Panimbangan Dulu dan Kini

    0
    13
    mapio.net
    mapio.net

    PANIMBANGAN DULU DAN KINI

    Oleh Susilowati

    Kendaraan kami berjalan  mulus di sepanjang jalur utama  Jalan Raya Serang, lalu ke Jalan Raya  Pandeglang kemudian  melesat tanpa hambatan ke Jalan Raya Labuan. Jalan kecil berliku tajam membuat jantung kami berdegup kencang, apalagi jika berpapasan dengan bus yang berkecepatan tinggi, seketika jantung saya terkesiap, menahan rasa takut . Tetapi terhibur kembali dengan pemandangan pesawahan yang berwarna hijau kekuningan bagai permadani terhampar luas sejauh pandangan mata.

    200 meter setelah Terminal Bis Labuan, mobil kami mengambil arah kiri menuju Jalan Raya Tarogong. Awan putih berarak mengikuti laju kendaraan kami. Pohon kelapa melambai sekan menyapa selamat datang. Aroma laut semakin tercium, gemuruh ombak merdu terdengar, jembatan-jembatan raksasa kami lalui . Tampak indah memanjakan mata  sungai-sungai besar di bawahnya,   tenang mengalir menuju laut lepas. Jukung-jukung tertambat rapi di sisi sungai itu.

    Desa Panimbang sudah di depan mata, pecahkan rindu di dada yang  tiga bulan ini mencengkram jiwa. Desa Panimbang  Kecamatan Panimbang , Kabupaten Pandeglang , Provinsi Banten berada di sepanjang pesisir Laut Panimbang . Secara geografis berada diantara Tanjung Pujut dekat Kota Merak dari sebelah utara dan Tanjung Lesung dari sebelah Barat. Setiap  kecamatan  terpisah oleh sungai-sungai besar diantaranya Sungai Ciliman yang memisahkan Kecamatan Panimbang dengan Kecamatan Sidamukti yang berada di sebelah Utara.

    Kecamatan Panimbang merupakan salah satu lokasi tujuan wisatawan. Di sebelah barat, Kecamatan Panimbang berbatasan langsung Selat Sunda. Dimana di Kecamatan Panimbang terdapat wisata bahari yaitu Pantai Tanjung Lesung. Kawasan Tanjung Lesung, menurut sebuah literatur, pada tahun 130 M di wilayah Panimbang, terdapat sebuah kerajaan Salakanegara (Salaka = perak) atau Rajatapura yang termasuk kerajaan Hindu. Cerita tersebut tercantum pada naskah Wangsakerta. Raja pertamanya yaitu Dewawarman yang memiliki gelar Prabu Darmalokapala Dewawarman Haji Rakja Gapura Sagara yang memerintah sampai tahun 168 M.

    Sejalan dengan hal tersebut , mengenai latar penamaan Panimbang adalah kegiatan perdagangan di zaman kolonial. Konon, daerah Panimbang merupakan wilayah tempat mengumpulkan barang-barang yang biasa ditransaksikan, terutama hasil pertanian atau rempah-rempah. Sebelum diangkat ke kapal, barang-barang tersebut ditimbang terlebih dahulu. Dan tempat tersebut dinamai panimbangan yang berarti tempat untuk menimbang.

    Desa Panimbang dengan luas 1.056.470. Ha berjarak 70 km dari Ibu Kota Provinsi Banten ini  adalah surga yang selalu kami rindukan. Allah berikan untuk kami dua wilayah yang bisa kami pilih.  Panimbang menyediakan kami dua surga dunia yang layak kami tempati.  Jika kami memilih wilayah sebelah timur disana adalah daerah pertanian yang subur dengan kearifan lokal penduduknya yang memesona, memesona karena kehidupan yang begitu bersahaja.  Mengapa kami menyebutnya mereka arif dan bersahaja? Lihat saja cara mereka membangun rumah, rumah-rumah mereka dibuat berderet rapih dengan ciri khas rumah utama beratap rumbia atau disebut hateup. Masing-masing rumah memiliki leuit (tempat menyimpan padi) sementara di paling belakang adalah kandang ayam, bebek, ataupun kambing. Tak satupun dari mereka yang berani membelakangi antara rumah satu dengan rumah yang lainnya selama masih ada hamparan ke kanan dan ke kiri yang bisa mereka bangun.

