Pendidikan dalam masyarakat sederhana dan modern

3
13

Pendidikan dalam masyarakat sederhana dan modern

PENDIDIKAN

Menurut Pannen (2001: 1) dalam Zakir (2010) pendidikan digambarkan sebagai suatu kesatuan yang terdiri dari subsistem-subsistem dan membentuk satu sistem yang utuh. Sistem pendidikan ini memperoleh input dari masyarakat dan lingkungan serta akan memberikan output bagi masyarakat dan lingkungan tersebut.

Sedangkan menurut UU SPN No. 20 Tahun 2003, Pendidikan merupakan usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan Negara.

Kegiatan belajar mengandung tiga proses, yaitu mendengarkan,  memperhatikan dan melakukan. Kebudayaan tertentu memberikan penekanan yang berlainan terhadap  satu atau terhadap yang lain.  Seperti pendidikan barat membaca lebih banyak dari pada memperhatikan dan mendengar, meskipun keseimbangan bergeser sedikit demi sedikit karena pemakaian televise sebagai media. Orang cina belajar melalui memperhatikan, anak pilaga belajar melalui kesalahan yang kemudian diperbaiki oleh orang dewasa.

Semua kebudayaan menggunakan upah dan hukuman untuk mendorong belajar dan membetulkan perilaku yang salah. Upah dari memuji sampai memberikan hadiah, hukuman mulai dari tidak membenarkan dan menertawakan sampai pengurungan dan pemukulan.

Pendidikan merupakan produk dari masyarakat, karena apabila kita sadari arti pendidikan sebagai proses transmisi pengetahuan, sikap, kepercayaan, keterampilan dan aspek-aspek kelakuan lainnya kepada generasi muda maka seluruh upaya tersebut sudah dilakukan sepenuhnya oleh kekuatankekuatan masyarakat. Hampir segala sesuatu yang kita pelajari merupakan hasil hubungan kita dengan orang lain baik di rumah, sekolah, tempat permainan, pekerjaan dan sebagainya. Wajar pula apabila segala sesuatu yang kita ketahui adalah hasil hubungan timbal balik yang ternyata sudah sedemikian rupa dibentuk oleh masyarakat kita.

Bagi masyarakat sendiri hakikat pendidikan sangat bermanfaat bagi kelangsungan dan proses kemajuan hidupnya. Agar masyarakat itu dapat melanjutkan eksistensinya, maka kepada anggota mudanya harus diteruskan nilai-nilai, pengetahuan, keterampilan dan bentuk tata perilaku lainnya yang diharapkan akan dimiliki oleh setiap anggota. Setiap masyarakat berupaya meneruskan kebudayaannya dengan proses adaptasi tertentu sesuai corak masing-masing periode jaman kepada generasi muda melalui pendidikan, secara khusus melalui interaksi sosial. Dengan demikian pendidikan dapat diartikan sebagai proses sosialisasi.

Dalam pengertian tersebut, pendidikan sudah dimulai semenjak seorang individu pertama kali berinteraksi dengan lingkungan eksternal di luar dirinya, yakni keluarga. Seorang bayi yang baru lahir tentunya hidup dalam keadaan yang tidak berdaya sama sekali. Menyadari hal demikian sang ibu berupaya memberikan segala bentuk curahan kasih sayang dan buaian cinta kasih melalui air susunya, perawatan yang lembut serta gendongan yang begitu mesra kepada si bayi. Begitulah proses tersebut berlangsung selama si bayi masih tetap memerlukan pertolongan intensif dari manusia lain. Sampai pada umur lima tahun bayi itu tumbuh dan berkembang dengan sehat di dalam mahligai cinta kasih perpaduan sepasang manusia yang menjadi orang tuanya. Dari sini bisa kita sadari selain anggota keluarga baru itu belajar mengetahui, mempelajari serta melakukan berbagai reaksi terhadap stimulus dari dunia barunya maka bisa kita cermati pula bahwa sang bayi juga memahami esensi nilai-nilai kemanusiaan dari keluarganya dalam bentuk gerak tubuh, belajar berbicara, tertawa serta semua tindak tanduk yang menggambarkan bahwa jiwa raganya telah terpaut erat oleh belaian kasih sayang manusia dewasa.

