ULANGAN HARIAN, DARI MASALAH MEMBAWA HIKMAH ( DYAH SETIYARINI, S.Pd, Guru UPTD SMPN 5 Batu Ampar- Tanah Laut)

0
13

Saya adalah seorang guru di UPTD SMP Negeri 5 Batu Ampar Kabupaten Tanah Laut. Mengajar mata pelajaran Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan (PPKn). Pada tahun 2016 yang lalu,  di sekolah tempat saya mengajar jumlah peserta didiknya ada  110  orang, dengan jumlah rombongan belajar  5 (lima)  kelas.

Pada waktu itu, jumlah beban jam mengajar saya di UPTD SMP Negeri 5 Batu Ampar sebanyak 15 jam pelajaran. Kemudian, dalam rangka  memenuhi beban mengajar 24 jam mengajar agar mendapatkan nilai Penilaian Kinerja Guru secara maksimal,  saya menambah jam mengajar di SMK Negeri 1 Takisung, sebuah sekolah yang berada di daerah dekat pantai.

Mengajar pada jenjang berbeda tersebut merupakan tantangan tantangan tersendiri bagi saya, selain dapat lebih mengembangkan kompetensi yang saya miliki. Saya menerapkan model pembelajaran yang berbeda dalam proses pembelajaran. Di SMK Negeri 1 Takisung saya mengajar di jurusan TSM (Teknik Sepeda Motor), tepatnya di kelas X TSM. Mayoritas peserta didiknya  adalah laki-laki. Pendekatan yang saya lakukan semenarik mungkin, agar siswa yang saya ajar dapat menerima pembelajaran dengan senang dan dapat diterima dengan baik.

Peristiwa bermula ketika saya mengadakan ulangan harian dengan merubah posisi tempat duduk berdasarkan absensi atau daftar hadir. Ada 2 (dua) peserta didik yang terlihat berbeda dengan peserta didik  yang lainnya,  sebut saja peserta didik  si A dan Si B. Kedua peserta didik tersebut,  biasanya duduk berdekatan dan posisi tempat duduknya berada paling belakang, dan saat ulangan diubah menjadi paling depan dan berjauhan.

Semua siswa sudah menempati tempat duduk yang sesuai dengan urutan absensi masing-masing,  kecuali kedua peserta didik tersebut. Keduanya tidak  mau pindah dari tempat duduknya sesuai dengan aturan di atas. Ketika saya tegur beberapa kali, keduanaya tidak mau pindah. Akhirnya, saya sampaikan ke semua peserta didik, apabila kedua siswa  tersebut tidak mau pindah,  maka ulangan tidak jadi dilaksanakan.

Masih tetap tidak mau pindah dari tempat duduknya, maka saya dekati mereka dan saya sampaikan dengan cara halus kepada mereka, kasihan teman-temanmu yang sudah belajar, hanya karena kalian mereka batal untuk ulangan harian. Akhirnya si A pelan-pelan mau pindah ditempat duduk yang sesuai absen walaupun dengan sedikit berat hati dan kelihatan kesal dengan saya.

Namun, si B masih tetap tidak mau pindah dari tempat duduknya, walaupun si A sudah pindah tempat duduk. Akhirnya,  saya mulai kesal, saya berkata dengan nada sedikit keras sambil memegang tangannya mengajak untuk pindah ke tempat duduk yang sesuai dengan aturan. Lalu, apa yang terjadi, tangan saya dibanting dan tangan si B  dan terlepas dari genggaman saya sambil membentak persis  di depan muka saya dan hampir menonjok saya sambil berkata :

Memang ibu siapa,  berani menyuruh dan memaksa saya untuk pindah tempat duduk… “. “ Ibu tidak tahu siapa saya….” . “ Ibu berani dengan saya… lihat nanti apa yang terjadi pada ibu… “.

