PENGARUH PERANGKAT PEMBELAJARAN TERPADU BERBASIS QUANTUM LEARNING TERHADAP HASIL BELAJAR ILMU PENGETAHUAN ALAM SISWA KELAS VI SEKOLAH DASAR SWASTA ISLAM TERPADU MUTIARA DURI RIAU

1
180

ABSTRAK

Mona Ekawati, Pengaruh Perangkat Pembelajaran TERPADU  berbasis Quantum Learning  Terhadap Hasil Belajar Ilmu Pengetahuan Alam Siswa Kelas VI Sekolah Dasar Swasta Islam Terpadu Mutiara Duri Tahun Pelajaran 2016/2017.

Penelitian ini secara umum bertujuan untuk mengetahui pengaruh perangkat pembelajaran TERPADU terhadap hasil belajar Ilmu Pengetahuan Alam siswa kelas VI Sekolah Dasar Swasta Islam Terpadu Mutiara Duri, mengetahui pengaruh Quantum Learning terhadap hasil belajar Ilmu Pengetahuan Alam siswa kelas VI Sekolah Dasar Swasta Islam Terpadu Mutiara Duri serta mengetahui pengaruh perangkat pembelajaran TERPADU berbasis Quantum Learning terhadap hasil belajar Ilmu Pengetahuan Alam siswa kelas VI Sekolah Dasar Swasta Islam Terpadu Mutiara Duri. Penelitian ini merupakan Penelitian Tindakan Kelas dengan data kuantitatif, penelitian dilakukan dengan 2 siklus yaitu siklus 1 dan 2. Sampel penelitian ini adalah siswa kelas VI C Sekolah Dasar Swasta Islam Terpadu Mutiara Duri yang ditentukan dengan teknik sensus total. Data dianalisis dengan melihat daya serap dan aktivitas siswa. Hasil penelitian daya serap siswa didapatkan 73.33 % siswa tuntas di siklus 1 dan pada siklus 2 daya serap siswa meningkat menjadi 93.33 %. Hasil peneltian terhadap aktivitas siswa pada siklus 1 adalah 75.69% dan pada siklus 2 aktivitas siswa adalah 88,32 %. Dengan adanya peningkatan daya serap dan aktivitas siswa maka penggunaan perangkat pembelajaran TERPADU berbasis Quantum Learning dapat meningkatkan hasil belajar siswa kelas VI SDS IT Mutiara tahun pelajaran 2016/2017.

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

 Pendidikan merupakan fenomena yang fundamental merupakan investasi sumber daya manusia jangka panjang yang mempunyai nilai strategis bagi kelangsungan hidup manusia. Dalam usaha mencerdaskan kehidupan bangsa pendidikan memegang peranan penting dalam mempersiapkan sumber daya yang berkualitas. Oleh sebab itu pemerintah menempatkan pendidikan sebagai sesuatu yang penting dalam pembangunan dan berupaya untuk meningkatkan kualitas pendidikan warga negaranya.

Untuk mengemban fungsi tersebut, pemerintah menyelenggarakan suatu Sistem Pendidikan Nasional sebagaimana tercantum dalam Undang– undang Nomor 20 Tahun 2003. Meningkatkan mutu pendidikan telah dilaksanakan mulai dari pelatihan peningkatan kualitas guru, penyempurnaan kurikulum, serta penyediaan sarana dan prasarana yang dapat menunjang mutu pendidikan, hal ini bertujuan agar proses pembelajaran di sekolah dapat berjalan lancar secara optimal (Kunandar,2007,hal.33).

Sekolah Islam Terpadu pada hakekatnya adalah sekolah yang engimplementasikan konsep pendidikan Islam berlandaskan AlQur’an dan As Sunnah. Konsep operasional Sekolah Islam Terpadu merupakan akumulasi dari proses Ajaran agama Islam sangat luas dan komprehensif serta saling terkait satu dengan yang lain. Perspektif Islam tentang pendidikan tidak dapat dilepaskan dari hakikat dan tujuan penciptaan manusia Islam terutama guru (Muhab dkk,2010, hal.36).

Guru dalam proses pembelajaran memegang peran yang sangat penting dalam kegiatan belajar mengajar. Guru merancang pembelajaran dengan memperhatikan metode apa yang akan diterapkan, materi apa yang akan diberikan dan bagaimana menentukan hasil belajar siswa. Dalam melaksanakan perannya guru sering menggunakan metode ceramah sebagai metode utama karena metode ini sering dianggap ampuh dalam proses pembelajaran. Karena pentingnya metode ini biasanya guru sudah merasa mengajar apabila sudah melakukan ceramah. Sedangkan peranan guru sebagai evaluator untuk menentukan hasil belajar biasanya hanya dilihat dari sejauh mana siswa dapat menguasai materi yang telah disampaikan oleh guru.

Pembelajaran dewasa ini berorientasi pada kompetensi siswa (student centered) sehingga pilar pendidikan seperti learning to know, learning to do, learning to live together, learning to be dan learning to life skill berinteraksi secara korelasi terhadap keragaman kompetensi siswa (Dahlan,2012:2). lmu Pengetahuan Alam menyediakan berbagai pengalaman belajar untuk memahami konsep Alqur’an dan proses Sains. Keterampilan proses ini meliputi keterampilan mengamati, mengajukan hipotesis, menggunakan alat dan bahan secara baik dan benar. Mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam dikembangkan melalui kemampuan berpikir analitis, induktif, dan deduktif untuk menyelesaikan masalah yang berkaitan dengan peristiwa alam sekitar (Depdiknas,2006).

Keberhasilan pembelajaran sangat ditentukan oleh perancangan perangkat pembelajaran. Perangkat pembelajaran berfungsi untuk memandu jalannya proses pembelajaran. Perangkat pembelajaran yang digunakan berdasarkan standar proses. Perangkat pembelajaran yang telah dikembangkan oleh Jaringan Sekolah Islam Terpadu terdiri atas silabus, Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) TERPADU yang mencakup Telaah Alqur’an, Eksplorasi materi pelajaran sesuai dengan Kompetensi Dasar, Rumuskan, Presentasikan, Aplikasi, Duniawi dan Ukhrowi ,bahan ajar, dan lembar penilaian (Muhab, dkk, 2013,hal 30).

Langkah-langkah penyajian silabus secara lengkap dan sistematis dikemas dalam bentuk RPP. Kegiatan pembelajaran dalam RPP Terpadu disusun dengan mengutamakan proses pembelajaran secara aktif, inovatif, kreatif, efektif dan menyenangkan, memotivasi peserta didik untuk berpartisipasi aktif serta memberikan ruang yang cukup bagi prakarsa, kreativitas, dan kemandirian sesuai bakat dan minat peserta didik (Kemendiknas,2013,hal.1).

Perkembangbiakan Tumbuhan merupakan salah satu materi yang membuat konsep, fakta, prinsip, dan prosedur yang berkaitan dengan alam semesta. Oleh karena itu siswa dituntut untuk mampu menguasai materi pembelajaran secara holistic dan mengembangkan kemampuan mengingat jangka panjang (long term memory). Pengaruh  RPP TERPADU dengan menggunakan strategi yang tepat akan mampu mengakomodir suasana pembelajaran yang diharapkan dan salah satunya berbasis Quantum Learning.

