subjek penelitian sudah tuntas klasikal pada siklus terakhir ini. Bentuk tindakan yang dilakukan pada siklus ini, dapat pula membawa siswa kearah perubahan sikap yang lebih mendukung berlangsungnya kegiatan pembelajaran. Siswa pada siklus ini sudah lebih terbuka dalam mengungkapkan pendapatnya. Bahkan apabila ditunjuk secara acak untuk memberikan jawaban, tidak ditemukan lagi siswa yang tidak dapat menjawab dengan benar. Hampir pada setiap pertemuan sudah tidak ada lagi siswa yang tidak dapat mengikuti pelajaran. Hal ini sejalan dengan tanggapan siswa yang dibuat pada akhir siklus III. Dari tanggapan-tanggapan tersebut tidak ada lagi siswa yang mengharapkan suatu perbaikan kegiatan pembelajaran yang telah dilakukan. Dari hasil prestasi pada siklus I secara rata rata hasil yang dapat dicapai siswa sebesar 63.63. (64%) Hal ini masih berada dibawah standart KKM yang telah dicantumkan pafda Tahun Pelajaran baru sebesar 75 (75%). Maka dari hasil proses pembelajaran tersebut perlu dilakukan perbaikan pada siklus II dan masih dinyatakan Belum Tuntas atau Belum Berhasil. Dan Dari hasil prestasi pada siklus II secara rata rata hasil yang dapat dicapai siswa sebesar 73.1. (73%) Hal ini masih berada dibawah standart KKM yang telah dicantumkan pafda Tahun Pelajaran baru sebesar 75 (75%). Maka dari hasil proses pembelajaran tersebut perlu dilakukan perbaikan pada siklus III dan masih dinyatakan Belum Tuntas atau Belum Berhasil. Serta Dari hasil prestasi pada siklus III secara rata rata hasil yang dapat dicapai siswa sebesar 83.6. (84%) Hal ini masih berada dibawah standart KKM yang telah dicantumkan pafda Tahun Pelajaran baru sebesar 75 (75%). Maka dari hasil proses pembelajaran tersebut Tidak perlu dilakukan perbaikan pada siklus berikutnya dan masih dinyatakan Tuntas atau Berhasil.

 

  1. Pendahuluan

Geografi merupakan bagian integral dari pendidikan secara keseluruhan, bertujuan untuk mengembangkan aspek kognitif dalam pembelajaran, keterampilan gerak, keterampilan berfikir kritis, keterampilan sosial, penalaran, stabilitas emosional, tindakan moral, aspek pola hidup sehat dan pengenalan lingkungan bersih melalui aktivitas dalam pembelajaran,  terpilih yang direncanakan secara sistematis dalam rangka mencapai tujuan pendidikan nasional.

Pendidikan sebagai suatu proses pembinaan manusia yang berlangsung seumur hidup, materi pembelajaran yang diajarkan di sekolah memiliki peranan sangat penting, yaitu memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk terlibat langsung dalam berbagai pengalaman belajar melalui aktivitas dalam pembelajaran, yang terpilih yang dilakukan secara sistematis. Pembekalan pengalaman belajar itu diarahkan untuk membina pertumbuhan fisik dan pengembangan psikis yang lebih baik, sekaligus membentuk pola hidup sehat dan bugar sepanjang hayat. Pendidikan memiliki sasaran pedagogis, oleh karena itu pendidikan kurang lengkap tanpa adanya Geografi, karena gerak sebagai aktivitas dalam pembelajaran adalah dasar bagi manusia untuk mengenal dunia dan dirinya sendiri yang secara alami berkembang searah dengan perkembangan zaman. Selama ini telah terjadi kecenderungan dalam memberikan makna mutu pendidikan yang hanya dikaitkan dengan aspek kemampuan kognitif. Pandangan ini telah membawa akibat terabaikannya aspek-aspek moral, akhlak, budi pekerti, seni, psikomotor, serta life skill. Dengan diterbitkannya Undang-undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional dan Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2004 tentang Standar Nasional Pendidikan akan memberikan peluang untuk menyempurnakan kurikulum yang komprehensif dalam rangka mencapai tujuan pendidikan nasional. Dalam Kegiatan Pembelajaran Geografi  memerlukan media untuk mendorong pertumbuhan fisik, perkembangan psikis, keterampilan motorik, pengetahuan dan penalaran, penghayatan nilai-nilai (sikap-mental-emosional-sportivitas-spiritual-sosial), serta pembiasaan pola hidup sehat yang bermuara untuk merangsang pertumbuhan dan perkembangan kualitas fisik dan psikis  yang seimbang.

Maka di dalam kegiatan penelitian ini penulis memiliki tujuan agar peserta didik memiliki kemampuan sebagai berikut, :

  1. Mengembangkan keterampilan mengadakan penilaian yang dikaitkan dengan suatu metode, teknik dan strategi belajar, agar diperoleh hasil belajar sesuai yang diinginkan
  2. Meningkatkan prestasi belajar Geografi melalui suatu proses penilaian
  3. Meningkatkan kemampuan dan keterampilan berfikir kritis
  4. Mengembangkan sikap sportif, jujur, disiplin, bertanggungjawab, kerjasama, percaya diri dan demokratis
  5. Memahami konsep aktivitas Geografi di lingkungan yang bersih sebagai informasi untuk mencapai pembelajaran yang sempurna, dalam pola hidup belajar, terampil, serta memiliki sikap yang positif.

Bertolak dari tujuan pendidikan Pembelajaran Geografi di atas, maka penelitian ini memiliki tujuan sebagai berikut :

1 Mengetahui pengaruh metode pembelajaran terhadap perubahan pengetahuan,sikap dan ketrampilan pada siswa setelah mengalami perubahan dalam menggunakan metode pembelajaran.

  1. Untuk memperbaiki pelaksanaan proses belajar mengajar yang diterapkan oleh guru,sehingga diketahui hal yang yang perlu ditingkatkan dan hal hal yang perlu mendapatkan pemecahannya / solusinya

 

Manfaat yang diperoleh dari penelitian tindakan kelas ini adalah

  1. Ditemukan metode dan media yang efektif dalam meningkatkan motivasi siswa dalam Kompetensi Dasar Menjelaskan Pembuatan Peta
  2. Menemukan dan mengidentifikasi kelemahan dan kelebihan metode dan media yang digunakan guru dalam pembelajaran materi Kompetensi Dasar Menjelaskan Pembuatan Peta
  3. Ada rencana tindak lanjut yang dibuat oleh  guru setiap selesai melaksanakan proses kegiatan belajar mengajar
  4. Mengetahui peningkatan skill siswa dalam proses pembelajaran melalui Kompetensi Dasar Menjelaskan Pembuatan Peta

Belajar adalah “ suatu aktivitas mental / psikis yang berlangsung dalam interaksi aktif dengan lingkungan, yang menghasilkan perubahan – perubahan dalam pengetahuan, pemahaman, ketrampilan dan nilai sikap “ ( Winkel yang dikutip Mandalika dkk, 1995 : 24 ).

Sam Isbani dan Sardjono menyatakan belajar adalah : “….. sebagai perubahan kelakuan berkat pengalaman dan latihan. Perubahan itu tidak hanya mengenal jumlah pengetahuan melainkan juga berbentuk kecakapan, kebiasaan, sikap pengertian, penghargaan, minat dan penyesuaian diri, atau berbentuk segala aspek organisme atau pribadi seseorang “ (Isbani & Sardjono, 1985 : 30).

Ahli lain menyatakan pengertian belajar adalah : “ suatu proses mental yang mengarah pada penguasaan pengetahuan, kecakapan / skill, kebiasaan atau sikap “ (Winataputra yang mengutip Winkel, 1997 : 5.15). Pengertian belajar yang dinyatakan di atas dapat disimpulkan, belajar merupakan proses aktivitas fisik dan psikis dengan ditandainya perubahan tingkah laku, pengetahuan, keterampilan, nilai dan sikap ke arah yang positif pada diri pembelajar. Dalam tesis ini individu yang menjadi obyek penelitian. Setelah melakukan belajar dapat menghasilkan perubahan penguasaan pengetahuan dalam pencapaian prestasi belajar yang positif / hasil belajar yang baik.

Menurut Munandir (2001 : 20) belajar merupakan perbuatan yang paling banyak dilakukan orang. Perbuatan ini dapat dilakukan di mana saja dan kapan saja, seperti belajar di tempat rekreasi, belajar di sekolah, belajar di rumah, bahkan belajar yang dilakukan seseorang ketika ia naik kendaraan bermotor (bus, kereta api, pesawat udara) dalam perjalanan menuju ke suatu tempat tertentu. Singkatnya, aktivitas belajar tidak dibatasi oleh tempat dan waktu.

Selanjutnya Maltby, dkk (1995 : 219) mendefinisikan belajar (learning) is the process by which an organism changes its behaviour as a result of experience. Belajar adalah proses perubahan tingkah laku yang terjadi di dalam diri seseorang individu sebagai hasil dari pengalaman. Menurut Hergenhahn dan Olson (1997 : 2) belajar (learning to gain knowledge, comprehension, or mastery through experience or study. Aktivitas belajar dimaksudkan untuk memperoleh penambahan pengetahuan, pemahaman, atau penguasaan melalui pengalaman dan aktivitas yang direncanakan.

