PENDIDIKAN KEJURUAN DALAM PROSES PENGEMBANGAN KURIKULUM SMK DAN PERAN DUNIA USAHA DAN DUNIA INDUSTRI (DUDI) DALAM PENDIDIKAN (TULISAN PERTAMA BAGIAN II)

1
446

 

PENDIDIKAN KEJURUAN DALAM PROSES PENGEMBANGAN KURIKULUM SMK DAN PERAN DUNIA USAHA DAN DUNIA INDUSTRI (DUDI) DALAM PENDIDIKAN

OLEH. JEVERY PAAT, S.Pd

TULISAN PERTAMA BAGIAN II

Dalam tulisan saya sebelumnya (bagian I), telah kita simak dan ketahui bersama tentang situasi pendidikan SMK pada era 1990-an hingga memasuki tahun 2000, dengan berbagai kontribusi yang berdampak menggambarkan kemajuan drastic pada masa itu, dari sisi minat dan hasil yang tergambarkan pada keadaan dunia insdustri yang banyak merekrut tenaga kerja handal dengan berbagai kompetensi/skil yang dihasilkan oleh produk-produk SMK, sebagai alumni Sekolah Menengah Kejuruan kita patut bangga dan bersyukur bisa menjadi bagian dari SMK, jadi kita teruskan tongkat estafet masa depan bangsa pada anak, cucu kita agar dapat menapakkan kaki mereka mengikuti jejak kita pendahulu-pendahulu yang suskes dan berhasil sebagai produk SMK yang berkualitas dan berguna bagi bangsa dan Negara, setidaknya kita dapat bekerja meskipun tidak sesuai dengan bidang kita tapi kita juga yang mempelopori jiwa bekerja untuk menopang kehidupan kita kini, SMK BISA!!!

Melanjutkan tulisan ini kita akan menyimak tulisan pada bagian II, pendidikan kejuruan dalam proses pengembangan kurikulum SMK dan peran dunia usaha dan dunia industri (dudi) dalam pendidikan; terkait penjelasanan sebelumnya maka penyelarasan pendidikan dengan kebutuhan dunia usaha dan dunia industri, argumen untuk  yang mengomentari adalah  Sekolah tidak dapat lagi kita pikirkan sebagai suatu lembaga sosial yang berdiri sendiri, terlepas dari lembaga-lembaga sosial lain. Sekolah harus kita pandang sebagai suatu bagian yang tidak dapat dipisahkan dari masyarakat yang ada di sekitarnya, baik masyarakat lokal, maupun masyarakat daerah atau masyarakat nasional. Untuk melihat hubungan antara dunia pendidikan dan DUDI (dunia usaha dan dunia industri), penulis melakukan pendekatan melalui studi kasus dari beberapa negara tetangga yang menjadi tolak ukur dalam menyelarasan pendidikan dan DUDI yang dilihat dari beberapa aspek yaitu sebagi berikut :

Peran Sosial Ekonomi

Pendidikan dan DUDI merupakan sisi mata uang yang jelas keduanya tidak dapat dipisahkan. Gambaran peran DUDI di Malaysia dalam konteks penyediaan Kolej Kediaman atau asrama di UUM di Malaysia merupakan hubungan sinergis yang sangat menunjang peningkatan mutu pendidikan. Pendidikan menghasilkan lulusan yang akan digunakan oleh DUDI. Artinya, kualitas hasil pendidikan akan mempengaruhi kualitas DUDI. Dengan ini sudah barang tentu DUDI tidak pantas hanya menengadahkan tangannya ke atas, menunggu turunnya kualitas lulusan yang bermutu untuk menjadi SDM-nya. Minimal 5% dari dana keuntungan DUDI sepantasnya untuk dapat dialokasikan untuk pendidikan.

