NASIB GURU, HABIS MANIS SEPAH DIBUANG

0
73

Membaca berita B.Post, Rabu tanggal 21 Maret 2013, yang berjudul ‘ Kadisdik-Guru Saling Teriak’  terkait dengan pembahasan uang tunjangan sertifikasi guru Kota Banjarmasin. Berita ini merupakan kelanjutan dari berita sebelumnya yang dimuat oleh koran ‘urang banua’. Gerakan guru-guru   Kota Banjarmasin  yang menuntut pembayaran tunjangan sertifikasi guru tahun 2012 yang belum sepenuhnya dibayar merupakan fenomena yang mencerminkan bagaimana perlakuan pemerintah, khususnya pemerintah daerah kabupaten/kota terhadap guru.  Guru yang selama ini disanjung dan dielu-elukan menjelang pemilu maupun pemilukada, tetapi ketika nasibnya terombang-ambing, guru berjuang sendiri memerjuangkan nasibnya. Sunggug ironis nasibmu guru.

Era otonomi daerah yang sudah memasuki lebih sepuluh tahun, ternyata tidak begitu signifikan manfaatnya bagi perbaikan nasib dan kesejahteraan guru. Pengelolaan dan perlakuan terhadap guru tidak lebih baik dari masa sebelum reformasi dan otonomi daerah, bahkan terkesan tidak terurus dengan baik. Kesan itu semakin kuat dan mengemuka ketika pencairan dana tunjangan sertifikasi guru tersendat-sendat aliran dan pencairannya. Dalam pencairannya setiap tahun tidak pernah ada yang penuh dibayarkan, ada saja alasan yang dikemukakan pihak dinas pendidikan daerah kabupaten/kota  tentang tidak cairnya dana tunjangan sertifikasi tersebut.  Hal ini hampir merata terjadi diberbagai daerah di Indonesia. Perlakuan dan nasib yang berbeda terjadi pada para  guru penerima tunjangan sertifikasi yang bernaung di Kementerian Agama. Pembayaran atau pencairan dana tunjangan sertifikasi guru di bawah lembaga kementerian ini relatif lancar dan tidak banyak masalah. Tidak bergejolak seperti ketika para guru di bawah dinas pendidikan kabupaten/kota. Dan   demikian pula , ketika dana tunjangan sertifikasi masih dikelola oleh Dinas Pendidikan Provinsi Kalsel, pembayaran juga relatif lancar, dananya langsung ditransper ke rekening masing-masing guru.

Ironisnya lagi ketika guru menuntut dan memperjuangan haknya ini, terkesan berjuang sendiri tanpa dukungan pihak-pihak yang selama ini memanfaatkan mereka. Kemana PGRI? PGRI sebagai organisasi yang menjadi wadah guru-guru ini tidak terdengar suaranya untuk memberikan dukungan dan semangat guru menperjuangkan haknya tersebut. Lalu kemana uang iuran yang telah disetorkan guru kepada kas PGRI selama ini? Bebarapa lalu, melalui koran ini pernah dibahas pula masalah iuran PGRI yang ditarik dari guru setiap bulan dengan jumlah tertentu. Kini, ketika nasib guru diombang-ambingkan oleh pihak  yang seharusnya mengayomi mereka, sudah selayaknya dan sepatutnya pengurus PGRI mendukung gerakan guru untuk mendapatkan hak mereka. Selama ini terkesan PGRI kurang responsif terhadap nasib dan perjuangan guru, khususnya dengan kasus yang terjadi di Banjarmasin.  Bagaimanapun juga PGRI harusnya berpihak kepada guru, karena para guru sudah berkorban untuk PGRI melalui iuran yang telah mereka bayarkan setiap bulannya. Lalu bagaimana  pula dengan Dewan yang terhormat, khususnya  DPRD Kalsel, karena gerakan guru-guru Banjarmasin  merupakan cerminan nasib yang sama dialami oleh guru di  kabupaten/ kota se Kalimantan Selatan. Kebetulan saja, guru-guru di Banjarmasin lebih dulu bergerak karena mereka telah memahami keadaan yang sebenarnya  terhadap dana tunjangan sertifikasi dibanding di daerah lain yang nasibnya tidak jauh berbeda. Artinya, ketika para guru kota Banjarmasin mulai bergerak maka tidaklah menutup kemungkinan para guru di daerah kabupaten/kota di Kalimantan Selatan juga bergerak terinspirasi gerakan guru di Banjarmasin.

