Kita akui, pendidikan telah menjadi subordinasi dari kekuatan politik. Pendidikan hanya merupakan medium untuk membangun kepentingan golongan dan kelompok tertentu. Kita bisa lihat pada perdebatan mengenai anggaran pendidikan. Pemerintah dengan segala apologinya telah sengaja menghindar untuk memenuhi dana pendidikan yang menjadi tuntutan dalam UUD. Akhirnya menjadi polemik politik yang tidak berujung pangkal. Penolakan pemerintah atas pemenuhan tuntutan anggaran pendidikan sebesar 20 persen, menunjukkan ketiadaan komitmen pemerintah akan pentingnya pendidikan. Dalam hal ini yang dipentingkan adalah pembangunan pranata politik hingga mengaburkan kebutuhan esensial pendidikan bagi anak didik.

Kembalikan Arah

Dalam upaya meningkatkan mutu pendidikan tidak bisa hanya melalui ujian nasional saja, tapi harus memahami esensi pendidikan. Ada kata bijak: non scholae sed vitae discimus. Artinya, kita belajar bukan demi sekolah tetapi demi hidup. Belajar bukan sekedar menyiapkan diri dalam menghadapi ujian saja, akan tetapi bagaimana dapat mengoptimalkan kemampuan diri mengarungi kehidupan.

Harapan terakhir, setidaknya dibutuhkan komitmen pemerintah dalam mengelola pendidikan. Implikasinya, membebaskan pendidikan dari kungkungan elite politik yang hendak memanfaatkan pendidikan untuk memperoleh dan mempertahankan kekuasaan, atau yang melanggengkan proyek semata. Semoga!

Views All Time
Views All Time
50
Views Today
Views Today
1

LEAVE A REPLY