PASAR TERAPUNG YANG TERKEPUNG

0
192

Pendahuluan

Kalimantan Selatan memiliki banyak objek wisata yang potensial dan diharapkan mampu menjadi andalan pendapatan asli daerah ke depan  setelah kekayaan alam seperti batubara dan bahan tambang mineral lainnya sudah terkikis habis.  Potensi pariwisata yang dimiliki oleh Kalimantan Selatan cukup beragam, baik wisata alam, wisata bahari dan pantai, wisata religi, wisata budaya, dan sebagainya. Kondisi Kalimantan Selatan yang stabil, baik dalam bidang politik, ekonomi,kamtibmas,  dan sosial budaya, serta memiliki infrastruktur sektor perhubungan yang cukup memadai, seperti pelabuhan laut dan bandar udara, menjadi modal dasar dan hendaknya dapat dimanfaatkan semaksimal mungkin untuk meningkatkan sektor pariwisata pada masa mendatang.

Pasar terapung sabagai salah satu objek wisata  unggulan  Kalimantan Selatan yang telah dikenal luas, baik nasional maupun internasional, sekarang  ini sudah  mulai terdesak dalam persaingan ekonomi global karena maraknya pembangunan mal, supermarket, dan minimarket. Keberadaan mal, supermarket, dan minimarket merupakan konsekwensi dari globalisasi dan modernisasi ekonomi. Para pemilik modal atau investor merupakan pelaku pasar modern yang dengan kekuatan modal dan jaringan kerjanya mampu merambah ke segenap polosok, tidak terkecuali Kalimantan Selatan. Bagi pemodal besar setiap peluang usaha mereka cari, tidak terkecuali dengan merebut konsumen pasar tradisional seperti pasar terapung.

Persaingan ekonomi di era globalisasi sudah menjalar ke setiap jengkal kehidupan masyarakat, termasuk persaingan dalam merebut konsumen dan pelanggan  pasar rakyat. Demikian pula terhadap keberadaan pasar terapung yang menjadi ikon Kalimantan Selatan, khususnya Kota Banjarmasin dan Kabupaten Banjar. Sebagai anak bangsa yang hidup di banua tercinta ini tentunya merasa sangat khawatir dan prihatin dengan semakin maraknya pasar modern yang didukung oleh modal dan manajemen yang kuat yang semakin banyak berdiri dan berusaha di Kota Banjarmasin, Kota Banjarbaru, Kabupaten Banjar, dan sekitarnya. Persaingan dalam bidang ekonomi sangat cepat dan nyaris memasuki sendi-sendi  dan urat nadi ekonomi rakyat yang terbawah, termasuk  pasar tarapung.

 

Pasar Terapung sebagai Aset Pariwisata Daerah

Keberadaan pasar terapung di era modern dan persaingan ekonomi yang sangat ketat sekarang ini dan masa datang sangat ditentukan oleh bagaimana kepedulian dan persepsi  kita semua saat ini terhadap eksistensi dan fungsi pasar terapung itu sendiri. Saat ini persepsi kita semua terhadap pasar lebih banyak pada nilai ekonomi semata, yaitu proses jual-beli yang dilakukan oleh pedagang dan pembeli. Para pedagang di pasar terapung adalah pedagang yang tergolong ekonomi lemah ke bawah dan dengan modal yang sangat minim dan sarana yang sederhana. Demikian pula dengan konsumen dan pelanggan pasar terapung merupakan kelompok masyarakat ekonomi menengah ke bawah dengan tingkat penghasilan yang juga pas-pasan. Dari sisi pedagang dan pembeli ini kita  dapat melihat dan memprediksi bahwa eksistensi pasar terapung ke depan akan sangat sulit berkembang dan bersaing dengan pasar modern, dan tidak menutup kemungkinan  nantinya hanya tinggal kenangan dalam sejarah peradaban masyarakat Banjar.