Ilustrasi di atas hanyalah sekelumit kecil dari siklus belajar individu di dalam masyarakat. Proses tersebut berlangsung pula ketika kita menjadi manusia dewasa. Apabila kita memenuhi kewajiban sebagai saudara laki-laki, suami atau warga Negara serta menjalankan hal-hal lain yang tertanam kuat dalam benak kesadaran kita, itu berarti kita melakukan tugas yang sudah ditentukan secara eksternal oleh hukum-hukum kodrat sosial (droit) dan kebiasaan-kebiasaan yang berkembang begitu alamiah dari lingkungan sosial. Kewajiban itu muncul bukan hasil dari proses pemaksaan eksternal yang mekanistis melainkan selalu diikuti oleh gejala resiprositas individu dengan lingkungan luarnya sehingga pada tahap akhirnya masyarakat telah menghasilkan ribuan atau bahkan jutaan manusia yang tunduk lahir batin dengan ketentuan-ketentuan kolektif (Abdullah dan Van der Leeden, 1986).

Dalam masyarakat yang bersifat heterogen dan pluralistik, terjaminnya integrasi sosial merupakan fungsi pendidikan sekolah yang cukup penting. Masyarakat Indonesia mengenal bermacam-macam suku bangsa masing-masing dengan adat istiadatnya sendiri, bermacam-macam bahasa daerah, agama, pandangan politik dan lain sebagainya. Dalam keadaan demikian bahaya disintegrasi sosial sangat besar. Sebab itu tugas pendidikan sekolah yang terpenting adalah menjamin integrasi sosial. Untuk menjamin integrasi sosial itu, caranya ialah sebagai berikut :

  1. Sekolah mengajarkan bahasa nasional. Bahasa nasional ini memungkinkan komunikasi antara sukusuku dan golongan yang berbeda-beda dalam masyarakat.Pengajaran bahasa nasional ini merupakan cara yang paling efektif untuk menjamin integrasi sosial.
  2. Sekolah mengajarkan pengalaman-pengalaman yang sama kepada anak melalui keseragaman kurikulum dan buku-buku pelajaran dan buku bacaan di sekolah. Dengan pengalaman yang sama itu akan berkembang sikap dan nilai-nilai yang sama dalam diri anak.
  3. Sekolah mengajarkan kepada anak corak kepribadian nasional (national identity) melalui pelajaran sejarah dan geografi nasional, upacara-upacara bendera, peringatan hari besar nasional, lagu-lagu nasional dan sebagainya. Pengenalan kepribadian nasional itu akan menimbulkan perasaan nasionalisme dan perasaan nasionalisme itu akan membangkitkan patriotisme.

 

Sebagai salah satu upaya pengendalian sosial ada empat cara yang dapat digunakan sekolah yakni:

  1. Transmisi kebudayaan, termasuk norma-norma, nilai-nilai dan informasi melalui pengajaran secara langsung, misalnya tentang falsafah negara, sifat-sifat warga negara yang baik, struktur pemerintahan, sejarah bangsa dan sebagainya.
  2. Mengadakan kumpulan-kumpulan sosial seperti perkumpulan sekolah, Pramuka, kelompok olah raga, dan sebagainya yang dapat memberikan kesempatan kepada anak-anak untuk mempelajari dan mempraktikkan berbagai keterampilan sosial.
  3. Memperkenalkan anak dengan tokoh-tokoh yang dapat dijadikan anak sebagai figur tauladannya. Dalam hal ini guruguru dan pemimpin sekolah memegang peranan yang penting.
  4. Menggunakan tindakan positif dan negatif untuk mengharuskan murid mengikuti tata perilaku yang layak dalam bimbingan sosial. Yang termasuk dalam tindakan positif ialah pujian, hadiah dan sebagainya sedangkan cara yang negative berupa hukuman, celaan dan sebagainya.

