PENINGKATAN KOMPETENSI PEDAGOGIK GURU PADA SMP NEGERI TUJUH MARET HADAKEWA MELALUI SUPERVISI KLINIS

0
20

Oleh Drs. Marselinus Boli

ABSTRAK

Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan kompetensi pedagogik guru mata pelajaran pada SMP Negeri Tujuh Maret Hadakewa melalui pelaksanaan program supervisi klinis. Tempat penelitian desa Merdeka, Kecamatan Lebatukan, Kabupaen Lembata. Penelitian dilaksanakan dalam dua siklus dari minggu pertama bulan Agustus sampai akhir Oktober 2015. Variabel tindakannya pelaksanaan program supervisi klinis sedangkan variabel masalahnya kompetensi pedagogik guru mata pelajaran. Perubahan kompetensi guru diukur melalui penilaian perangkat pembelajaran, penampilan guru di kelas dan tanggapan positif peserta didik terhadap model pembelajaran yang disajikan. Supervisi kklinis oleh kepala sekolah ditempuh melalui tahapan pra observasi, observasi dan post observasi.
Hasil penelitian menunjukan bahwa ada peningkatan kemampuan pedagogis guru setelah disupervisi. Rerata hasil penilaian perangkat dan penampilan guru meningkat dari kondisi awal 52,33 menjadi 59,67 di siklus I, dan 67,33 di siklus II. Demikian juga rerata tanggapan positif peserta didik atas model pembelajaran yang disajikan meningkat dari 24,93 di siklus I menjadi 35,07 di siklus II. Capaian ini sesuai dengan pemikiran Negley dan Evans dalam Olivia (1984 : 8), bahwa kinerja guru dapat ditingkatkan berkat dorongan supervisor. Arikunto (2004 : 11), Supervisi klinis berperan baik sebagai faktor yang membantu pengembangan situasi belajar. Dua sub aspek kompetensi pedagogik yang belum menunjukan perubahan adalah memanfaatkan sarana teknologi komunikasa dan melakukan tindakan reflektif untuk meningkatkan mutu pembelajaran.
Disimpulkan bahwa, Melalui pelaksanaan program supervisi klinis Kompetensi pedagogik guru mata pelajaran pada SMP Negeri Tujuh Maret Hadakewa dapat ditingkatkan dari 52,33 menjadi 67, 33. Nilai perubahan 15,00. Makin meningkat kompetensi pedagogik guru makin bertambah tanggapan positif peserta didik terhadap model pembelajaran yang disajikan. Kepada sekolah disarankan untuk menyelenggarakan pelatihan khusus bagi para guru mata pelajaran tentang penggunan microsof power point precentation dan metodologi Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Para guru mata pelajaran dianjurkan untuk selalu menerapkan model pembelajaran yang berpusat pada peserta didik.

