Komnas Perlindungan Anak mencatat tahun 2014 jumlah kasus kekerasan terhadap anak meningkat 60 persen dari tahun 2013. Hal ini sungguh sangat mengkhawatirkan. Kasus-kasus tersebut seperti fenomena gunung es, jumlah kasus yang muncul di permukaan sedikit, sementara kasus sebenarnya banyak yang belum terkuak. Kasus-kasus di atas merupakan gambaran dimana saat ini kekerasan banyak  digunakan sebagai jalan keluar untuk menyelesaikan masalah. Lebih mengedepankan emosi dibandingkan akal sehat, dan tidak mengedepankan dialog atau musyawarah mufakat.

Hal ini memunculkan pertanyaan, ada apa dengan kepribadian anak-anak saat ini? Apa faktor pemicu mereka menjadi semakin agresif dan semakin mudah tersulut emosi? Dan mengapa pendidikan belum mampu (untuk tidak dikatakan gagal) mewujudkan sosok manusia yang memiliki budi pekerti luhur?

Nilai-nilai Pengasuhan

Sekolah yang seharusnya tempat menginternalisasikan nilai-nilai kebaikan, toleransi, solidaritas dan saling menghargai sesama, justru menjadi salah satu tempat terjadinya tindak kekerasan. Nilai-nilai sakral sekolah sudah banyak tereduksi oleh perilaku kekerasan. Begitupun relasi sosial di sekolah kadang kurang baik sebagai dampak negatif globalisasi yang menyebabkan semakin menggejalanya gaya hidup individualistis, hedonis, dan materialistis.

Dampaknya fatal. Transformasi sosial yang diharapkan akhirnya kandas. Yang muncul justru menjamurnya mentalitas pesimis, perusak dan destruktif dalam diri peserta didik. Mereka melewati proses pendidikan bukannya untuk terlibat dalam penataan sosial dan terciptanya kebebasan, kesederajatan dan persaudaraan yang aman serta penuh kasih sayang antar sesama. Sebaliknya, pendidikan dijadikan ajang kelahiran sadistis. Kenyataan seperti ini, sadar atau tidak, akan melahirkan pribadi peserta didik yang opresif dan suka akan kekerasan. Mereka bahkan merasa bahwa pendidikan telah mengamini pola kekerasan sebagai bagian dari proses pendidikan.

Sebagai pranata yang mengemban misi pembentukan kecerdasan dan budi pekerti, sekolah mestinya memainkan peran strategis untuk mengikis budaya kekerasan tersebut.  Sikap disiplin bisa ditanamkan pada diri anak didik tanpa harus mencederai fisik, mental, dan emosi anak. Sudah saatnya interaksi pembelajaran antara guru dan siswa mengaktualisasikan nilai-nilai pengasuhan.

Views All Time
Views All Time
184
Views Today
Views Today
1

LEAVE A REPLY