Di beberapa perusahaan korporasi di Jepang, misalnya yang tergabung dalam KEIDANREN atau semacam KADIN di Indonesia telah mengalokasikan dana khusus untuk pembangunan masyarakat, khususnya pendidikan. KEIDANREN Jepang mempunyai program untuk mengirimkan para guru dari Indonesia untuk memperoleh pelajaran dari Jepang bahwa Jepang pada saat ini adalah bukan lagi sebagai Jepang seperti pada masa-masa Perang Dunia II. Biaya perjalanan sampai dengan akomodasi sampai dengan uang saku para guru semuanya ditanggung oleh KEIDANREN. Tergabung dalam KEIDANREN ini adalah perusahaan raksasa multinasional milik Jepang, seperti Marobeni, Mitsubishi Heavy Industry, dan masih banyak yang lain.

Contoh lainnya di Indonesia, perusahaan Berau Cool, perusahaan batubara di Kalimantan Timur memiliki satu devisi yang amat terkenal dengan nama Community Development (COMDEV) yang tugasnya melakukan pembangunan masyarakat, termasuk di dalamnya mengadakan diklat bagi guru-guru sekolah dasar sampai dengan sekolah menengah, kerja sama dengan Lembaga Inservice Training yang ada.

Peran Sosial Budaya

Dibandingkan dengan institusi birokrasi yang ada, lembaga bisnis yang amat kita kenal sebagai DUDI adalah memiliki karakteristik sebagai institusi yang sangat berorientasi kepada aspek kualitas, dan aspek keuntungan. Fasilitas modern DUDI dapat menghasilkan keuntungan yang berlipat ganda. Budaya kerja DUDI juga demikian. Keuntungan DUDI yang telah go internastional lebih-lebih lagi, seperti PT Sampoerna, PT. Indofood, dan masih ada sederet perusahaan lain yang bertaraf internasional. Pada umumnya mereka telah memiliki standar mutu internasional dengan ISO-nya.  Maka untuk meningkatkan SDM semua elemen yang  terkait dengan DUDI harus bersinergi adapun, ketiga elemen tripusat pendidikan ( bagan paradigma hubungan keluarga, sekolah, dan masyarakat DUDI) harus dalam sinergi untuk meningkatkan mutu layanan pendidikan, dan dengan layanan pendidikan yang bermutu, akan dihasilkan lulusan yang bermutu, dan dengan lulusan yang bermutu itulah yang kemudian akan direkrut oleh DUDI untuk menjadi SDM yang bermutu yang akan mengabdikan diri untuk DUDI.

Sudah saatnya kita bersatu, bekerjasama, saling membantu dan saling memperkuat sektor yang sudah baik untuk kemajuan bangsa.

Pembangunan merupakan proses terus menerus untuk mencapai kesempurnaan, Pembangunan di Indonesia mencakup berbagai sektor salah satu diantaranya adalah sektor pendidikan. Peranan sektor pendidikan dalam mempersiapkan sumber daya tersebut diatas tidak dapat diabaikan. Program pendidikan harus berorientasi pada kebutuhan pasar kerja. Demikian pula produk yang dihasilkan oleh dunia usaha merupakan konsumsi masyarakat luas. Dengan demikian proses pelatihan akan memberi arti pada pencapaian tujuan pendidikan nasional.

Dengan kebijaksanaan Dinas Pendidikan nasional tentang pendekatan Pendidikan dengan Sistem Ganda sebagai pola utama penyelenggaraan Kurikulum Sekolah Menengah Kejuruan (SMK), merupakan salah satu upaya untuk meningkatkan kualitas tamatan agar lebih sesuai dengan tuntutan kebutuhan. Pembangunan Nasional pada umumnya, dan kebutuhan ketenaga kerjaan pada khususnya, sebagai bagian tak terpisahkan dari kebijaksanaan Link and Macth yang berlaku bagi semua jenis jenjang pendidikan di Indonesia. Munculnya gagasan Link and Macth (keterkaitan dan kesepadanan) ternyata telah membuka peluang bagi pihak pelaksana pendidikan khususnya Pendidikan Menengah Kejuruan untuk memungkinkan bekerja sama dengan Dunia Usaha dalam membina dan mengembangkan potensi di lapangan.