Kemudian saya jawab si B “ Saya tahu kamu siapa, sekarang begini saja,  apabila kamu merasa keberatan dengan apa yang saya inginkan, silahkan kamu mau ikut ulangan hari ini atau tidak. Kalau memang tidak mau ikut ulangan silahkan, dapat keluar dari kelas ini… “. Akhirnya,  tanpa merasa bersalah, peserta didik tersebut tidak mengikuti ulangan dan keluar dengan membanting pintu yang sangat keras sambil mengumpat.

Setelah kejadian tersebut, saya menceritakan kepada guru BK dan wali kelas tentang apa yang sebenarnya terjadi. Akhirnya,  setelah dinasehati sama guru BK dan wali kelas, pada  minggu berikutnya,  si B menemui dan meminta maaf kepada saya. Pada akhirnya si B mengungkapkan kondisi dirinya kepada saya  saat itu dengan menceritakan kondisi keluarganya yang tidak harmonis. Setelah saya  berbicara dengan si B, ternyata ada perubahan sikap yang baik pada si B dan sekaligus si A pada setiap pembelajaran di kelas. Mereka tidak lagi membuat gaduh dan pembelajaran berjalan kondusif.

Dari kejadian atau masalah di atas,  ada beberapa  hikmah yang dapat saya ambil, antara lain bahwa menjadi seorang guru memang harus memiliki kesabaran yang luar biasa, guru harus dapat menahan emosi walaupun seperti apa kondisinya, guru harus dapat mengayomi peserta didik dari tanpa melihat latar belakang, dan  guru harus bisa merubah karakter peserta didik dari yang kurang baik menjadi lebih baik.

Editor-Maslani

Views All Time
Views All Time
27
Views Today
Views Today
1
Previous articleAPAPUN SEKOLAHNYA, PENDIDIKAN KELUARGA YANG UTAMA ( Laila Noor Fitri , Guru SMKN 1 Pelaihari)
Next articleNever Give Up! ( oleh Gina Safitri- Siswa SMPN 1 Lampihong, Balangan, Kalsel)
Lahir dari keluarga petani dan sederhana di Martapura (Banjar) Kalsel, 5 Nopember 1963. Kini menjalani profesi sebagai guru sejak tahun 1988. Mata pelajaran PPKn/PKn. Saat ini (2017) bertugas di SMPN 4 Pelaihari Kab.Tanah Laut Kalsel. Mulai menulis artikel tentang pendidikan secara rutin sejak tahun 2013. Tulisan artikel banyak dikirim dan terbit pada koran lokal, Banjarmasin Post dan Radar Banjarmasin. Tahun 2015, penulis membukukan artikel-artikel yang pernah terbit pada koran lokal dalam sebuah buku "OPINI SANG GURU" (edisi pertama,2015) lalu buku " OPINI SANG GURU "Edisi Kedua (2017),dan insyaallah akan dilanjutkan dengan buku "OPINI SANG GURU" edisi ketiga ,dan seterusnya.Dalam bentuk tulisan ilmiah, penulis bersama dengan guru-guru Kalsel yang pernah mengikuiti Lomba Inovasi Pembelajaran Kemdikbud tahun 2015, 2016,dan 2017, sedang menyusun dan menerbitkan buku " INOVASI PEMBELAJARAN' ,yang akan diterbitkan dalam beberapa edisi. Setiap edisi terbit diisi oleh 5-6 guru penulis. Buku "INOVASI PEMBELAJARAN" berisi naskah karya tulis inovasi pembelajaran yang pernah masuk worshop dan finalis Lomba Inovasi Pembelajaran, rencananya akan diterbitkan pada akhir tahun 2017 untuk edisi pertama, dan awal tahun 2018 untuk edisi kedua... dan seterusnya. Penulis, bertindak sebagai koordinator pengumpulan naskah tulisan,mengedit, dan mengirimkannya ke penerbit buku di Kalsel. Semoga buku " INOVASI PEMBELAJARAN' karya guru 'Banua' untuk Indonesia akan dapat menginspirasi guru untuk membuat inovasi pembelajaran, menulis, dan membukukannya. Semoga.

LEAVE A REPLY