Selanjutnya dalam konteks modernisasi, eksistensi pasar terapung lebih dipersepsikan sebagai obyek wisata yang langka dan menjadi salah satu  warisan budaya daerah  atau nasional yang perlu dijaga dan dilestarikan  untuk kepentingan pariwisata. Motivasi dan dorongan ekonomi  yang menjadi dasar dan tujuan awal terbentuknya pasar terapung secara lambat dan pasti akan  tergeser oleh makin maraknya pertumbuhan pasar modern sebagai bagian dari gaya hidup dari kehidupan masyarakat modern. Secara perlahan namun pasti, keberadaan pasar modern (mal,supermarket,minimarket,dan sejenisnya) mulai mengurangi dan mengikis  peran pasar tradisional ,termasuk pula nantinya pasar terapung yang saat ini jumlahnya sangat sedikit, baik dari segi pedagang maupun pembelinya. Keberadaan pasar tarapung mulai dilirik dan diperhatikan karena membaiknya pertumbuhan pariwisata dunia dan Indonesia.

Sektor pariwisata yang menjadi andalan pendapatan  bagi beberapa negara, termasuk  Indonesia, sangat berkepentingan dengan keberadaan pasar-pasar yang unik seperti pasar terapung di banua kita ini. Pertumbuhan parawisata inilah yang diharapkan dapat memberikan dampak positif bagi tetap eksisnya pasar terapung di tengah gempuran pemodal besar  yang masuk berinvestasi di daerah-daerah, termasuk di banua ini, dengan membangun pasar-pasar modern yang lengkap dan dapat memenuhi selera dan gaya hidup modern masyarakat banua. Sektor pariwisata di banua ini masih belum mampu memberikan kontribusi yang signifikan bagi peningkatan sektor yang lain, termasuk perekonomian rakyat, seperti di pulau  Jawa dan Bali. Kalau  kita berkunjung atau berwisata di daerah di pulau Jawa maupun Bali, kita banyak menemukan dan bahkan  kemudian membeli oleh-oleh yang khas daerah tersebu yang bersifat unik. Dengan terjualnya oleh-oleh yang dibuat oleh rakyat tersebut maka dapat membantu meningkatkan perekonomiannya sehingga taraf kehidupan masyarakat akan lebih baik lagi.

Pasar terapung sebagai salah satu objek wisata yang telah mampu menarik pengunjung luar daerah, termasuk Presiden SBY beserta para petinggi negara, hendaknya dapat dikembangkan lebih baik lagi di masa mendatang. Kenyataan menunjukkan bahwa warga masyarakat banua masih banyak yang belum mengetahui dan mengunjungi pasar terapung memang perlu dipertanyakan sejauhmana promosi selama ini. Bahkan ada warga masyarakat banua  mengetahui adanya pasar terapung melalui media televisi atau koran karena adanya liputan terhadap para artis, turis, atau pejabat dari pusat yang mengunjunjungi objek wisata tersebut.  Dengan demikian, promosi pasar terapung , baik yang di muara Kuin Banjarmasin maupun Lok Baintan Kabupaten Banjar, perlu lebih ditingkatkan terlebih kepada masyarakat banua, khusunya kalangan generasi muda di Kalimantan Selatan sendiri. Promosi tersebut dapat dilakukan melalui media massa, baik cetak maupun elektronik, atau langsung ke sekolah-sekolah dan sebagainya. Kalangan generasi muda, seperti pelajar, mahasiswa, dan pemuda, masih banyak yang belum  mengetahui keberadaan pasar terapung di banuanya sendiri. Mereka lebih mengenal pantai Sanur, Kuta, atau objek wisata di Jawa lainnya. Sebagai salah satu aset daerah dan objek wisata yang menjadi ikon Kalimantan Selatan seudah seharusnya lebih dikenal dan diminati oleh warga banua sendiri. Kemudian, sebagai aset daerah maka tentunya objek wisata pasar terapung menjadi kebanggan masyarakat banua yang tetap terjaga kelestariannya meskipun zaman dan masyarakatnya hidup modern.

 

Peran Pemerintah Daerah

Dalam upaya menjaga dan melestarikan keberadaan dan kegiatan pasar terapung perlu adanya semangat kebersamaan semua pihak di banua ini. Kebersamaan itu diwujudkan melalui komitmen kuat membantu para pedagang pasar tarapung agar meraka tidak tergerus oleh keberadaan pasar modern yang sudah merambah jauh ke pelosok-pelosok. Pemerintah, baik Provinsi Kalsel maupun Kota Banjarmasin dan Kabupaten Banjar, hendaknya bahu-membahu mengangkat dan mempromosikan keberadaan objek pasar tarupung lebih intensif lagi. Jika perlu diadakan festival pasar tarapung diagendakan dan dilaksanakan   bersama antara Kota Banjarmasin dan Kabupaten Banjar dan  dikoordinir oleh Pemerintah Provinsi Kalsel.

