Pembelajaran Abad 21 untuk Menuju Sekolah Hebat

0
2987

 

  1. Pendahuluan

Pendidikan merupakan tonggak utama dalam kehidupan manusia. Terciptanya kehidupan yang baik sesuai dengan rambu-rambu serta azas kemanusiaan tidak luput dari peran pendidikan. Dalam perkembangannya, pendidikan senantiasa mengalami perubahan. Hal ini seiring dengan berubahnya zaman yang ditandai dengan pesatnya kemajuan teknologi dan informasi. Kini pendidikan memasuki era baru yang bernama era Pendidikan Abad 21.

Abad 21 memang baru berjalan sekitar satu setengah decade, namun perubahan dan pergeseran yang terjadi dapat kita rasakan dengan cepat. Menurut Tilaar (2007:140) perubahan yang mempengaruhi manusia abad 21 dipengaruhi oleh tiga kekuatan besar yaitu manusia madani, Negara-negara dan globalisasi. Abad 21 memiliki ciri yang menonjol yaitu, adanya keterkaitan antara satu wilayah dengan wilayah lain di berbagai aspek kehidupan, dan semakin menyempitnya faktor ruang dan waktu yang selama ini menjadi penentu keberhasilan manusia untuk menguasai ilmu pengetahuan (BSNP, 2010:20). Salah satu contoh saling keterkaitan yang sedang dihadapi oleh Indonesia adalah Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) yang mulai dibentuk pada 31 Desember 2015.

Dibentuknya MEA merupakan agenda dari ASEAN Vision 2020, yang bertujuan menciptakan ASEAN sebagai daerah regional yang stabil, makmur, dan berdaya saing tinggi. MEA terdiri dari empat pilar, salah satunya yaitu Single Market and Production Base (Pasar Tunggal dan Basis Produksi). Berdasarkan pilar ini, akan diberlakukan aliran bebas barang, jasa, investasi, modal, dan tenaga kerja terlatih di kawasan regional Asean (asean 2015:5). Ini berarti tidak ada lagi hambatan ekspor-impor barang dan jasa di ASEAN. Aliran investasi dan modal di kawasan ASEAN semakin bebas, begitu pula dengan migrasi tenaga kerja.

Terbentuknya MEA bisa menjadi suatu peluang, namun bisa juga menjadi ancaman bagi masyarakat Indonesia. Menjadi peluang apabila pelaku-pelaku produksi dapat memperluas jangkauan pemasaran produk dan angkatan kerja semakin mudah untuk memilih pekerjaan di kawasan ASEAN. Mengenai posisi di ASEAN, Indonesia memiliki kelebihan yang tidak dimiliki Negara ASEAN yang lain diantaranya: 1) PDB Indonesia sebesar 888,65 milyar US Dollar dan berada pada peringkat ke-16 di dunia; 2) Indonesia merupakan Negara dengan jumlah penduduk terbanyak di ASEAN yang bisa menjadi potensi untuk memperkuat posisi Indonesia apabila kualitas sumber dayanya bagus. Sementara itu, MEA bisa juga menjadi ancaman apabila produktivitas kita tetap rendah, kualitas sumber daya manusia rendah, dan jumlah penganggur kita besar. Produk dan tenaga kerja kita dikhawatirkan akan kalah bersaing dengan Negara ASEAN yang lain. Untuk itulah diperlukan sumber daya manusia yang berkualitas.

Sumber daya manusia yang berkualitas sangat menentukan keberhasilan pembangunan suatu wilayah. Pendidikan merupakan salah satu cara meningkatkan SDM tersebut. Oleh karena itu peningkatan mutu pendidikan harus terus diupayakan, dimulai dengan membuka kesempatan seluas-luasnya kepada penduduk untuk mengeyam pendidikan, hingga pada peningkatan kualitas dan kuantitas sarana dan prasarana pendidikan. Berdasarkan sumber data dari Disdikpora Bali tentang profil dan informasi pendidikan tahun 2016 untuk SMA/MA/SMK, didapat bahwa rata-rata APM tahun 2016 sebesar 69,45 menurun dari tahun 2015 yang sebesar 75,64. Ini berarti di tahun 2016 baru 69,45 persen penduduk usia sekolah 16-18 tahun yang bersekolah di SMA/MA/SMK. Hal ini tentu menjadikan suatu tantangan bagi provinsi Bali dalam upaya mengembangkan akses pendidikan.