Sekolah tak dapat melepaskan diri dari masyarakat tempat ia berada dan dari kontrol pihak yang berkuasa. Sekolah hanya dapat mengikuti perkembangan dan perubahan masyarakat dan tak mungkin mempelopori atau mendahuluinya. Jadi tidak ada harapan sekolah dapat membangun masyarakat baru lepas dari proses perubahan sosial yang berlangsung dalam masyarakat itu.

 

MASYARAKAT MODERN

Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi telah mengakibatkan munculnya perubahan dalam masyarakat. Semakin maju perkembangan dalam masyarakat maka semakin   banyak pula keperluan yang harus dipenuhi. Masyarakat modern dalam lingkungan kebudayan ditandai dengan perkembangan kemajuan ilmu dan teknologi untuk menghadapi keadaan sekitarnya. Menurut R. Tilaar (1979 : 17)  dalam zakir (1010), ada beberapa indicator masyarakat modern dan disimpulkan sebagai berikut :

  1. Saling mempengaruhi antara manusia dan lingkungan dengan tujuan menciptakan perubahan secara timbal balik
  2. Usaha untuk mengeksplorasi lingkungan dalam rangka untuk mengatasi tantangan-tantangan yang ditimbulkan dari lingkungan itu sendiri.
  3. Dorongan rasa ingin tahu dan ingin mengatasi tantangan-tantangan menyebabkan manusia ingin mengusasi lingkungan
  4. Berpikir lebih objektif dan rasional
  5. Selalu berusaha untuk memahami semua gejala yang dihadapi dan bagaimana organisasikannya sehingga kehidupannya lebih baik

Terkait dengan perubahan nilai sosial, kecenderungan yang ada di masyarakat kita saat ini adalah penghargaan berlebih terhadap pendidikan. Hal ini tidak bisa dilepaskan dari adanya stratifikasi sosial dalam masyarakat. Pada zaman dulu, manusia dinilai dari kepemilikan tanah, keturunan atau kekayaan yang dia miliki. Sementara saat ini, manusia ditempatkan dalam kotak-kotak ijazah, dimana dia dilihat sebagai siswa sekolah A atau mahasiswa universitas B, bukan dia sebagai seseorang dengan kualitas personalnya yang utuh. Pendidikan seolah-olah menjadi tangga untuk menuju status sosial yang lebih tinggi.

Perubahan sosial, tidak bisa dilepaskan dari komunikasi sosial. Komunikasi sosial itu sendiri bisa dilihat dalam berbagai konteks. Salah satunya adalah konteks komunikasi kelompok. Dalam konteks inilah, perspektif mengenai pendidikan berkembang. Komunikasi kelompok yang penuh dengan social contact, melahirkan wacana seputar pendidikan yang ujung-ujungnya menggeser arti dari pendidikan itu sendiri. Seperti yang dikatakan oleh Alvin Betrand, awal dari proses perubahan adalah komunikasi, yaitu penyampaian ide, gagasan, nilai, keyakinan, dan sebagainya, dari satu pihak ke pihak lain sehingga dicapai pemahaman bersama. Selain itu, perubahan perspektif masyarakat mengenai pendidikan yang bermutu, menurut David Mc Clelland, dipengaruhi juga oleh adanya need of achievement atau hasrat meraih prestasi yang melanda masyarakat (hamemayu.2008)

Masyarakat  moder menjadi “mabuk” pendidikan. Seorang anak misalnya, baru berumur 3 tahun sudah dimasukkan Play Group. Menginjak 5 tahun masuk Taman Kanak-kanak. Setahun kemudian masuk Sekolah Dasar. Usia puber dimasukkan ke SMP. Tiga tahun berselang, masuk SMA. Lulus dari SMA, langsung ke perguruan tinggi. Tidak cukup sampai disitu, dilanjutkan dengan S2, S3 dan seterusnya. Bagus memang, karena dengan realitas sosial yang seperti itu, berarti perhatian kita terhadap pendidikan memang terbukti semakin meningkat. Tapi yang disayangkan, anak-anak seperti kehilangan masa kecilnya. Ketika mereka harusnya bermain, mereka justru dipaksa untuk mengenal dan menguasai beban yang diluar kapasitas mereka (hamemayu. 2008).

