OPTIMALISASI KOMPETENSI GURU DENGAN MENGINTEGRASI METODE ATAU MODEL PEMBELAJARAN PADA PENELITIAN TINDAKAN KELAS

1
270

OPTIMALISASI KOMPETENSI GURU DENGAN MENGINTEGRASI METODE ATAU MODEL PEMBELAJARAN PADA PENELITIAN TINDAKAN KELAS

Nur Azizah
SMAN Unggul Dharmasraya, Sumatera Barat
([email protected])

Abstract

SMAN Unggul Dharmasraya is a first state boarding school in Dharmasraya. This school has a vision: Generating smart students who are competitive and cultured environment. Needed many programs to generating smart student in school’s vision, one of the programs is optimizing the teachers competence by applying the method or model of teaching in class by class action research. The use of method or model of teaching in delivery the materials is for delivery the materials in pleasure way, as said by Depdiknas in UU No. 20/2003 section 40 “teacher and personnel are obliged to create the education atmosphere that are meaningful, pleasure, creative, dynamic and communicative. From the result of a survey conducted in this school, there are only 23.5% of teachers who are able to integrate model of teaching process in the classroom, and 76,5 % of teachers are unable to do it with variety of obstacles, it means teachers need innovation to solve their obstacles. The competence teachers are the teachers who has ability to perform their main tasks as educators and teachers include the ability to plan, perform and carry out evaluation. In making a lesson plan, a competence teacher must make it to activate all students, one of many ways to activate the students is by integrating model of teaching in teaching process. so it required a conscious effort to optimize the competence teachers in integrating the method or model of teaching in classroom action research with guided training. This innovation is in the form class action research with the development aspect are: 1) headmaster’s knowledge and skill in optimizing the teacher’s competence, 2) the quantity of teacher in applying the method or model of teaching become 70,6%, 3) the increasing teachers’ skills in writing classroom action research’s report, 4) the report of teacher’s class action research is available in school with good result of students’ achievement, 5) the establishment of intensive communication among headmaster and teachers, teachers with teachers, and teachers and students.

