“Pembentukan Karakter Anak di Pundak Orang Tua” Guru dimana?

0
28

“Pembentukan Karakter Anak di Pundak Orang Tua” Guru dimana?

Edy Siswanto

Tak bisa dipungkiri kebangkitan Islam mulai tumbuh. Nampak akhir-akhir ini. Ghirah semangat keislaman tak hanya di kota. Di pedesaan juga. Dilihat dari semakin banyaknya wanita yang “menutup aurat”. Memakai hijab atau kerudung dan baju muslim. Tak peduli syar’i atau belum yang penting masih “islami”. Masih mending. Dibanding lima sepuluh tahun lalu.

Kebangkitan dan ghirah semangat keislaman. Menurut teman sebelah saya. Tak cukup indikator baju islami saja namun banyak indikator lain semisal bagaima nafsiyah, fikriyah dan nidzhamnya melingkupi setiap gerak langkah seorang muslim.

Dilihat di sana-sini pengajian banyak dihadiri bapak-bapak maupun ibu-ibu tak ketinggalan pula gamis Koko dan jilbab ramai di mana-mana dikenakan. Namun sudahkah kesadaran beragama ini kongruen dan signifikan dengan pelaksanaan dan implementasi amaliyah dalam kehidupan sehari-hari? Amalan dan implementasi ajaran Islam itu sendiri?

“Gerakan Ayo Ngaji”. Ngaji ayat alqur’an (quliyah) maupun ayat yang tercipta (qauniyah). Wajib digalakkan sejak dini. Kegiatan ini terus didorong dimasjid, mushala, dirumah, kantor, tempat kerja minimal setiap bulan sekali. Syukur bisa dilaksanakan setiap minggu sekali. Dalam kajian ahad pagi misalnya. Sebagai penambah “pil segar” “asupan gizi ruhiyah” orang tua wali murid agar sejalan dengan pendidikan anaknya yang diterima disekolah.

Program ini bertujuan mengajak kembali orang tua “cinta islam” memperdalam keimanan dengan ketaqwaan dalam mengkaji islam.

“Sebagai orang tua yang mempunyai anak seumuran anak usia dini (PAUD) dan sekolah dasar (SD). Bentuk dukungan sebagai orang tua wali murid. Berperan sangat penting. Berikan masukan dan pembimbingan kepada anak-anak kita. Setidaknya habis maghrib walau satu ayat hendaklah anak-anak atau keluarga diajak mengaji.

Kesadaran akan pendalaman keimanan orang tua wali murid kian hari kian merosot. Hubungan dan komunikasi orang tua dan anak semakin menjauh. Mari usaha bersama agar kesadaran ini dapat tumbuh dan kembali bersemi demi lahirnya generasi muda yang bermental tangguh. Pejuang syariat agamanya.

Meski begitu hendaknya semua komponen sekolah mendukung program tersebut agar bisa berjalan lancar. Untuk itu, kesadaran orang tua wali murid mematikan televisi sejenak dan membuka kembali lembaran Alquran, terutama pada jam 18.00-21.00

“Bapak ibu, ayo langkah awal tolong habis maghrib ajak keluarga minimal lima menit matikan TV, ajak anak-anak kita mengaji,”

Dalam sebuah ceramah dari sang ustad. Hasil penilitian disertasi mahasiswa doktoral di Amerika. Dalam Alquran, cerita atau dialog orang tua (ayah) ke anak ternyata lebih banyak (70%) dibanding ibu dengan anak yang hanya (30%). Mengandung pengertian bahwa komunikasi orang tua terutama ayah. Saat fase tertentu sangat penting kepada anaknya.

Menurutnya fase pertumbuhan anak ada tiga. Pertama, usia 0-7 tahun. Sebagai fase raja atau atasan majikan kita. Jadikan anak sebagai raja (bicaralah orang tua ke anak yang lemah lembut). Saat ini pendidikan anak lebih dominan oleh ibu.

Fase kedua, anak usia 8-14 tahun. Perlakukan anak seperti tawanan. Artinya ada pembatasan ketat. Jangan mudah dituruti kemaunnya. Namun anak yang menuruti kemaun orang tua. Bukan sebaliknya. Atur larangan terutama HP saat jam belajar. Jangan sampai kecanduan game dan lain sebagainya. Fase ini sudah mulai seimbang porsi pembimbingan anak (ayah dan ibu).