Pemerintah Provinsi dan Daerah memiliki kemampuan dan jaringan kerja  yang relatif mapan dan kuat untuk lebih meningkatkan dan menggencarkan promosi kepada  masyarakat luas di luar Kalimantan Selatan melalui  berbagai event dan pameran pariwisata yang berskala nasional dan internasional. Dengan adanya dukungan yang penuh dari pihak pemerintahan untuk bersama-sama mempromosikan keberadaan pasar tarapung kepada masyarakat yang lebih luas maka tentunya akan membawa angin segar bagi dunia pariwisata banua.

Peran Pemerintah Daerah sangat penting dan strategis dalam upaya melestarikan dan mengambangkan objek wisata pasar terapung. Kebijakan dan program yang nyata untuk membina dan mengembangkan objek wisata pasar terapung selama ini belum optimal, baik dari segi promosi maupun informasi tentang pasar terapung itu sendiri. Satuan Kerja Pemerintah Daerah (SKPD) yang bertugas dan berwenang mengurus  kepariwisataan di daerah  seharusnya mampu mengkoordinir dan mensinergikan program dan kebijakan semua sektor dalam meningkatkan dan mengembangkan objek wisata yang menjadi unggulan daeran seperti pasar terapung.

Pemerintah daerah melalui SKPD yang bertugas mengurus dan mengkoordinir  kepariwisataan daerah hendaknya tidak terjebak dalam kegiatan rutinitas yang kaku dan serimonial belaka, tetapi lebih dari itu pembinaan dan pengembangan yang terencana dan terukur serta berorientasi ke masa depan agar lebih ditingkatkan. Kreativitas dan inovasi yang dinamis dalam upaya pengembangan pariwisata, khususnya pasar terapung, hendaknya ditumbuhkan dan dikembangkan di kalangan pegawai SKPD yang memang bertugas dan berwenang mengurus sektor pariwisata.

 

Peran Serta Pengusaha Daerah

Dukungan dari pihak swasta, khusunya kalangan pelaku dunia usaha, terhadap keberadaan pasar tarapung sangat perlu digalang dan dikembangkan. Kepedulian pihak swasta dapat diwujudkan antara lain melalui pemberian modal dan sarana usaha para pedagang.  Modal bagi para pedagang kecil seperti pedagang pasar terapung merupakan unsur utama dan penting untuk keberlangsungan usaha mereka. Tanpa modal yang cukup maka tentunya usaha mereka tidak dapat berlangsung lama atau bangkrut sehingga mengancam eksistensi pasar tarapung itu sendiri. Kemampuan modal yang sangat lemah akan keterbatasan sarana usaha menjadi kendala bagi para pedagang pasar tarapung untuk mengimbangi pesatnya dominasi pasar modern seperti mal, supermarket, minimarket, dan sebagainya.

Pada sisi permodalan inilah perlu peran serta  pihak swasta dan pelaku dunia usaha yang ada di Kalimantan Selatan untuk mengulurkan bantuannya, baik untuk penguatan permodalan maupun penyediaan sarana berjualan mereka, yaitu jukung. Tidak berlebihan kiranya kalau untuk pedagang pasar tarapung diberi modal usaha Rp 1- 2 juta yang bersifat pinjaman dengan atau tanpa bunga sama sekali. Bagi pengusaha atau pelaku bisnis yang memiliki usaha besar seperti pengusaha batubara, konstruksi, perhotelan, biro perjalanan,  perbankan, dan  pengusaha lainnya untuk memberikan atau meminjamkan modal kepada para pedagang pasar tarapung bukanlah persoalan yang sulit. Kegiatan pedagang pasar terapung yang beraktivitas di perairan atau sungai tidak membutuhkan toko atau tempat usaha yang permanen sehingga tidak memerlukan modal usaha yang besar, namun mereka hanya membutuhkan modal usaha yang relatif kecil dan juga sarana usaha berupa jukung. Kalau dijumlahkan antara modal usaha dan jukung yang menjadi sarana usaha mereka maka tentunya  relatif kecil modal yang mereka perlukan, kisaran Rp 2-4 juta.