Kecendrungan pembelajaran Ilmu Pengetahuan Alam yang terjadi sekarang, siswa hanya menerima informasi dari guru. Siswa belajar dalam lingkungan yang minim motivasi, penciptaan lingkungan belajar yang kondusif kurang menjadi perhatian. Siswa sering dilatih untuk memanfaatkan belahan otak kiri saja. Peranan guru lebih ditekankan untuk melakukan transfer ilmu kepada siswa untuk menyelesaikan materi pelajaran sehingga kreativitas dan potensi peserta didik tidak dapat sepenuhnya tercapai. Akibatnya pencapaian hasil belajar belum optimal.

Kenyataan yang dijumpai di lapangan berdasarkan observasi terhadap siswa pada Januari 2015 di SDS IT Mutiara Duri, ditemukan fakta bahwa pembelajaran Ilmu Pengetahuan Alam belum berjalan sesuai harapan, antara lain (1) partisipasi siswa masih rendah, (2) siswa cepat merasa bosan karena tidak terlibat secara langsung dalam pembelajaran dan materi yang dipelajari belum dikaitkan dengan manfaat dalam kehidupan siswa, (3) penyajian lembar kerja belum sesuai model pembelajaran, (4) siswa belum memiliki sumber yang memadai untuk dijadikan panduan dalam memahami pelajaran, dan (5) siswa tidak terbiasa berpikir dan mengembangkan kreativitas sesuai kemampuannya (Saud,2009,hal.7). Berbagai upaya dilakukan agar siswa dapat berhasil dalam belajar, kita perlu memahami bilamana siswa dikatakan berhasil dan bilamana dikatakan belum berhasil.

Sehubungan dengan hal di atas, fakta yang ditemukan pada pemeriksaan perangkat pembelajaran guru menggambarkan bahwa proses perencanaan pembelajaran belum sepenuhnya berjalan sesuai dengan ketentuan yang digariskan dalam standar proses Jaringan Sekolah Islam Terpadu yaitu :(1) silabus disusun sebagai proyeksi pembelajaran masih didominasi dengan kegiatan pembelajaran teacher centered dan belum melibatkan siswa secara aktif, (2) RPP TERPADU belum menggunakan strategi pembelajaran pembelajaran yang kooperatif, optimalisasi cerebral hemisfer, dengan kegiatan pembelajaran memotivasi peserta didik dalam situasi yang menyenangkan,(3) sumber belajar belum memadai dari segi jumlah (67 dan 82 %) dan kualitasnya. Materi ajar yang diberikan kepada siswa belum disajikan dengan cara yang mudah untuk diingat dengan melibatkan kreativitas siswa dan belum ditemukan kekhasan dan karakteristik pembelajaran sekolah islam Terpadu. Urutan materi ajar belum seluruhnya mengikuti indikator pembelajaran dan masih mengacu pada buku teks, (4) guru belum mengaitkan pembelajaran mengarah kepada telaah alquran sehingga siswa belum merumuskan bahwa semua yang mereka peroleh dari pembelajaran menyebabkan mereka lebih mengagungkan keesaan Allah.

Permasalahan di atas akan memiliki dampak terhadap aktivitas belajar siswa. Respon siswa terhadap pertanyaan yang diberikan guru sangat kurang. Perhatian belajar berkurang dan kreativitas siswa belum mendapat tempat yang cukup. Berbagai macam tipe atau gaya belajar belum terakomodir sehingga terkadang siswa dianggap suka membuat keributan dan tidak acuh dalam pembelajaran.

Pemanfaatan potensi kedua belahan otak dalam pembelajaran belum sepenuhnya dikembangkan. Pembelajaran selama ini cenderung menggunakan belahan otak kiri seperti membaca, menggunakan angka, urutan, linearitas, dan analitis. Pembelajaran yang diwarnai dengan kegiatan yang melibatkan sImbol, imajinasi, warna, dan musik masih kurang. Pembelajaran ini akan menyulitkan bagi siswa yang memiliki preferensi hemisfer kanan, bahkan termasuk bagi siswa yang memiliki preferensi hemisfer kiri. Perlu dikembangkan pembelajaran yang mampu untuk memadukan potensi otak untuk memudahkan menyerap informasi yang diterima dan mengingat informasi dalam waktu yang panjang (long term memory) (Dahlan,2012,hal.13). Berdasarkan data hasil belajar pada standar kompetensi dasar perkembangbiakan tumbuhan selama 2 tahun belakang ini yaitu tahun 2014 dan 2015 banyak hasil belajar siswa yang tidak tuntas. Hasil belajar siswa tersebut dapat dilihat pada gambar berikut ini :

Gambar 1. Data hasil belajar siswa tahun ajaran 2015/ 2016 (Arsip Penilaian SDS IT Mutiara, 2015)

Dari data diatas, diperoleh hasil 11 siswa yang tidak tuntas  jika standar KKM 8,5 dan sebanyak 18 siswa tidak tuntas jika standar KKM 7,5. Hal ini disebabkan materi IPA pada materi perkembangbiakan tumbuhan sangat sulit bagi siswa karena begitu banyaknya aspek-aspek yang harus dipahami siswa sehingga siswa tidak termotivasi untuk memahami apalagi pembelajarannya tidak menarik. Maka penulis berusaha merancang pembelajaran berbasis Quantum Learning. Istilah “Quantum” dipinjam dari dunia ilmu fisika yang berarti interaksi yang menggubah energi menjadi cahaya. Maksudnya dalam pembelajaran kuantum, penggubahan bermacam– macam interaksi yang terjadi dalam kegiatan belajar. Interaksi-interaksi ini mengubah kemampuan dan bakat alamiah guru dan siswa menjadi cahaya yang bermanfaat bagi kemampuan mereka dalam belajar yang efektif dan efisien. Selain itu, adanya proses penggubahan belajar yang meriah dengan segala nuansanya, penyertaaan segala yang berkaitan, interakasi dan perbedaan yang memaksimalkan keadaan belajar, fokus dalam hubungan aktivitas  dalam lingkungan kelas, seluruhnya adalah hal-hal yang melandasi pembelajaran kuantum (Sagala, 2010:127). Data ketuntasan hasil belajar siswa tahun ajaran 2015 / 2016 dapat dilihat dari gambar 2 berikut :

 

A                                                               B

Gambar 2. A. Ketuntasan hasil belajar dengan KKM 7,5  B. Ketuntasan hasil belajar dengan KKM 8,5 (Arsip Penilaian SDS IT Mutiara, 2015)

Perangkat Pembelajaran Terpadu sesuai dengan yang disusun oleh tim kurikulum JSIT yang mencakup Telaah, Eksplorasi, Rumuskan, Presentasi, Aplikasi, Duniawi dan Ukhrowi telah penulis lakukan pada materi Perkembangbiakan Hewan tetapi belum pembelajaran yang PAKEM pada saat siswa melakukan eksplorasi dan rumuskan sehingga minat belajar siswa masih rendah, hasil belajar siswa yang tuntas hanya 46%. Oleh karena itu berusaha untuk mengembangkan perangkat pembelajaran dengan memasukkan pembelajaran Quantum Learning pada saat siswa mengeksplorasi dan merumuskan materi. Perangkat Pembelajaran Terpadu berbasis Quantum Learning dilakukan pada materi Perkembangbiakan pada Tumbuhan karena memiliki karakteristik yang cocok dengan prinsip-prinsip Quantum Learning. Pemahaman materi dapat dituntun secara konstruktuvism dengan melibatkan siswa secara aktif dalam memperoleh informasi. Selanjutnya adalah dengan menggunakan cara yang mudah yang memudahkan siswa untuk mengingat, seperti: sistem akronim, kalimat kreatif, atau jembatan keledai. Disamping pengorganisasian materi ajar perkembangbiakan tumbuhan yang luas, dipermudah dengan menggunakan Mind Mapping. Mind Mapping membantu untuk mempermudah mengingat, meningkatkan pemahaman dan mengorganisasikan materi. Untuk mengatasi hambatan belajar dalam memahami materi perkembangbiakan tumbuhan digunakan pendekatan Quantum Learning.