Fase ketiga, anak usia diatas 14 tahun. Jadikan anak seperti teman “mitra” tingkatkan kedekatan orang tua dengan anak. Sering dan ajaklah dialog oleh orang tua. Pada fase ini lebih banyak peran dan porsi ayah untuk membimbingnya.

Terbatasnya waktu orang tua ke anak tak menghalangi. Wujudkan waktu yang bermakna (quality time). Jadikan waktu yang berkualitas untuk porsi kedekatan dengan anak.

Pendidikan anak (pembentukan karakter) ada dipundak orang tua. Bukan di guru. Guru hanya membantu memfasilitasi pendidikan (pembelajaran) saat di sekolah. Namun penanaman dan pembentukan karakter menjadi tanggung jawab kedua orang tua. Terutama (ayah). Ujar sang ustad.

Begitu besar peran seorang ayah. Dalam keberhasilan mendidik anak. Sebuah cerita nabi Yusuf yang diabadikan dalam Alqur’an. Ketika Nabi Yusuf mendapat “rayuan” Siti Zulaekha Istri raja Mesir saat itu. Yang terkenal cantik jelita. Dalam sebuah kamar yang sudah terkunci. Apabila memakai logika manusia biasa tak mungkin Yusuf menolak “cinta dan ajakan” Zulaekha. Namun lain ceritanya.

Selain keimanan Yusuf yang kuat. Kegigihan Yusuf yang tidak Mudah terpengaruh dengan rayuan Siti Zulaekha.

Sebuah riwayat menyatakan sesungguhnya selain Zulaekha. Sebenarnya Yusuf juga mencintai Zulaekha. Namun selamat, Yusuf berhasil lari dari pelukannya. Apa pasal? bahwa saat itu Nabi Yusuf diingatkan oleh Ayahya “seolah ada di atas langit-langit kamarnya”. Ayahnya (Nabi Yaqub) memanggil Nabi Yusuf. Dengan memukul dadanya. untuk agar tidak terjerumus ke dalam lubang kenistaan.

“Engkau adalah calon seorang Nabi maka segera hentikan dan jauhi perbuatan tercela tersebut”. Hardik Nabi Yaqub, Ayah Nabi Yusuf. “Tak pantas kau lakukan perbuatan itu”.

Sebuah riwayat lain menyatakan bahwa Nabi Yusuf teringat akan kata-kata dari Ayahnya untuk selalu “ingat-ingatlah” sesorang yang telah berbuat baik kepadamu.

Tiada lain adalah suami Zulaekha (Raja Mesir) yang telah menolong Nabi Yusuf dengan memberikan pekerjaan menjadi pembesar Kerajaan Mesir saat itu. Sebagai orang yang telah hutang baik.

Apakah sebagai orang yang pernah hutang budi akan menghianatinya? dengan berbuat asusila kepada istri dari seorang yang telah berbuat baik?

Mengandung pengertian begitu besar peran Ayah dalam pembentukan karakter anak. Sampai anak teringat sehingga anak “ingat petuah Ayah” bukan ingat petuah ibu. Untuk kembali tidak tergelincir berbuat tercela. Ujar sang ustad. Wallahu Alam Bi Ashawab