Key Word: Teacher’s Competence, Method or Learning Models

PENDAHULUAN
Pendidikan merupakan komponen yang memiliki peranan yang strategis bagi bangsa Indonesia dalam mewujudkan tujuan yang telah dirumuskan. Salah satu tujuan Indonesia yang tertuang dalam Pembukaan UUD 1945 pada alinia keempat adalah “mencerdaskan kehidupan bangsa”. Untuk mewujudkan hal tersebut dibutuhkan usaha yang terencana dan terprogram dengan jelas dalam agenda pemerintah yang berupa penyelenggaraan pendidikan.
Tujuan pendidikan Negara Indonesia yang tertuang dalam Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia serta keterampilan yang diperlukan dirinya masyarakat bangsa dan negara. Agar kegiatan pendidikan tersebut terencana dengan baik maka dibutuhkan kurikulum pendidikan.
Sekolah sebagai salah satu lembaga pendidikan yang diberikan tugas untuk mewujudkan tujuan pendidikan nasional harus menjalankan perannya dengan baik. Dalam menjalankan peran sebagai lembaga pendidikan ini, sekolah harus dikelola dengan baik agar dapat mewujudkan tujuan pendidikan yang telah dirumuskan dengan optimal. Pendidikan merupakan kunci untuk semua kemajuan dan perkembangan yang berkualitas, sebab dengan pendidikan manusia dapat mewujudkan semua potensi dirinya baik sebagai pribadi maupun sebagai warga masyarakat. Dalam rangka mewujudkan potensi diri menjadi multiple kompetensi harus melewati proses pendidikan yang diimplementasikan dalam proses pembelajaran.
Seorang pendidik penting untuk menciptakan paradigma baru untuk menghasilkan praktik terbaik dalam proses pembelajaran. Oleh karena itu, ketika terjadi perubahan kurikulum dan terjadi pergeseran tuntutan hasil pendidikan yang berkaitan dengan tuntutan pasar kerja, maka pendidiklah yang harus berperan mewujudkan harapan itu, hampir semua usaha reformasi dalam pendidikan, seperti pembaharuan kurikulum dan penerapan metode pembelajaran baru akhirnya tergantung kepada pendidik. Tanpa pendidik yang mampu menguasai bahan ajar dan strategi pembelajaran, maka segala upaya peningkatan mutu pendidikan tidak akan mencapai hasil yang optimal. Hal ini berarti seorang pendidik tidak hanya diharapkan mampu menguasai bidang ilmu yang diajarkan, tetapi juga menguasai strategi belajar-mengajar. Saat ini dunia pendidikan telah banyak menghasilkan berbagai macam inovasi dan menghadirkanmodel pembelajaran. Hal ini semata-mata sebagai upaya menggairahkan minat dan hasil belajar peserta didik, sekaligus meningkatkan kompetensi guru tersebut.
Penggunaan model pembelajaran dalam penyampaian materi dimaksudkan untuk meyampaikan materi secara menyenangkan, sebagaimana telah diserukan oleh Depdiknas melalui UU No. 20/2003 Pasal 40 yang menyatakan “guru dan tenaga kependidikan berkewajiban untuk menciptakan suasana pendidikan yang bermakna, menyenangkan, kreatif, dinamis, dan dialogis”. Hal ini ditandaskan lagi dalam PP No. 19/2005 tentang Standar Nasional Pendidikan Pasal 19 ayat 1 yang menyatakan “proses pembelajaran pada satuan pendidikan diselenggarakan secara inspiratif, interaktif, menyenangkan, menantang, memotivasi peserta didik untuk berpartisipasi aktif, memberikan ruang gerak yang cukup bagi prakarsa, kreativitas dan kemandirian sesuai dengan bakat, minat, dan perkembangan fisik dan psikologis peserta didik”
SMAN Unggul Dharmasraya adalah sekolah berlabel unggul dan berasrama. Sekolah yang lahir dari keinginan besar pemerintah daerah untuk meningkatkan mutu pendidikan di Kabupaten Dharmasraya. SMAN Unggul Dharmasraya mempunyai 17 orang guru mata pelajaran dan 4 orang guru unggulan yang mengampu mata pelajaran tambahan dan kedisiplinan, akibatnya jadwal belajar siswa cukup padat, sehingga sangat diperlukan upaya sadar yang dilakukan untuk membantu siswa menguasai semua subjek/materi pembelajaran dengan mengoptimalkan kompetensi guru yaitu dengan menerapkan metode atau model pembelajaran di kelas dengan melakukan penelitian tindakan kelas, sehingga dapat melihat apakah dengan diintegrasikan metode atau model pembelajaran dapat membantu siswa menguasai semua subjek/materi pelajaran.
Melihat pentingnya hal ini maka perlu upaya untuk meningkatkan kompetensi guru dengan menerapkan model pembelajaran dalam penelitian tindakan kelas sehingga dapat membantu siswa menguasai materi pembelajaran dengan baik.
Rumusan masalah pada program inovasi kepala sekolah ini adalah: (1) Upaya apa saja yang dapat dilakukan guna meningkatkan kompetensi guru? (2) bagaimana pelaksanaan model pembelajaran di kelas? (3) bagaimana penerapan model pembelajaran dalam penelitian tindakan kelas?
Adapun tujuan umum dan tujuan khusus dalam program inovasi kepala sekolah ini adalah:
1. Tujuan Umum:
Menyajikan deskripsi inovasi tentang “kompetensi guru dalam menerapakan metode atau model pembelajaran pada penelitian tindakan kelas.
2. Tujuan Khusus:
Menyajikan deskripsi inovasi tentang: teroptimalisasikannya kompetensi guru dalam menerapakan metode atau model pembelajaran pada penelitian tindakan kelas.

