PEJUANG DALAM KESUNYIAN

0
21

PEJUANG DALAM KESUNYIAN

(Marianus Depa, S.Pd., Gr)

Program pendidikan dasar bagi seorang guru telah membawa saya kepada pilihan untuk mengikuti program pemerintah yang cukup menjanjikan, program SM-3T yang sekilas nampak cukup untuk

Tantangan pengaplikasian ilmu yang telah saya tawarkan selama ini.

Dengan rasa penasaran, saya pun mencari tahu apa yang sebenarnya SM-3T itu, oh, ternyata visinya dan misinya bisa membuat seorang guru yang biasa menjadi luar biasa. Penugasannya di daerah terluar dan menjanjikan program PPG yang menjadi tolak ukur disetujui profesionalnya seorang guru itu,

Bukan hanya saya yang mengalami getaran Manfaat SM-3T itu, hal ini terbukti dengan antusias para lulusan pendidikan yang memngikuti seleksi ini. Hal ini sungguh berhasil bukan? Di tengah semaraknya, keramaian dan keindahan kota masih menjadi milik kaum muda yang mau mengambil risiko untuk mengabdi bagi negaranya di tempat-tempat yang belum tentu lolosjnjikan kebahagiaan.

Seltelah tes demi tes dilaksanakan, saya pun terpilih menjadi salah satu guru yang siap ditugaskan di daerah 3T. Berbagai perasaan pun muncul dalam pikiran, rasa penasaran berugumul dengan rasa cinta tanah air dan pertimbangan.

Dengan semangat berpetualang akhirnya kami berangkat pada tanggal 24 September ke daerah 3T, daerah yang masih dalam tantangan seperti apa bentuk dan keadaannya,

Kami tiba di sana dalam hari yang sama dengan selamat. Petualangan dimulai. Namun, jangan bertanya soal penerapan kurikulum, listrik dan jalan saja belum mendukung pekerjaan kami, jangan coba soal jam belajar sungai masih kami susuri untuk mencapai gedung sekolah. Jangan anggap soal drum band, baris berbaris dan upacara bendera saja masih terabaikan. Inilah suasana dan kondisi sekolah yang kami temukan ketika mengunjungi masa depan yang akan kami bahas selama ini, bukan hanya sekolah yang lumayan buruknya, pengetahuan siswapun bisa terukur dari percakapan yang tidak menggunakan bahasa Indonesia.

Melihat kenyataan yang demikian memprihatinkan hasrat sebagai pejuang masa depan generasi penerus terbakar bagai kobaran api. Dalam hati kami berniat untuk mengabdi sepenuh hati untuk memajukan pendiddikan di daerah ini dengan lebih baik dari sekarang. Kami tak ingin nasib mereka seperti jalan kampung yang terus berlubang tanpa ada perbaikan, tak ingin masa depan mereka seperti kegelapan kampung ini yang terus bertahan dalam kegelapan tampa ada harapan kapan saja akan tersentuh oleh PLN.

Disana kesombongan akan barang elektronik yang mahal kami lupakan, jangankan sinyal, listrik untuk mencharger laptop saja tak pernah kami jumpai, pelita dan lilin menjadi teman sejati di malam hari, suara kodok dan jangkrik, alunan musik yang bisa menemani tidur. Segala peralatan cangih telah kehilangan fungsiinya.

Ada rasa jengkel, marah, kecewa, menyesal kami harus berjalan berjam-jam untuk mencari sinyal agar bisa menelpon keluarga yang ditinggal. Selama dua minggu perasaan itu.

Semua rasa penasaran terjawab sudah, teringat dengan rasa kagum akan pesona alam yang begitu indah, apakah pendidkan di daerah ini seinadah alamnya, dapatkah diminta tidak. Segera mengejutkan kompilasi belajar dimulai dilaksanakan, pengetahuan sisawa dapat dijelaskan di bawah rata-rata. Hal ini dibuktikan dengan siswa yang bagus tapi bagus menjawab pertanyaan masih bnyak siswa yang tidak bisa menjawab pertanyaan itu?