Berdasarkan pendapat dan uraian di atas, penulis dapat menyimpulkan definisi belajar, yaitu : (1) Belajar merupakan suatu proses untuk memperoleh perubahan tingkah laku pada diri siswa, yang berupa perolehan pengetahuan (knowledge), pemahaman (comprehension), atau penguasaan (mastery) terhadap sesuatu materi / bahan pelajaran melalui pengalaman atau interaksi dengan lingkungan. Disebut proses artinya kegiatan belajar dipengaruhi oleh banyak faktor seperti potensi siswa, lingkungan siswa, penggunaan metode belajar dan media. (2) Perubahan tingkah laku tersebut bukan semata-mata sebagai hasil kematangan proses pertumbuhan atau faktor yang tidak disengaja. Ini artinya hasil belajar diperoleh melalui proses yang disengaja atau disadari, artinya seorang siswa sadar bahwa dirinya melakukan aktivitas belajar di sekolah. (3) Perubahan tingkah laku sebagai hasil belajar bersifat relatif permanen karena dapat disimpan di dalam ingatan (memory). Pengetahuan, pemahaman dan penguasaan tentang sesuatu materi pelajaran dapat disimpan oleh siswa di dalam ingatannya, yang setiap saat dapat ditayangkan kembali (retrievel), sehingga menjadi miliknya (self knowledge).

Prestasi belajar merupakan hasil belajar yang dicapai siswa menurut kemampuannya setelah ia melakukan kegiatan belajar dalam kurun waktu tertentu. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (1990 : 700) prestasi menunjuk pada hasil yang telah dicapai setelah seseorang melakukan atau mengerjakan suatu aktivitas. Aktivitas yang dilakukan oleh seseorang dapat mencakup pada berbagai bidang kehidupan, di antaranya adalah aktivitas belajar. Kemampuan seseorang siswa untuk melakukan aktivitas belajar akan mempengaruhi prestasi yang dicapai. Artinya bila seorang siswa memiliki kemampuan tinggi untuk melakukan aktivitas belajar, maka ia akan dapat memperoleh prestasi belajar yang tinggi, dan sebaliknya jika siswa tersebut kemampuan belajarnya rendah sehingga ia tidak mampu melakukan aktivitas belajar dalam kadar tinggi maka prestasi belajarnya diprediksikan rendah.

Menurut Suryabrata yang dikutip Muhari (1983 : 25) prestasi belajar adalah hasil belajar terakhir yang dicapai sebaik-baiknya dalam jangka waktu tertentu di sekolah. Soemarsono (1986 : 18) memberikan definisi prestasi belajar adalah suatu nilai yang mewujudkan hasil belajar siswa yang dicapai menurut kemampuannya dalam mengerjakan tugas pada saat tertentu.

Berdasarkan pendapat-pendapat di atas, penulis dapat menyimpulkan bahwa :

(1) Prestasi belajar merupakan wujud hasil belajar yang dicapai oleh siswa setelah ia melakukan aktivitas belajar di sekolah. (2) Hasil belajar tersebut dicapai siswa menurut kemampuannya, yang mencakup kemampuan intelektual maupun kemampuan nonintelektual. (3) Usaha belajar siswa merupakan proses yang dipengaruhi oleh banyak faktor, di antaranya penggunaan media yang relevan terhadap keunikan siswa dan lingkungan belajar. (4) Untuk mengetahui hasil belajar siswa di sekolah dilakukan evaluasi belajar.

 

Segala aktifitas belajar dan mengajar adalah untuk meningkatkan mutu pendidikan dengan meningkatkan prestasi belajar yang diperoleh oile siswa. Dalam konferensi badan UNESCO pada tahuin 1998 ada empat pilar yang harus digunakan sebagai pedoman peningkatan mutu pendidikan, yaitu ; belajar untuk mengetahui ( learning to know ) ; belajar untuk berkarya ( learning to do ) ; belajar menjadi diri sendiri ( learning to be ) ; dan belajar untuk hidup bersama ( learning life together ). Untuk memaknai arti belajar maka perlu diketahui apa yang di maksud dengan belajar.

Motivasi adalah suatu perubahan energi dalam diri seseorang yang ditandai dengan timbulnya perasaan dan reaksi untuk mencapai tujuan. Atau motivasi adalah dorongan untuk melakukan kegiatan belajar, baik yang berasal dari dalam diri seseorang ( intrinsik )  maupun dari luar diri seseorang ( ekstrinsik ).

Motivasi berfungsi sebagai pendorong, pengarah, dan penggerak tingkah laku. Motivasi juga mempunyai nilai dalam menentukan keberhasilan,demokratisasi pendidikan,membina kreatifitas dan menentukan efektifitas pembelajaran. adalah sebuah alasan atau dorongan seseorang untuk bertindak. Orang yang tidak mau bertindak sering kali disebut tidak memiliki motivasi. Alasan atau dorongan itu bisa datang dari luar maupun dari dalam diri. Sebenarnya pada dasarnya semua motivasi itu datang dari dalam diri, faktor luar hanyalah pemicu munculnya motivasi tersebut. Motivasi dari luar adalah motivasi yang pemicunya datang dari luar diri kita. Sementara meotivasi dari dalam ialah motivasinya muncul dari inisiatif diri kita.

Pada dasarnya motivasi itu hanya dua, yaitu untuk meraih kenikmatan atau menghindari dari rasa sakit atau kesulitan. Uang bisa menjadi motivasi kenikmatan maupun motivasi menghindari rasa sakit. Jika kita memikirkan uang supaya kita tidak hidup sengsara, maka disini alasan seseorang mencari uang untuk menghindari rasa sakit. Sebaliknya ada orang yang mengejar uang karena ingin menikmati hidup, maka uang sebagai alasan seseorang

Motivasi Diri adalah sebuah kemampuan kita untuk memotivasi diri kita tanpa memerlukan bantuan orang lain. Kita memiliki kemampuan untuk mendapatkan alasan atau dorongan untuk bertindak. Proses mendapatkan dorongan bertindak ini pada dasarnya sebuah proses penyadaran akan keinginan diri sendiri yang biasanya terkubur. Setiaporang memiliki keinginan yang merupakan dorongan untuk bertindak, namun seringkali dorongan tersebut melemah karena faktor luar. Melemahnya dorongan ini bisa dilihat dari hilangnya harapan dan ketidak berdayaan. Memotivasi diri adalah proses menghilangkan faktor yang melemahkan dorongan kita. Rasa tidak tidak berdaya dihilangkan menjadi pribadi yang lebih percaya diri. Sementara harapan dimunculkan kembali dengan membangun keyakinan bahwa apa yang diinginkanbisa kita capai. Dengan demikian jika sebuah sumbat motivasi (dalam hal ini ketidak berdayaan dan tanpa harapan) dihilangkan, maka aliran energi dalam tubuh kitabisa mengalir kembali.  Membangun impian adalah salah satu cara memotivasi diri sendiri. Namun, membangun impian bisa tidak berguna jika hambatan-hambatan pada diri sendiri masih ada. Inilah mengapa banyak orang yang tidak mau bermimpi, sebab ada sebuah faktor yang masih belum diselesaikan, yaitu faktor keberdayaan. Jadi, sebaiknya sebelum kita membangun mimpi, kita harus membangin rasa percaya diri terlebih dahulu. Jika tidak, membangun impian bisa percuma. Buat apa mimpi besar jika kita tidak percaya diri untuk mencapainya? Impian yang besar tanpa kepercayaan diri seperti mimpi di siang bolong, angan-angan, atau khayalan belaka. Mereka mengatakan ingin, tapi tidak ada tindakan yang terjadi. Hanya ada dua penyebab, harapan meraih mimpi yang tidak ada dan/atau mereka merasa tidak mampu meraih impian tersebut. Banyak orang yang mencoba menjelaskan bagaimana semua motivasi bekerja. Berikut adalah beberapa diantaranya:

  • Teori Insentif. Yaitu teori yang mengatakan bahwa seseorang akan bergerak atau mengambil tindakan karena ada insentif yang akan dia dapatkan. Misalnya, Anda mau bekerja dari pada sampai sore karena Anda tahu bahwa Anda akan mendapatkan intensif berupa gaji. Jika Anda tahu akan mendapatkan penghargaan, maka Anda pun akan bekerja lebih giat lagi. Yang dimaksud insentifbisa tangible atau intangible. Seringkali sebuah pengakuan dan penghargaan, menjadi sebuah motivasi yang besar.
  • Dorongan Bilogis. Maaf, yang dimaksud bukan hanya masalah seksual saja. Termasuk didalamnya dorongan makan dan minum. Saat ada sebuah pemicu atau rangsangan, tubuh kita akan bereaksi. Sebagai contoh, saat kita sedang haus, kita akan lebih haus lagi saat melihat segelas sirup dingin kesukaan Anda. Perut kita akan menjadi lapar saat mencipum bau masakan favorit Anda.Bisa dikatakan ini adalah dorongan fitrah atau bawaan kita sejak lahir untuk mempertahankan hidup dan keberlangsungan hidup.
  • Teori Hirarki Kebutuhan Teori ini dikenalkan oleh Maslow sehingga kita mengenal hirarki kebutuhan Maslow. Teori ini menyajikan alasan lebih lengkap dan bertingkat. Mulai dari kebutuhan fisiologis, kebutuhan akan kemanan, kebutuhan akan pengakuan sosial, kebutuhan penghargaan, sampai kebutuhan akan aktualisasi diri.
  • Takut Kehilangan vs Kepuasan. Teori ini mengatakan bahwa apda dasarnya ada dua faktor yang memotivasi manusia, yaitu takut kehilangan dan demi kempuasan (terpenuhinya kebutuhan). Takut kehilangan adalah adalah ketakutan akan kehilangan yang sudah dimiliki. Misalnya seseorang yang termotivasi berangkat kerja karena takut kehilangan gaji. Ada juga orang yang giat bekerja demi menjawab sebuah tantangan, dan ini termasuk faktor kepuasan. Konon, faktor takut kehilangan lebih kuat dibanding meraih kepuasan, meskipun pada sebagian orang terjadi sebaliknya.
  • Kejelasan Tujuan Teori ini mengatakan bahwa kita akan bergerak jika kita memiliki tujuan yang jelas dan pasti. Dari teori ini muncul bahwa seseorang akan memiliki motivasi yang tinggi jika dia memiliki tujuan yang jelas. Sehingga muncullah apa yang disebut dengan Goal Setting (penetapan tujuan) Lewis dalam bukunya mengatakan bahwa dengan : mendengar daya serap belajar 10 % ; melihat daya serap 20 % ; mendengar dan melihat 30 % ; melihat dan melakukan 70 %. Berdasar kerucut pengalaman belajar tersebut maka dalam memberikan pengetahuan siswa dalam tehnik lari perlu dikenalkan cara cara awalan lari, dan finis lari dari sebuah audio visual tentang tehnik lari yang benar, kemudioan siswa mencoba melakukan.

 

Siswa akan lebih mudah menemukan dan memahami konsep-konsep yang sulit apabila mereka dapat saling mendiskusikan konsep-konsep itu dengan temannya (Slavin, 1995 :70). Untuk leih jelasnya perbedaan antara kelompok belajar Multipt Accut Approach (Pendekatan Pembelajaran yang mengembangkan seluruh potensi peserta didik) dengan kelompok belajar konvensional dapat secara rinci dilihat dalam tabel 2.1 berikut ini:

Tabel  2.1

Perbedaan antara Multipt Accut Approach (Pendekatan Pembelajaran yang mengembangkan seluruh potensi peserta didik) dengan belajar konvensional

Multipt Accut Approach (Pendekatan Pembelajaran yang mengembangkan seluruh potensi peserta didik) Pembelajaran konvensional
1.Kepemimpinan bersama

2.Saling ketrgantungan yang positif

 

3.Keanggotaan hiterogen

4.Mempelajari ketrampilan-ketrampilanMultipt Accut Approach (Pendekatan Pembelajaran yang mengembangkan seluruh potensi peserta didik)

5.      Tanggung jawab terhadap hasil belajar

6.      Menekanakan pada tugas dan hubungan Multipt Accut Approach (Pendekatan Pembelajaran yang mengembangkan seluruh potensi peserta didik)

7.      Ditunjang oleh guru

8.      Satu hasil kelompok

9.      Evaluasi individu dan kelompok

1.      Satu Pemimpin

2.      Tidak ada saling ketergantungan

3.      Keanggotaan homogen

4.      Tidak mempelajari ketrampilan ketrampilan Multipt Accut Approach (Pendekatan Pembelajaran yang mengembangkan seluruh potensi peserta didik)

5.      Tanggung jawab terhadap hasil belajar

6.      Hanya menekankan pada tugas

 

 

 

 

 

7.      Diarahkan oleh guru

8.      Beberapa hasil individu

9.      Evaluasi individu

 

 

Ada beberapa variasi dari pendekatan Multipt Accut Approach (Pendekatan Pembelajaran yang mengembangkan seluruh potensi peserta didik) yang dapat digunakan antara lain: STAD (Student Teams Achievement Divisions), JIGSAW, Group Investigation (kelompok penyelidikan), dan Structural Approuch (Pendekatan Struktural). Namun yang akan digunakan dalam penyelidikan ini adalah STAD (Student Teams Achievement Division). (Materi CTL Guru Bidang Studi 2003:16)

Guru mempresentasikan sebuah pelajaran dan kemudian siswa bekerja dalam tim-timnya salah satu siswa dalam kelompok itu mempresentasikan didepan semua siswa lain untuk memastikan bahwa seluruh tim menuntaskan pelajaran itu, akhirnya seluruh siswa diberi kuis individual tentang bahan ajar itu dan pada saat itu tidak boleh saling membantu.

Selanjutnya peran guru dalam kegiatan pembelajaran Multipt Accut Approach (Pendekatan Pembelajaran yang mengembangkan seluruh potensi peserta didik) dapat dipahami dengan melihat perbedaan peran guru dalam Cooperatove Learning dengan kelompok belajar konvensional pada tabel 2.2 berikut:

Tabel 2.2

Perbedaan Peran Guru

Perbedaan Peran Guru Dalam
Multipt Accut Approach (Pendekatan Pembelajaran yang mengembangkan seluruh potensi peserta didik) Pembelajaran Konvensional
* Menunjang

* Mengarahkan kembali

pertanyaan

* Ketrampilan sosial guru

* Mengelola konflik

* Menumbuhkan nuansa saling

membutuhkan

* Membantu siswa

mengevaluasi kerja kelompok

* Mengembangkan perbedaan

pendapat

* Menyediakan sumber daya

* Mengarahkan

* Menjawab pertanyaan

 

* Memuat aturan

* Disiplin

* Menganjurkan kebebasan

atau berdiri sendiri

* Mengevaluasi individu

 

* Mengarahkan diskusi

 

* Bertindak sebagai nara

sumber utama

 

Dengan memperhatikan input dari siswa yang ada pada Siswa Kelas XII-IS-1 Semester Ganjil di SMA Negeri 6 Madiun. Kota Madiun Tahun Pelajaran 2015/2016. yang 80 % merupakan siswa dari keluarga masyarakat umumnya desa, memungkinkan secara fisik mereka punya potensi untuk lebih mudah dikembangkan dalam kompetisi fisik dalam bidang Pembelajaran Geografi. Untuk itu diperlukan media / sarana yang dapat membangkitkan semangat siswa agar terpacu untuk mengembangkan kemampuan yang dimilikinya dan di dukung faktor dari keseriusan guru dalam membimbing mereka meraih potensi yang dimilikinya.Salah satu cara yang lebih efektif adalah dengan adanya audio visual / CD pembelajaran tentang Kompetensi Dasar Menjelaskan Pembuatan Peta.

Persiapan yang dilakukan guru adalah dengan mengadakan alat CD pembelajaran dan perncanaan pembelajaran yang efektif.

 

Penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas ( classroom action research ) yang dilakukan untuk mengetahui peningkatan kompetensi siswa dalam pembelajaran dalam Kompetensi Dasar Menjelaskan Pembuatan Peta  yang benar  dengan menggunakan metode audio visual. Penelitian Tindakan Kelas ( PTK ) dilakukan dengan tahapan siklus daur ulang, Arikunto ( 2009 : 74 ) menyatakan bahwa PTK meliputi ( a ) perencanaan tindakan, ( b ) pelaksanaan tindakan, ( c ) pengamatan  dan, ( d ) refleksi,

 

Penelitian tindakan kelas ini dibagi dalam tiga siklus, yakni:

  • Siklus I selama 3 pekan (9 kali pertemuan)
  • Siklus II selama 3 pekan (9 kali pertemuan)
  • Siklus III selama 2 pekan (6 kali pertemuan)

Bahan refleksi awal dikumpulkan selama tiga kali pertemuan sebelum berlangsung siklus I. Untuk melengkapi bahan refleksi awal, maka dikumpulkan juga informasi tentang keadaan siswa dari guru-guru yang mengajar di kelas yang menjadi subjek penelitian. Setelah diadakan refleksi awal, maka pada pertemuan selanjutnya mulai dilaksanakan siklus I Kekurangan yang terjadi selama siklus I diperbaiki pada Siklus II dengan tetap mempertahankan hasil yang sudah diperoleh. Selanjutnya pada Siklus II sebagai siklus terakhir diadakan tindakan untuk memperbaiki hal-hal yang masih dipandang perlu dari siklus sebelumnya.

  1. Gambaran Kegiatan Siklus I

Siklus I berlangsung pada minggu kedua, ketiga, dan keempat catur wulan dua, yaitu dari tanggal 8 s.d. 24 September 2015 selama 9 kali pertemuan. Materi pelajaran pada Kompetensi Dasar Menjelaskan Pembuatan Peta yang diajarkan pada siklus ini adalah mengenai materi pembelajaran yang disampaikan dalam kegiatan pembelajaran yang meliputi:

Sesuai dengan tahapan yang harus diikuti dalam satu siklus, maka prosedur kegiatan siklus I dalam menyajikan bahan ajar tersebut adalah sebagai berikut:

  1. Perencanaan Tindakan

Adapun kegiatan yang berkaitan dengan tahap perencanaan tindakan pada siklus I adalah:

1) Menelaah kurikulum, dalam hal ini bahan ajar tersebut diatur sedemikian rupa sehingga dapat diajarkan selama 9 kali pertemuan.