KERANGKA KONSEP INOVASI
A. Pengertian Guru
Guru adalah pendidik profesional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik pada pendidikan anak usia dini jalur pendidikan formal, pendidikan dasar, dan menengah (Undang-Undang RI Nomor 14 Tahun 2005 Tentang Guru dan Dosen). Guru merupakan seseorang yang mempunyai tugas mulia untuk mendorong, membimbing dan memberi fasilitas belajar bagi siswa untuk mencapai tujuan. Guru mempunyai tanggung jawab untuk melihat segala sesuatu yang terjadi dalam kelas untuk membantu proses perkembangan siswa. Penyampaian materi pelajaran hanyalah merupakan salah satu dari berbagai kegiatan dalam belajar sebagai suatu proses yang dinamis dalam segala fase dan proses perkembangan siswa (Slameto, 2003: 97).
Guru memegang peranan dan tanggung jawab yang penting dalam pelaksanaan program pengajaran di sekolah. Guru merupakan pembimbing siswa sehingga keduanya dapat menjalin hubungan emosional yang bermakna selama proses penyerapan nilai-nilai dari lingkungan sekitar. Kondisi ini memudahkan mereka untuk menyesuaikan diri dalam kehidupan di masyarakat (Depdiknas, 2003 : 3).

B. Kompetensi Guru
Menurut Murniati (2007 : 2) salah satu ciri dari profesi dituntut memiliki kecakapan yang memenuhi persyaratan yang telah dibakukan oleh pihak yang berwewenang (standar kompetensi guru). Istilah kompetensi diartikan sebagai perpaduan antara pengetahuan, ketrampilan, sikap dan nilai-nilai yang diwujudkan dalam pola berpikir dan bertindak atau sebagai seperangkat tindakan cerdas dan penuh tanggung jawab yang dimiliki seseorang sebagai syarat untuk dianggap mampu oleh masyarakat dalam melaksanakan tugas-tugas sesuai dengan pekerjaan tertentu. Berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan, guru harus memiliki kompetensi pedagogik, kepribadian, profesional, dan sosial (Depdiknas, 2005 : 24, 90 – 91).
Untuk menciptakan peserta didik yang berkualitas, guru harus menguasai empat kompetensi. Keempat kompetensi yang harus dikuasai guru untuk meningkatkan kualitasnya tersebut adalah kompetensi pedagogik, profesional, sosial, dan kepribadian. Guru harus sungguh-sungguh dan baik dalam menguasai empat kompetensi tersebut agar tujuan pendidikan bisa tercapai.
1). Kompetensi Pedagogik
Kompetensi pedagogik pada dasarnya adalah kemampuan guru dalam mengelola pembelajaran peserta didik. Kompetensi yang merupakan kompetensi khas, yang membedakan guru dengan profesi lainnya ini terdiri dari 7 aspek kemampuan, yaitu:
1. Mengenal karakteristik anak didik
2. Menguasai teori belajar dan prinsip-prinsip pembelajaran
3. Mampu mengembangan kurikulum
4. Kegiatan pembelajaran yang mendidik
5. Memahami dan mengembangkan potensi peserta didik
6. Komunikasi dengan peserta didik
7. Penilaian dan evaluasi pembelajaran

2) Kompetensi Profesional.
Kompetensi ini dapat dilihat dari kemampuan guru dalam mengikuti perkembangan ilmu terkini karena perkembangan ilmu selalu dinamis. Kompetensi profesional yang harus terus dikembangkan guru dengan belajar dan tindakan reflektif. Kompetensi profesional merupakan kemampuan guru dalam menguasai materi pembelajaran secara luas dan mendalam yang meliputi:
1. Konsep, struktur, metode keilmuan/teknologi/seni yang menaungi/koheren dengan materi ajar,
2. Materi ajar yang ada dalam kurikulum sekolah, Hubungan konsep antar pelajaran terkait, Penerapan konsep-konsep keilmuan dalam kehidupan sehari-hari.
3. Kompetensi secara profesional dalam konteks global dengan tetap melestarikan nilai dan budaya nasional

3) Kompetensi Sosial
Kompetensi sosial bisa dilihat apakah seorang guru bisa bermasyarakat dan bekerja sama dengan peserta didik serta guru-guru lainnya. Kompetensi sosial yang harus dikuasai guru meliputi:
a. Berkomunikasi lisan dan tulisan
b. Menggunakan teknologi komunikasi dan informasi secara fungsional
c. Bergaul secara efektif dengan peserta didik, sesama pendidik, tenaga kependidikan, orang tua/wali peserta didik
d. Bergaul secara santun dengan masyarakat sekitar
e. Bertindak sesuai dengan norma agama, hukum, sosial, dan kebudayaan nasional Indonesia
f. Menunjukkan pribadi yang dewasa dan teladan
g. Etos kerja, tanggung jawab yang tinggi, rasa bangga menjadi guru