Kata kunci : Supervisi Klinis, Kompetensi Pedagogik Guru

PENDAHULUAN

Kompetensi pedagogik guru termasuk faktor utama penentu mutu lulusan di samping sarana prasarana pendukung dan sistem tata kelolah. Tugas seorang guru di kelas itu sebagai pengajar, pelatih, pembimbing dan administrator. Keberadaannya sangat mempengaruhi capaian out put sekolah. Guru yang baik menurut PP Nomor 74, Tahun 2008, pasal 2, harus menguasai wawasan dan landasan pendidikan, memahami peserta didik, mampu mengembangkan kurikulum, mampu merancang pembelajaran bermutu, mampu melaksanakan pembelajaran yang mendidik dan dialogis, mampu memanfaatkan teknologi dalam pembelajaran, mampu mengevaluasi hasil belajar, serta mampu mengembangkan peserta didik dalam rangka mengaktualisasikan potensi yang mereka dimiliki.
Sesuai hasil penilaian kinerja per 31 Desember 2014, rata-rata kompetensi pedagogik guru pada SMP Negeri Tujuh Maret Hadakewa hanya mencapai 52,33. Bahwa 80,00 % guru di sekolah ini memiliki nilai pedagogik di bawah 55,00. Berdasarkan hasil observasi semester genap, tahun pelajaran 2013/2014, ketika merencanakan pembelajaran lebih banyak guru mengabaikan análisis karakteristik peserta didik. Pendekatan yang diterapkan pun cendrung klasikal. Biasanya kegiatan di kelas tidak diikuti refleksi mendalam, mengkaji dan memecahkan masalah. Di sisi lain jabaran kurikulum sesuai mata pelajaran diampu belum dikerjakan dengan baik. Nilai hasil belajar yang terekam belum dimanfaat optimal untuk kebutuhan pemetaan dan pelaksanaan bimbingan individu.
Dari kondisi yang ada teridentifikasi bahwa kompetensi pedagogik guru SMP Negeri Tujuh Maret Hadakewa masih di bawah standar minimal. Kemampuan pedagogik para guru di sekolah ini perlu diperbaiki. Capaian nilai kompetensinya harus didorong naik hingga minimal 61,00. Guru harus didampingi dalam menjabarkan kurikulum, merencanakan pembelajaran tanpa mengabaikan karakteristik peserta didik, menggunakan pendekatan pembelajaran yang lebih berpusat pada peserta didik dan menyajikan pembelajaran yang aktif, inovatif, kreatif, efektif dan menyenangkan.
Menindaklanjuti hasil musyawarah kerja sekolah, Januari 2015, pendampingan guru mata pelajaran ditempuh melalui penerapan supervisi klinis terprogram dan berkelanjutan. Yang bertindak sebagai supervisor adalah kepala sekolah dan dua guru senior yang ditunjuk. . Ada keyakinan bahwa supervisi klinis terprogram bisa meningkatkan kompetensi pedagogik guru padaSMP Negeri Tujuh Maret Hadakewa.
Supervisi klinis menurut Nana Suryana (2010:1) dapat membina guru dalam meningkatkan kualitas proses pembelajaran agar diperoleh hasil belajar peserta didik yang optimal. Ada perbaikan kinerja guru dalam pengelolaan managemen pembelajaran. Syaiful Sagala (2010:196) memandangnya sebagai suatu pendekatan efektif yang membatu guru dalam meningkatkan keprofesionalannya melalui tahapan observasi, implementasi, dan diskusi.
N.G.N.Seriani, dkk dari hasil penelitian tentang Implementasi Supervisi Klinis Oleh Pengawas Untuk Meningkatkan Kinerja Guru TK, menyimpulkan bahwa pelaksanaan supervisi klinis dapat meningkatkan kinerja guru. Lebih khusus untuk kemampuan pedagogik, Maemunah dalam laporan PTS tentang Peningkatan Kompetensi Pedagogik Guru Melalui Supervisi Klinis, menyatakan bahwa Dengan supervisi klinis dapat ditingkatkan kemampuan pedagogik guru SDN Slawi Kulon 05 Kabupaten Tegal.
Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan kompetensi pedagogik guru mata pelajaran pada SMP Tujuh Maret Hadakewa dan mendorong naik tanggapan positif peserta didik terhadap model pembelajaran yang disajikann guru.
Supervisi klinis dalam penelitian ini merupakan masukan dalam bentuk motivasi ekstrinsik dari kepala sekolah. Kemampuan pedagogik guru setelah disupervisi menjadi keluarannya. Konsep tersebut hubungannya digambarkan seperti si bawah ini.

Hipotesis tindak dalam penelitian ini adalah : :Jika supervisi klinis dilaksanakan terprogram dan berkelanjutan maka ada peningkatan kemampuan pedagogik guru mata pelajaran dan tanggapan positif peserta didik terhadap model pembelajaran yang disajikan pada SMP Negeri Tujuh Maret Hadakewa.

METODE

Penelitian tindkan ini ditempuh melalui empat langkah : 1)Perencanaan (planning), 2) Tindakan (acting), 3) Observasi (Observing), 4) Refleksi (reflecting). Semua langkah selalu diulang pada setiap siklus.
Tempat penelitian SMP Negeri Tujuh Maret Hadakewa, Desa Merdeka, Kecamatan Lebatukan, Kabupaten Lembata, Provinsi Nusa Tenggara Timus. Dilaksanakan dari minggu pertama bulan Agustus sampai akhir Oktober 2015. 10 orang guru mata pelajaran ditetapkan sebagai subyek penelitian.
Sebagai variabel tindakan dalam penelitian ini adalah pelaksanaan program supervisi klinis, sedangkan variabel masalahnya kompetensi pedagogik guru mata pelajaran. Indikator kinerja untuk kompetensi pedagogik diukur dari hasil penilaian perangkat dan penampilan guru di kelas. Keselarasan antara kompetensi pedagogik guru dengan tanggapan positif peserta didik terhadap model pembelajaran yang disajikan diukur dari jumlah siswa bertanya, menjawab pertanyaan dan bekerjasama dalam kelompok.
Supervisi klinis ditempu melalui tahapan pra observasi, observasi dan post observasi. Data hasil penilaian perangkat dan observasi kelas diolah dengan metode deskriptive statistic. Penelitian dilakukan dalam dua siklus.