Apa gerangan yang terjadi menjadi suatu pertanyaan yang perlu dieksplorasi, waktu demi waktu yang berkembang dengan cepatnya bergumul dengan tenaga dan perasaan, jawaban akan pertnayaan yang samar-samar mulai terlihat, kenyaatan yang ada berbalik. “Sisawa memberikan kunci jawaban, ujian selesai, dan yang memberikan jawaban itu adalah guru mereka sendiri” menyayat hati bukan? Nilai hasil ujian siswa memuaskan tetapi tingkah laku siswa dan pengetahuan siswa betul memilukan. Guru seakan lupa hakikat mereka sebagai pendiddik, guru tak sadar, guru telah memberikan tantangan terbesar bagi siswa untuk menggapai imipian mereka.

Mengubah kebiasaan itu tak segampang membalikkan telapak tangan, peribahasa itu kini kami hadapi dalam realitas. Siswa telah berhasil dengan pendidikan memanjat yang salah, mereka menolak kompilasi dituntun untuk belajar dengan cara yang benar dan lebih tegas.

Namun setelah itu kami mulai percaya dengan segala yang ada dan mulai menyukai, semangat pengabdian dan hasrat mencerdaskan bangsa telah meningkatkan rasa egois itu, mengajarkan menddiik menghibur adalah makanan pokok kami bila diibaratkan, gedung sekolah yang ber-AC  (AC)) telah tergantikan dengan ber AC (angin cencang) yang dihasilkan oleh celah dinding sekolah yang dibuat dari bambu. Tugas guru dan meningkatkan tenaga guru juga telah mnjadikan kami bukan hanya sebagai guru besik dari pendiddikan kami, kami mendukung untuk mengajar bebrapa mata pelajaran lain yang bukan menjadi dasar pendidikan yang kami tekuni salama ini, ada rasa kurang percaya diri, bertanggung jawab jawab menntut lebih. Bermodalkan buku dan pengatahuan yang ada kami pun mulai membahas sebagi guru segala ilmu. Seuatu yang menakjubkan.

Guru adalah profesi yang menuntut lebih banyak kesabaran. Itulah yang menjadi kekuatan kami untuk mengubah istem yang seolah-olah telah mendarahdaging ini. Mulai dari guru dan siswa kami arah untuk memulai dengan yang lebih baik dan membangun.

Kesabaran kami membalikkan, akhirnya dapat mengubah pandangan dan kebiasan mereka tuntas,

Betapa derita perjuangan kami mengatasi kerasnya daerah 3T, dari kondisi yang jauh dari kenyamanan. Keramaian dan kemewahan, tak jarang diperbarui, terlantar dan tak terdengarkan. Kami hanya bisa berterimah terima kasih, Mengapa? Andaikan tak ikut SM-3T kami tak tahu kalau masih banyak yang butuh bantuan dan kesulitan indahanya alam indonesia yang belum terjanngkau ini.

Waktu terasa begitu cepat berlalu, rasa cinta akan kesunyian ini seakan enggan untuk kami membuka. Siswa mulai bersemangat untuk menjawab pertanyaan yang diberikan, guru-guru mulai mengajar dan membimbing dengan ilmu dan hakikat keguruan yang ditanamkan.

Ujian semester berjalan dengan lancar, perubahan terjadi, nilai siswa cukup memuaskan bukan karna bantuan lagi tetapi karena usaha dan kerja keras meraka sendiri, senyum kebanggaan terpampang dengan indah di sudut bibir mereka, senyum yang berbeda dari senyum yang kami kenal ketika memulai pelajaran untuk pertama kalinya. Senyum yang akhirnya kunamai senyum kebanggan.

Akhirnya saya pun mengambil satu kesimpulan dari perjuangan kami ini, “ mereka tertinggal bukan karena kemauan sendiri, tetapi mereka tertinggal karena terlupakan, mereka butuh sentuhan perhatian untuk mencapai impian mereka.

Masa satu tahun berkhir dengan air mata dan kebanggaan, ada tangis dan tawa yang mengiringi kami kembali pulang. Lamabaian tangan perpisahan seperti harapan mereka agar kami kembali melanjutkan kisah  mencapai impian mereka..

Kini kami memulai lagi dengan dunia baru, dunia PPG yang masih merahasiakn seribu satu rahasia di balik kemegahan gedung RUSUNAWA UNDANA ini…

Selamat membaca

Views All Time
Views All Time
23
Views Today
Views Today
1

LEAVE A REPLY