Selain pengembangan akses pendidikan, nampak permasalahan pendidikan di Indonesia semakin melebar dan semakin komplek. Pada tanggal 17 April 2015, pemerintah melalui Menteri Pendidikan menyatakan kualitas pendidikan Indonesia sedang dalam fase gawat darurat. Sesuatu yang sangat mengejutkan di zaman yang semakin maju dan serba persaingan. Menerima atau tidak, Indonesia merupakan Negara yang mutu pendidikannya masih rendah jika dibandingkan dengan Negara-negara lain bahkan sesama anggota di lingkup ASEAN. Bahkan dikatakan kualitas sumber daya manusia bangsa Indonesia masuk dalam peringkat yang paling rendah secara rata-rata. Hal ini terjadi karena system pendidikan Indonesia belum dapat berfungsi secara maksimal. Pemerintah perlu segera memperbaiki kualitas pendidikan Indonesia agar mampu melahirkan generasi yang memiliki keunggulan dan berdaya saing yaitu Generasi Emas 2045.

Generasi Emas 2045 yang memiliki keunggulan dan berdaya saing, atau sumber daya yang berkualitas diciptakan dari pendidikan yang berkualitas. Jika melihat realita pendidikan saat ini, maka Indonesia termasuk provinsi Bali masih belum bisa bersaing dan kemungkinan besar belum mampu mengambil peluang untuk menjadi Negara maju di penghujung abad 21. Hal ini karena masih minimnya sumber daya yang berkualitas. Realita menunjukkan bahwa saat ini yang dibutuhkan dunia kerja ialah kemampuan untuk bekerja sama dalam tim, kemampuan pemecahan masalah, kemampuan untuk mengarahkan diri, berpikir kritis, mengusai teknologi serta kemampuan berkomunikasi dengan efektif. Menurut Brilly, kemampuan-kemampuan tersebut adalah kemampuan abad 21 (21st Century Skill). Inilah menjadi tantangan pendidikan di Indonesia dan tentu pula tantangan pendidikan di Provinsi Bali. Pertanyaannya sekarang adalah apakah yang harus dilaksanakan Provinsi Bali agar mampu mempersiapkan sumber daya manusia terampil, serta melahirkan generasi-generasi hebat yang akan mengisi peluang emas di penghujung abad 21?

Hal yang harus disadari ialah ketika dunia berubah maka pendidikan pun harus berubah. System pendidikan dan pola pembelajaran harus berubah mengarah pada pembelajaran abad 21, yang tentu saja tanpa harus meninggalkan budaya dan karakter bangsa. Proses pembelajaran abad 21, dengan menanamkan filosofi pendidikan karakter Ki Hajar Dewantara, diharapkan dapat menghasilkan keluaran pembentukan individu yang memiliki karakter dan kompetensi abad 21. Disini peran guru menjadi hal terpenting, guru harus professional dan memiliki kompetensi abad 21. Kualitas gurulah yang membuat perbedaan bagi anak-anak. Anak-anak yang hebat, dihasilkan oleh guru-guru yang hebat  dan di sekolah yang hebat.

2. Metode Penelitian

Landasan filosofis penulisan artikel ini mengikuti alur berpikir fenomenologis, yakni berupaya menggambarkan fenomena masalah pendidikan yang terjadi saat ini sesuai dengan tuntutan perkembangan zaman. Data yang dikumpulkan adalah data skunder, dengan metode dokumentasi yang berupa kajian pustaka, yang selanjutnya dianalisis dengan melakukan identifikasi data, reduksi data, klasifikasi dan penarikan kesimpulan dan mencermati fenomena pendidikan yang terjadi saat ini.

3. Hasil dan Pembahasan

Dalam upaya mempersiapkan sumber daya yang berkualitas dan berdaya saing, sesuai dengan Nawacita dan kebijakan umum pemerintah tentang pendidikan, Provinsi Bali telah melaksanakan berbagai terobosan pembangunan di bidang pendidikan. Hal ini terbukti dengan dibangunnya SMA Bali Mandara yang telah mampu menjadi sekolah hebat, karena diisi oleh guru-guru yang hebat, kurikulum yang hebat dan menghasilkan siswa-siswa serta lulusan yang hebat. Untuk dapat memberdayakan sekolah-sekolah yang telah ada menjadi sekolah hebat, upaya perbaikan kualitas guru, proses pembelajaran, serta fasilitas lainnya terus dilakukan. Sekolah yang bagus hanyalah sebuah gedung yang berisikan guru yang bagus, dan sekolah hebat adalah sebuah gedung yang berisikan guru yang hebat. Guru yang hebat adalah guru yang mampu melaksanakan proses pembelajaran abad 21, melakukan revolusi karakter, sehingga mampu menjadikan tempat bertugasnya menjadi sekolah hebat. Berikut akan dipaparkan tentang pembelajaran abad 21 dan ciri-ciri sekolah hebat. Hal tersebut dapat dipaparkan sebagai berikut:

3.1 Pembelajaran Abad 21

Pembelajaran abad 21 merupakan pembelajaran yang mempersiapkan generasi abad 21 dimana kemajuan teknologi yang berkembang begitu cepat memiliki pengaruh terhadap berbagai aspek kehidupan termasuk pada proses belajar mengajar. Selain itu, system pembelajaran abad 21 merupakan suatu peralihan pembelajaran dimana kurikulum yang dikembangkan saat ini menuntut sekolah untuk merubah pendekatan pembelajaran yang berpusat pada pendidik (teacher-centered learning) menjadi pendekatan pembelajaran yang berpusat pada peserta didik (student-centered learning). Hal ini sesuai dengan tuntutan dunia masa depan dimana peserta didik harus memiliki kecakapan berpikir dan belajar. Kecakapan-kecakapan tersebut diantaranya adalah kecakapan dalam memecahkan masalah (problem solving), berpikir kritis, kolaborasi, dan kecakapan berkomunikasi. Semua kecakapan ini bisa dimiliki oleh peserta didik apabila pendidik mampu mengembangkan rencana pembelajaran yang berisi kegiatan-kegiatan yang menantang peserta didik untuk berpikir kritis dalam memecahkan masalah. Kegiatan yang mendorong peserta didik untuk bekerja sama dan berkomunikasi harus tampak dalam setiap rencana pembelajaran yang dibuatnya.

Untuk mewujudkan keterampilan-keterampilan siswa yang mampu bersaing pada abad 21 maka pembelajaran di sekolah harus merujuk pada 4 karakter belajar abad ke 21 yang dirumuskan dalam 4C yakni:

a. Communication : artinya, pembelajaran yang dilaksanakan oleh guru dan siswa harus terjadi komunikasi multi arah dimana terjadi komunikasi multi arah antara guru dengan siswa, siswa dengan guru, maupun antar sesama siswa. Siswa hendaknya diberi kesempatan untuk mengemukakan pendapatnya dalam proses belajar mengajar, sehingga siswa dapat mengkonstruk pengetahuannya sendiri melalui komunikasi dan pengalaman yang dia alami.

Komunikasi tidak lepas dari adanya interaksi antara dua pihak. Komunikasi memerlukan seni, harus tahu dengan siapa kita berkomunikasi, kapan waktu yang tepat untuk berkomunikasi, dan bagaimana cara berkomunikasi yang baik. Komunikasi bisa dilakukan baik secara lisan, tulisan, atau melalui simbul yang dipahami oleh pihak-pihak yang berkomunikasi. Komunikasi yang berjalan dengan baik tidak lepas dari adanya penguasaan bahasa yang baik antara komunikator dan komunikan.

Kegiatan pembelajaran merupakan sarana yang sangat strategis untuk melatih dan meningkatkan kemampuan komunikasi siswa, baik komunikasi antara siswa dengan guru, maupun komunikasi antar sesama siswa. Ketika siswa merespon penjelasan guru, bertanya, menjawab pertanyaan, atau menyampaikan pendapat, hal tersebut adalah merupakan sebuah komunikasi.

b. Collaboration : artinya, pada proses pembelajaran guru hendaknya menciptakan sistuasi dimana siswa dapat belajar bersama-sama/berkelompok (team work), sehingga akan tercipta suasana demokratis dimana siswa dapat belajar menghargai perbedaan pendapat, menyadari kesalahan yang ia buat, serta dapat memupuk rasa tanggung jawab dalam mengerjakan tanggung jawab yang diberikan. Selain itu dalam situasi ini siswa akan belajar tentang kerjasama tim, kepemimpinan, ketaatan pada otoritas, dan fleksibelitas dalam lingkungan kerja.