. Permasalahan yang terjadi pada pembelajaran Perkembangbiakan tumbuhan yang telah diuraikan sebelumnya disebabkan karena pengaruh perangkat pembelajaran TERPADU yang digunakan guru belum menunjang kegiatan pembelajaran yang PAKEM. Untuk itu perlu dikembangkan Perangkat Pembelajaran Terpadu pada materi Perkembangbiakan Tumbuhan secara terencana dengan berbasis Quantum Learning. Quantum Learning memungkinkan guru berinteraksi dengan siswa dengan memotivasi dan memberikan kesempatan untuk berpartisipasi aktif dan mengalami sendiri perolehan informasi serta mengarahkan siswa untuk mengembangkan kemampuan mereka dengan penuh antusias.

Pada pembelajaran TERPADU Ilmu Pengetahuan Alam baru dicobakan pada beberapa materi pokok saja, dan belum ditemukan adanya perangkat pembelajaran Terpadu yang berbasis Quantum Learning  pada materi Perkembangbian Tumbuhan berpengaruh terhadap hasil belajar siswa khususnya kelas VI SDS IT Mutiara. Berdasarkan permasalahan yang dikemukakan di atas maka penulis penelitian yang berjudul: “Pengaruh Perangkat Pembelajaran TERPADU Berbasis Quantum Learning terhadap Hasil Belajar Ilmu Pengetahuan Alam Siswa Kelas VI Sekolah Dasar Swasta Islam Terpadu Mutiara Duri Riau”.

B. Identifikasi Masalah

Sebagaimana telah dikemukakan di atas bahwa peranan seorang guru Ilmu Pengetahuan Alam sangatlah penting, karena guru merupakan sebagai edukator (pendidik), sebagai motivator dan juga fasilitator bagi anak didik kita dalam mencapai keberhasilan untuk meningkatkan prestasi belajar. Berdasarkan latar belakang masalah diatas, dapat diidentifikasikan beberapa masalah yang berkaitan terhadap prestasi belajar siswa sebagai berikut :

  1. Siswa mengalami kesulitan dalam memahami materi pembelajaran Ilmu Pengetahuan Alam materi perkembangbiakan tumbuhan.
  2. Penyajian materi oleh guru memberatkan kemampuan berpikir siswa karena belum mampu menganalisis gaya belajar siswa.
  3. Guru belum memberikan cara menyimpan dan mengolah informasi yang mampu untuk menjadikan pembelajaran yang berkesan dengan daya ingat yang lebih baik.
  4. Guru belum menggunakan variasi sumber belajar dalam menyajikan pembelajaran dengan pendekatan Quantum Learning .
  5. Bahan ajar belum mengacu pada urutan dan alokasi waktu yang sesuai dengan indikator pencapaian kompetensi.
  6. Bahan ajar belum disesuaikan dengan bakat dan minat siswa seperti warna-warna yang menarik dan sekaligus memiliki efek fisiologis terhadap pembelajaran.
  7. Guru belum mengembangkan LKS yang mampu untuk melibatkan siswa dalam pembelajaran yang memiliki manfaat bagi siswa untuk mempelajarinya dan pertanyaan dalam LKS belum memiliki variasi soal dan mengembangkan kemampuan berpikir kritis.
  8. Perlu penyusunan perangkat pembelajaran berupa RPP TERPADU, bahan ajar, LKS yang sesuai dengan strategi pembelajaran dan bakat- minat serta karakteristik siswa. Bahan ajar dan LKS yang ada khususnya pada materi perkembangbiakan tumbuhan masih menonjolkan tulisan, sedikit gambar dan belum berorientasi untuk memudahkan penguasaan materi dengan pemberian pengalaman belajar secara langsung.

C. Pembatasan Masalah

Berdasarkan identifikasi masalah yang telah dikemukakan dan agar penelitian yang dilakukan lebih terarah, maka masih banyak masalah-masalah lain yang tidak kalah pentingnya menyangkut hasil belajar siswa. Namun penulis membatasi masalah sebagai berikut :

  1. Diduga ada pengaruh penggunaan perangkat pembelajaran TERPADU terhadap hasil belajar Ilmu Pengetahuan Alam siswa kelas VI Sekolah Dasar Swasta Islam Terpadu Mutiara Duri Riau.
  2. Diduga ada pengaruh Quantum Learning terhadap hasil belajar Ilmu Pengetahuan Alam siswa kelas VI Sekolah Dasar Swasta Islam Terpadu Mutiara Duri Riau
  3. Diduga ada pengaruh penggunaan perangkat pembelajaran TERPADU dan Quantum Learning terhadap hasil belajar Ilmu Pengetahuan Alam siswa kelas VI Sekolah Dasar Swasta Islam Terpadu Mutiara Duri Riau.

D. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah, identifikasi dan pembatasan masalah yang telah dikemukakan di atas. Maka masalah dalam penelitian ini dapat dirumuskan sebagai berikut :

  1. Apakah terdapat pengaruh penggunaan perangkat pembelajaran TERPADU terhadap hasil belajar Ilmu Pengetahuan Alam siswa kelas VI Sekolah Dasar Swasta Islam Terpadu Mutiara Duri Riau?
  2. Apakah terdapat pengaruh Quantum Learning terhadap hasil belajar Ilmu Pengetahuan Alam siswa kelas VI Sekolah Dasar Swasta Islam Terpadu Mutiara Duri Riau ?
  3. Apakah terdapat pengaruh penggunaan perangkat pembelajaran TERPADU dan Quantum Learning terhadap hasil belajar Ilmu Pengetahuan Alam siswa kelas VI Sekolah Dasar Swasta Islam Terpadu Mutiara Duri Riau ?.

E . Tujuan penelitian

  1. Mengetahui pengaruh penggunaan perangkat pembelajaran TERPADU terhadap hasil belajar Ilmu Pengetahuan Alam siswa kelas VI Sekolah Dasar Swasta Islam Terpadu Mutiara Duri Riau
  2. Mengetahui pengaruh Quantum Learning terhadap hasil belajar Ilmu Pengetahuan Alam siswa kelas VI Sekolah Dasar Swasta Islam Terpadu Mutiara Duri Riau
  3. Mengetahui pengaruh penggunaan perangkat pembelajaran TERPADU dan Quantum Learning terhadap hasil belajar Ilmu Pengetahuan Alam siswa kelas VI Sekolah Dasar Swasta Islam Terpadu Mutiara Duri Riau.

F. Manfaat penelitian

Manfaat hasil penelitian ini adalah:

  1. Bagi siswa dengan Penggunaan Perangkat Pembelajaran TERPADU berbasis Quantum Learning salah satu alternatif untuk meningkatkan hasil belajar Ilmu Pengetahuan Alam Kompetensi Dasar Perkembangbiakan Tumbuhan terhadap siswa kelas VI SDS IT Mutiara Duri Riau Tahun Pelajaran 2016/2017.
  2. Bagi guru Penggunaan Perangkat Pembelajaran TERPADU berbasis Quantum Learning salah satu alternatif yang dapat digunakan untuk meningkatkan hasil belajar Ilmu Pengetahuan Alam  kompetensi dasar  Perkembangbiakan Tumbuhan terhadap siswa kelas VI SDS IT Mutiara Duri Riau Tahun Pelajaran 2016/2017.
  3. Dapat menjadikan masukan yang berharga bagi sekolah atau instansi pendidikan pada umumnya dalam rangka ikut andil dalam meningkatkan prestasi dan mutu pendidikan.

