PAK MAT

0
1
PAK MAT

Oleh: Ida Rusmiyati

 

Pak Mat adalah seorang pedagang sayur keliling di kampungku. Tempat tinggalnya tidak banyak yang tahu, yang kutahu beliau tinggal mengontrak di kampung sebelah dan sebatang kara di kota ini

“Asli pundi jenengan, Pak?” tanyaku pada suatu ketika kepada beliau. Asli mana , Pak?

“ Kulo saking Sayung, Demak…Bu.” Jawab beliau. Saya dari Sayung, Demak…Bu.

“ Lha garwa kaliyan putro wonten pundi Pak?” tanyaku lagi. Lha istri dan putra di mana Pak?

“ Kulo tilar wonten Sayung, Demak Bu.” Jawabnya. Saya tinggal di Sayung, Demak Bu.

Ya…ya aku paham kalau Pak Mat hidup di sini sabatang kara dan tidak mengajak anak dan istri itu karena biaya hidup di kota ini memang sangat mahal, berbeda halnya dengan di desa. Pak Mat di sini mengontrak hanya sepetak kamar saja. Cukup hanya untuk dirinya seorang. Jika anak dan istri diajak maka tak cukuplah kamar sepetak itu. Belum lagi ditambah biaya hidup bertiga yang lumayan tinggi. Apalagi masa pandemi Covid saat ini mencari uang sangatlah sulit. Bisa lancar berjualan sayur keliling sungguh Alhamdulillah baginya.

Pak Mat memiliki perawakan tubuh yang kurus, hitam, dan kecil, dari susahnya mencari penghidupan, hal ini bisa dimaklumi. Beliau orang yang ramah dan lugu, sehingga menjadi idola kaum ibu untuk membeli dagangan sayuran Pak Mat. Pelayanan kepada pembeli itu yang utama baginya. Tak heran dalam waktu singkat, semua dagangan sayurnya habis terjual.

Di bulan ramadhan ini Pak Mat mengubah jadwalnya menjajakan dagangan sayur keliling. Beliau keliling saat siang hari, mulai pukul 12.00. Hal ini karena menurut pertimbangannya, ibu-ibu akan mempersiapkan masakan berbuka puasa mulai waktu sekitar pukul 15.00. Jadi beliau berpikir kalau berjualan keliling mulai siang pukul 12.00 adalah saat yang tepat. Memang benar, ternyata dagangan sayurnya Alhamdulillah habis terjual, hanya dalam waktu yang sebentar saja.

Sebenarnya saingan Pak Mat berdagang sayuran keliling ada beberapa, ditambah lagi kampung kami sangatlah dekat dengan pasar, yaitu pasar Jati dan Damar. Namun, Pak Mat dengan penuh optimis tetap berjualan di kampong kami.

“ Rezeki memang tak akan lari kemana, semua sudah ada yang mengatur.” Katanya.

“ Yang penting kita mau bekerja keras dengan ikhlas, jujur, dan selalu bersyukur, diberi rezeki berapa pun.” Katanya lagi.

Dalam Alquran Allah SWT berfirman:

وَمَا مِنْ دَابَّةٍ فِي الْأَرْضِ إِلَّا عَلَى اللَّهِ رِزْقُهَا وَيَعْلَمُ مُسْتَقَرَّهَا وَمُسْتَوْدَعَهَا ۚ كُلٌّ فِي كِتَابٍ مُبِينٍ

Dan tidak ada satupun makhluk bergerak (bernyawa) di muka bumi melainkan semuanya telah dijamin rezekinya oleh Allah. Dia mengetahui tempat kediaman dan tempat penyimpanannya. Semua itu (tertulis) dalam Kitab yang nyata (Lauh Mahfuzh). – (Q.S Hud: 6)

 

Masing-masing manusia memiliki rezekinya. Jadi tidak ada yang perlu dikhawatirkan kalau rezeki kita akan direbut oleh orang lain. Begitupun Pak Mat, beliau selalu rajin berkeliling berdagang sayuran demi mencari rezeki. Beliau percaya dan yakin bahwa Allah akan membagikan rezeki padanya, apalagi di bulan Ramadhan yang penuh berkah ini. Sayuran dagangannya selalu habis terjual, baginya inilah rezeki yang sesungguhnya. Rezeki dari Allah yang Mahaadil.

Selamat menunaikan ibadah Puasa di bulan Ramadhan yang penuh berkah.

 

Ungaran, 27 April 2021

 

#30harimenulisramadhan

#gbmharike-15

 

 

ReplyForward
Views All Time
Views All Time
16
Views Today
Views Today
1

LEAVE A REPLY