Konstruksi pemikiran Presiden Jokowi terhadap apa yang dicuatkannya ke dalam sebuah subjek peraturan yang legitim tentunya ia bangun atas dasar kesadaran yang bermakna dan interpretasi dari berbagai persoalan yang menyoroti problema pendidikan di Indonesia. Dalam hal ini, penekanan pada sub “Pendidikan Karakter” tentunya sudah ada pertanyaan-pertanyaan yang membingkai pada kacamata pendidikan kita. Kontemplasi pendidikan Indonesia semakin tergerus peradaban, kita bersikap dalam kondisi kultur sosial dan menyambung kemajemukan pada sebuah keniscayaan bangsa adalah tentang bagaimana kita mengolah pikiran, perasaan dan sikap pada kebermaknaan peradaban luhur bangsa kita.

Bila menengok kembali semangat reformasi di penghujung tahun 1997, membawa  angin baru bagi berbagai instansi atau lembaga untuk berbenah diri sesuai dengan kondisi masing-masing.  Salah satu hal yang memprihatinkan adalah reformasi bidang pendidikan belum mendapat perhatian yang serius. Sejak bangsa Indonesia merdeka, hingga usianya 72 tahun, dunia pendidikan tampaknya belum menjadi prioritas program pemberdayaan masyarakat dalam mewujudkan cita-cita kemerdekaan.

Kondisi tersebut, bukan hanya disebabkan oleh pemimpin bangsa, melainkan justru pendidikan menjadi semakin terpuruk karena dibiarkan menjadi komoditas politik, bisnis, dan terjebak masuk dalam korporasi pendidikan, menjadi objek eksploitasi bagi kepentingan industri asing maupun domestik. Usaha mencerdaskan bangsa akhirnya sekadar slogan politik dan cita-cita utopis yang tetap menjadi mimpi bagi sekelompok besar rakyat Indonesia.

Views All Time
Views All Time
399
Views Today
Views Today
1

LEAVE A REPLY