Pendidikan alternatif bagi kaum termarjinalkan  yang sudah digalakan oleh publik melalui LSM merupakan upaya menerjemahkan konsep pendidikan untuk semua, bagi seluruh rakyat Indonesia, tanpa membedakan satu golongan dengan golongan masyarakat lain. Konsep pendidikan ini adalah proses demokratisasi yang mengandaikan adanya hak yang sama bagi setiap anggota masyarakat untuk memperoleh pendidikan. Karena, dalam dimensi sosial kultural, demokrasi dalam dunia pendidikan mengandaikan suatu kesempatan yang sama bagi semua komponen masyarakat, termasuk menyangkut hak untuk mendapatkan pendidikan yang layak. Dalam hal ini, masyarakat diberikan peluang yang seluas-luasnya agar dapat berpartisipasi dalam perolehan pendidikan, baik mereka yang pintar, mau pun bagi mereka yang perkembangan intelektualnya terbelakang. Hak itu melekat dengan sendirinya pada setiap warga negara, tanpa membedakan status sosialnya.

Prioritas pendidikan harus menempatkan manusia tanpa membeda-bedakan tingkat kecerdasan, apalagi suku, agama, atau warna kulit tertentu.  Artinya, pendidikan akan berjalan dengan baik, jika menempatkan dan memfungsikan manusia sebagai jiwa dan kesadaran eksistensialnya. Setiap tindakan yang meremehkan seseorang hanya karena ia termasuk dalam kaum termarjinalkan akan berarti menanamkan investasi kebangkrutan kemanusiaan dan mengancam keruntuhan budaya di masa yang akan datang.

Pendidikan harus dibangun dan diletakan di atas basis kesadaran kemanusiaan universal.  Tidak ada hak bagi pihak tertentu, atas nama apa pun termasuk atas nama negara, untuk mensubordinasi kaum yang termarjinalkan, kecuali hak memberikan fasilitas agar mereka tumbuh dan berkembang sebagai dirinya sendiri.

Saat ini adalah momentum yang paling strategis untuk membangun kembali basis kemanusiaan universal bagi pengembangan pendidikan nasional. Pendidikan perlu dikembangkan bukan hanya sekedar menyediakan tenaga kerja, tetapi juga harus secara integral mengembangkan (1) kecerdasan intelektual, (2) pencerahan kesadaran akan makna kehidupan, dan (3) pengembangan kemampuan professional. Keutuhan kecerdasan yang tercerahkan dan professional akan membuat seseorang tidak pernah putus asa dan selalu menemukan jalan alternatif setiap menghadapi kesulitan yang menghampiri dirinya.

Keniscayaan terhadap keberpihakan pada kaum yang termarjinalkan adalah sarana untuk memberikan pencerahan kepada setiap warga negara untuk memperoleh pendidikan, tanpa membeda-bedakan status apa pun. Bukankah hakekat lembaga pendidikan adalah sebagai pusat pembudayaan dengan tujuan akhir membebaskan manusia dari belenggu-belenggu yang mereka hadapi? Masyarakat paripurna itu tiada lain adalah masyarakat yang terbebas dari kebodohan dan kemiskinan. Dua masalah krusial itulah yang harus diberantas dengan membuka kesempatan yang sama bagi setiap warga negara untuk memperoleh pendidikan. Semoga!

Views All Time
Views All Time
10
Views Today
Views Today
1

LEAVE A REPLY