2) Penulis mempelajari bahan ajar yang akan diajarkan dari berbagai sumber, baik dari buku paket maupun dari buku penunjang atau sumber  yang lain.

3) Bahan ajar yang telah dipelajari dicarikan cara penyajian yang cocok dengan  menggunakan metode dan pendekatan yang sesuai.

4) Menyiapkan sarana pendukung yang diperlukan dan menyampaikan kepada siswa supaya menyediakan segala kebutuhannya dalam mengikuti pelajaran.

  1. Pelaksanaan Tindakan

Dalam pelaksanaan tindakan siklus I ini, dilakukan kegiatan sebagai berikut:

1) Pada awal kegiatan pembelajaran, diberikan materi prasyarat yang diperlukan  sehubungan dengan bahan ajar yang akan disajikan pada Kompetensi Dasar Menjelaskan Pembuatan Peta

2) Penyajian bahan ajar dimulai dari yang sederhana dan diusahakan setiap langkah dapat mengarahkan kegiatan siswa pada  inti permasalahan  berdasarkan prinsip Multipt Accut Approach (Pendekatan Pembelajaran yang mengembangkan seluruh potensi peserta didik) dan keberagaman.

  • Bahan ajar yang memerlukan gambar dalam penyajiannya tidak langsung diberikan gambar sekaligus. Proses menggambar diperlihatkan kepada siswa dan langkah selanjutnya diusahakan dapat dicari sendiri terlebih
  • Bahan ajar yang tidak memerlukan gambar dalam penyajiannya tetap dimulai dari yang sederhana dengan menggunakan metode dan pendekatan yang sesuai. Agar penyajian bahan ajar tetap sesuai dengan prinsip Multipt Accut Approach (Pendekatan Pembelajaran yang mengembangkan seluruh potensi peserta didik) dan keberagaman, maka proses penyajiannya diusahakan menggunakan pengetahuan yang sudah dimiliki siswa. Supaya pengetahuan siswa dapat digunakan semaksimalnya, maka guru dapat saja membuat skenario yang dapat memancing atau menantang pikiran siswa.

3) Setelah selesai penyajian satu bahan ajar, siswa diberi kesempatan bertanya tentang hal-hal yang belum jelas.

4) Apabila dalam satu pertemuan terdapat beberapa bahan ajar yang harus disajikan maka sebelum pindah ke bahan ajar berikutnya, siswa terlebih dahulu mengerjakan latihan.

  1. Gambaran Kegiatan Siklus II

Siklus II dilaksanakan dari tanggal 17 September sampai dengan 26 November 2015 selama 9 kali pertemuan. Pada siklus ini dibahas tentang yang meliputi:

Pada Siklus II ini dilakukan langkah-langkah yang relatif sama pada siklus pertama dengan mengadakan beberapa perbaikan yang dipandang perlu menurut hasil analisis dan refleksi.

  1. Direncanakan bentuk tindakan yang dapat memperbaiki kekurangan yang terjadi pada siklus pertama. Di samping seperti bentuk tindakan dari siklus pertama, juga dilakukan hal-hal sebagai berikut:
  • Siswa yang kurang aktif pada siklus pertama diubah posisi tempat duduknya.
  • Siswa yang kelihatannya kurang mampu mengikuti pelajaran, sekali-kali didekati untuk diberikan bimbingan secara langsung.
  • Siswa yang sudah aktif mengikuti pelajaran, sekali-kali diberi kesempatan mengungkapkan yang diketahui dalam hubungannya dengan bahan ajar yang sedang dibahas.
  1. Selama berlangsung kegiatan pembelajaran perlu diperhatikan bahwa suatu masalah yang dikemukakan tidak dengan sendirinya akan merupakan masalah dalam pikiran siswa, kecuali dengan usaha yang cermat atau sengaja dilakukan guru.
  2. Pengamatan selama berlangsung tindakan tetap dilakukan dan secara khusus diperhatikan mengenai perilaku siswa yang masih perlu diperbaiki menurut pengalaman dari siklus pertama.
  3. Pada akhir siklus ini dilakukan evaluasi dengan memberikan tes sebanyak 5 butir soal uraian.
  4. Hasil pengamatan dan evaluasi dianalisis untuk dijadikan bahan pemikiran dalam merefleksi tindakan yang telah dilakukan. Dalam merefleksi dan merencanakan tindakan perbaikan kekurangan yang ditemukan selama Siklus II, penulis juga mendapat masukan dari guru penanggung jawab mata pelajaran Geografi di kelas yang menjadi subjek penelitian. Hal-hal yang masih perlu diperbaiki tindakan pada siklus berikutnya.
  5. Gambaran Kegiatan Siklus III

Siklus ketiga dilaksanakan pada minggu kedua dan ketiga bulan Pebruari, yakni berlangsung dari tanggal 7 s.d. 16 September 2015 selama 6 kali pertemuan. Siklus ketiga ini merupakan siklus terakhir, oleh karena itu hasilnya diharapkan dapat memberikan hasil yang lebih baik dari siklus sebelumnya. Adapun bahan ajar pada siklus ini adalah mengenai pada Kompetensi Dasar Menjelaskan Pembuatan Peta. Pada siklus ini perbaikan tetap dilakukan berdasarkan pengalaman dari siklus pertama dan kedua.

  1. Direncanakan bentuk tindakan akhir yang diharapkan dapat memperbaiki kekurangan dari siklus sebelumnya.
  2. Bentuk tindakan yang dilakukan pada siklus ini adalah:
  3. Pada awal pertemuan materi pelajaran diberikan secara garis besarnya saja.
  4. Dalam pembahasan contoh soal, siswa yang lebih banyak diaktifkan. Misalnya untuk memberikan penjelasan tentang latar belakang Kegiatan pada Pelajaran Geografi. Sebelum siswa secara bergantian memberikan pendapat, terlebih dahulu diberikan penjelasan pendahuluan. Siswa yang sudah mengerti diberi kesempatan menjelaskan kepada temannya yang belum mengerti, sedangkan guru pada saat itu membantu siswa yang memberi penjelasan apabila dipandang perlu.
  5. Diadakan pengamatan selama berlangsung kegiatan pembelajaran.
  6. Pada akhir siklus ini diadakan evaluasi dengan memberikan tes sebanyak 5 butir soal uraian.
  7. Data hasil tes dan hasil pengamatan dianalisis.
  8. Diadakan refleksi akhir dari semua tindakan yang telah dilakukan baik dari siklus pertama, kedua, maupun dari siklus ketiga ini.

 

Untuk memperoleh data yang akurat tentang teknik yang harus dilakukan siswa dalam lari peneliti menyiapkan lembar pengamatan / observasi. Adapaun salah satu lembar observasi tersebut dapat berbentuk sebagai berikut :

  1. Lembar Observasi
 

No

 

Nama siswa

Aspek yang diamatai Jlh

total score

Teknik Awalan Teknik Tumpuan Teknik Melayang Teknik Mendarat
Score

4 – 10

Score

4 – 10

Score

4 – 10

Score

4 – 10

1
2
3
dst

 

Pada lembar deskripsi ini peneliti mencatat semua yang terjadi pada saat proses kegiatan belajar mengajar berlangsung. Mulai dari kegagalan yang dilakukan siswa, pengarahan yang diberikan guru agar kegagalan itu tidak diulangi siswa, sampai dengan keberhaaasilannya. Termasuk juga penggunaan alat bantu berupa audio visualnya. Dicatat dampak kelemahan dari siswa melihat TV yang menayangkan cara / dalam Kompetensi Dasar Menjelaskan Pembuatan Peta  yang benar sesuai dengan urutan langkah dari awalan, tumpuan,melayang, menadarat. Dari alat yang digunakan sebagai alat bantu kelemahannya adalah ada beberapa siswa tidak melihat fokus dalam Kompetensi Dasar Menjelaskan Pembuatan Peta  tetapi asyik dengan film yang menunjukkan contoh lari yang benar, perlu persipan yang lebih lama dan banyak melibatkan teman guru lainnya.