4) Kompetensi Kepribadian
Kompetensi ini terkait dengan guru sebagai teladan, beberapa aspek kompetensi ini misalnya:
1. Dewasa
2. Stabil
3. Arif dan bijaksana
4. Berwibawa
5. Mantap
6. Berakhlak mulia
7. Menjadi teladan bagi peserta didik dan masyarakat
8. Mengevaluasi kinerja sendiri
9. Mengembangkan diri secara berkelanjutan

Keempat kriteria tersebut biasanya didapat dan dikembangkan ketika menjadi calon guru dengan menempuh pendidikan di perguruan tinggi khususnya jurusan kependidikan. Perlu adanya kesadaran dan keseriusan dari guru untuk mengembangkan dan meningkatkan kompetensinya. Karena kian hari tantangan dan perubahan zaman membuat proses pendidikan juga harus berubah.

C. Model Pembelajaran
Model pembelajaran diartikan sebagai prosedur sistematis dalam mengor-ganisasikan pengalaman belajar untuk mencapai tujuan belajar. Jadi, sebenarnya model pembelajaran memiliki arti yang sama dengan pendekatan atau strategi pembelajaran. Saat ini telah banyak dikembangkan berbagai macam model pembelajaran, dari yang sederhana sampai model yang agak kompleks dan rumit karena memerlukan banyak alat bantu dalam penerapannya.
Seorang pendidik diharapkan memiliki motivasi dan semangat pembaharuan dalam proses pembelajaran yang dijalaninya. Menurut Sardiman (2004), pendidik yang kompeten adalah pendidik yang mampu mengelola program belajar-mengajar. Mengelola di sini memiliki arti yang luas yang menyangkut bagaimana seorang pendidik mampu menguasai keterampilan dasar mengajar, seperti membuka dan menutup pelajaran, menjelaskan, menvariasi media, bertanya, memberi penguatan, dan sebagainya, juga bagaimana pendidik menerapkan strategi, teori belajar dan pembelajaran, dan melaksanakan pembelajaran yang kondusif. Setiap pendidik harus memiliki kompetensi adaptif terhadap setiap perkembangan ilmu pengetahuan dan kemajuan di bidang pendidikan, baik yang menyangkut perbaikan kualitas pembelajaran maupun segala hal yang berkaitan dengan peningkatan prestasi belajar peserta didiknya.
Kesemua keterampilan dasar mengajar tersebut tidak hanya harus dimiliki oleh pendidik di tingkat TK, SD, SMP, maupun SMA, tetapi seorang dosenpun harus memilikinya. Beberapa pendapat menyatakan bahwa seorang dosen tidak perlu menampilkan semua keterampilan dasar mengajar ketika melaksanakan perkuliahan, karena mahasiswa sudah dewasa dan tidak memerlukan apersepsi, penguatan, , dan lain-lain. Pendapat ini tidak benar, karena siapapun yang berprofesi mengajar, keterampilan dasar mengajar harus dikuasai dan ditampilkan ketika proses transfer ilmu berlangsung, agar tujuan pembelajaran dapat tercapai sesuai yang ditetapkan.
Pembelajaran merupakan suatu istilah yang memiliki keterkaitan yang sangat erat dan tidak dapat dipisahkan satu sama lain dalam proses pendidikan. Pembelajaran seharusnya merupakan kegiatan yang dilakukan untuk menciptakan suasana atau memberikan pelayanan agar siswa belajar.
Untuk itu, harus dipahami bagaimana siswa memperoleh pengetahuan dari kegiatan belajarnya. Jika guru dapat memahami proses pemerolehan pengetahuan, maka guru akan dapat menentukan strategi pembelajaran yang tepat bagi siswanya. Menurut Sudjana (2000) dalam Sugihartono, dkk (2007: 80) pembelajaran merupakan setiap upaya yang dilakukan dengan sengaja oleh pendidik yang dapat menyebabkan peserta didik melakukan kegiatan belajar. Sedangkan Nasution (2005) dalam Sugihartono, dkk (2007: 80) mendefinisikan pembelajaran sebagai suatu aktifitas mengorganisasi atau mengatur lingkungan sebaik-baiknya dan menghubungkannya dengan anak didik sehingga terjadi proses belajar. Lingkungan dalam pengertian ini tidak hanya ruang belajar, tetapi juga meliputi guru, alat peraga, perpustakaan, laboratorium, dan sebagainya yang relevan dengan kegiatan belajar siswa.