    Adapun tata letak pembangunan rumah mereka diserahkan kepada penghulu kampung yang disebut dengan sebutan lebe. Satu yang menarik dan menjadi ciri khas pemukiman penduduk di sana adalah, menara sabut kelapa. Buah kelapa adalah bagian yang tidak  terlepas dari kehidupan mereka, disamping dengan perolehan buah yang melimpah tak mengenal musim, buah kelapa mereka jadikan kebutuhan hidup sehari-hari. Jika kami di Bogor,  buah kelapa hanya diambil untuk membuat kuah sayur atau penganan yang lainnya. Akan tetapi buah kelapa di daerah Panimbang ini dijadikan minyak sayur untuk keperluan sehari-hari sehingga mereka terlepas dari ketergantungan minyak goreng buatan pabrik, disamping bebas pengawet minyak kelapa buatan penduduk disini harumnya menggugah selera.

    Arifnya dari perilaku mereka dalam mengolah limbah dari kelapa tersebut adalah dengan menyimpannya sabut kelapa tersebut pada sebuah tiang bambu,  lalu mereka susun  rapi menjulang dengan demikian sabut kelapa itu membentuk sebuah menara . Sabut kelapa bukan lagi menjadi limbah tak berguna akan tetapi akan mereka jadikan bahan bakar, isi kasur untuk tidur mereka, batok kelapanya pun mereka kumpulkan untuk dijual ke kota. Itulah arif dan bersahajanya mereka. Corak hidup gotong royong menjadi ciri kehidupan mereka dari mulai mengolah sawah, kebun, sampai panen. Begitu pula dalam mendirikan rumah, jika di daerah lain semua bernilai uang, maka di sini semuanya nilai gotong royong dan nilai budi.

    Yuuk kita beralih ke sebelah  barat 5 km dari garis pantai, sebuah pemukiman yang didiami oleh penduduk yang sebagian mata pencahariannya nelayan dan pedagang . Pemukiman tersebut dinamakan Kampung Soge. Kampung Soge adalah tempat tinggal saya. Tak jauh dari pemukiman tersebut berdiri pasar.  Namanya Pasar Panimbang Jaya, pasar tersebut menjadi nadi perekonomian untuk wilayah kecamatan Panimbang, Angsana, Sidomukti, Munjul, Sumur, Cibaliung dan sekitarnya. Karena lokasinya dekat dengan muara sungai dan pelelangan ikan  kegiatan perniagaan tersebut tersebar menjadi tiga titik. Pusat perdagangan ikan basah dan ikan yang telah diawetkan berada dekat dengan pelelangan. Pusat perdagagangan hasil pertanian berada dekat dengan muara sungai, karena tifografi jalan darat yang masih sulit dan jarang kendaraan maka aliran sungai menjadi alternatif pengangukutan barang dagangan hasil bumi tersebut. Adapun titik utama untuk barang-barang kebutuhan pokok dan kelontong berpusat di Pasar Panimbang Jaya itu sendiri, walau pasarnya masih berwajah tradisional.

    Tidak ada dandanan pengunjung pasar yang perlente bertandang ke pasar itu,  apalagi jika musim penghujan. Permukaan air di sungai Ciliman naik ke darat maka satu lutut atau paling tidak satu betis orang dewasa pasar tersebut terendam banjir. Akan sayang sekali jika dandanan perlente ala selebriti berkunjung ke pasar yang berlumpur itu.  Pengunjung pasar didominasi oleh para pengunjung yang berdandan pakaian khas Banten. Laki-laki mengenakan baju pangsi yang dilengkapi dengan kain sarung di pinggang , yang perempuan mengenakan kain kebaya atau baju kurung tidak lupa mengendong tolombong sebagai tas belanjaan, ciri khas dari para wanita itu adalah bibir merah merekah karena sepah sirih. Hmmm eksotik sekali bukan???

    Ciri khas tersebut akan kita jumpai setiap hari walaupun tidak dalam keadaan banjir. Kendaraan mereka pun,  baik laki-laki mau pun perempuan tak lepas dari sepeda ontel dengan keranjang di kanan kirinya. Atau secara berkelompok mereka menyewa mobil bak terbuka yang sering mereka sebut colt dugul.

    Panimbang sebagian besar dihuni oleh warga urban, mereka adalah para urban dari Cirebon, Tegal. Indramayu, Lampung, dan sebagian urban dari daerah priangan. Maka tidak heran bahasa sehari-hari di daerah Panimbang adalah Jawa Cirebon dengan logat nya yang khas. Begitupun saya selama ada di kampung bahasa Jawa Cirebonlah bahasa komunikasi saya walaupun masih dicampur dengan bahasa Sunda Bogor.