  1. Penilaian untuk tugas karangan mencari pengertian biosfer dari situs internet.
  2. Penilaian berdasarkan pada rubrik penilaian berikut ini.
  3. Tindak lanjut:

–  Siswa dinyatakan berhasil jika tingkat pencapaiannya dengan SKBM 6.5 (65%)

–  Memberikan program remidi untuk siswa yang tingkat pencapaiannya kurang dari 65%

–  Memberikan program pengayaan untuk siswa yang tingkat pencapaiannya lebih dari 65%

  1. Lembar Penilaian Kognitif

Aspek            :     Kognitif

Nama             :

Kelas             :

No Nama No soal Skor Keterangan
1 2 3 4

 

Keterangan          :

No Aspek yang diniali Skor
1 Jawaban siswa kurang tepat 0 – 25
2 Jawaban siswa tidak lengkap tetapi benar 26 – 75
3 Jawaban siswa lengkap dan benar 76 – 100

5. Lembar  Penilaian  Pengamatan

Aspek                  :    Afektif

Nama                   :

Kelas                   :

No Pernyataan Skala

Sl

Sr Jr Tp
1 Siswa mengikuti pelajaran Geografi
2 Siswa merasa senang dengan pengajaran Geografi
3 Siswa bertanya pada guru bila ada yang tidak jelas
4 Siswa menyerahkan tugas tepat waktu
5 Siswa selalu mengerjakan soal – soal latihan
6 Siswa berusaha memiliki buku pelajaran Geografi
7 Siswa berusaha mencari referensi
8 Siswa saling berdiskusi dalam memecahkan materi pembelajaran
9 Siswa selalu mengajukan pertanyaan kepada guru
10 Siswa selalu menerima jawaban dalam memecahkan materi pembelajaran baik dari guru maupun dari sesama siswa

Tabel Penskoran Isntrumen Pengamatan

Aspek yang dinilai Skor pernyataan positif Skor pernyataan negatif
1.  Sl    =  selalu 4 1
2.  Sr    =  sering 3 2
3.  Jr     =  jarang 2 3
4.  Tp   =  tidak pernah 1 4

 

  1. Rubrik Penilaian Kegiatan Siswa
No Aspek yang dinilai Nilai

kualitatif

Nilai

kuantitatif

Deskripsi

(Alasan)

1 Pengantar menunjukkan isi
2 Pengantar disajikan dengan bahasa yang baik
3 Isi menunjukkan penjelasan dari kutipan/pendapat tokoh
4 Isi disajikan dengan bahasa yang baik
5 Penutup memberi kesimpulan akhir terhadap kutipan/pendapat tokoh
6 Penutup disajikan dengan bahasa yang baik
Jumlah
Rata Rata
Komentar

Kriteria Penilaian:

No Nilai kualitatif Nilai kuantitatif
1 Memuaskan 4 > 80
2 Baik 3 68 – 79
3 Cukup 2 56 – 67
4 Kurang 1 < 55

 

  1. Test Subyektif (dilakukan setelah penyampaian materi di akhir pembelajaran sebanyak 5 butir soal dengan waktu mengerjakan 15 menit)
  2. Tabel Penskoran
  3. Setiap Soal memiliki Skor 20. sehingga dari 5 soal diatas total Skor 100
  4. Masing masing Soal dijawab dengan benar bila :
No Soal Menjawab Benar Skor
1 Menjawab Benar semua 20
2 Menjawab Benar semua walau ada kesalahan yang tidak prinsip 20
3 Menjawab 4 aspek dengan benar memperoleh 20
Menjawab 3 aspek dengan benar memperoleh 15
Menjawab 2 aspek dengan benar memperoleh 10
Menjawab 1 aspek dengan benar memperoleh 5
Menjawab 0 aspek dengan benar memperoleh 0
4 Menjawab 4 aspek dengan benar memperoleh 20
Menjawab 3 aspek dengan benar memperoleh 15
Menjawab 2 aspek dengan benar memperoleh 10
Menjawab 1 aspek dengan benar memperoleh 5
Menjawab 0 aspek dengan benar memperoleh 0
5 Menjawab 4 kerangka dengan benar memperoleh 20
Menjawab 3 kerangka dengan benar memperoleh 15
Menjawab 2 kerangka dengan benar memperoleh 10
Menjawab 1 kerangka dengan benar memperoleh 5
Menjawab 0 kerangka dengan benar memperoleh 0

 

Nilai : Jumlah Total Skor  =

100

 

 

  1. Teknik Pengumpulan Data

Adapun teknik pengumpulan data pada penelitian ini adalah sebagai berikut:

  1. Mengenai data awal sebelum diadakan penelitian, dikumpulkan dengan cara memberi tes awal dan meminta tanggapan siswa secara tertulis setelah diadakan pembelajaran selama 3 kali pertemuan.
  2. Data mengenai perubahan sikap siswa dikumpulkan melalui pengamatan pada saat kegiatan pembelajaran berlangsung.
  3. Data mengenai tingkat penguasaan siswa terhadap bahan ajar setelah diadakan tindakan, dikumpulkan dengan menggunakan tes pada akhir setiap siklus dalam bentuk ulangan harian.
  4. Data mengenai pelaksanaan tindakan (kegiatan pembelajaran) dikumpulkan dengan memberi kesempatan siswa menuliskan tanggapannya pada akhir setiap

 

Data tentang hasil pengamatan dan tanggapan-tanggapan siswa dianalisis secara kualitatif, sedangkan data tentang hasil tes dianalisis secara kuantitatif dengan menggunakan statistik deskriptif. Data hasil tes yang dianalisis adalah skor perolehan siswa yang telah diubah ke bentuk persen dan selanjutnya disebut skor penguasaan atau daya serap.Untuk keperluan analisis tersebut disusun pula suatu kategori yang memadukan antara syarat siswa dikatakan tuntas belajar seperti yang tercantum dalam petunjuk teknis pelaksanaan PBM yang berlaku di sekolah (Depdikbud, 1994:37) dengan syarat-syarat keberhasilan siswa seperti dalam surat edaran Direktorat Pendidikan Menengah Umum No. 288/C3/MN/99. Adapun kategori yang disusun itu adalah apabila skor penguasaan 0- 34 dikategorikan sangat kurang, 35 – 54 dikategorikan kurang, 55 – 64 dikategorikan cukup, 65 – 84 dikategorikan tinggi, dan 85 – 100 dikategorikan sangat tinggi.

 

  1. Pembahasan
  2. Siklus I

Penelitian ini direncanakan menjadi 2 siklus, yang masing masing siklus akan dijabarkan mulai dari persiapan  ( 1 ) perencanaan ; ( 2 ) pelaksanaan ; ( 3 ) observasi ; dan ( 4 ) refleksi.

  1. Hasil Tes Awal

Berdasarkan analisis deskriptif hasil tes awal seperti pada lampiran, maka diperoleh rata-rata skor penguasaan siswa sebelum diadakan tindakan adalah 50,83 dari idealnya yang mungkin dicapai sama dengan 100. Rata-rata skor penguasaan yang diperoleh itu lebih rendah dari pada skor penguasaan yang diharapkan dan berlaku di sekolah (minimal 65). Sedangkan skor penguasaan terendah yang diperoleh adalah 20,00 dan tertinggi 80,00. Sehingga rentang skor penguasaan siswa sebesar 60,00. Selain itu, diperoleh pula median sebesar 50,00, modus sebesar 60,00, dan standar deviasi sebesar 15,48.

Apabila skor penguasaan siswa dimasukkan ke dalam kategori yang telah disusun, maka diperoleh distribusi seperti terlihat pada lampiran. Berdasarkan tabel tersebut, diperoleh informasi bahwa dari 48 orang siswa yang ikut pada tes awal, terdapat 39 orang (81,25%) memiliki skor penguasaan kurang dari 65 dan 9 orang (18,75%) yang mencapai skor penguasaan 65 atau lebih. Dari 39 orang siswa yang memiliki skor penguasaan kurang dari 65, terdapat 7 orang dalam kategori sangat kurang, 18 orang dalam kategori kurang, dan 14 orang dalam kategori cukup. Sedangkan siswa yang mencapai skor penguasaan 65 atau lebih, semuanya dalam kategori tinggi.

  1. Hasil Tes Siklus I

Analisis deskriptif hasil tes siklus I terlihat pada lampiran. Dari hasil analisis tersebut, diperoleh rata-rata skor penguasaan siswa sebesar 66,92 dari idealnya yang mungkin dicapai sebesar 100 dan standar deviasi sebesar 14,65. Rata-rata skor penguasaan yang diperoleh itu sudah berada berada di atasnya skor penguasaan minimal yang diharapkan (minimal 65). Hal ini menunjukkan bahwa penguasaan siswa terhadap bahan ajar setelah diadakan pembelajaran dengan prinsip Multipt Accut Approach (Pendekatan Pembelajaran yang mengembangkan seluruh potensi peserta didik) dan keberagaman mengalami peningkatan. Sedangkan skor penguasaan terendah yang diperoleh sebesar 25,00 dan tertinggi sebesar 90,00, sehingga rentangnya menjadi 65,00. Selain itu, juga diperoleh median sebesar 70,00 dan modus sebesar 75,00. Jika skor penguasaan siswa tersebut dimasukkan ke dalam kategori yang telah disusun, maka diperoleh distribusi seperti terlihat pada tabel lampiran. Pada tabel tersebut diperoleh bahwa dari 49 orang siswa yang mengikuti tes pada akhir siklus I, terdapat 18 orang (36,73%) memperoleh skor penguasaan kurang dari 65 dan 31 orang (63,27) mencapai skor penguasaan 65 atau lebih. Siswa yang memperoleh skor penguasaan kurang dari 65 terdiri dari 1 orang dalam kategori sangat kurang, 7 orang dalam kategori kurang, dan 10 orang dalam kategori cukup. Sedangkan siswayang mencapai skor penguasaan 65 atau lebih terdiri dari 24 orang dalam kategori tinggi, dan 7 orang dalam kategori sangat tinggi. Rekaman hasil penilaian secara kualitatif mengenai pelaksanaan siklus I dapat dilihat pada lampiran. Kejadian yang dicatat sehubungan dengan siklus I adalah:

1) Pada pertemuan pertama terdapat beberapa siswa kurang memperhatikan penyajian pelajaran. Tetapi ada juga yang menunjukkan adanya perhatian terhadap langkah penyajian. Bahkan sekali-kali memberikan pendapat yang berhubungan dengan bahan ajar.