Dalam masyarakat modern segala sesuatu diusahakan atau dikerjakan dengan sungguh-sungguh serta rasional sehingga menyebabkan selalu timbul pertanyaan dalam masyarakat apakah kegunaan sesuatu bagi usaha menguasai lingkungan sekitarnya. Akibat dari kehidupan tersebut, maka akan timbul sikap dalam masyarakat modern, diantaranya :

 

  1. Terlalu percaya dengan peralatan dan teknik yang berjalan secara mekanis sebagai satu hasil pemikiran manusia (Ilmu pengetahuan). Dalam hal ini masyarakat tergolong dalam paham positivisme
  2. Berbuat dan bertindak sesuai dengan rencana yang terperinci sehingga tidak jarang manusia dikendalikan oleh rencana yang disusunnya.
  3. Timbol rasa kehilangan orientasi dan jati diri yang dapat melemahkan kehidupan bathin dan keagamaan.

Tanpa disadari masyarakat modern   semakin tergantung pada alat dan  teknologi  yang diciptakan untuk menguasai dunia sekitarnya. Tidak jarang mereka kehilangan identitas  karena sudah  dikuasai  oleh mekanisme yang  mereka ciptakan sehingga mereka hidup  tanpa jiwa dan tanpa kekuasaan.

 

Dalam masyarakat modern (komplek – penduduk rapat) kompleksitas dan    kerapatan pendudukak yang tinggi membuat mereka   kurang sensitive terhadap emosional mereka apalagi masalah keagamaan mereka. Mereka cenderung ragu-ragu dalam  memilih kepercayaan (Imran Manan : 1989 : 53). Yang paling fundamental dalam masyarakat modern adalah kepercayaan akan kemajuan ilmu pengetahuan. Bagi mereka, masa depan bersifat terbuka. Mereka percaya bahwa kondisi kemanusiaan, fisik, spiritual dapat diperbaiki dengan penggunaan sain dan teknologi. Beberapa akibat dari kehidupan masyarakat modern adalah mereka terasing secara kehidupan social yang  disebabkan oleh  pertumbuhan urbanisme yang mendorong mobilitas dan melemahkan ikatan-ikatan kekeluargaan.

 

MASYARAKAT SEDERHANA (TRADISIONAL)

 

Konsep klasik tentang masyarakat sederhana adalah pandangan Robert Redfield tentang folk society sebagai suatu bentuk ideal yang kira-kira mendekati sebagai bentuk masyarakat non urban (termasuk orang Eskimo dan petani mexico), masyarakat yang demikian adalah kecil, terasing dan tidak atau setengah melek huruf, homogeny dan sangat terintegrasi, bersifat consensus dengan solidaritas kelompok yang tinggi dan pembagian kerja yang sederhana. Banyak dari perlakuannya bersifat kekeluargaan, tradisional dan relative statis.

Bagi filosof zaman pencerahan, masyarakat sederhana merupakan cerminan orang dalam keadaan alamiah sebelum terbentuknya pemerintah  pada institusi-institusi masa kini. Semakin beragam masyarakat yang dipelajari, semakin  ditemui elemen yang sama dari semua masyarakat. Yang mungkin dapat dibuatkan plot untuk mengawasi perjalanan social budaya dimasa depan.

 

Sikap berpikir subjektif yang menyatukan dirinya dalam memahami gejala yang timbul merupakan salah satu ciri masyarakat yang hidup dalam lingkungan yang sederhana. Masyarakat sederhana (tradisional) masih bersikap untuk berpikir secara massif (pola pikir yang tidak objektif dan rasional) untuk menganalisis, menilai dan menghubungkan suatu gejala dengan gejala yang lain.

Sikap berpikir subjektif yang menyatukan dirinya dalam memahami gejala yang timbul merupakan salah satu ciri masyarakat yang hidup dalam lingkungan yang sederhana. Masyarakat sederhana (tradisional) masih bersikap untuk berpikir secara massif (pola pikir yang tidak objektif dan rasional) untuk menganalisis, menilai dan menghubungkan suatu gejala dengan gejala yang lain (Zakir. 2010).