Views All Time
Views All Time
16
Views Today
Views Today
1
Previous articleCatatan Meliput Kegiatan Gema 1 Muharram 1441 H Bersama The Power Of Sholawat
Next articleCATATAN BIMTEK CALON INSTRUKTUR INOVASI IMPLEMENTASI KURIKULUM MADRASAH 2019. Bagian 4. Menunggu dan Menulis
Edy Siswanto, S.Pd., M.Pd., Pemerhati Politik dan Pendidikan, Guru SMK Negeri 4 Kendal Jawa Tengah. Lahir di Pemalang, 28 Oktober 1976. Lulus terbaik S1 Teknik Mesin Univet Semarang, tahun 2000. Lulus Cumlaude Pascasarjana S2 Manajemen Pendidikan Unnes Semarang, tahun 2009. Saat kuliah kegiatan aktivisnya berkembang. Pengalaman organisasi semasa kuliah. Berturut-turut : Menjadi ketua Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ) Teknik Mesin tahun 1997-1998. Tercatat pernah menjadi Ketua Senat Mahasiswa di Fakultasnya tahun 1998-1999. Seiring bergulirnya reformasi pada tahun1998, aktif di organisasi mahasiswa Islam baik intra maupun ekstra kampus. Di Semarang turut membidani kelahiran Forum Kajian dan Studi Islam Aktual Strategis Semarang. Ikut serta melibatkan, mengorganisir gerakan aktivis kampus kala itu. Bersama lembaga mahasiswa ekstra kampus. Karenanya diskusi pemikiran dan Kajian keislaman menjadi santapan sehari-hari. Pengalaman pekerjaan sebagai Guru Teknik Mekanik Otomotif Kendaraan Ringan (TKRO) sejak tahun 1998 sampai sekarang. Dilaluinya penuh keprihatinan dengan jualan Koran, Majalah Forum Keadilan, Tempo dan Tabloid Adil saat itu. Mulai menulis sejak tahun 2001. Dengan dimuat di opini Harian Jawa Pos. Karenanya bacaan dan bahasan politik tak pernah asing. Dengan mengajar di berbagai SMK. Sejak tahun 1998-2000, Sebagai Guru Teknik Mekanik Otomotif Kendaraan Ringan SMK IPTEK Tugu Suharto Semarang. Tahun 2000-2003, Guru Teknik Mekanik Otomotif Kendaraan Ringan SMK Pondok Modern Selamat Kendal. Tahun 2003-2008, Guru Teknik Mekanik Otomotif Kendaraan Ringan SMK Bina Utama Kendal. Tahun 2008-sekarang, Guru Teknik Mekanik Otomotif Kendaraan Ringan SMK Negeri 4 Kendal. Tahun 2010-2015, sebagai Ketua PGRI Ranting SMKN 4 Kendal. Tahun 2012-sekarang, sebagai Ketua Komite Sekolah SDIT Alkautsar Sidorejo Brangsong Kendal. Tahun 2015-2020, sebagai Wakil Ketua PGRI Cabang Brangsong Kabupaten Kendal. Tahun 2016-2021, sebagai Ketua Bidang Organisasi Ikatan Guru Indonesia (IGI) Kabupaten Kendal. Tahun 2013-2017, Dosen Metodologi Penelitian dan Penulisan Karya Tulis Ilmiah Populer Universitas Ivet Semarang. Tahun 2017-2019, sebagai Wakil Kepala Sekolah Bidang Kurikulum SMK Negeri 4 Kendal. Tahun 2017-2022, Sebagai Ketua MGMP Teknik Kendaraan Ringan Otomotif (TKRO) SMK Kabupaten Kendal. Tahun 2017-2022, sebagai Ketua Guru Pembelajar Online TKRO SMK Kabupaten Kendal. Tahun 2017-2022, sebagai Direktur BUMDes Pangestu Hayati Desa Kertomulyo Brangsong Kendal. Tahun 2018-2021, sebagai Humas Asosiasi Guru Penulis (AGP) Kabupaten Kendal. Tahun 2018-sekarang, sebagai Kolumnis "Opini untukmu Guruku" Harian Jawa Pos Radar Semarang, wilayah Kendal. Tahun 2019-2024, Ketua Bidang Dakwah dan Kajian Alqur'an, Yayasan Majelis Taklim Pengkajian Alqur'an Husnul Khatimah Kendal. Beberapa tulisan artikel dan opini seputar politik dan pendidikan. Banyak dimuat diharian online maupun offline. Seperti Jawa Pos Radar Semarang, LPMP Jateng, Blog.IgI.or.id, gurusiana.id. Buku yang sudah ditulis, "Bunga Rampai Pemikiran Pendidikan" Penerbit MediaGuru Surabaya, tahun 2018. Buku yang lain dalam proses : "Guru Membangun Paradigma Berfikir" (on proses), "Smart School dan Sekolah Unggul" (on proses), "Pembelajaran Berbasis STEM" (on proses). "Membangun Kinerja Team Work yang Kuat" Tinggal di Kendal dengan satu istri dan tiga anak. Bisa dihubungi di HP. 081215936236 dan Facebook Edy Siswanto ; edysiswanto.gurusiana.id ; kurikulumedysiswanto atau email siswantoedy1976@gmail.com; myazizy_2008@yahoo.co.id ; tweeter : Edy Siswanto ; IG : Siswanto Edy

LEAVE A REPLY