NASIB ANAK PINGGIRAN dan PERAN PENDIDIKAN

0
17

Dalam tulisan Tajuk koran Banjarmasin Post,pada Rabu, 10 Oktober 2018, dengan judul “ Pendidikan Nonformal Solusinya”. Menurut Tajuk koran ini, bahwa ratusan anak nelayan Desa Rampa, Kecamatan Pulaulaut Utara Kabupaten Kotabaru  putus sekolah. Rata-rata mereka hanya sempat mengenyam pendidikan sampai kelas 2 SD, meskipun ada yang yang sampai kelas 1 SMP. Kesaharian anak-anak di sana diisi dengan bermain jika tidak sedang membantu orangtuanya mencari ikan di ut.

Selanjutnya, menurut Tajuk koran tersebut, bahwa faktor utama dari banyaknya anak putus sekolah di desa Rampa adalah rendahnya minat untuk bersekolah dari anak yang bersangkutan serta minimnya dukungan keluarga. Di kawasan Pegungunan Meratus, di Banua Anam pun kasus serupa bisa ditemukan. Hanya kegigihan anak-anak yang didukung orangtua, membuat sebagian warga Pegunungan Meratus mengajar asa melalui jalur pendidikan.

Apa yang dipaparkan dan dibahas oleh Redaksi koran Banjarmasin Post dalam Tajuknya tersebut memberikan sebuah gambaran kecil yang menunjukkan adanya permasalahan dalam dunia pendidikan, khususnya di Kalimantan Selatan. Suatu kondisi yang sangat miris dan ironi di saat Indonesia sudah lebih dari 70 tahun merdeka. Salah satu satu tujuan nasional yang disebutkan dalam Pembukaan UUD 1945 adalah ‘ mencerdaskan kehidupan bangsa’.  Upaya mencerdaskan kehidupan bangsa tersebut tidak dapat terlepas dari sekolah sebagai ujung tombak dalam dunia pendidikan.

Menurut Tajuk di atas, pada kelompok masyarakat di pesisir pantai dan daerah pegunungunan terdapat kondisi yang sama-sama miris kita membacanya. Ada banyak pertanyaan yang menggelitik hati, mengapa anak-anak tidak mau bersekolah, apakah sekolahnya tidak ada, atau apakah  orangtuanya tidak mau anaknya berpendidikan? Mungkin sekolah di daerah tersebut sudah ada, namun kurang mendapat perhatian, motivasi, dan dukungan orangtua terhadap anak-anaknya, untuk sekolah,  sehingga anak-anak  banyak yang putus sekolah.

Kalau orangtua atau keluarga tidak  memperhatikan, memotivasi, dan mendukung penuh anaknya anak-anaknya untuk sekolah, lalu siapa lagi yang dapat ‘memaksa’ anak-anak tersebut bersekolah. Bukankah mendapatkan pendidikan itu hak bagi seorang anak, dan memberikan kesempatan sekolah kepada anak merupakan kewajiban orangtua?  Wajib belajar harusnya sudah menjadi sesuatu yang dapata dipahami dengan baik dan dilaksanakan dengan penuh tanggung jawab oleh orangtua.

Kenyataan yang terdapat dalam kehidupan anak di daerah pinggiran, baik pesisir maupun pegunungan,  menggambarkan bagaimana masa depan bangsa kita.  Anak-anak yang sekolah saja belum tentu dapat bersaing dengan bangsa asing dalam era globalisasi, apalagi anak-anak yang tidak sekolah. Dengan adanya paparan Tajuk Banjarmasin Post tersebut diharapkan dapat membuka mata semua pihak untuk ambil bagian dalam upaya mencerdaskan anak-anak bangsa, tidak hanya menjadi kewajiban Pemerintah semata, tetapi siapapun yang peduli dengan masa depan anak-anak bangsa yang hidup di daerah pinggiran. Semoga.

 

###1999###

Views All Time
Views All Time
86
Views Today
Views Today
1
Previous article2 BULAN MENUNGGU BAJU BATIK IGI YANG XXL
Next articlePETUAH KARYA DALAM 2 HARI
Lahir dari keluarga petani dan sederhana di Martapura (Banjar) Kalsel, 5 Nopember 1963. Kini menjalani profesi sebagai guru sejak tahun 1988. Mata pelajaran PPKn/PKn. Saat ini (2017) bertugas di SMPN 4 Pelaihari Kab.Tanah Laut Kalsel. Mulai menulis artikel tentang pendidikan secara rutin sejak tahun 2013. Tulisan artikel banyak dikirim dan terbit pada koran lokal, Banjarmasin Post dan Radar Banjarmasin. Tahun 2015, penulis membukukan artikel-artikel yang pernah terbit pada koran lokal dalam sebuah buku "OPINI SANG GURU" (edisi pertama,2015) lalu buku " OPINI SANG GURU "Edisi Kedua (2017),dan insyaallah akan dilanjutkan dengan buku "OPINI SANG GURU" edisi ketiga ,dan seterusnya.Dalam bentuk tulisan ilmiah, penulis bersama dengan guru-guru Kalsel yang pernah mengikuiti Lomba Inovasi Pembelajaran Kemdikbud tahun 2015, 2016,dan 2017, sedang menyusun dan menerbitkan buku " INOVASI PEMBELAJARAN' ,yang akan diterbitkan dalam beberapa edisi. Setiap edisi terbit diisi oleh 5-6 guru penulis. Buku "INOVASI PEMBELAJARAN" berisi naskah karya tulis inovasi pembelajaran yang pernah masuk worshop dan finalis Lomba Inovasi Pembelajaran, rencananya akan diterbitkan pada akhir tahun 2017 untuk edisi pertama, dan awal tahun 2018 untuk edisi kedua... dan seterusnya. Penulis, bertindak sebagai koordinator pengumpulan naskah tulisan,mengedit, dan mengirimkannya ke penerbit buku di Kalsel. Semoga buku " INOVASI PEMBELAJARAN' karya guru 'Banua' untuk Indonesia akan dapat menginspirasi guru untuk membuat inovasi pembelajaran, menulis, dan membukukannya. Semoga.

LEAVE A REPLY