Manusia yang hidup tradisional (sederhana) biasanya masih ditandai dengan sikap berpikir analogis dengan mengadakan generalisasi, penggunaan waktu secara subjektif serta kurang mengenal waktu secara fisik. Masyarakat sederhana menurut Robert Redfield dalam Imran Manan (1983 : 52) mengistilahkannya dengan “Folk Sociaty” yaitu masyarakat yang kecil, homogen, sangat terintegrasi, terasing, solidaritas kelompok yang tinggi, pembagian kerja yang sederhana, sebagian anggota masyarakat memiliki pengetahuan dan perhatian yang sama dan biasa dengan pemikiran, sikap-sikap dan aktivitas dari seluruh anggota masyarakat.

Komuniktas masyarakat sederhana menimbang segala-galanya dengan prinsip-prinsip yang telah baku, mereka cendrung untuk berubah sangat lambat.

 

PENDIDIKAN DALAM MAYARAKAT SEDERHANA DAN MODERN

Menurut  Abid Pendidikan modern yang diselenggarakan memang hanya untuk memenuhi kebutuhan kerja, untuk mencari materi, bukan untuk penyempurnaan hidup. Tidak sebagaimana tujuan pendidikan dalam masyarakat tradisional, yang mempunyai tujuan perfection (penyempurnaan), maka dalam pendidikan tradisional moralitas , kerendahan hati menjadi perhatian utama, terutama yang berlatarbelakang agama.

Sangat berbeda dengan masyarakat modern, anak-anak masyarakat sederhana turut serta secara  aktif   dalam  kehidupan masyarakat. Dari  umur muda  mereka  diharapkan mempunyai tanggung jawab sesuai dengan kekuatan dan  pengalamannya. Masyarakat sederhana mempunyai pengetahuan  yang  kurang  terspesialisasi dan   sedikit    keterampilan yang  diajarkan  membuat mereka tiada keperluan rasanya untuk menciptakan institusi yang terpisah bagi pendidikan sepeti sekolah.   Sebagai  gantinya  anak-anak  memperoleh  warisan  budaya    dengan  mengamati dan meniru  orang  dewasa  dalam  berbagai kegiatan seperti upacara, berburu, pertanian  dan  panen. Dalam  kebudayaan  masyarakat  sederhana  agen pendidikan yang formal termasuk di dalamnya kelauarga   dan   kerabat. Sedangkan  sekolah   muncul    relative    terlambat  dalam   lingkungan masyarakat sederhana. Adapun beberapa kondisi menurut  Manan (1989 : 57) yang mendorong timbulnya lembaga pendidikan (sekolah) dalam masyarakat sederhana adalah :

  1. Perkembangan agama dan kebutuhan untuk mendidik para calon ulama, pendeta, dll.
  2. Pertumbuhan dari dalam (lingkungan masyarakat itu sendiri) atau pengaruh dari luar.
  3. Pembagian kerja dalam masyarakat yang menuntut keterampilan dan dan teknik khusus.
  4. Konflik dalam masyarakat yang mengancam nilai-nilai tradisional dan akhirnya menuntut pendidikan untuk menguatkan penerimaan nilai-nilai warisan budaya.

Untuk mempelajari sesuatu biasanya anak-anak dalam masyarakat sederhana akan pergi kepada  orang  yang  mereka  anggap ahlinya. Mereka  pempelajrinya  tidak  hanya  hal tersebut secara universal disetujui bahwa ada hal-hal tertentu yang harus diketahui untuk perkembangan mereka dan hubungannya dengan kehidupan mereka masa sekarang dan akan dating. Artinya mereka belajar untuk kelangsungan hidupnya.