Pembelajaran secara berkelompok, kooperatif melatih siswa untuk berkolaborasi dan bekerjasama, juga menanamkan kemampuan bersosialisasi dan mengendalikan ego serta emosi. Dengan demikian melalui kolaborasi akan tercipta kebersamaan, rasa memiliki, tanggung jawab, dan kepedulian antar anggota. Sukses bukan hanya dimaknai sebagai sukses individu, tetapi juga sukses bersama, karena pada dasarnya manusia disamping sebagai individu, juga makhluk social. Saat ini banyak orang cerdas secara intelektual, tetapi kurang mampu bekerja dalam tim, kurang mampu mengendalikan emosi, dan memiliki ego yang tinggi. Hal ini tentunya akan menghambat jalan menuju kesuksesannya, karena menurut hasil penelitian Harvad University, kesuksesan seseorang ditentukan oleh 20% hard skill dan 80% soft skill. Kolaborasi merupakan gambaran seseorang yang memiliki soft skill yang matang. Hal ini akan mempersiapkan siswa dalam menghadapi dunia kerja dimasa yang akan datang

c. Critical Thinking and Problem Solving: artinya, proses pembelajaran hendaknya membuat siswa dapat berpikir kritis dengan menghubungkan pembelajaran dengan masalah-masalah konstektual yang ada dalam kehidupan sehari-hari. Kedekatan dengan situasi yang real yang dialami oleh siswa ini akan membuat siswa menyadari pentingnya pembelajaran tersebut sehingga siswa akan menggunakan kemampuan yang diperolehnya untuk menyelesaikan permasalahan-permasalahan yang dihadapinya.

Kegiatan pembelajaran dirancang untuk mewujudkan hal tersebut melalui penerapan pendekatan saintifik (5M), pembelajaran berbasis masalah, penyelesaian masalah, dan pembelajaran berbasis projek. Guru jangan rishi atau merasa terganggu ketika ada siswa yang kritis, banyak bertanya, dan sering mengeluarkan pendapat. Hal tersebut sebagai wujud rasa ingin tahunya yang tinggi. Yang perlu dilakukan guru adalah memberikan kesempatan secara bebas dan bertanggung jawab kepada setiap siswa untuk bertanya dan mengemukakan pendapat. Guru mengajak siswa untuk menyimpulkan dan membuat refleksi bersama-sama. Pertanyaan-pertanyaan pada level HOTS dan jawaban terbuka pun sebagai bentuk mengakomodasi kemampuan berpikir kritis siswa.

d. Creativity and Innovation, artinya pembelajaran harus menciptakan kondisi dimana siswa dapat berkreasi dan berinovasi. Guru hendaknya menjadi fasilitator dalam menampung hasil kreativitas dan inovasi yang dikembangkan oleh siswa.

Guru perlu membuka ruang bagi siswa  untuk mengembangkan kreativitasnya. Kembangkan budaya apresiasi terhadap sekecil apapun peran atau prestasi siswa. Hal ini bertujuan untuk memotivasi siswa supaya terus meningkatkan prestasinya. Peran guru hanya sebagai fasilitator dan membimbing setiap siswa dalam belajar, karena pada dasarnya setiap siswa adalah unik dan memiliki kecerdasan yang berbeda-beda. Sesuai yang disampaikan oleh Howard Gardner bahwa manusia memiliki 8 jenis kecerdasan  majemuk, diantaranya: (1) kecerdasan matematika-logika, (2) kecerdasan bahasa, (3) kecerdasan musikal, (4) kecerdasan kinestetis, (5) kecerdasan visual-spasial, (6) kecerdasan intrapersonal, (7) kecerdasan interpersonal, dan (8) kecerdasan naturalis

Proses pembelajaran untuk menyiapkan siswa memiliki kecakapan abad 21 menuntut kesiapan guru dalam merencanakan, melaksanakan, dan mengevaluasi pembelajaran. Guru atau Pendidik memegang peran sentral sebagai fasilitator pembelajaran. Pendidik berperan sangat penting (Fuad Hasan), karena sebaik apapun kurikulum dan system pendidikan yang ada, tanpa didukung mutu pendidik yang memenuhi syarat maka semuanya akan sia-sia.Sebaliknya, dengan pendidik yang bermutu maka kurikulum dan system yang tidak baik akan tertopang. Keberadaan pendidik bahkan tak tergantikan oleh siapapun atau apapun sekalipun dengan teknologi canggih. Alat dan media pendidikan, sarana prasarana, multimedia dan teknologi hanyalah media atau alat yang hanya digunakan sebagai rekan dalam proses pembelajaran. Oleh karena itu, pendidik dan tenaga kependidikan perlu memiliki kualifikasi yang dipersyaratkan, kompetensi yang terstandar serta mampu mendukung dan menyelenggarakan pendidikan secara professional. Khususnya guru sangat menentukan kualitas output dan outcome yang dihasilkan oleh sekolah karena dialah yang merencanakan pembelajaran, menjalankan rencana pembelajaran yang telah dibuat sekaligus menilai pembelajaran yang telah dilakukan (Baker & Popham, 2005:28).