 

 BAB II

LANDASAN TEORI

A. Tinjauan Pustaka

  1. Hasil Belajar

a. Pengertian Hasil Belajar

Hasil belajar merupakan bagian terpenting dalam pembelajaran. Nana (2009,hal.3) mendefinisikan hasil belajar siswa pada hakikatnya adalah perubahan tingkah laku sebagai hasil belajar dalam pengertian yang lebih luas mencakup bidang kognitif, afektif dan psikomotorik. Suyono (2011,hal.3-4) juga menyebutkan hasil belajar merupakan hasil dari suatu interaksi tindak belajar dan tindak mengajar. Dari sisi guru, tindak mengajar mengakhiri dengan proses evaluasi hasil belajar dan dari sisi siswa hasil belajar merupakan berakhirnya pengajaran dari puncak proses belajar.

Berdasarkan pengertian hasil belajar diatas, disimpulkan bahwa hasil belajar adalah  kemampuan-kemampuan yang dimiliki siswa setelah belajar. Kemampuan-kemampuan tersebut mencakup aspek kognitif, afektif dan psikomotorik. Hasil belajar dapat dilihat melalui kegiatan evaluasi yang bertujuan untuk mendapatkan data pembuktian yang akan menunjukkan tingkat kemampuan siswa dalam mencapai tujuan pembelajaran. Hasil belajar yang diteliti dalam penelitian ini adalah hasil belajar kognitif yang mencakup tiga tingkatan yaitu pengetahuan, pemahaman dan penerapan. Instrument yang digunakan untuk mengukur hasil belajar siswa pada aspek kognitif adalah tes.

  1. Pembelajaran Quantum Learning

a. Pengertian Quantum Learning

Quantum Learning merupakan strategi yang berisi pendekatan, metode atau falsafah belajar yang terbukti efektif di sekolah untuk semua tipe orang (DePorter,1999,hal.14). Quantum Learning adalah strategi pembelajaran yang digunakan untuk menciptakan lingkungan belajar yang efektif, menerapkan kurikulum, menyampaikan isi dan memudahlan proses belajar. Pengertian ini didukung oleh Berk (Rusman, 2010,hal.83) dengan menyatakan bahwa strategi pembelajaran menyenangkan adalah pola berpikir dan arah berbuat yang diambil guru dalam memilih dan menerapkan cara-cara penyampaian materi sehingga mudah dipahami siswa dan memungkinkan tercapainya suasana pembelajaran yang tidak membosankan bagi siswa. Strategi pembelajaran yang tepat akan memungkinkan efektivitas pembelajaran yang baik.

Quantum Learning pertama kali digunakan di supercamp yang menggabungkan rasa percaya diri, keterampilan belajar dan keterampilan berkomunikasi dalam lingkungan yang menyenangkan. Quantum learning berakar dari upaya Lazanov yang melakukan eksperimen dengan “sugestology” atau “suggestoppedia”, prinsipnya adalah bahea sugesti dapat dan pasti mempengaruhi hasil belajar (Dahlan,2012,hal.56). Quantum Learning menggabungkan sugestology, teknik percepatan belajar dan neurolinguistik (NLP) termasuk teknik dan strategi lain seperti teori otak kanan dan kiri, teori otak triune, pilihan modalitas (visual, auditorial dan kinestetik), teori kecerdasan ganda, pendidikan holistic, belajar berdasarkan pengalaman, belajar dengan symbol dan simulasi atau permainan (DePorter,1999,hal.16).

Quantum Learning adalah kemampuan untuk mengubah komunitas belajar menjadi tempat yang meningkatkan kesadaran, daya dengar, partisipasi, umpan balik, dan pertumbuhan, dimana emosi dihargai. Pendapat tersebut diartikan bahwa bila guru mampu menciptakan suasana pembelajaran yang menyenangkan akan memberi dampak positif terhadap peningkatan efektivitas pembelajaran. Selanjutnya, interaksi seperti inilah yang dapat mengubah kemampuan dan bakat alamiah siswa menjadi “cahaya” yang akan bermanfaat bagi siswa dan orang lain (Rusman,2010,hal.330). Dari uraian diatas dapat disimpulkan bahwa Quantum Learning merupakan cara baru yang memudahkan proses belajar, yang memadukan unsur seni dan pencapaian yang terarah untuk semua mata pelajaran.

Pembelajaran Quantum menggubah proses pembelajaran dengan nuansa meriah menyertakan segala kaitan interaksi dan perbedaan yang memaksimalkan momen belajar serta berfokus pada hubungan dinamis dalam lingkungan kelas (Wena,2009,hal.160).

b. Stategi / Langkah-Langkah Quantum Learning

DePorter (2010,hal.30) mengembangkan strategi atau langkah-langkah perencanaan pembelajaran quantum yang dikenal dengan “Tandur” yaitu (1) Tumbuhkan, menumbuhkan minat dengan memuaskan “Apa Manfaatnya Bagiku” (Ambak), (2) Alami, menciptakan atau mendatangkan pengalaman umum yang dapat dimengerti oleh semua siswa, (3) Namai, menyediakan kata kunci, konsep, rumus dan strategi sebuah “masukan”, (4) Demonstrasikan, menyediakan kesempatan bagi pelajar menunjukkan bahwa mereka “tahu”, (5), Ulangi, menunjukkan pada siswa cara-cara mengulang materi dan menegaskan, “Aku tahu bahwa aku memang tahu”dan, (6) rayakan, upayakan pengakuan untuk menyelesaikan, partisipasi dan pemerolehan keterampilan dan ilmu penegtahuan. Bentuk perayaan dapat berupa pujian, berikan hadiah, bernyanyi bersama, tepuk tangan dengan berbagai variasi, dan lain sebagainya.

d. Mind Mapping dalam Quantum Learning

Mind Mapping menurut Buzan (2009:5 dalam Dahlan, 2012,hal.43) merupakan suatu teknik-grafik ampuh yang menyediakan suatu kunci universal untuk membuka seluruh potensi otak manusia sehingga dapat menggunakan seluruh kemampuan yang ada pada kedua belahan otak seperti kata, gambar, angka, logika, ritme, warna dalam suatu cara yang unik. Mind Mapping merupakan suatu bentuk pencatatan dengan struktur yang sangat menarik karena dipenuhi oleh angka, warna, kata, gambar, kode dan symbol sebagai hasil yang sangat kreatif dalam pemakaian seluruh keterampilan yang ada di kedua belahan otak. Mind Mapping akan memudahkan otak belajar dan mengingat informasi.

e. Karakteristik metode Mind Mapping (peta pikiran)

Peta pikiran dapat berfungsi ada baiknya dibuat warna-warni dan menggunakan banyak gambar dan symbol sehingga tampak seperti karya seni. Hal ini bertujuan agar metode mencatat ini dapat membantu individu mengingat perkataan dan bacaan, meningkatkan pemahaman terhadap materi membantu mengorganisasikan materi dan memberikan wawasan baru (Dahlan,2012,hal.43).