2) Pada pertemuan selanjutnya, keaktifan siswa semakin menunjukkan adanya peningkatan. Hal ini ditandai dengan munculnya pertanyaan yang berkaitan dengan bahan ajar yang disajikan.

3) Apabila siswa ditantang untuk mengungkapkan pendapatnya mengenai langkah dari suatu penyajian bahan ajar, maka masih lebih banyak didominasi oleh siswa tertentu saja.

4) Kesalahan yang biasa ditemukan pada saat mengerjakan soal umumnya disebabkan kurang telitinya siswa.

Hasil Prestasi Belajar siswa Pada Siklus I

No Nama Hasil Prestasi
1 AGUNG SETIAWAN 66
2 ANANG HERMANU 63
3 ANDRI TRI GOZALI 64
4 ARI HARDIANTO 64
5 BAMBANG RIVAN 75
6 CATUR FAHMI TANJUNG 66
7 DEDE EDY SUBAGIYO 63
8 DIMAS APRIAN 61
9 FARIS SAPUTRO 64
10 GATUT FEBRI LAKSONO 75
11 HANDRIK JAYA SUMANTRI 62
12 JANU GANDRIANTO WASIS 60
13 KRISNA WARDAYA 63
14 LIFTYA VICKY ARDANA 62
15 LUKMAN NUGROHO 64
16 MUHAMMAD YUSUF 75
17 NARDI JATMIKO 66
18 OKTA SYAHPUTRA 63
19 PERMADI HERMANIANTO 63
20 RAHMAWANTO 64
21 RIAWAN SULISTIANTO 75
22 RIZKI MAULANA 62
23 RYAN HASSRI ARMANDO 75
24 WANTO ERIKO 62
25 WAWAN SISWANTO 60
26 YANGGA PERMANA PUTRA 63
27 YANTO HARYADI 64
28 YANTO KUSUMA BUDIMAN 64
29 YULIUS YUDHA PRAPANCA 75
30 ZAENURI YOGI GUSNA 66
Jumlah 1909
Rata rata 63.63
Prosentase 64%

 

Dari hasil prestasi pada siklus I secara rata rata hasil yang dapat dicapai siswa sebesar 63.63. (64%) Hal ini masih berada dibawah standart KKM yang telah dicantumkan pafda Tahun Pelajaran baru sebesar 75 (75%). Maka dari hasil proses pembelajaran tersebut perlu dilakukan perbaikan pada siklus II dan masih dinyatakan Belum Tuntas atau Belum Berhasil

 

  1. Siklus II

Analisis deskriptif hasil tes Siklus II terlihat pada lampiran. Berdasarkan hasil analisis tersebut, diperoleh rata-rata skor penguasaan siswa sebesar 73,84 dari idealnya yang mungkin dicapai sebesar 100 dan standar deviasi sebesar 13,35. Selain itu, didapatkan pula skor penguasaan terendah yang dicapai sebesar 31,00 dan tertinggi 98,00, sehingga rentang skor penguasaan siswa pada siklus ini sebesar 67,00. Sedangkan median dari skor penguasaan tersebut adalah 74,00 dan modusnyaadalah 67a.

Apabila skor penguasaan siswa dimasukkan ke dalam kategori yang telah disusun, maka diperoleh distribusi seperti terlihat pada tabel lampiran. Berdasarkan tabel tersebut diperoleh bahwa dari 49 orang siswa yang mengikuti tes pada akhir Siklus II, terdapat 9 orang (18,37%) yang memperoleh skor penguasaan kurang dari 65 dan 40 orang (81,63%) mencapai skor penguasaan 65 atau lebih. Siswa yang memperoleh skor penguasaan kurang dari 65, terdiri dari 1 orang dalam kategori sangat kurang, 3 orang dalam kategori kurang, dan 5 orang dalam kategori cukup. Sedangkan siswa yang mencapai skor penguasaan 65 atau lebih terdiri dari 28 orang dalam kategori tinggi dan 12 orang dalam kategori sangat tinggi. Pada Siklus II ini, hal-hal yang perlu dicatat adalah:

  • Perhatian siswa dalam mengikuti pelajaran semakin baik dibandingkan pada siklus sebelumnya. Hal ini ditandai semakin banyaknya siswa yang aktif apabila diberikan kesempatan untuk mengungkapkan pendapatnya tentang yang berhubungan dengan materi pelajaran yang sedang dibahas.

2) Setelah diberikan bimbingan secara langsung kepada mereka yang dipandang perlu, maka ia dapat mengikuti pelajaran seperti halnya temannya yang lain. Namun dalam bagian-bagian tertentu, ia masih perlu diberikan bimbingan.

3) Pada umumnya siswa dapat mengikuti pelajaran dengan baik. Hal ini ditandai dengan munculnya pemyataan-pemyataan siswa yang menggambarkan bahwa materi pelajaran yang telah dibahas sudah dimengerti.

4) Dalam mengerjakan soal latihan terkadang masih ditemukan hal-hal yang masih perlu dimantapkan, misalnya yang berhubungan dengan barang dan jasa serta uang dalam Kegiatan pada Pelajaran Geografi

 

 

Hasil Prestasi Belajar siswa Pada Siklus II

No Nama Hasil Prestasi
1 AGUNG SETIAWAN 77
2 ANANG HERMANU 74
3 ANDRI TRI GOZALI 69
4 ARI HARDIANTO 75
5 BAMBANG RIVAN 76
6 CATUR FAHMI TANJUNG 68
7 DEDE EDY SUBAGIYO 77
8 DIMAS APRIAN 73
9 FARIS SAPUTRO 74
10 GATUT FEBRI LAKSONO 70
11 HANDRIK JAYA SUMANTRI 74
12 JANU GANDRIANTO WASIS 74
13 KRISNA WARDAYA 69
14 LIFTYA VICKY ARDANA 75
15 LUKMAN NUGROHO 76
16 MUHAMMAD YUSUF 68
17 NARDI JATMIKO 77
18 OKTA SYAHPUTRA 73
19 PERMADI HERMANIANTO 74
20 RAHMAWANTO 70
21 RIAWAN SULISTIANTO 74
22 RIZKI MAULANA 69
23 RYAN HASSRI ARMANDO 75
24 WANTO ERIKO 76
25 WAWAN SISWANTO 68
26 YANGGA PERMANA PUTRA 77
27 YANTO HARYADI 73
28 YANTO KUSUMA BUDIMAN 74
29 YULIUS YUDHA PRAPANCA 70
30 ZAENURI YOGI GUSNA 74
Jumlah 2193
Rata rata 73.1
Prosentase 73%

 

Dari hasil prestasi pada siklus II secara rata rata hasil yang dapat dicapai siswa sebesar 73.1. (73%) Hal ini masih berada dibawah standart KKM yang telah dicantumkan pafda Tahun Pelajaran baru sebesar 75 (75%). Maka dari hasil proses pembelajaran tersebut perlu dilakukan perbaikan pada siklus III dan masih dinyatakan Belum Tuntas atau Belum Berhasil

 

  1. Siklus III

Berdasarkan analisis deskriptif hasil tes siklus III seperti terlihat pada lampiran, maka diperoleh rata-rata skor penguasaan siswa sebesar 74,57 dari idealnya yang mungkin dicapai sebesar 100 dan standar deviasi 13,09. Skor penguasaan terendah yang diperoleh sebesar 37,00 dan tertinggi 98,00, sehingga rentangnya sebesar 61,00. Di samping itu, diperoleh pula median sebesar 76,00 dan modus sebesar 73,00.

Jika skor penguasaan siswa dimasukkan ke dalam kategori yang telah disusun, maka diperoleh distribusi seperti terlihat pada tabel lampiran. Tabel tersebut memperlihatkan bahwa dari 47 orang siswa yang mengikuti tes pada akhir Siklus II1, terdapat 7 orang (14,89%) yang memperoleh skor penguasaan kurang dari 65 dan 40 orang (85,11%) mencapai skor penguasaan 65 atau lebih. Siswa yang memperoleh skor penguasaan kurang dari 65 terdiri dari 3 orang dalam kategori kurang dan 4 orang dalam kategori cukup. Sedangkan siswa yang mencapai skor penguasaan 65 atau lebih terdiri dari 27 orang dalam kategori tinggi dan 13 orang dalam kategori sangat tinggi. Selama berlangsung Siklus II1, dicatat hal-hal sebagai berikut:

1) Pada siklus ketiga ini penyajian materi pelajaran lebih banyak menggunakan contoh soal, dimana pada awal tatap muka hanya diberikan teorinya secara garis besar. Dalam membahas contoh tersebut, siswa yang lebih banyak diaktifkan dengan menggunakan metode tanya jawab.

2) Melalui cara seperti di atas, ternyata siswa lebih tertarik (termotivasi). Hal ini ditandai dengan semakin banyaknya siswa yang mengacungkan tangan untuk memberikan jawaban dari soal yang sedang dibahas.

3) Pada siklus ini siswa sudah lebih terbuka mengungkapkan pendapatnya dibandingkan pada siklus sebelumnya. Sehingga antara siswa sendiri terjadi interaksi timbal balik kalau ada masalah yang ditemukan.