Sedangkan menurut Dimyati dan Mudjiono dalam Syaiful Sagala (2006: 62) pembelajaran adalah kegiatan guru secara terprogram dalam desain intruksional, untuk membuat siswa belajar secara aktif, yang menekankan pada penyediaan 10 sumber belajar. Pembelajaran sebagai proses belajar yang dibangun oleh guru untuk mengembangkan kreatifitas berfikir yang dapat meningkatkan kemampuan berfikir siswa, serta dapat meningkatkan kemampuan mengkonstruksi pengetahuan baru sebagai upaya meningkatkan penguasaan yang baik terhadap materi pelajaran.
Model pembelajaran adalah suatu perencanaan atau suatu pola yang digunakan sebagai pedoman dalam merencanakan pembelajaran di kelas. Model pembelajaran mengacu pada pendekatan pembelajaran yang akan digunakan, termasuk di dalamnya tujuan-tujuan pengajaran, tahap-tahap dalam kegiatan pembelajaran, lingkungan pembelajaran, dan pengelolaan kelas (Arends dalam Trianto, 2010: 51). Sedangkan menurut Joyce & Weil (1971) dalam Mulyani Sumantri, dkk (1999: 42) model pembelajaran adalah kerangka konseptual yang melukiskan prosedur yang sistematis dalam mengorganisasikan pengalaman belajar untuk mencapai tujuan pembelajaran tertentu, dan memiliki fungsi sebagai pedoman bagi para perancang pembelajaran dan para pengajar dalam merencanakan dan melaksanakan aktifitas belajar mengajar. Berdasarkan dua pendapat di atas, maka dapat disimpulkan bahwa model pembelajaran adalah kerangka konseptual yang melukiskan prosedur sistematik dalam mengorganisasikan pengalaman belajar untuk mencapai tujuan pembelajaran tertentu dan berfungsi sebagi pedoman bagi perancang pembelajaran dan para guru dalam merancang dan melaksanakan proses belajar mengajar.
Menurut Trianto (2010: 53) fungsi model pembelajaran adalah sebagai pedoman bagi perancang pengajar dan para guru dalam melaksanakan pembelajaran. Untuk memilih model ini sangat dipengaruhi oleh sifat dari materi yang akan diajarkan, dan juga dipengaruhi oleh tujuan yang akan dicapai dalam pengajaran tersebut serta tingkat kemampuan peserta didik. Di samping itu pula, setiap model pembelajaran juga mempunyai tahap-tahap (sintaks) yang dapat dilakukan siswa dengan bimbingan guru. Antara sintaks yang satu dengan sintaks yang lain juga mempunyai perbedaan. Perbedaan-perbedaan ini, diantaranya pembukaan dan penutupan pembelajaran yang berbeda antara satu dengan yang lain. Oleh karena itu, guru perlu menguasai dan dapat menerapkan berbagai keterampilan mengajar, agar dapat mencapai tujuan pembelajaran yang beraneka ragam dan lingkungan belajar yang menjadi ciri sekolah pada dewasa ini. Menurut Kardi dan Nur dalam Trianto (2011: 142) istilah model pembelajaran mempunyai makna yang lebih luas daripada strategi, metode, atau prosedur.
Model pembelajaran mempunyai empat ciri khusus yang tidak dimiliki oleh strategi, metode, atau prosedur. Ciri-ciri khusus model pembelajaran adalah:
1. Rasional teoretis logis yang disusun oleh para pencipta atau pengembangnya. Model pembelajaran mempunyai teori berfikir yang masuk akal. Maksudnya para pencipta atau pengembang membuat teori dengan mempertimbangkan teorinya dengan kenyataan sebenarnya serta tidak secara fiktif dalam menciptakan dan mengembangankannya.