Peta pikiran menirukan proses berpikir memungkinkan individu-individu berpindah topik melalui simbol, gambar, arti emosional dan warna. Cara kerja peta pikiran ini sama dengan cara otak memproses berbagai informasi dan peta konsep melibatkan kedua belahan otak ini dalam mengingat informasi dengan lebih. Adapun yang dimaksud peta konsep adalah ilustrasi konkret yang mengindikasikan bagaimana sebuah konsep tunggal dihubungkan ke konsep-konsep lain pada kategori yang sama.

f. Peran Guru dalam Mengembangkan Quantum Learning

       Quantum Learning berupaya mengkondisikan peserta didik kedalam keadaan mental dan fisiologis yang positif melalui berbagai sugesti. Guru menciptakan kelas belajar untuk menghasilkan jiwa positif, mendukung kemampuan pelaksanaan kegiatan secara kreatif dan mudah. Aktivitas di kelas terjadi dengan menciptakan lingkungan internal dan eksternal khusus (DePorter,1999:281). Pada penelitian ini Quantum Learning dikembangkan pada perangkat pembelajaran Ilmu Pengetahuan Alam untuk materi perkembangbiakan tumbuhan..

Peran guru dalam mengembangkan Quantum Learning adalah (1) penataan lingkungan internal dan eksternal untuk persiapan belajar. Proses belajar dan mengajar memerlukan penataan lingkungan yang dapat membuat siswa merasa betah dalam belajarnya, dengan penataan lingkungan belajar yang tepat juga dapat mencegah kebosanan dalam diri siswa. Ruang kelas diatur berbeda dengan ruang kelas biasa. Kursi-kursi diatur setengah lingkaran sehingga para siswa dapat saling kontak mata satu sama lain sebagai anggota kelompok. Ruangan teratur, rapi dan menyenangkan dengan penataan bunga-bunga dan gambar dapat meningkatkan semangat. Pelajaran dibuat dalam bentuk poster dinding berwarna, huruf tiga dimensi dan gambar sebagai alat yang membantu ingatan. Kalimat-kalimat afirmasi positif digantungkan di dinding dan memperdengarkan musik untuk mencegah kebosanan dalam belajar. Pemilihan jenis musik harus diperhatikan agar tidak mengganggu konsentrasi belajar siswa. (2) Penyediaan pengalaman belajar dalam kegiatan belajar di kelas, Quantum Learning menggunakan berbagai macam metode ceramah, Tanya jawab, diskusi, demonstrasi, kerja kelompok, eksperimen, simulasi, estafet dan metode pemberian tugas.

3. Perangkat Pembelajaran TERPADU

Perangkat pembelajaran TERPADU merupakan segala alat dan bahan yang digunakan guru untuk menunjang kelancaran dan keterlaksanaan pembelajaran meliputi: rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP), bahan ajar, LKS dan alat evaluasi yang disesuaikan dengan kurikulum yang berlaku yaitu Kurikulum Tingkat satuan Pendidikan (Sari, 2009:23).

 

a. Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) TERPADU

Adapun langkah-langkah penyusunan RPP menurut juknis RPP JSIT mencakup:

1). Mengisi kolom identitas.

2). Menetapkan alokasi waktu yang dibutuhkan untuk pertemuan yang telah ditetapkan.

3). Menentukan SK, KD dan indikator yang akan digunakan (terdapat pada silabus yang telah disusun).

4). Merumuskan tujuan berdasarkan SK,KD dan indikator yang telah ditentukan.

5). Mengidentifikasi materi ajar berdasarkan materi pokok (materi yang terdapat dalam silabus). Materi ajar merupakan uraian dari materi pokok.

6). Menentukan metode pembelajaran yang akan digunakan.

7). Merumuskan langkah-langkah pembelajaran yang terdiri Telaah Alquran, Eksplorasi, Rumuskan, Presentasi, Aplikasi, Duniawi dan Ukhrowi

8). Menentukan alat, bahan, dan sumber belajar yang akan digunakan.

9).   Menyusun kriteria penilaian,

10). Menyusun lembar pengamatan

11). Membuat kisi-kisi soal dan soal pada setiap akhir pembelajaran

12).Menentukan teknik penskoran hasil penilaian dari post tes siswa.

  1. Materi Perkembangbiakan Pada Tumbuhan

Konsep-konsep pada perkembangbiakan tumbuhan disusun dalam bentuk bagan konsep seperti gambar 1 berikut ini :

gambar. 1 Materi Perkembangbiakan Tumbuhan

(Sulaeman,2014,hal.40-45)

 

C. Kerangka Berpikir

Uraian di atas secara teoritik menjelaskan bahwa dalam pengajaran dan pembelajaran Ilmu Pengetahuan Alam  perlu ditentukan metode yang tepat sesuai dengan karakteristk materi dan siswa yang menerimanya. Hal ini dilakukan supaya dapat meningkatkan hasil belajar siswa sesuai dengan yang diinginkan. Sehingga dimungkinkan tidak ada lagi siswa yang mengalami kesulitan menerima pembelajaran serta tidak ada lagi hasil belajar siswa yang gagal dalam pembelajaran Ilmu Pengetahuan Alam. Sehubungan dengan itu, menggunakan Perangkat Pembelajaran TERPADU berbasis Quantum Learning merupakan salah satu yang tepat digunakan dalam pembelajaran Ilmu Pengetahuan Alam yang bertujuan untuk meningkatkan hasil belajar siswa.

Berdasarkan uraian di atas penulis berpendapat bahwa penggunaan Perangkat Pembelajaran TERPADU berbasis Quantum Learning dapat meningkatkan hasil belajar Ilmu Pengetahuan Alam kompetensi dasar Perkembangbiakan Tumbuhan pada Siswa Kelas kelas VI SDS IT Mutiara Tahun Pelajaran 2016/2017.

D. Hipotesis

Pada penelitian tindakan kelas ini penulis mengajukan hipotesis, diduga bahwa Perangkat Pembelajaran TERPADU berbasis Quantum Learning dapat meningkatkan hasil belajar Ilmu Pengetahuan Alam kompetensi dasar Perkembangbiakan Tumbuhan pada Siswa Kelas kelas VI SDS IT Mutiara Tahun Pelajaran 2016/2017.

 

BAB III

             METODE DAN PELAKSANAAN PENELITIAN

 A. Bentuk Penelitian

Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian tindakan kelas (classroom based action research). Lebih khusus, penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas kolaboratif, yaitu kerjasama antara peneliti dengan praktisi di lapangan (guru). Peneliti dalam penelitian ini adalah sebagai pelaksana, perencana penelitian, pengumpul data, penganalisis data, dan pelapor hasil penelitian. Selain itu pada penelitian ini juga dibantu satu observer.

Penelitian terdiri dari beberapa siklus. Masing-masing siklus melalui tahap perencanaan tindakan, pelaksanaan tindakan, observasi, dan refleksi. Secara umum alur pelaksanaan tindakan dalam penelitian tindakan kelas ini digambarkan oleh Arikunto (2006,hal.14)

 

Siklus 1

 

 

Siklus Berikutnya
Siklus 2

                 Gambar 2.   Alur Pelaksanaan Tindakan

(Arikunto,2006,hal.14)

B. Objek dan Subjek Penelitian

Penelitian tindakan kelas ini  dilaksanakan pada Siswa kelas VI SDS IT Mutiara.  Sedangkan Subjek penelitiannya adalah  siswa kelas VI C SDS IT Mutaiara Duri Riau. Yang berjumlah siswa 30 orang, terdiri dari 16 orang laki-laki dan 14 orang perempuan.Penelitian ini dilakukan dari bulan Februari sampai April  2017.