Agar dapat melaksanakan proses pembelajaran abad 21, guru juga harus memiliki kecakapan abad 21. Selanjutnya, bagaimana kita bisa mengenali bahwa guru telah memiliki kecakapan abad 21?

Menurut Ragwan Alaydrus, S.Psi, setidaknya ada 7 karakteristik Guru abad 21 diantaranya:

  1. Life-long learner. Pembelajar seumur hidup. Guru perlu meng-upgrade terus pengetahuannya dengan banyak membaca serta berdiskusi dengan pengajar lain atau bertanya pada para ahli. Tak pernah ada kata puas dengan pengetahuan yang ada, karena zaman terus berubah dan guru wajib up to date agar dapat mendampingi siswa berdasarkan kebutuhan mereka.
  2. Kreatif dan inovatif. Siswa yang kreatif lahir dari guru yang kreatif dan inovatif. Guru diharap mampu memanfaatkan variasi sumber belajar untuk menyusun kegiatan di dalam kelas
  3. Mengoptimalkan teknologi. Salah satu ciri dari model pembelajaran abad 21 adalah blended learning, gabungan antara tatap muka tradisional dan penggunaan digital dan online media. Pada pembelajaran abad 21, teknologi bukan sesuatu yang sifatnya additional, bahkan wajib.
  4. Reflektif. Guru reflektif adalah guru yang mampu menggunakan penilaian hasil belajar untuk meningkatkan kualitas mengajarnya. Guru yang reflektif mengetahui kapan strategi mengajarnya kurang optimal untuk membantu siswa mencapai keberhasilan belajar. Ada berapa guru yang tak pernah peka bahkan setelah mengajar bertahun-tahun bahwa pendekatannya tak cocok dengan gaya belajar siswa. Guru yang reflektif mampu mengoreksi pendekatannya agar cocok dengan kebutuhan siswa, bukan malah terus menyalahkan kemampuan siswa dalam menyerap pembelajaran
  5. Kolaboratif. Ini adalah salah satu keunikan pembelajaran abad 21. Guru dapat berkolaborasi dengan siswa dalam pembelajaran. Selalu ada mutual respect dan kehangatan sehingga pembelajaran akan lebih menyenangkan. Selain itu guru juga membangun kolaborasi dengan orang tua melalui komunikasi aktif dalam memantau perkembangan anak
  6. Menerapkan student centered. Ini adalah salah satu kunci dalam pembelajaran kelas kekinian. Dalam hal ini, siswa memiliki peran aktif dalam pembelajaran sehingga guru hanya bertindak sebagai fasilitator. Karenanya, dalam kelas abad 21 metode ceramah tak lagi populer untuk diterapkan karena lebih banyak mengandalkan komunikasi satu arah antara guru dan siswa
  7. Menerapkan pendekatan diferensiasi. Dalam menerapkan pendekatan ini, guru akan mendesain kelas berdasarkan gaya belajar siswa. pengelompokkan siswa di dalam kelas juga berdasarkan minat serta kemampuannya. Dalam melakukan penilaian guru menerapkan formative assessment dengan menilai siswa secara berkala berdasarkan performanya (tak hanya tes tulis). Tak hanya itu, guru bersama siswa berusaha untuk mengatur kelas agar menjadi lingkungan yang aman dan suportif untuk pembelajaran

 

Selanjutnya peran sekolah agar mampu mencetak guru-guru professional yang memenuhi karakteristik guru abad 21, sehingga nantinya mampu mengimplementasikan pembelajaran abad 21 antara lain: a) meningkatkan kebijakan dan rencana sekolah untuk mengembangkan keterampilan baru; b) mengembangkan arahan baru kurikulum; c) melaksanakan strategi pengajaran yang baru dan relevan, dan d) membentuk kemitraan sekolah di tingkat regional, nasional maupun internasional.