2. Landasan pemikiran tentang apa dan bagaimana siswa belajar (tujuan pembelajaran yang akan dicapai). Model pembelajaran mempunyai tujuan yang jelas tentang apa yang akan dicapai, termasuk di dalamnya apa dan bagaimana siswa belajar dengan baik serta cara memecahkan suatu masalah pembelajaran.

3. Tingkah laku mengajar yang diperlukan agar model tersebut dapat dilaksanakan dengan berhasil. Model pembelajaran mempunyai tingkah laku mengajar yang diperlukan sehingga apa yang menjadi cita-cita mengajar selama ini dapat berhasil dalam pelaksanaannya.

4. Lingkungan belajar yang diperlukan agar tujuan pembelajaran itu dapat tercapai. Model pembelajaran mempunyai lingkungan belajar yang kondusif serta nyaman, sehingga suasana belajar dapat menjadi salah satu aspek penunjang apa yang selama ini menjadi tujuan pembelajaran.

Pada Akhirnya setiap model pembelajaran memerlukan sistem pengelolaan dan lingkungan belajar yang berbeda. Setiap pendekatan memberikan peran yang berbeda kepada siswa, pada ruang fisik, dan pada sistem sosial kelas. Sifat materi dari sistem syaraf banyak konsep dan informasi-informasi dari teks buku bacaan, materi ajar siswa, di samping itu banyak kegiatan pengamatan gambar-gambar. Tujuan yang akan dicapai meliputi aspek kognitif (produk dan proses) dari kegiatan pemahaman bacaan dan lembar kegiatan siswa (Trianto, 2010: 55).

D. Pengertian Metode Pembelajaran
Metode pembelajaran adalah cara atau jalan yang ditempuh oleh guru untuk menyampaikan materi pembelajaran sehingga tujuan pembelajaran dapat dicapai. Dapat juga disimpulkan bahwa metode pembelajaran adalah strategi pembelajaran yang digunakan oleh guru sebagai media untuk mencapai tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan. Hal ini mendorong seorang guru untuk mencari metode yang tepat dalam penyampaian materinya agar dapat diserap dengan baik oleh siswa. Mengajar secara efektif sangat bergantung pada pemilihan dan penggunaan metode mengajar.
Metode pembelajaran banyak macam-macam dan jenisnya, setiap jenis metode pembelajaran mempunyai kelemahan dan kelebihan masing-masing, tidak menggunakan satu macam metode saja, mengkombinasikan penggunaan beberapa metode yang sampai saat ini masih banyak digunakan dalam proses belajar mengajar. Menurut Nana Sudjana (1989), terdapat bermacam-macam metode dalam pembelajaran, yaitu Metode ceramah, Metode Tanya Jawab, Metode Diskusi, Metode Resitasi, Metode Kerja Kelompok, Metode Demonstrasi dan Eksperimen, Metode sosiodrama (role-playing), Metode problem solving, Metode sistem regu (team teaching), Metode latihan (drill), Metode karyawisata (Field-trip), Metode survai masyarakat, dan Metode simulasi.

E. Penelitian Tindakan Kelas
Istilah penelitian tindakanberasal dari frasa action research dalam bahasa Inggris. Di samping istilah tersebut, dikenal pula beberapa istilah lain yang sama-sama diterjemahkan dari frasa action research, yaitu riset aksi, kaji tindak, dan riset tindakan. Untuk menyamakan persepsi kita, dalam tulisan ini digunakan istilah penelitian tindakan. Penelitian tindakan yang diterapkan di dalam kelas dikenal dengan istilah penelitian tindakan kelas (PTK). Dalam beberapa literatur bahasa Inggris, PTK tersebut memiliki beberapa nama yang berbeda meskipun konsepnya sama. Nama-nama tersebut adalah classroom research (Hopkins, 1993), self-reflective enquiry (Kemmis, 1982), dan action research (Hustler et al, 1986). Di Indonesia, istilah yang populer digunakan untuk PTK adalah classroom action research. Istilah inilah yang digunakan dalam tulisan ini.