    Bertandang ke Panimbang jangan lewatkan kulinernya. Meski dihuni oleh berbagai daerah urban, kuliner Panimbang tetap menjadi pemersatu mereka,. Diantaranya adalah serabi. penganan hangat asin dan gurih yang dikombinasi dengan topping kocokan telur, oncom, serundeng daging, dan serundeng kacang. Asyiik dinikmati selepas subuh dihadapan pembakarannya sambil berbincang hangat dengan para pedagang sebelum pasar di jejali para pembeli ditemani  satu mug teh tubruk hangat yang ke dalamnya  terlebih dahulu sudah dicemplungkan gula batu, atau gula batok.

    Jangan lupa dengan teman makan nasinya  seperti pelas udang yang terbuat dari parutan kelapa muda  dan udang segar dicambur bumbu dan rempah lalu dibungkus dengan daun pisang batu berbentuk bungkus pecel lalu dikukus, ada pula sate kodol  dengan bahan utama ikan bandeng. IKan bandeng dikeluarkan tulangnya dengan hati-hati lalu keluarkan pula dagingnya dengan menggunakan sendok tanpa harus merubah bentuk ikannya.  Daging ikan tadi dicampur dengan aneka bumbu dan kocokan telur bebek, lalu dimasukan kembali ke dalam kulit ikan bandeng dan membentuk kembali ikan seperti semula, kemudian dibakar di atas arang batok. Eiit ada satu lagi olahan ikan yang tak kalah popupler di kalangan pelancong yaitu bandeng lumpur. Bandeng lumpur adalah olahan ikan bakar seperti halnya ikan bakar lainnya, hanya bedanya sebelum dibakar ikan tersebut dilmurui lumpur terlebih dahulu, anehnya keringnya lumpur yang dibakar bersama ikan tersebut menambah aroma dan citarasa ikan tersebut. Daerah Panimbang memiliki jenis tanah lumpur yang mirip dengan kontur tanah liat, entah siapa yang memulai yang jelas olahan ikan ini disukai dan sering dijadikan persembahan pada saat upacara mitembeyan (upacara awal menanam padi)  dan nadran (pesta laut).

    Sungguh harmoni alam dan manusia yang sangat serasi. Selalu terbayang dipelupuk mata rindu akan suasana desa ini walau masa telah berjalan dua puluh tahun yang lalu. Dan saat ini  tidak dapat  kami jumpai lagi.

    Pembangunan ekonomi dan infrastruktur merubah segalanya. Ekonomi, budaya, bahkan norma. Norma terhadap alam dan lingkungan maupun norma antar sesama. Jika kami pulang tak pernah kami temui  teman-teman semasa kecil, yang kami dapatkan kabar dari mereka adalah mereka sedang menjadi pengais dolar, ringit, dan real di luar sana.

    Pasar Panimbang Jaya yang dahulu jaya dengan para pedagang  dari penduduk asli,  walau pedagang emas sekalipun bahkan pedagang  elektronik, kini berganti rupa . Mereka adalah para nyonya dan nona bermata sipit. Bagan-bagan mulai kehilangan tangan-tangan perkasanya karena kehilangan modal,  lalu  bangkrut karena tergulung lintah darat. Tangan-tangan perkasa yang dulu berjaya di laut  itu kita pergi mngembara ke kota-kota besar bersalin karya menjadi buruh. Sebagian besar warga Panimbang memiliki usaha turun temurun tanpa mengenyam pendidikan yang memadai. Hanya sebagian kecil saja dari mereka yang mengenyam pendidikan tinggi.  Kekuatan modallah yang menjadikan mereka mampu bertahan.

    Pembangunan PLTA, pembangunan jalan tol, menjadikan lahan bercocok tanam mereka tergusur.  Ada yang masih bertahan dari hasil penjualannya ada yang failit begitu saja. Bahkan kini pembangunan Bandara Panimbang pasti akan mengulang sukses pembebasan lahan pertanian warga. Dahulu Panimbang daerah yang sangat jaya. Jaya dengan swasembada beras, jaya dengan tangkapan ikan yang melimpah dengan cara yang arif, tanpa pukat harimau ataupun bom.  Kini hanya sebagian di antara mereka yang bisa bertahan dalam usahanya, itu pun jika mereka masih bisa mesra dengan para banker. Kami rindu Panimbang yang dulu, bukan saat ini.(SZ)

     

     

     

     

    Views All Time
    Views All Time
    18
    Views Today
    Views Today
    1

    LEAVE A REPLY