C. Prosedur Penelitian

 Prosedur Penelitian Tindakan Kelas (PTK) penerapan Perangkat Pembelajaran TERPADU berbasis Quantum Learning dalam kompetensi dasar Perkembangbiakan Tumbuhan terdiri atas beberapa tahapan sebagai berikut:

  1. Perencanaan

Kegiatan yang dilaksanakan pada tahap ini adalah mempersiapkan perangkat pembelajaran yang terdiri atas Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) TERPADU, Bahan Ajar, LKS, soal tes hasil belajar, dan lembar   pengamatan aktivitas siswa.

  1. Pelaksanaan

Kegiatan yang dilakukan pada tahap ini adalah guru melaksanakan skenario yang direncanakan. Kegiatan ini akan dilakukan dalam dua siklus, satu siklus 2 kali pertemuan.

  1. Pengamatan

Kegiatan yang dilakukan pada tahap ini adalah guru melaksanakan pemantauan atau monitoring proses pembelajaran berlangsung dan dilakukan evaluasi terhadap pelaksanaan tindakan dengan menggunakan lembar pengamatan yang telah disusun sebelumnya. Dan diakhir setiap siklus akan dilakukan evaluasi, serta setelah semua siklus berakhir dilakukan evaluasi akhir.

  1. Refleksi

Hasil yang didapat dalam tahap pemantauan dikumpulkan serta dianalisis, kemudian direfleksi dengan melihat data pemantauan apakah kegiatan yang dilakukan telah dapat meningkatkan partisipasi, motivasi, aktivitas, dan kretivitas siswa dalam pembelajaran serta dapat meningkatkan hasil belajar siswa. Selanjutnya dilakukan revisi (perbaikan) tindakan untuk siklus berikutmya.

D. Instrumen Penelitian

 Instrumen yang diperlukan dalam penelitian tindakan kelas ini adalah sebagai berikut :

  1. Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) TERPADU
  2. Bahan Ajar
  3. Lembar Kerja Siswa
  4. Lembar Evaluasi
  5. Lembar Observasi
  6. Gambar-gambar tumbuhan

E. Faktor yang diteliti

 Faktor yang diteliti meliputi faktor siswa yaitu aktivitas siswa selama kegiatan belajar mengajar berlangsung, dapat diketahui dengan menggunakan lembar observasi yang diisi oleh observer dan hasil belajar siswa yang dapat diketahui dari hasil evalusi yang dilakukan pada setiap siklus.

F. Teknik Pengumpulan Data

Pada tahap ini dilakukan analisa terhadap data kuantitatif

  1. Ketuntasan Individu

Seorang siswa dikatakan tuntas dalam belajar apabila mencapai minimal 8,5. Ini diambil berdasarkan KKM SDS IT Mutiara pada bidang studi IPA adalah 8,5. Ketuntasan belajar individu dihitung dengan menggunakan rumus sebagai berikut :

KL       = SS     X 100%

SM

KL       = Ketuntasan belajar siswa

SS       = Skor yang diperoleh siswa

SM      = Skor maksimal

2.Aktivitas Siswa

Data yang diperoleh diolah dan dianalisis ditentukan berdasarkan kriteria skala Linkert sebagai berikut : ( Sudjono dalam Suwito 2009, hal. 17).

P    =         X 100 %

N

P         = persentase aktivitas siswa

F          = Frekuensi aktivitas siswa

N         = Banyak Individu

Dengan ketentuan angka 1 sampai dengan 5 dengan ketentuan 1 (kurang sekali), 2 (kurang), 3 (cukup), 4 (baik), 5 (baik sekali). Adapun olahan setiap skala linkert akan akan dipersentasekan seperti tabel 1 berikut ini:

Tabel 1. Kriteria Ketetapan Aktivitas Siswa

Persentase Aktivitas Siswa
81-100 Sangat baik
61-80 Baik
41-60 Cukup Baik
Kurang dari 40 Kurang baik

 

BAB IV

 HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

 A. Pelaksanaan Tindakan

Pembelajaran Ilmu Pengetahuan Alam dilaksanakan dalam beberapa tahap. Tahapannya sebagai berikut:

SIKLUS 1

  1. Perencanaan

Kegiatan yang dilaksanakan pada tahap ini adalah mempersiapkan perangkat pembelajaran yang terdiri atas Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) TERPADU,  bahan ajar, LKS dan soal tes hasil belajar,lembaran pengamatan aktivitas siswa.

  1. Pelaksanaan

Penelitian ini penulis lakukan sebanyak 2 siklus, 1 siklus 2 kali pertemuan Subjek dari implementasi penelitian ini adalah siswa kelas VI SDS IT Mutiara Duri.

Soal diberikan untuk mengetahui kemampuan siswa memahami konsep konsep Perkembangbiakan Tumbuhan. Siswa yang belum mencapai ketuntasan belajar minimun (KKM) akan penulis lakukan tindakan yang sama. Langkah-langkah tindakan dalam rencana pembelajaran yang digunakan dalam penelitian dapat dilihat lampiran 1 hal.31

3. Pengamatan

Tahap observasi dilakukan selama proses pembelajaran berlangsung oleh observer dengan mengisi lembaran observasi, hal-hal yang terdapat pada lembar obsevasi adalah aktifitas siswa yang didapatkan siswa dan  Untuk  menguji tingkat pemahaman  siswa pada pertemuan 1  dan 2 siklus 1 maka   guru mengadakan postes  tentang perkembangbiakan tumbuhan yang sudah dipelajari sesuai dengan indikator yang tersedia . Pembelajaran dikatakan tuntas jika siswa memperoleh Nilai KKM  85.setelah dilakukan postes pada pertemuan 1 dan pertemuan 2 siklus 1 ini ternyata ada siswa yang 22 orang siswa yang tuntas dan 8 orang siswa yang tidak tuntas. Selama  kegiatan belajar mengajar berlangsung  guru mengamati dan mencermati proses belajar yang berlangsung.

Hasil pengamatan Aktivitas atas pelaksanaan siklus I dapat dilihat pada tabel 2 dibawah ini.

Tabel 2. Hasil Pengamatan Aktivitas Siswa pada Siklus I

No Aktivitas Siswa % (Persen) Kategori
1 Kemampuan menelaah alquran 75% Baik
2 Memperhatikan dan mendengarkan penjelasan guru 80 % Baik
3 Memperhatikan bahan ajar 85 % Sangat baik
4 Mengerjakan LKS 76 % Baik
5 Membuat Mind Mapping 60 % Cukup Baik
6 Mengajukan pertanyaan 61% Cukup Baik
7 Berdiskusi antar siswa 74 % Baik
8 kemampuan bereksplorasi 77 % CukupBaik
9 Menanggapi hasil diskusi 75 % Baik
10 Mempresentasikan hasil kerja kelompok 76 % Baik
11 Kemampuan menanam tanaman dengan benar 80 % Baik
12 Kedisiplinan merawat tanaman 80 % Baik
13 Kesadaran berinfak 85 % Sangat baik
Rata –rata aktivitas 75,69% Baik

 

Pada tabel 2 terlihat aktivitas siswa dengan rata-rata aktivitas 75,69% dengan kategori baik. Aktivitas siswa SDS IT Mutiara dengan kategori sangat baik meliputi aktivitas memperhatikan bahan ajar dan kesadaran berinfak. Aktivitas pada kemampuan menelaah Alqur’an, mendengarkan penjelasan guru, mengerjakan LKS, berdiskusi antar siswa, kemampuan bereksplorasi, menanggapi hasil diskusi, memperhatikan hasil kerja kelompok dengan kategori baik sedangkan kategori cukup baik meliputi aktivitas membuat Mind Mapping, mengajukan pertanyaan dan kemampuan bereksplorasi.