Link and Macth juga memberi kesempatan bagi peserta didik Sekolah Menengah Kejuruan untuk mengembangkan kreatifitas belajar pada wahana pendidikan yang lebih realistis. Pihak Sekolah Menengah Kejuruan harus dapat memanfaatkan Dunia Usaha ini sebagai wahana pelatihan yang paling efektif bagi pembentukan ketrampilan dan sikap profesional para lulusan.

Dengan adanya kesepakatan kerjasama antara pihak sekolah dengan Dunia Usaha maka Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) para peserta didik di Sekolah Menengah Kejuruan akan memperoleh pengalaman yang sangat berharga sebagai persiapan memasuki bursa kerja. Proses kegiatan Belajar Mengajar seperti ini disebut Pendidikan Sistem Ganda.

Pada prinsipnya Pendidikan Sistem Ganda adalah kerja sama dengan Dunia Usaha/ Dunia Industri yaitu saling membantu, saling mengisi dan saling melengkapi untuk meraih keuntungan bersama. Selagi Pendidikan Sistem Ganda tidak menjadi beban Dunia Usaha/ Dunia Industri, kerja sama tersebut dapat ditumbuh kembangkan sekaligus sebagai wujud atau peran serta Dunia Usaha/ Dunia Industri dalam pembangunan nasional pada umumnya dan pelaksanaan Pendidikan Sistem Ganda khususnya.

Dalam pelaksanaan Pendidikan Sistem Ganda guru merupakan kunci keberhasilan pendidikan formal sebab secara dinamis tuntutan mutu lulusan Sekolah Menengah Kejuruan dipengaruhi oleh kualitas gurunya. Perkembangan teknologi di Dunia Usaha dan Dunia Industri sangat pesat maka dirasakan lulusan Sekolah Menengah Kejuruan masih perlu secara dinamis ditingkatkan kemampuannya agar memenuhi kesempatan kerja.

Disadari bahwa penyiapan Sumber Daya Manusia yang tangguh sebagai modal pembangunan yang produktif adalah menjadi tanggung jawab bersama pemerintah, masyarakat dan keluarga. Maka dukungan semua pihak untuk menyelenggarakan pendidikan di Sekolah Menengah Kejuruan yang dapat menghasilkan lulusan yang berkualitas sesuai dengan misinya yang diperlukan. Kreatifitas guru dalam mempersiapkan bahan ajar sangat menentukan kebutuhan pengetahuan sebagai kesiapan diri pada peserta didiknya untuk memasuki lapangan kerja dan kehidupan masyarakat dikemudian hari.

Selanjutnya pelaksanaan pendidikan di Dunia Usaha/ Dunia Industri disebut Praktik Kerja Industri yang disingkat PRAKERIN, sedangkan pelaksanaan pendidikan di sekolah adalah Proses Belajar Mengajar yang disingkat dengan PBM dengan jam-jam pelajaran yang telah ditentukan.

Kurikulum sangat penting ketika peserta didik berkesempatan dalam menuntut ilmu di Sekolah Menengah Kejuruan, dimana menata kemampuan mereka (siswa) dari sisi Kognitif, Afektif dan Psikomotor; membentuk Pengetahuan, Sikap dan Keterampilan mereka saat kurang lebih 3 (tiga) tahun belajar di Sekolah Menengah Kejuruan, dan hal ini akan menjadi bekal mereka saat akan menatap dunia kerja yang merupakan tantangan bagi alumni SMK, terlebih dalam menghadapi MEA (Masyarakat Ekonomi Asean)……

Bersambung…..

 

 

 

Views All Time
Views All Time
645
Views Today
Views Today
1

1 COMMENT

LEAVE A REPLY