Permasalahan tidak dibayarkannya dana tunjangan sertifikasi guru menurut pihak dinas pendidikan kabupaten/kota  disebabkan oleh tidak sinkronnya data antara Pusat dan Daerah. Sedangkan kita mengetahui bahwa data yang digunakan Pusat adalah bersumber dari data yang dikirim oleh Daerah. Data jumlah guru yang akan mendapat dana tunjangan sertifikasi berdasarkan kouta yang dijatahkan oleh Pusat, kemudian Daerah memberikan data jumlah guru sesuai jatah kouta tersebut.  Lalu mengapa terjadi perbedaan data yang berakibat pada jumlah dana sertifikasi tidak sesuai atau kurang? Pihak mana yang benar dan mana yang salah?. Apakah data yang dikirim tidak akurat dan valid atau bagaimana? Bagi guru hal ini merupakan sesuatu alasan yang kurang dapat diterima. Permasalahan data guru yang berhak mendapatkan dana tunjangan sertifikasi merupakan permasalahan yang mestinya tidak terjadi di era kemajuan teknologi informasi dan komunikasi  yang serba canggih saat ini, karena data dapat diperbaharui atau di up date setiap waktu dengan menggunakan media internet sehingga data selalu akurat dan valid. Sekali lagi ironis memang, seolah-olah kecanggihan tehnologi informasi dan komunikasi tidak dapat menjembatani dan memecahkan kebuntuan perbedaan data guru yang tidak sinkron  antara Daerah dan Pusat.

Gerakan guru Kota Banjarmasin yang menuntut pembayaran dana tunjangan sertifikasi seharusnya tidak sampai sejauh  ini terjadi jika semua pihak yang terkait dengan proses pendataan dan pembayaran dana tunjangan sertifikasi  tersebut berkeinginan kuat untuk menyelesaikan masalah tersebut lebih cepat dan tidak berlarut-larut tanpa kepastian yang jelas. Pihak Dinas Pendidikan Kabupaten /Kota,  Dinas Pendidikan Provinsi, LPMP Kalsel, PGRI ,dan pihak terkait laninya segera turun tangan menyelesaikan permasalahan ini agar tidak menjadi ‘booming’ gerakan guru menuntut kekurangan dana tunjangan sertifikasi yang memang menjadi haknya secara meluas di berbagai daerah  sehingga berdampak negatif bagi dunia pendidikan, khususnya di Kalimantan Selatan.  Penyelesaian permasalahan ini yang terkesan berlarut-larut dikhawatirkan menimbulkan rasa kekecewaan yang besar di kalangan guru,khususnya guru penerima dana tunjangan sertifikasi. Adanya upaya penyelesaian masalah ini secara sepihak oleh para guru dikhawatirkan akan berdampak negatif bagi proses pendidikan di sekolah khususnya, dunia pendidikan pada umumnya. Tidak menutup kemungkinan adanya gerakan yang lebih besar dan masiv dari para guru,  misalnya dengan demo atau unjuk rasa. Kalau selama ini apa yang dilakukan oleh para guru di Kota Banjarmasin dengan mendatangi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan di Jakarta dan kemudian pertemuan dengan Dinas Pendidikan Kota Banjarmasin yang difasilitasi DPRD Kota Banjarmasin adalah upaya yang patut kita apresiasi dan dicontoh karena dilakukan secara elegan dan bermartabat. Nasib guru ada di tangan guru itu sendiri.

 

Views All Time
Views All Time
134
Views Today
Views Today
1
Previous articleMENGAPA BUDAYA GURU MENULIS LEMAH?
Next articleSEKOLAH GRATIS YANG DILEMATIS
Lahir dari keluarga petani dan sederhana di Martapura (Banjar) Kalsel, 5 Nopember 1963. Kini menjalani profesi sebagai guru sejak tahun 1988. Mata pelajaran PPKn/PKn. Saat ini (2017) bertugas di SMPN 4 Pelaihari Kab.Tanah Laut Kalsel. Mulai menulis artikel tentang pendidikan secara rutin sejak tahun 2013. Tulisan artikel banyak dikirim dan terbit pada koran lokal, Banjarmasin Post dan Radar Banjarmasin. Tahun 2015, penulis membukukan artikel-artikel yang pernah terbit pada koran lokal dalam sebuah buku "OPINI SANG GURU" (edisi pertama,2015) lalu buku " OPINI SANG GURU "Edisi Kedua (2017),dan insyaallah akan dilanjutkan dengan buku "OPINI SANG GURU" edisi ketiga ,dan seterusnya.Dalam bentuk tulisan ilmiah, penulis bersama dengan guru-guru Kalsel yang pernah mengikuiti Lomba Inovasi Pembelajaran Kemdikbud tahun 2015, 2016,dan 2017, sedang menyusun dan menerbitkan buku " INOVASI PEMBELAJARAN' ,yang akan diterbitkan dalam beberapa edisi. Setiap edisi terbit diisi oleh 5-6 guru penulis. Buku "INOVASI PEMBELAJARAN" berisi naskah karya tulis inovasi pembelajaran yang pernah masuk worshop dan finalis Lomba Inovasi Pembelajaran, rencananya akan diterbitkan pada akhir tahun 2017 untuk edisi pertama, dan awal tahun 2018 untuk edisi kedua... dan seterusnya. Penulis, bertindak sebagai koordinator pengumpulan naskah tulisan,mengedit, dan mengirimkannya ke penerbit buku di Kalsel. Semoga buku " INOVASI PEMBELAJARAN' karya guru 'Banua' untuk Indonesia akan dapat menginspirasi guru untuk membuat inovasi pembelajaran, menulis, dan membukukannya. Semoga.

LEAVE A REPLY