4) Hal ini yang diperoleh pada siklus ini adalah hampir pada setiap pertemuan tidak ditemukan lagi tanggapan siswa yang sifatnya karena kurang mengerti materi pelajaran yang telah dibahas.

Hasil Prestasi Belajar siswa Pada Siklus III

No Nama Hasil Prestasi
1 AGUNG SETIAWAN 88
2 ANANG HERMANU 86
3 ANDRI TRI GOZALI 79
4 ARI HARDIANTO 83
5 BAMBANG RIVAN 87
6 CATUR FAHMI TANJUNG 88
7 DEDE EDY SUBAGIYO 89
8 DIMAS APRIAN 85
9 FARIS SAPUTRO 79
10 GATUT FEBRI LAKSONO 78
11 HANDRIK JAYA SUMANTRI 83
12 JANU GANDRIANTO WASIS 85
13 KRISNA WARDAYA 79
14 LIFTYA VICKY ARDANA 83
15 LUKMAN NUGROHO 87
16 MUHAMMAD YUSUF 88
17 NARDI JATMIKO 89
18 OKTA SYAHPUTRA 85
19 PERMADI HERMANIANTO 79
20 RAHMAWANTO 78
21 RIAWAN SULISTIANTO 83
22 RIZKI MAULANA 85
23 RYAN HASSRI ARMANDO 79
24 WANTO ERIKO 78
25 WAWAN SISWANTO 83
26 YANGGA PERMANA PUTRA 85
27 YANTO HARYADI 79
28 YANTO KUSUMA BUDIMAN 83
29 YULIUS YUDHA PRAPANCA 87
30 ZAENURI YOGI GUSNA 88
Jumlah 2508
Rata rata 83.6
Prosentase 84%

 

Dari hasil prestasi pada siklus III secara rata rata hasil yang dapat dicapai siswa sebesar 83.6. (84%) Hal ini masih berada dibawah standart KKM yang telah dicantumkan pafda Tahun Pelajaran baru sebesar 75 (75%). Maka dari hasil proses pembelajaran tersebut Tidak perlu dilakukan perbaikan pada siklus berikutnya dan masih dinyatakan Tuntas atau Berhasil.

 

Pada Siklus hasil analisis hasil tes pada siklus ini, terlihat adanya peningkatan rata-rata skor penguasaan siswa. Sebelum diadakan tindakan rata-rata skor penguasaan siswa sebesar 50,83, tetapi pada siklus ini sudah meningkat menjadi 66,92. Skor penguasaan itu memberikan indikasi bahwa penguasaan siswa terhadap bahan ajar sebelum diadakan penelitian masih kurang menurut kategori yang digunakan. Sedangkan setelah diadakan tindakan melalui pembelajaran dengan menggunakan prinsip Multipt Accut Approach (Pendekatan Pembelajaran yang mengembangkan seluruh potensi peserta didik) dan keberagaman, penguasaan siswa sudah meningkat dan tergolong tinggi. Oleh karena itu penyajian pelajaran dengan cara yang telah dilakukan pada siklus 1, telah memberikan hasil yang lebih baik dibandingkan sebelum penelitian.

Meningkatnya penguasaan siswa seperti disebutkan di atas sejalan dengan meningkatnya nilai median skor penguasaan siswa. Median yang telah dicapai sebesar 70,00, scdangkan sebelumnya hanya 50,00. Berdasarkan median yang tclah dicapai tersebut, maka dari 49 orang yang mengikuti tes pada akhir siklus I dapat diperoleh sebanyak 24 orang siswa memiliki skor penguasaan paling tinggi 70,00 dan 24 orang siswa skor penguasaannya paling rendah 70,00.

Walaupun pada siklus I ini sudah menunjukkan penguasaan mengalami peningkatan, tetapi penguasaan yang telah dicapai itu sebenarnya masih perlu ditingkatkan lagi. Hal ini dapat dilihat dari banyaknya siswa yang sudah mencapai skor penguasaan 65 atau lebih. Pada tabel 4.2 dapat diperoleh bahwa baru 63,27% siswa yang mencapai penguasaan 65 atau lebih. Sedangkan suatu kelompok (kelas) dikatakan tuntas apabila paling rendah 85% siswa yang mencapai skor penguasaan 65 atau lebih. Penyebab sehingga masih kurang siswa yang mencapai skor penguasaan 65 atau lebih, diantaranya adalah siswa yang aktif masih didominasi oleh siswa tertentu. Mereka yang aktif itu pada umumnya juga yang aktif pada pertemuan­pertemuan sebelumnya.

Pada pertemuan Pertama terdapat beberapa orang yang kurang memperhatikan penyajian pelajaran. Mereka yang tidak memperhatikan pelajaran adalah yang posisi tempat duduknya agak dibelakang dan terlalu rapat. Sedangkan pada pertemuan-pertemuan selanjutnya, muncul tanggapan dari siswa yang berkaitan dengan bahan pelajaran yang sedang dibahas. Misalnya seorang siswa yang mengatakan bahwa apa salahnya kalau mistar saja dipakai melukis garis singgung, tidak usah pakai jangka. Tanggapan seperti itu menunjukkan bahwa siswa masih mengharapkan supaya penyajian bahan pelajaran dilakukan lebih praktis (singkat) lagi. Di samping itu, tanggapan tersebut menunjukkan pula bahwa dalam mengikuti penyajian bahan pelajaran, siswa belum mengetahui tujuan dari langkah-langkah kegiatan yang diberikan. Sesuai dengan ciri suatu Multipt Accut Approach (Pendekatan Pembelajaran yang mengembangkan seluruh potensi peserta didik) dan keberagaman yang baik, bahwa harus membangkitkan tujuan, maka dalam menyajikan bahan pelajaran seperti di atas, siswa harus diupayakan dapat mengetahui tujuan dari langkah-langkah kegiatan yang dilakukan. Oleh karena itu, bentuk penyajian bahan pelajaran dengan menggunakan prinsip Multipt Accut Approach (Pendekatan Pembelajaran yang mengembangkan seluruh potensi peserta didik) dan keberagaman pada siklus I masih perlu diperbaiki supaya kekurangan yang terjadi seperti di atas tidak terulang. Kekurangan yang terjadi pada saat proses pembelajaran sejalan dengan tanggapan yang diberikan siswa pada akhir siklus I. Di mana terdapat siswa menganggap penyajian pelajaran masih rumit dan penjelasan materi pelajaran masih perlu dipersingkat. Walaupun demikian, sebenarnya pada siklus ini umumnya siswa sudah bisa menerima dengan baik materi pelajaran yang diajarkan. Hal ini tercermin pada tanggapan-tanggapan yang diberikan secara tertulis bahwa penyajian bahan pelajaran sudah lebih mudah dimengerti/dipahami dari pada sebelum diadakan tindakan. Oleh karena itu, bentuk tindakan yang telah dilakukan pada siklus I tetap dipertahankan pada siklus II. Hanya pada siklus II siswa yang dianggap kurang mengerti diberikan bimbingan secara langsung.

Pada siklus II ini, rata-rata skor penguasaan siswa semakin meningkat. Rata-rata itu meningkat dari 66,92 yang dicapai pada siklus I menjadi 73,84 pada siklus II. Hal itu menunjukkan bahwa penguasaan siswa terhadap bahan ajar pada siklus II semakin meningkat pula. Penguasaan siswa terhadap bahan ajar pada siklus II sudah tergolong tinggi menurut kategori yang digunakan. Meningkatnya penguasaan siswa itu merupakan indikator yang menandakan bahwa bentuk pembelajaran yang dilakukan dengan menggunakan prinsip Multipt Accut Approach (Pendekatan Pembelajaran yang mengembangkan seluruh potensi peserta didik) dan keberagaman pada siklus II semakin memberikan hasil yang lebih baik. Meningkatnya penguasaan siswa didukung oleh semakin meningkatnya median dari skor penguasaan yang dicapai dari hasil tes pada akhir siklus II. Pada siklus II median skor penguasaan siswa sudah mencapai 74,00. Median sebesar itu menunjukkan bahwa dari 49 orang yang ikut tes pada akhir siklus II, dapat diperoleh 24 orang siswa yang mencapai penguasaan paling tinggi 74,00 dan 24 orang siswa penguasaannya paling rendah 74,00. Meningkatnya median tersebut sesuai dengan hasil pengamatan pada saat pembelajaran berlangsung. Di mana perhatian siswa dalam mengikuti pelajaran semakin baik dibandingkan pada siklus sebelumnya. Siswa yang tidak mengerti bahan pelajaran yang sedang dibahas diberikan bimbingan secara langsung. Sedangkan yang sudah mengerti tentang bahan pelajaran yang sedang dibahas, diberi kesempatan mengungkapkan pendapatnya. Meningkatnya penguasaan siswa ditandai pula dengan munculnya tanggapan-tanggapan yang berkaitan dengan bahan pelajaran pada saat proses pembelajaran berlangsung. Tanggapan tersebut umumnya menunjukkan bahwa bahan pelajaran yang telah dibahas sudah dimengerti dan siswa sudah dapat mengetahui hubungannya dengan pengetahuan yang sudah dimiliki. Sebagai contoh adalah tanggapan siswa yang mengatakan bahwa memfaktorkan suku banyak mirip dengan memfaktorkan bilangan. Oleh karena itu, penyajian bahan pelajaran yang telah dilakukan pada siklus II telah memberikan hasil yang lebih baik dibandingkan dengan pada siklus I. Sampai pada siklus II ini masih terdapat hal-hal yang perlu diperbaiki, diantaranya tentang pengefektifan waktu dalam memberikan bimbingan secara langsung kepada siswa yang belum mengerti tentang bahan pelajaran yang telah dibahas. Jika banyak siswa yang kurang mengerti maka pasti membutuhkan waktu yang cukup lama, sementara alokasi waktu sangat terbatas. Oleh karena itu, masih perlu diadakan tindakan perbaikan pembelajaran pada siklus berikutnya.