F. Pelatihan Terbimbing
Menurut Roestiyah (2001), metode latihan adalah suatu cara mengajar dimana siswa (dalam penelitian ini adalah guru) melaksanakan kegiatan-kegiatan latihan agar guru memiliki ketangkasan atau keterampilan yang lebih tinggi dari apa yang telah dipelajari. Menurut Sagala (2003) metode latihan (drill) atau metode training merupakan suatu cara mengajar yang baik untuk menanamkan kebiasaan-kebiasaan tertentu, selain itu sebagai sarana untuk memperoleh suatu ketangkasan, ketepatan, kesempatan dan keterampilan.

YANG DIKEMBANGKAN DALAM INOVASI
Dalam inovasi ini, aspek yang dikembangkan adalah: 1) Pengetahuan dan keterampilan kepala sekolah dalam mengoptimalkan kompetensi guru-guru, 2) kompetensi guru-gurudalam menerapakan metode atau model pembelajaran, 3) keterampilan guru dalam menulis PTK.
Aspek kompetensi guru ini sangat penting dikembangkan karena dengan meningkatkan kompetensi guru makahal tersebut menjadi sarana yang dapat meningkatkan kinerja seorang guru dan membantu siswa dalam menguasai materi pembelajaran di kelas.

PELAKSANAAN PROGRAM INOVASI
A. Media/Kegiatan
Media kegiatan yang digunakan adalah melalui kegiatan pelatihan terbimbing, mulai dari mengenal bermacam-macam metode atau model pembelajaran, pembimbingan pembuatan proposal PTK hingga laporan akhir pelaksanaan model pembelajaran di dalam kelas.

B. Mekanisme dan Organisasi
Mekanisme pelaksanaan inovasi ini tertera pada Tabel.1 di bawah adalah:

Tabel.1 Mekanisme Pelaksanaan Inovasi

Guru-guru yang sudah menyelesaikan proposal PTK hinga selesai adalah seperti pada Tabel 2. sebagai berikut:

C. Sumberdaya Lain
Sarana prasarana yang diperlukan dalam program inovasi ini adalah ruangan pelaksanaan bimbingan dan pemaparan materi-materi yang diperlukan, di laksanakan di ruang guru dan ruang kepala sekolah, juga ruang kelas untuk penerapan metode atau model pembelajaran kegiatan, sumber dana dibebankan ke biaya operasional SMAN Unggul Dharmasraya.

HASIL INOVASI
A. Ketercapaian dan Kendala
Ketercapaian program inovasi ini adalah jika guru-guru sudah menerapkan model pembelajaran di dalam kelas dan menuliskannya dalam PTK maka guru tersebut dianggap dapat mengoptimalkan kompetensinya. Adapun hasil dari penelitian ini adalah seperti yang tampak pada Tabel.3 berikut:

Tabel.3 Nama, Judul dan Hasil

Persentase guru yang sudah menerapkan model pembelajaran dan menyelesaikan PTK dengan guru yang belum dapat menerapkan model pembelajaran di dalam kelas dapat dilihat pada Tabel.4 sebagai berikut:

Tabel. 4 Persentase guru yang sudah menerapkan model pembelajaran dan menyelesaikan PTK

Atau lebih jelasnya dapat dilihat pada Gambar. 1 Berikut:

Dapat dilihat bahwa guru yang menerapkan metode atau model pembelajaran dalam proses belajar mengajar di kelas dan sudah selesai menuliskannya dalam PTK adalah 70,6%, suatu angka yang cukup baik, walau belum mencapai 100%.
Kendala yang dihadapi adalah: 1) kurangnya waktu yang bersesuaian, untuk membahas materi-materi model pembelajaran baik guru maupun kepala sekolah, termasuk juga dalam menyelesaikan laporan akhir PTK (karena beberapa guru mengajar di beberapa sekolah), 2) kurangnya buku-buku sumber yang mendukung dalam menyelesaikan kajian teori model pembelajaran,
Masalah-masalah tersebut diselesaikan dengan cara: 1) memusyawarahkan jadwal guru-guru dan kepala sekolah hingga disepakati waktu yang paling sedikit mengorbankan waktu mengajar guru, 2) mengunduh materi-materi model pembelajaran dari berbagai sumber di internet, meminjam buku-buku yang diperlukan sebagai sumber bacaan.