Pada siklus I ditemukan Hasil pengamatan atas pelaksanaan siklus I adalah; sebagian siswa bingung dalam menelaah alqur’an, mengeksplorasi dan merumuskan, tidak bisa bekerjasama, beberapa siswa tidak bisa membuat Mind Mapping, ada siswa yang berbual-bual,  ada siswa yang melihat pekerjaan teman, suasana belajar agak ribut, waktu belajar agar molor, karena siswa belum terbiasa dengan pembelajaran TERPADU Berbasis Quantum Learning .

  1. Refleksi

Siswa belum memahami proses belajar TERPADU berbasis Quantum Learning terutama dalam membuat Mind Mapping, mengajukan pertanyaan dan kemampuan menelaah alquran, mengeksplorasi, siswa belum memahami materi pembelajaran, siswa belum paham KD Materi Pembelajaran, sebagian besar siswa nilainya dibawah standar (ketuntasan) pada pertemuan 1  dan pertemuan 2 siklus 1.

Dengan merefleksi hasil siklus pertama, didapati kekurangan dan  kelemahannya. Untuk memperbaiki itu supaya lebih menguatkan kelebihan dan keunggulan yang sudah ada pada siklus pertama, maka dilakukan tindakan pada siklus berikutnya, Dengan membahas kembali indikator yang belum tuntas agar tujuan yang diinginkan dapat tercapai  yaitu  meningkatnya  kemampuan, pengalaman belajar siswa dan hasil belajar siswa.

SIKLUS II

 1. Perencanaan

Kegiatan yang dilaksanakan pada tahap ini adalah mempersiapkan perangkat pembelajaran yang terdiri atas Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) TERPADU,bahan ajar, LKS dan soal tes hasil belajar, lembar pengamatan atau observasi.

2. Pelaksanaan

Langkah-Langkah dalam Tindakan Rencana Pembelajaran siklus II dapat di lihat tabel 5 pada lampiran 2 hal.31

3. Pengamatan

Setelah dilakukan postes pada pertemuan 1 dan pertemuan 2 siklus 2 ini ternyata ada siswa yang 28 orang siswa yang tuntas dan 2 orang siswa yang tidak tuntas.Tahap observasi dilakukan selama proses pembelajaran berlangsung oleh observer dengan mengisi lembaran observasi, hal-hal yang terdapat pada lembar obsevasi adalah banyaknya siswa yang mengikuti setiap aktivitas yang ada di lembaran aktivitas dengan sungguh-sungguh dan menyelesaikan Mind Mapping dan selesainya Mind Mapping  yang didapat siswa dalam waktu yang sudah ditentukan. Hasil pengamatan pelaksanaan tindakan siklus II dapat dilihat tabel 3.

Tabel 3. Hasil Pengamatan Aktivitas Siswa pada Siklus II

No Aktivitas Siswa % (Persen) Kategori
1 Kemampuan menelaah Alquran 83,33% Sangat baik
2 Memperhatikan dan mendengarkan penjelasan guru 100 % Sangat baik
3 Memperhatikan bahan ajar 85 % Sangat baik
4 Mengerjakan LKS 90 % Sangat baik
5 Membuat Mind Mapping 95 % Sangat baik
6 Mengajukan pertanyaan 85% Sangat baik
7 Berdiskusi antar siswa 85 % Baik
8 kemampuan bereksplorasi 80 % Baik
9 Menanggapi hasil diskusi 80 % Sangat baik
10 Mempresentasikan hasil kerja kelompok 90 % Sangat baik
11 Kemampuan menanam tanaman dengan benar 90% Sangat baik
12 Kedisiplinan merawat tanaman 90 % Sangat baik
13 Kesadaran berinfak 95 % Sangat baik
Rata –rata aktivitas 88,32% Sangat baik

 

Pada tabel 3 terlihat aktivitas siswa dengan rata-rata aktivitas 88,32% dengan kategori sangat baik. Aktivitas siswa SDS IT Mutiara dengan kategori sangat baik meliputi: menelaah Alquran, memperhatikan dan mendengarkan penjelasan guru, memperhatikan bahan ajar, mengerjakan LKS, membuat Mind Mapping, mengajukan pertanyaan, menanggapi hasil diskusi, mempresentasikan hasil kerja kelompok, kemampuan menanam tanaman dengan benar, kedisiplinan merawat tanaman dan kesadaran berinfak. Kategori baik meliputi kemampuan berdiskusi dan kemampuan bereksplorasi. Siswa yang tidak mengerjakan tugas berkurang, tidak ada siswa yang berbual-bual, motivasi dan semangat belajar siswa tinggi, suasana kelas terkendali dan  tenang serta nyaman, KBM berjalan lancar sesuai dengan rencana, siswa sudah bisa membuat Mind Mapping dan jawaban dengan tepat dalam waktu yang sudah ditentukan.

4. Refleksi

Siswa sudah memahami proses pembelajaran Terpadu berbasis Quantum Learning siswa sudah memahami materi pembelajaran, siswa sudah paham Materi Pembelajaran, siswa sudah terbiasa membuat Mind Mapping,hasil belajar siswa meningkat, siswa sudah dapat berkomunikasi, motivasi belajar siswa meningkat. Pada siklus II ini siswa sudah memperlihatkan perubahan yang meyakinkan, maka tidak perlu dilaksanakannya tindakan siklus berikutnya.

B. Analisis Data Temuan Penelitian dan Pembahasan

  1. Proses pembelajaran

Pendekatan Pembelajaran Terpadu berbasis Quantum Learning  ini sangat berpengaruh pada siswa, berdasarkan hasil pengamatan dapat diperoleh hasil yang signifikan terhadap kegiatan dalam proses pembelajaran, ditinjau dari aspek konsentrasi, keaktifan dan semangat siswa dalam belajar maupun dari aspek hasil belajar yang diperoleh siswa.

Dari hasil pengamatan pada siklus I pada saat proses belajar mengajar menggunakan pembelajaran Terpadu berbasis Quantum Learning  dapat diketahui persentase keaktifan siswa dan semangat siswa dalm proses belajar mengajar dapat di nilai dari aspek banyaknya keragaman Mind Mapping dan kemampuan dari siswa menanam tanaman dan kemampuan dalam membuat cangkokan yang dibuat siswa pada waktu yang sudah ditetapkan.

  1. Analisa Deskripsi Hasil Belajar.

Hasil belajar siswa berdasarkan post tes dan ulangan harian melalui pembelajaran TERPADU  dapat dilihat lampiran dan 4 dengan menganalisa ketuntasan belajar  dan aktivitas siswa.

a.Ketuntasan Belajar Siswa

             Hasil analisa menentukan ketuntasan belajar siswa kelas VI SDS IT Mutiara dengan perangkat pembelajaran TERPADU berbasis Quantum Learning dapat dilihat tabel 4.