Sampai pada siklus III ini, terlihat rata-rata skor penguasaan siswa masih tetap menunjukkan adanya peningkatan. Meningkatnya rata-rata skor penguasaan itu memberikan indikasi bahwa penguasaan siswa terhadap bahan pelajaran semakin meningkat pula pada siklus III. Oleh karena itu, bentuk tindakan yang dilakukan pada siklus ini memberikan hasil yang lebih baik dari pada tindakan pada siklus sebelumnya.

Meningkatnya penguasaan siswa juga ditandai dengan semakin banyaknya siswa yang mencapai skor penguasaan 65 atau lebih. Siswa yang mencapai skor penguasaan 65 atau lebih sebanyak 85,11% dan ini menunjukkan bahwa penguasaan siswa terhadap bahan pelajaran pada siklus III sangat tinggi. Di samping itu kelas yang menjadi subjek penelitian sudah tuntas klasikal pada siklus terakhir ini. Bentuk tindakan yang dilakukan pada siklus ini, dapat pula membawa siswa kearah perubahan sikap yang lebih mendukung berlangsungnya kegiatan pembelajaran. Siswa pada siklus ini sudah lebih terbuka dalam mengungkapkan pendapatnya. Bahkan apabila ditunjuk secara acak untuk memberikan jawaban, tidak ditemukan lagi siswa yang tidak dapat menjawab dengan benar. Hampir pada setiap pertemuan sudah tidak ada lagi siswa yang tidak dapat mengikuti pelajaran. Hal ini sejalan dengan tanggapan siswa yang dibuat pada akhir siklus III. Dari tanggapan-tanggapan tersebut tidak ada lagi siswa yang mengharapkan suatu perbaikan kegiatan pembelajaran yang telah dilakukan. Semua siswa menanggapi bahwa bentuk kegiatan pembelajaran yang telah dilakukan pada siklus III sudah berlangsung dengan baik. Maka dari dari hasil penelitian Dari hasil prestasi pada siklus I secara rata rata hasil yang dapat dicapai siswa sebesar 63.63. (64%) Hal ini masih berada dibawah standart KKM yang telah dicantumkan pafda Tahun Pelajaran baru sebesar 75 (75%). Maka dari hasil proses pembelajaran tersebut perlu dilakukan perbaikan pada siklus II dan masih dinyatakan Belum Tuntas atau Belum Berhasil. Dan Dari hasil prestasi pada siklus II secara rata rata hasil yang dapat dicapai siswa sebesar 73.1. (73%) Hal ini masih berada dibawah standart KKM yang telah dicantumkan pafda Tahun Pelajaran baru sebesar 75 (75%). Maka dari hasil proses pembelajaran tersebut perlu dilakukan perbaikan pada siklus III dan masih dinyatakan Belum Tuntas atau Belum Berhasil. Serta Dari hasil prestasi pada siklus III secara rata rata hasil yang dapat dicapai siswa sebesar 83.6. (84%) Hal ini masih berada dibawah standart KKM yang telah dicantumkan pafda Tahun Pelajaran baru sebesar 75 (75%). Maka dari hasil proses pembelajaran tersebut Tidak perlu dilakukan perbaikan pada siklus berikutnya dan masih dinyatakan Tuntas atau Berhasil.

 

  1. Penutup

a.Kesimpulan

Proses pembelajaran adalah suatu kegiatan yang tidak boleh putus antara satu kegiatan dengan kegiatan pembelajaran berikutnya. Hal ini harus menjadi perhatian guru, bahwa siswa dikatakan belajar jika mereka pernah mengalami proses tersebut. Dan belajar adalah adanya perubahan ke arah yang lebih meningkat baik dari aspek pengetahuan, ketrampilan dan sikap. Identifikasi masalah dan menemukan solusi dari masalah yang ditemukan adalah suatu usaha yang perlu dilakukan oleh seorang guru untuk melihat apakah proses pembelajaran itu berkualitas ke arah peningkatan ketrampilan,khususnya dalam bidang Pembelajaran Geografi. Salah satu pemecahan masalah dalam dalam Kompetensi Dasar Menjelaskan Pembuatan Peta  danm   adalah penggunaan media audio visual berupa CD,VCD rekaman kegiatan Pembelajaran Geografi yang pernah diselenggarakan baik tingkat daerah maupun nasional dan internasional.

Penglaman siswa dengan melihat secara langsung atlit yang profesional akan menumbuhkan semangat untuk melakukan hal yang lebih dan menumbuhkan konsentrasi serta memberikan gambaran bahwa Pembelajaran Geografi bisa dijadikan sebagai sumber kehidupan.

Pada kedua siklus yang disajikan dalam penelitian tindakan kelas ini sebagian sudah dapat memberikan jawaban dari rumusan masalah yang dimunculkan diawal bab ini; bahwa metode / teknik guru dalam kelas dan diluar kelas dengan ceramah dan contoh dari guru kurang memberikan dampak semangat motiuvasi dan dalam Kompetensi Dasar Menjelaskan Pembuatan Peta  yang benar. Media audio visual perlu dimiliki dan sering digunakan oleh guru untuk mem,berikan daya tarik bagi siswa dalam bidang Pembelajaran Geografi. Dari hasil prestasi pada siklus I secara rata rata hasil yang dapat dicapai siswa sebesar 63.63. (64%) Hal ini masih berada dibawah standart KKM yang telah dicantumkan pafda Tahun Pelajaran baru sebesar 75 (75%). Maka dari hasil proses pembelajaran tersebut perlu dilakukan perbaikan pada siklus II dan masih dinyatakan Belum Tuntas atau Belum Berhasil. Dan Dari hasil prestasi pada siklus II secara rata rata hasil yang dapat dicapai siswa sebesar 73.1. (73%) Hal ini masih berada dibawah standart KKM yang telah dicantumkan pafda Tahun Pelajaran baru sebesar 75 (75%). Maka dari hasil proses pembelajaran tersebut perlu dilakukan perbaikan pada siklus III dan masih dinyatakan Belum Tuntas atau Belum Berhasil. Serta Dari hasil prestasi pada siklus III secara rata rata hasil yang dapat dicapai siswa sebesar 83.6. (84%) Hal ini masih berada dibawah standart KKM yang telah dicantumkan pafda Tahun Pelajaran baru sebesar 75 (75%). Maka dari hasil proses pembelajaran tersebut Tidak perlu dilakukan perbaikan pada siklus berikutnya dan masih dinyatakan Tuntas atau Berhasil.

 

  1. Saran

Banyak hal yang seharusnya disajikan dalam penelitian ini agar setiap aspek dalam dalam Kompetensi Dasar Menjelaskan Pembuatan Peta dan diketahui kekurangan dan dicarikan solusinya. Namun dengan keterbatasan kemampuan, pikiran dan kurangnya referensi peneliti, menyebabkan masih kurang sempurnanya penelitian tindakan kelas ini. Terutama dalam penyajian di tiap siklus di bagian tahap pelaksanaan dan observasi.Kritik dan saran bagi semua rekan guru sangat membantu untuk kesempurnaan penelitian ini, sehingga dalam tahap penelitian tindakan kelas yang lainnya akan menjadi lebih sempurna.

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Departemen Pendidikan Nasional, 2003, Kurikulum 2004 Standar Kompetensi Mata Pelajaran Geografi Sekolah Menengah Atas dan Madrasah Ibtidaiyah, Jakarta

Badan Standar Nasional Pendidikan, 2009, Permen 22 tahun 2009  tentang Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar Mata Pelajaran GeografiSD / MI, Jakarta

Ari kunto,Suharsimi, 2009, Penilitian Tindakan Kelas, Jakarta ; Bina Aksara

Direktorat Profesi Pendidik, 2009,Pedoman Pelaksanaan Pemberian Block Grant Kegiatan Pengembangan Profesi Guru Berupa Pelatihan Tindakan Kelas.Jakarta

Salim, Djohan.2000, Musik Meningkatkan Intelegensi Manusia.Yogyakarta :Institute for Music Education Studies.

Aqib, Zainal.2002,Profesionalisme Guru dalam Pembelajaran,Surabaya, Insan Cendekia

Usman Moh.Uzer, 2002, Menjadi Guru Profesional,Bandung ; Remaja Rosda Karya,Bandung

Tim Bina Karya Guru, 2000, Geografi untuk Sekolah Menengah Atas 6 ; Erlangga,Jakarta

Views All Time
Views All Time
259
Views Today
Views Today
1

LEAVE A REPLY