Dunia telah berubah dan terus berubah sedemikian cepatnya. Lingkungan para siswa yang sekarang berbeda dari lingkungan para siswa di masa lalu untuk siapa-siapa sekolah dirancang, cara para siswa berpikir dan mengolah informasi secara fundamental berbeda sama sekali dari para pendahulunya. Kalau demikian adanya, sekolah harus merevolusi diri. Sekolah harus menyesuaikan dengan lingkungan pertumbuhan anak era digital, dan tuntutan dunia kerja di masa depan yang sangat berbeda. Sekolah harus menyertakan dan  memperhitungkan keahlian-keahlian abad 21 di dalam kurikulumnya demi memenuhi harapan dan kebutuhan siswa di era digital. Revolusi sekolah meliputi system sekolah, revolusi karakter, dan budaya sekolah. Seperti kita ketahui, bahwa sekolah merupakan pusat kebudayaan mempresentasikan sebuah miniatur masyarakat. Artinya sebuah sekolah memiliki nilai-nilai, norma-norma, kebiasaan-kebiasaan, sikap atau tindakan yang ditunjukkan oleh seluruh warga sekolah, sehingga membentuk sebuah system sekolah. Sifat-sifat atau karakteristik itu merupakan akumulasi pengalaman, pengamatan, dan penghayatan seluruh warga sekolah sejak sekolah tersebut berdiri.

Sumber daya yang berkualitas tidak hanya diciptakan dari kualitas akademik saja, akan tetapi juga harus didukung oleh mental spiritual yang kuat. Sebagus apapun kepintaran seorang individu, namun jika tidak diimbangi dengan spiritual yang mantap maka ilmunya pun tidak akan bermanfaat. Oleh sebab itu, spiritual merupakan pondasi utama yang dimiliki oleh tiap-tiap individu dan wajib mendapat tempat yang utama dalam pengembangan pendidikan terutama di abad 21.Selain itu kemampuan literat antara satu individu dan individu lain berkembang, sehingga bukan lagi kemampuan tunggal, melainkan kemampuan masyarakat, komunitas, atau warga sekolah. Budaya literat yang meliputi kemampuan, minat, kegemaran, kebiasaan, kebutuhan seluruh individu dalam berliterasi yang memola dan yang mengakar kuat dalam komunitas sekolah sangat penting untuk dikembangkan. Mencermati hal tersebut, hal yang menjadi prioritas untuk dintegrasikan dalam pembelajaran abad 21 adalah penguatan pendidikan karakter dan literasi dalam proses pembelajaran. Hal ini sesuai dengan arah kebijakan pembangunan pendidikan dan kebudayaan sesuai Nawacita.

Seperti telah dipaparkan di atas, bahwa untuk mempersiapkan sumber daya yang berkualitas dan berdaya saing, sekolah harus merevolusi diri. Sekolah hendaknya melakukan upaya perbaikan kualitas guru, proses pembelajaran, fasilitas, program dan system manajemen sehingga mampu menjadi sekolah hebat. Sekolah yang bagus hanyalah sebuah gedung yang berisikan guru-guru yang bagus, sedangkan sekolah hebat adalah sebuah gedung yang berisikan guru yang hebat, guru yang mampu melaksanakan proses pembelajaran abad 21, melakukan revolusi karakter, sehingga mampu menjadikan tempat tugasnya menjadi sekolah hebat.

3.2 Sekolah Hebat

Banyak orang beranggapan sekolah mahal dan gedungnya bagus otomatis menghasilkan pelajar hebat, kini anggapan itu harus dibuang jauh-jauh. Ternyata, sekolah mahal tidak berbanding lurus dengan prestasi gemilang para siswanya, begitu pula sekolah ala kadarnya tidak melulu menghasilkan anak-anak berotak pas-pasan. Menurut John Rosborrg (dalam Heriyanto: 2017) dalam bukunya yang berjudul “ The Perfect School” mengemukakan bahwa terdapat 8 hal yang musti dipertimbangkan dalam menciptakan sebuah sekolah yang hebat. Sekolah yang hebat paling tidak harus memiliki : Perfect teachers, Perfect staffs, Perfect Principals Service, Charakter/Perseption, Curriculum/data/diversity, Finance/Academic Gap dan Hiring and Firing. Selain itu AJ Trainer & Motivator, 2016 menyatakan bahwa ada 4 Pilar untuk hadirnya sebuah lembaga sekolah yang hebat. Dengan ke 4 pilar ini bisa menjadi potensi sekolah untuk menjelma menjadi sekolah yang Hebat dan lebih hebat. 4 Pilar tersebut adalah: 1) Guru yang hebat, 2) Orang tua yang hebat, 3) manajemen sekolah yang hebat dan 4) pelajar yang hebat. Terkait dengan sekolah dimana kita mengabdi, prasyarat mana yang telah kita miliki? Atau sudah berapa sekolahkah di provinsi Bali yang memenuhi kriteria sebagai sekolah hebat?  Jika hal tersebut belum kita miliki, maka inilah saat yang tepat bagi kita untuk memulai membangun sekolah yang hebat itu di tempat kita mengabdi.