B. Kiat-Kiat Desiminasi Hasil
Kiat-kiat yang dilakukan agar inovasi ini dapat didesiminasikan pada satuan pendidikan yang lain adalah dengan mendesiminasikan laporan hasil penelitian pada acara Forum Komunikasi Kepala Sekolah (FKKS) yang dilakukan setiap bulan.

C. Implikasi Penerapan Program Inovasi
Implikasi penerapan program inovasi ini adalah : 1) Meningkatnya pengetahuan dan keterampilan kepala sekolah dalam mengoptimalkan kompetensi guru-guru, 2) meningkatnya kompetensi guru-gurudalam menerapakan metode atau model pembelajaran, 3) meningkatnya keterampilan guru dalam menulis PTK, 4) tersedianya laporan penelitian guru berupa PTK di sekolah dengan hasil capaian siswa yang meningkat,5) terbangunnya komunikasi yang intensif antara kepala sekolah dan guru, guru dengan guru, serta guru dengan siswa.

PENUTUP

A. Kesimpulan
Program inovasi berupa “Optimalisasikompetensi guru dalam menerapakan model pembelajaran pada penelitian tindakan kelas” sangat mendukung teroptimalisasinya kompetensi guru di sekolah.

B. Saran
Saran dalam pelaksanaan program inovasi ini, yaitu: Jika kepala sekolah yang ingin mengoptimalikan kompetensi pedagogik guru dalam menerapakan model pembelajaran pada penelitian tindakan kelas,maka inovasi ini efektif dilakukan untuk menyelesaikannya.

DAFTAR RUJUKAN

Amy J. Phelps & Cherin Lee. (2003). The Power of Practice : What Students Learn from How We Teach. Journal of Chemical Education, 80 (7), 829 – 832.
Colin Marsh. (1996). Handbook for beginning teachers. Sydney: Addison Wesley Longman Australia Pry Limited.

Hopkins, David, (1993). A Teacher ‘s Guide to Classroom Research. Philadephia:

Jean Rudduck & Julia Flutter. (2004). How to improve your school. New York: Continuum.
Mulyani Sumantri., dkk. 1999. Strategi Belajar Mengajar. Depdikbud Dirjen.

MENDIKNAS. 2007. Permendiknas RI No. 16 Tahun 2007 Tentang Standar Kualifikasi Akademik dan Kompetensi Guru. DEPDIKNAS. (Permen16-2007KompetensiGuru.pdf Copyright www.m-edukasi.web.id Media Pendidikan Indonesia
Rebecca A. Kruse & Gillian H. Roehrig. (2005). A comparison study : assessing teachers’ conceptions with the chemistry concepts inventory. Journal of Chemical Education. 82 (8).

Sardiman A. M. 1991. Interaksi dan Motifasi Belajar , Jakarta: Rajawali Pres

Slameto, Belajar dan Faktor-faktor yang Mempengruhinya, Rineka Cipta, Jakarta, 2003.

Sugihartono. Dkk. (2007). Psikologi Pendidikan. Yogyakarta: UNY Pres.

Trianto. 2010. Model Pembelajaran Terpadu. Jakarta: Bumi Aksara.

Trianto. 2006. Tinjauan Yuridis Hak serta Kewajiban Pendidik Menurut UU Guru dan Dosen. Jakarta: Prestasi Pustaka

Undang-Undang RI Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen

Undang-Undang RI Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional

Views All Time
Views All Time
493
Views Today
Views Today
1

1 COMMENT

  1. It is so interesting i was searching for this topic from a long time. I read this article very carefully and now I got all my best information for writing blog on chemical. I am so glad that i finally find blog resemblance to my topic. Thanks for this.

LEAVE A REPLY