Dalam mempelajari keterampilan anak-anak masyarakat sederhana selalu memiliki hubungan yang intim dengan visi orang dewasa, sehingga menimbulkan nilai-nilai kekeluargaan yang erat di antara mereka. Begitu juga dengan guru-guru, sangat terikat tidak hanya dengan murd-murudnya, yang mungkin anggota kerabatnya, tetapi juga kepada hasil dari apa yang diajarkannya. Jika ia gagal mengkomunikasikan keterampilannya secara efektif, dia akan dapat merasakan langsung akibatnya dengan segera.

Dalam suatu masyarakat sederhana tidak mempunyai orang yang khusus berfungsi mengajar. Anggota-anggota masyarakat yang lebih tua mengajar kelaurga yang muda, walupun untuk tujuan-tujuan tertentu, seperti untuk menjadi guru mengaji, sebagai penceramah, dll. Sebagai hasilnya mereka yang mengajar turut serta secara penuh dalam kehidupan masyarakat di sekitarnya, karena guru-guru dalam masyarakat langsung mempraktekkan apa yang mereka ajarkan, seperti seorang guru mengaji langsung mempraktekkan apa yang mereka ajarkan, seorang ahli bertani langsung mempraktekkan apa yang akan mereka wariskan (ajarkan)

kepada pewarisnya, dll.

Dalam masyarakat sederhana pembelajaran menjadi lebih mudah sebab objek pembelajaran selalu dapat diperoleh. Walaupun begitu di sejumlah masyarakat sederhana ada juga sejumlah pengetahuan khusus yang mesti diajarkan dengan jelas, karena pengetahuan ini dipercayai menjamin kelangsungan dan kesuburan masyarakat. Sedangkan dalam masyarakat modern pendidikan memisahkan anak dari orang tuanya untuk memperoleh ketampilan (ilmu pengetahuan dan teknologi) serta akan membutuhkan waktu yang lebih panjang dari pada masyarakat sederhana. Dengan didirikannya lemabaga-lembaga formal (sekolah) membuat mereka lebih banyak terpisah dengan lingkungan masyarakat nmereka sedniri. Hal ini mengakibatkan anak-anak dalam masyarakat meodern akan terasing dengan lingkungan masyarakatnya yang pada akhirnya akan mengurangi kepedulian diantara mereka.

Dalam masyarakat modern pengetahuan yang akan diajarkan akan membutuhkan seorang tenaga pengajar yang professional. Hal ini berimplikasi dengan cara pandang mereka bawah mereka akan dapat memetik keuntungan ataupun kerugian dari spesialisasi, pengetahuan dan keahlian yang telah mereka kuasai.

Dengan adanya tenaga-tenega professional, lembaga formal, serta sarana-dan parsaran yang memadai akan melahirkan masyarakat modern yang juga akan memiliki kaulifikasi atau kompetensi sesuai dengan apa yang telah digariskan dalam perencanaan pembelajaran. Akan tetapi kebanyakan tenaga pengejar (guru) dalam masyarakat modern cenderung mangajarkan sesuatu kepada muridnya jauh dengan realita yang ada. Sebagai contoh seorang guru bidang ekonomi yang mengajarkan cara menjadi manager keuangan, tidak akan terlibat langsung menjadi manager keuangan. Hal ini berimplikasi kepada jauhnya sesuatu apa yang mereka pelajari dari diri dan lingkungan mereka sendiri.

Anak-anak dalam masyarakat modern cenderung berada dibawah tekanan yang besar dari orang tua dan guru-gurunya untuk menguasai pelajaran yang ditentukan dan dalam waktu yang telah ditentukan. Gejala ini akan berpotensi menimbulkan gejala kelainan mental jika hasil yang akan dicapai terlalau berat dibandingkan dengan kemampuan anak.

KESIMPULAN

 

Satu perbedaan yang sangat mendasar antara pendidikan dalam masyarakat sederhana dengan masyarakat modern adalah pergeseran dari kebutuhan individu untuk mempelajari sesuatu yang disetujui oleh setiap orang untuk kelangsungan hidupnya baik masa sekarang maupun masa akan datang.

Semakin besar pengetahuan dan kompleks keterampilan yang akan dipelajari maka semakin lama waktu diperlukan untuk kelangsungan kehidupan bermasyarakat.