Salah satu kriteria sekolah hebat tadi adalah “Perfect teachers”. Guru memiliki peran yang sangat sentral dalam pembelajaran. Meski saat ini banyak peran guru diambil alih oleh teknologi, namun peran kruisialnya tetap tidak bisa digantikan yaitu kepengasuhan. Inti dari pendidikan adalah kepengasuhan dari tidak tahu menjadi tahu, dari tidak berbudaya menjadi berbudaya, dari tidak baik menjadi baik.

Seorang guru merupakan faktor terpenting dalam pendidikan anak. Sekolah bagus hanyalah sebuah gedung yang berisikan guru yang bagus, dan sekolah hebat adalah sebuah gedung yang berisikan guru yang hebat. Kurikulum yang kaya dan menantang membantu guru menjadi lebih efektif. Tetapi diatas segalanya, kualitas gurulah yang membuat perbedaan bagi anak-anak (Thomas R. Hoerr, 2007 : 158). Di balik murid yang hebat pasti ada guru yang hebat di belakangnya. Guru hebat dapat menciptakan suasana belajar yang menyenangkan bagi siswa. Guru hebat juga dapat mengembangkan potensi siswa dengan kurikulum apapun dan dalam situasi apapun. Polemik penerapan kurikulum 2013 membuat guru Indonesia menjadi sorotan. Banyak yang menilai, kualitas guru di tanah air belum mumpuni menerapkan pengganti Kurikulum 2006 tersebut. Kurikulum akan berubah mengikuti situasi politik, sosial, budaya dan perkembangan teknologi. Sementara itu, tugas guru tidak berubah. Apapun kurikulumnya, guru harus memastikan peserta didik tumbuh dan berkembang sesuai potensi masing-masing dalam situasi dan kondisi yang ada. Untuk menjadi guru yang hebat, harus mendidik dengan niat sebagai ibadah, memperkokoh kepribadian, meningkatkan kompetensi secara kontinyu dengan memahami konteks secara menyeluruh (Suwarsih dalam dadangjsn.com, 2015).  Di lain pihak mantan atase pendidikan Indonesia di Thailand menyatakan bahwa, guru yang hebat adalah guru yang mampu menyusun, melaksanakan, dan memberikan penilaian terkait pembelajaran kapan dan dimana saja dia ditempatkan. Guru hebat harus focus dalam pengembangan potensi yang dimiliki peserta didiknya.

Sosok guru hebat ini, tentu telah dinanti-nantikan oleh siswa. Saat ini, kehadiran guru-guru hebat masih sangat minim dibandingkan dengan jumlah guru yang ada, termasuk di Provinsi Bali. Sosok guru yang mampu menjadi inspirasi tiada henti bagi siswa untuk menjadi lebih berarti dalam kehidupannya kelak nanti, Guru yang selalu memberi ruang yang sama besarnya untuk anak didiknya melakukan hal yang sama. Seorang guru harus mampu menumbuhkan keyakinan dan kecermelangan potensi anak didik mengingat ini adalah bagian dari kepengasuhan itu sendiri. Seorang perfect teacher selalu berfikir kreatif dan melihat segala sesuatu di luar konteks (thinking out the box), dan memberi ruang yang sama besarnya untuk anak didiknya melakukan hal yang sama. Dia adalah sosok yang tidak terkebiri oleh kurikulum, namun ia menjelma menjadi sosok yang bebas dan kreatif mengeluarkan ide-idenya bagi perbaikan pembelajaran, ia juga harus mau menerima apapun perbedaan dan cara berpikir anak didiknya. Guru-guru yang hebat dapat menciptakan suasana belajar yang menyenangkan bagi siswa. Dengan demikian  diharapkan mampu membuat siswa senang belajar, senang datang ke sekolah dengan suasana yang menyenangkan. Sekolah yang menyenangkan, diisi dengan guru-guru yang hebat, nantinya dapat melahirkan generasi yang hebat dapat disebut sekolah hebat.