Bagi pengusaha lokal atau daerah yang telah berkembang pesat usahanya  dan mapan kehidupan dan status sosialnya maka tidak ada salahnya menyumbangkan  sebagian kecil keuntungan usahanya disisihkan untuk membantu para pedagang pasar terapung dengan memberikan modal dan sarana usaha. Penyaluran dana bantuan permodalan dan sarana usaha kepada para pedagang pasar terapung dapat dilakukan langsung atau untuk lebih profesionalnya melalui perbankan yang pro dan peduli dengan peningkatan kesejahteraan rakyat kecil. Kemandirian dan semangat juang para pedagang pasar terapung perlu diapresiasi dan didukung semua pihak agar mereka yang bergelut setiap hari mengais rezeki di tengah persaingan pasar yang ketat dan arus globalisasi tetap mampu mempertahankan budaya dan tradisi banua ini.

Perjuangan para pedagang pasar terapung yang mayoritas kaum ibu yang sudah berumur dan dari kalangan ekonomi lemah untuk meningkatkan taraf hidup mereka sekaligus menjaga budaya tradisi Banjar yang masih tersisa ini akan lebih berarti lagi apabila didukung oleh semua pihak, khususnya kalangan pengusaha lokal atau daerah yang telah sukses. Bagi para pedagang pasar terapung dukungan tersebut sangat berarti sekali bagi kelanjutan usaha meraka di tengah persaingan pasar yang didominasi pemodal besar.  Bantuan dan dukungan permodalan dari kalangan pengusaha lokal atau daerah terhadap para pedagang pasar terapung akan dapat berdampak positif yang  banyak, baik dari sisi pendapatan dan kesejahteraan pedagang pasar terapung maupun pelestarian budaya dan pariwisata banua.

 

Pemberdayaan Pedangan Pasar Terapung

Pedangan pasar terapung merupakan kelompok atau pelaku ekonomi produktif yang mayoritas memperjualbelikan hasil-hasil pertanian dan usaha tanaman budidaya lokal. Kegiatan mereka ini merupakan bagian dari mata rantai usaha pelestarian tanaman atau pertanian yang bersifat lokal Banjar sehingga dengan usaha meraka ini secara tidak langsung turut serta melestarikan tanaman buah lokal yang bersifat khas Banjar, seperti jeruk Sungai Madang.  Sedangkan sistem jula-beli yang digunakan dalam perdagangan di pasar terapung masih banyak yang bersifat barter antar pedagang, serta diperdagangkan dalam bentuk partai yang kemudian dijual kembali di pasar tradisional yang berada di darat.

Dilihat dari sisi jenis kelamin, para pedagang pasar terapung  mayoritas dari kaum wanita. Pada kelompok ini  perlu mendapat perhatian dan perlakuan yang khusus karena peran mereka juga sebagai ibu rumah tangga yang berkewajiban mengasuh anak dan melayani suami. Ketika berdagang atau berjualan di tengah sungai maka tentunya meraka meninggalkan rumah  serta keluarga meraka pada saat anak dan suami mereka memerlukan kehadiran seorang ibu rumah tangga. Sebagaimana diketahui bahwa waktu berjualan atau berdagang dimulai sebelum atau setelah sholat Subuh, sekitar pukul 05.00 pagi, dan berkahir sekitar pukul 09.00 pagi.  Pada kurun waktu antara pukul 05.00 sampai 09.00 adalah saat para penghuni rumah , anak dan suami , mulai menyiapkan diri untuk beraktivitas seperti ke sekolah bagi anak-anak dan bekerja bagi suami mereka. Dengan waktu beraktivitas para pedagang yang bersifat khusus ini tentunya ada bagian yang dikorbankan demi kepentingan yang lebih besar, yaitu meningkatkan taraf hidup dan ekonomi keluarga.

Kegiatan pedagang pasar terapung yang bersifat ekonomi produktif ini perlu mendapatkan perhatian dan pembinaan dari instansi pemerintah yang berhubungan dengan perekonomian dan perdagangan. Perhatian dan pembinaan tersebut difokuskan pada peningkatan daya saing dan pemupukan modal usaha melalui wadah perkumpulan atau koperasi pedagang pasar terapung. Penguatan daya saing dan permodalan ini dimaksudkan mengurangi atau meminimalisir terjeratnya pedagang pasar terapung dari rentenir yang berkeliaran di sekitar mereka. Pedangan kecil seperti pedagang pasar terapung rentan terhadap praktik rentenir yang sangat lihai mendekati mereka. Iming-iming pinjaman modal yang siap setiap saat dan cara pembayaran yang tidak terikat waktu sangat menggiurkan dan menjanjikan bagi pedagang kecil yang bermodal pas-pasan.