Tugas pendidikan dalam masyarakat adalah membangkitkan rasa ingin tahu intelektual, yaitu perhatian terhadap pengetahuan yang terpisah dari aplikasi praktisnya. Hal ini sangatlah tidah mudah, karena diperlukan sikap, disiplin dan intelektual yang tidak bersifat pragmatis, instant dan serba cepat.

Dengan adanya perbandingan pendidikan dalam masyarakat ini dieperolah perbandingan yang lebih seimbang kritis mengenai sisstem pendidikan kita. Jelas, bahwa dalam pendidikan tidak bias memindahkan praktek-praktek yang komplek kedalam kebudayaan yang lebih komplek dan besar dan mengharapkan akan hasil. Sebaliknya sukses masyarakat sederhana dalam mengurus aspek-aspek tertentu dalam mendorong pendidikannya, akan mendorong kita untuk mengatasi masalah-masalah pendidikan kita seperti masalah mengintegrasikan anak-anak kedalam komunitas kedalam lingkungannya dan membangkitkan minat, motivasi serta perhatian siswa selama masa pendidikan merupakan permasalahan-permasalahan yang perlu dicarai solusinya dengan prespektif dan optimisme yang lebih besar.

 

 

 

 

 

DAFTAR KEPUSTAKAAN

 

Abid pada 19 May 2009 dalam http://jauhdimata.com/moralitas-dalam-pendidikan-modern.  diabded 1 oktober 2011

Hamemayu (2008). Masyarakat Modern Memakai Pendidikan dalam http://akuhayu.wordpress.com/2008/11/20/masyarakat-modern-memaknai-pendidikan/ diabded  9-12-2011

heru setyawan 04.04 dalam http://zonainfosemua.blogspot.com/2011/02/pendidikan-modern-atau-pendidikan.html. diabded 1 oktober 2011

Joni. Raka  (1989). Anthropologi Pendidikan  suatu pengantar. Departemen P & K, PP-LPTK, Jakarta.

 

Manan, Imran (1989), Anthropologi Pendidikan (Suatu pengantar), Departemen P & K, PP-LPTK, Jakarta.

 

Zakir Supratman (2010). Pendidikan dalam Masyarakat Modern dan Sederhana. STAIN Bukittinggi

Views All Time
Views All Time
13
Views Today
Views Today
1
BAGIKAN
Tulisan sebelumnyaGuru Mati Harus Tinggalkan Karya
Tulisan berikutnyaDua sisi
Foto Profil dari hasyuni harti
1994 S1 Pendidikan Biologi IKIP Padang, 2017 S2 Pendidikan Biologi UNP Padang, TH 2000-2007 guru SMPN 3 Sangir Solok Selatan, tahun 2007-sekarang guru SMPN 12 Padang.

3 KOMENTAR

  1. Pendidikan era modern seakan hanya mencetak calon pegawai dan karyawan dengan mindset sang pelaku terdidik yg menempuh proses pendidikan dgn tujuan memperoleh pekerjaan/ menyambung ke tingkatan di univerasitas impian. Namun pada akhirnya, setiap output pendidikan akan kembali ke masyarakat, dan fakta menunjukan nilai2 diri dan karakter lah yg kembali menentukan, diterima atau tidaknya seorang yg telah menempuh pendidikan sekian lamanya di masyarakat. Seperti yg kita lihat bnyak perusahaan2 besar atau lembaga2 besar yg justru tetap mencek dengan teliti sejujur apa, seoptimis apa, seberapa bertanggung jawab sang calon pekerja, seberpa pandai pengontrolan emosinya, seberapa ia mampu berkolaborasi dan bekerjasama, dan sikap2 maupun talenta apa yg melekat pada nya, selain deretan angka di ijazah.
    Jadi saya pikir semua adalah bagaimana cara kita untuk menemukan 2 sisi ini. Pend modern dan sederhana untuk bersinergi melahirkan generasi ug tdk hanya cakap intelektualnya ttp juga berintegritas dan cakap moralnya

LEAVE A REPLY