Menurut Namin AB Ibnu Solihin (2017), ada 10 ciri sekolah hebat dan keren untuk masa depan anak kita diantaranya: 1)Bisa mengantarkan anak, guru dan orang tua ke Surga; 2) Yayasan, Kepala Sekolah, Guru, Karyawannya berakhlak; 3) Visi sekolahnya bermanfaat untuk siswa, guru dan orang tua; 4) Target lulusannya Terukur dan bisa dirasakan langsung. Lulusannya memiliki akhlak mulia; 5) Program pembiasaan keseharian siswanya membekas dalam kehidupan; 6) Program kurikulumnya simple serta mudah untuk dipraktikan; 7) Gurunya mendapatkan pembinaan secara rutin, berkala dan sistematis; 8) Orangtuanya mendapatkan program yang mendukung kemajuan anaknya; 9) Sekolah yang mampu mengembangkan potensi terbaik yang dimiliki siswanya; dan 10) Sekolah yang mampu bersinergi antara anak, guru dan orang tua

Sekolah yang baik selalu memiliki guru-guru hebat, seorang guru yang tidak hanya pandai memberi semata, namun mampu membangkitkan raksasa tertidur (Aweakening the giant within: Tony Buzan), pandai memotivasi, menginspirasi, dan yang terpenting tidak terkotak dan terkungkung oleh kurikulum. Semoga kita bisa menjadi guru yang inspiratif itu, karena ialah yang akan mengkilaukan kembali pendidikan kita yang terpuruk.

 

 4. Simpulan

Pendidikan memang telah menjadi penopang dalam meningkatkan sumber daya manusia di Indonesia untuk pembangunan bangsa termasuk provinsi Bali. Oleh karena itu, kita seharusnya mampu meningkatkan kualitas pendidikan agar tidak kalah bersaing dengan kualitas-kualitas pendidikan di Negara lain. Pendidikan sejati akan melahirkan harapan baru dan generasi pemimpin. Dimana ada pendidikan, disitulah akan bangkit peradaban yang agung. Karena itu, berbagai kebijakan dalam bidang pendidikan telah diupayakan dan diterapkan, untuk melahirkan generasi yang memiliki keunggulan dan berdaya saing, atau sumber daya berkualitas agar mampu mengambil peluang di penghujung abad 21.

Untuk mempersiapkan sumber daya yang berkualitas dan berdaya saing, sekolah harus merevolusi diri. Sekolah hendaknya melakukan upaya perbaikan kualitas guru, proses pembelajaran, fasilitas, program dan system manajemen sehingga mampu menjadi sekolah hebat. Proses pembelajaran, pada kurikulum 2013 diharapkan dapat diimplementasikan pembelajaran abad 21. Pembelajaran abad 21 memiliki karakteristik 4C yaitu Communication, Collaboration, Critical Thinking and Problem solving, Creativity and innovation. Selain itu, perbaikan kualitas guru juga mengacu pada karakteristik guru abad 21 dintaranya:  Life-long learner (pembelajar seumur hidup), kreatif dan inovatif, mengoptimalkan teknologi, reflektif, Kolabotatif, menerapkan student centered, menerapkan pendekanan diferensiasi

Sekolah yang bagus hanyalah sebuah gedung yang berisikan guru-guru yang bagus, sedangkan sekolah hebat adalah sebuah gedung yang berisikan guru yang hebat, guru yang mampu melaksanakan proses pembelajaran abad 21, melakukan revolusi karakter, sehingga mampu menjadikan tempat tugasnya menjadi sekolah hebat.

5. Daftar Pustaka

 

Thomas R.Hoerr. (2007). Buku Kerja Multiple Intelligences : Pengalaman New City School di ST. Louis, AS, Dalam Menghargai Aneka Kecerdasan Anak. Bandung: Kaifa PT. Mizan Pustaka.

Namin AB Ibnu Solihin. (2017). founder www.motivatorpendidikan.com diunggah tanggal 9 Maret 2017

Heriyanto Nurcahyo. “ Menuju Sekolah Hebat”, http: heriyantinurcahyo213.gurusiana.id/artcle/menuju-sekolah-sehat-367980(diakses117 April 2017)

Yulinda. “Masalah Pendidikan Di Indonesia”, http: yulinda.welkis@yahoo.com ( diakses 4 April 2017).

Mulyana A.Z. “ Rahasia Menjadi Guru Hebat “ https:// books. Google.co.id/books?isbn=9790813260

 

 

Kuta, 17 April 2017

Artikel ini diajukan dalam seleksi Penghargaan Widya Kusuma Provinsi Bali  Bidang Pendidikan Tahun 2017

oleh Dra. Luh Made Sri Yuniati, M.Pd

SMA Negeri 1 Kuta

 

Views All Time
Views All Time
2411
Views Today
Views Today
1

LEAVE A REPLY