Tabel 4. Persentase ketuntasan  hasil belajar siswa berdasarkan  post tes

Pertemuan Jumlah siswa yang hadir Jumlah siswa yang tuntas Jumlah siswa yang tidak tuntas Persentase ketuntasan belajar
I 30 22 8 73,33
 II 30 28 2 93,3

Dari tabel diatas dapat dilihat ketuntasan belajar siswa baru tercapai pada pertemuan II siswa sudah paham dan mengerti serta termotivasi untuk belajar.Bagi siswa yang belum tuntas maka diberi program perbaikan sampai mencapai nilai KKM 8,5. Adapun persentase ketuntasan siswa dapat dilihat pada gambar 2 dibawah ini :

 

Gambar 2. Persentase ketuntasan siswa setiap siklus

b.Analisa Deskriptif Aktivitas Siswa Dalam Kelompok

Hasil pengamatan aktivitas siswa kelas VI SDS IT Mutiara dengan penerapan perangkat pembelajaran TERPADU berbasis Quantum Learning ini dapat dilihat rata – rata persentasi aktivitas belajar siswa dalam kelompok selama pembelajaran dapat dilihat tabel berikut :

Tabel 5. Rata – rata persentase aktivitas siswa kelas VI dengan penggunaan perangkat pembelajaran TERPADU berbasis Quantum Learning siswa kelas VI SDS IT Mutiara

 

N0 Aktivitas Persentasi Aktivitas Kategori
1 Siklus I 75,69 % Baik
2 Siklus II 88,32 % Sangat Baik

Dari tabel 5 diatas dapat dilihat bahwa rata – rata aktivitas siswa dalam kelompok selama proses belajar mengajar pada setiap pertemuan mengalami peningkatan. Pada pertemuan I rata – rata aktivitas siswa adalah  75.69% dengan kategori baik, pertemuan II rata – rata aktivitas siswa adalah 84,32 % kategori sangat baik sekali.Meningkatnya aktivitas siswa seiring dengan semakin mengerti dan tertariknya siswa dengan pembelaran TERPADU berbasis Quantum Learning yang digunakan serta semakin mengertinya siswa dengan materi yang diberikan dengan menerapkan aktivitas siswa dengan penggunan perangkat pembelajaran TERPADU berbasis Quantum Learning untuk materi Perkembangbiakan pada Tumbuhan. Adapun persentase aktivitas siswa di setiap siklus dapat dilihat gambar 4 berikut ini:

           

Gambar 3. Persentase Aktivitas Siswa

Dilihat dari semua aktivitas siswa mengalami peningkatan baik siklus I ke siklus II seperti gambar 4,peningkatan aktivitas ini menandakan siswa telah memahami pembelajaran TERPADU dan kegiatan proses belajar mengajar sudah mengasyikan bagi siswa

 

Gambar 4. Persentase Aktivitas siswa pada setiap siklus

BAB V

 KESIMPULAN DAN SARAN

 KESIMPULAN

             Berdasarkan uraian diatas dapat disimpulkan bahwa dengan penggunan perangkat pembelajaran TERPADU berbasis Quantum Learning untuk materi Perkembangbiakan pada Tumbuhan dapat melatih siswa memahami konsep – komsep IPA dengan mudah, asyik dan menyenangkan. Selama proses pembelajaran berlangsung guru memperhatikan, mengamati serta membantu siswa yang mengalami kesulitan selama proses pembelajaran berlangsung.

  1. Penggunan perangkat pembelajaran TERPADU berbasis Quantum Learning untuk materi Perkembangbiakan pada Tumbuhandan dapat meningkatkan hasil belajar siswa .
  2. Penggunan perangkat pembelajaran TERPADU berbasis Quantum Learning untuk materi Perkembangbiakan pada Tumbuhan dapat meningkatkan aktivitas siswa yang kreatif, efektif, inovatif dan menyenangkan dalam memahami konsep – konsep IPA di SD

B. Saran 

  1. Penggunan perangkat pembelajaran TERPADU berbasis Quantum Learning untuk materi Perkembangbiakan pada Tumbuhan cukup efektif dalam memahami dan menelaah konsep – konsep IPA pada siswa kelas VI sehingga diharapkan guru mau menggunakan teknik ini.
  2. Bimbingan guru sangat diharapkan selama proses pembelajaran sangat membantu siswa yang mengalami kesulitan dalam menerapkan pembelajaran ini.

 

DAFTAR PUSTAKA

 Arikunto,Suharsimi. 2006. Prosedur Penelitian “Suatu Pendekatan Praktik” Edisi Revisi VI. Jakarta: PT. Rineka Cipta.

Dahlan, Desi. 2012. Pengembangan Perangkat Pembelajaran Biologi Berbasis Quantum Learning pada Sistem Pencernaan untuk Sekolah Menengah Atas. Padang: UNP

Depdiknas. 2006. Pedoman Memilih dan Menyusun Bahan Ajar. Jakarta: Dirjen Managemen Dikdasmen.

________. 2006b. Panduan Penyusunan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan. Jakarta: Depdiknas.

Deporter, Bobbi dan hernacki. 1999. Quantum Learning: Membiasakan Belajar Nyaman Dan Menyenangkan. Bandung: Kaifa.

Kemendiknas. 2010a. Petunjuk Teknis Pengembangan Bahan Ajar SMA. Jakarta: Kemendiknas, Direktorat Jenderal Manajemen Pendidikan Dasar Dan Menengah Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Atas.

__________. 2010b. Petunjuk Teknis Penilaian Afektif. Jakarta: Kemendiknas, Direktorat Jenderal Manajemen Pendidikan Dasar Dan Menengah Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Atas.

_________. 2010c. Petunjuk Teknis Penilaian Psikomotor. Jakarta: Kemendiknas, Direktorat Jenderal Manajemen Pendidikan Dasar Dan Menengah Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Atas.

_________. 2010d. Petunjuk Teknis Pengembangan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran. Jakarta: Kemendiknas, Direktorat Jenderal Manajemen Pendidikan Dasar Dan Menengah Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Atas.

__________. 2010e.Petunjuk Teknis Penyusunan Pedoman Penilaian di Sekolah Menengah Atas. Jakarta: Kemendiknas, Direktorat Jenderal Manajemen Pendidikan Dasar Dan Menengah Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Atas.

Kunandar. 2007. Guru Profesional, Implementasi Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) dan Sukses dalam Sertifikasi. Jakarta: Rohadaksa.

Muhab, Syukro dkk, 2010, Standar Mutu Kurikulum JSIT.Jakarta

Muhab, Syukro dkk, 2013, Konsep dan Model kurikulum JSIT. Jakarta

Rusman. 2009. Model-model Pembelajaran. Jakarta

Sagala, Syaiful. 2010. Konsep dan Makna Pembelajaran: Untuk Membantu Memecahkan Problematika Belajar dan Mengajar. Bandung: Penerbit Alfabeta.

 

Sari. Desti Villa .2009. Pengembangan Perangkat Biologi SMA kelas X berorientasi dengan Pendekatan Keterampilan Proses.tesis. Tesis Tidak Diterbitkan. Padang: UNP.

 

Sa’ud, Udin Syaefudin. 2010. Inovasi Pendidikan. Bandung: Penerbit Alfabeta.

 

Nana, Sudjana, 1989. Penilaian Hasil Belajar Mengajar. Bandung : PT Remaja Rosdakarya.

 

Sulaeman.2014. Natural Of Science. Jakarta

Suyono dan Hariyanto.2011. Belajar dan pembelajaran. Surabaya: Rosdakarya

Wena, Made. 2009. Strategi Pembelajaran Inovatif Kontemporer: Suatu Tinjauan Konseptual Operasional. Jakarta: Bumi Aksara.

 

 

 

 

 

 

 

    

Views All Time
Views All Time
306
Views Today
Views Today
1

1 COMMENT

LEAVE A REPLY