Disamping itu pemerintah daerah juga harus jeli menangkap aspirasi yang berkembang di masyarakat sekitar pasar terapung, seperti di Lok Baintan Kabupaten Banjar.  Permasalahan yang kecil dan  dianggap sepele oleh pemerintah daerah terkadang dapat menjadi penghambat yang besar bagi  kelestarian pasar terapung. Contohnya masalah akses jalan dan sarana  transportasi ke objek lokasi pasar terapung. Intinya pemerintah daerah harus selalu memantau dan aspiratif terhadap keinginan masyarakat di  sekitar lokasi pasar terapung sebagai masukan dan  bahan pengambilan kebijakan oleh pemerintah daerah selanjutnya.

 

Penutup

Pengelolaan dan pelestarian objek wisata yang menjadi ikon daerah seperti pasar terapung  memerlukan peran serta dan dukungan nyata semua pihak, baik pemerintah, swasta, maupun masyarakat itu sendiri.  Kepentingan bersama dan kebanggaan daerah hendaknya menjadi motivasi dalam upaya meningkatkan  kepariwisataan daerah, khususnya bagi kita warga banua Kalimantan Selatan ini.

Kalau boleh penulis sarankan untuk mendukung pelestarian pasar terapung sebagai warisan budaya dan tradisi Banjar yang masih tersisa ini kepada Bank Kalsel sebagai bank milik pemerintah dan masyarakat Kalimantan Selatan untuk menjadi bank polopor yang memberikan bantuan dan pinjaman modal usaha bagi pedagang pasar terapung agar mereka mampu bersaing di era global dan persaingan pasar yang sangat kompetitif ini untuk banua yang lebih baik.

 

 

 

 

 

Views All Time
Views All Time
277
Views Today
Views Today
1
Previous articleMTQ yang BERKARAKTER
Next articlePERSEPSI DAN HARAPAN ORANGTUA TERHADAP SEKOLAH UNGGULAN
Lahir dari keluarga petani dan sederhana di Martapura (Banjar) Kalsel, 5 Nopember 1963. Kini menjalani profesi sebagai guru sejak tahun 1988. Mata pelajaran PPKn/PKn. Saat ini (2017) bertugas di SMPN 4 Pelaihari Kab.Tanah Laut Kalsel. Mulai menulis artikel tentang pendidikan secara rutin sejak tahun 2013. Tulisan artikel banyak dikirim dan terbit pada koran lokal, Banjarmasin Post dan Radar Banjarmasin. Tahun 2015, penulis membukukan artikel-artikel yang pernah terbit pada koran lokal dalam sebuah buku "OPINI SANG GURU" (edisi pertama,2015) lalu buku " OPINI SANG GURU "Edisi Kedua (2017),dan insyaallah akan dilanjutkan dengan buku "OPINI SANG GURU" edisi ketiga ,dan seterusnya.Dalam bentuk tulisan ilmiah, penulis bersama dengan guru-guru Kalsel yang pernah mengikuiti Lomba Inovasi Pembelajaran Kemdikbud tahun 2015, 2016,dan 2017, sedang menyusun dan menerbitkan buku " INOVASI PEMBELAJARAN' ,yang akan diterbitkan dalam beberapa edisi. Setiap edisi terbit diisi oleh 5-6 guru penulis. Buku "INOVASI PEMBELAJARAN" berisi naskah karya tulis inovasi pembelajaran yang pernah masuk worshop dan finalis Lomba Inovasi Pembelajaran, rencananya akan diterbitkan pada akhir tahun 2017 untuk edisi pertama, dan awal tahun 2018 untuk edisi kedua... dan seterusnya. Penulis, bertindak sebagai koordinator pengumpulan naskah tulisan,mengedit, dan mengirimkannya ke penerbit buku di Kalsel. Semoga buku " INOVASI PEMBELAJARAN' karya guru 'Banua' untuk Indonesia akan dapat menginspirasi guru untuk membuat inovasi pembelajaran, menulis, dan membukukannya. Semoga.

LEAVE A REPLY