HASIL DAN PEMBAHASAN

1. Data hasil observasi
Descriptive statistic hasil penilaian perangkat dan observasi kelas siklus I dan II sebagai berikut :
Siklus I :

Perbedaan nilai kompetensi per sub aspek digambarkan seperti grafik di bawah ini.

Gambar 1. Grafik capaian nilai kompetensi pedagogik menurut sub aspek
pada siklus I

Menurut grafik, nilai tertinggi terdapat pada sub aspek 7, yaitu berkomunikasi secara efektif, empatik, dan santun dengan peserta didik. Sedangkan nilai terendahnya pada sub aspek 10, yaitu melakukan tindakan reflektif untuk peningkatan kualitas pembelajaran. Pengganggu homogenitas terkait bentuk kurva terdapat pada sub aspek 5, yaitu Memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi untuk kepentingan pembelajaran dan sub aspek Menyelenggarakan penilaian dan evaluasi proses dan hasil belajar.

Siklus II :


Sebaran nilai per sub aspek kompetensi seperti grafik di bawah ini.

Gambar 4. Grafik capaian nilai kompetensi pedagogik menurut sub aspek
pada siklus II

Bentuk grafik sebaran nilai per sub aspek di siklus II ini sama dengan siklus I. Meski demikian telah tejadi peningkatan pada hampir semua aspek, kecuali sub aspek 5 yaitu Memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi untuk kepentingan pembelajaran dan sub aspek 10, yaitu melakukan tindakan reflektif untuk peningkatan kualitas pembelajaran. Nilai kedua sub aspek tersebut tidak mengalami perubahan dan menempati peringkat bawah. Hingga siklus II homogenitas terkait bentuk kurva tetap terganggu oleh sub aspek

2. Pembahasan

a. Program Supervisi Klinis dan Kompetensi Pedagogik Guru :
Data hasil penelitian ini menunjukan peningkatan nilai kompetensi pedagogik dari kondisi awal 52,33 menjadi 59, 67 di siklus I dan 67,33 di siklus II. Ini berarti bahwa supervisi klinis yang dilakukan kepala sekolah berdampak positif terhadap kompetensi pedagogik guru. Sebagaimana Negley dan Evans dalam Olivia (1984 : 8) Kinerja guru dapat ditingkatkan berkat dorongan supervisor. Wahid Hasim (2013 : 45) Pelaksanaan supervisi klinis dan bimbingan berkelanjutan dapat meningkatkan kompetensi para pendidik di sekolah.

Kebiasaan menunda pekerjaan, rendahnya rasa bertanggung jawab dan perenungan mendalam atas hambatan pembelajaran dapat dikurangi melalui supervisi klinis yang dilakukan berkala. Sebagaimana Alfons (1981) yang dikutib Sri Banun (2009 : 50) Tindakan supervisi klinis bisa memperbaiki prilaku guru dalam melaksanakan tugas-tugasnya. Oleh Nana Suryana (2010 : 1) Pengawasan dan penilaian melalui supervisi bisa memaksa guru untuk mengubah diri menjadi lebih baik.

Dari pengamatan baik siklus I maupun siklus II, ada dua sub aspek dalam kompetensi pedagogik guru yang hampir tidak mengalami perubahan, yaitu, sub aspek 5 : Memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi untuk kepentingan pembelajaran; sub aspek 10 : Melakukan tindakan reflektif untuk peningkatan kualitas pembelajaran.

Melalui diskusi post observasi dengan para guru diketahui bahwa lebih banyak guru belum menguasai program microsoft power point precentation. Hal ini menjadi faktor penghambat pada pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi dalam pembelajaran. Program microsoft yang dikuasai guru hanya sebatas pengolah kata (word) dan pengolah angka (exel).

b. Program supervisi klinis dan tanggapan positif peserta didik :
Bardasarkan hasil pengolahan data ini supervisi klinis dianggab menunjang pengembangan sistem pembalejaran. Tanggapan positif peserta didik mengalami peningkatan dari kondisi awal 20,03 menjadi 24,93 pada siklus I dan 35,07 pada siklus II. Peningkatan ini bukan sebuah kebetulan tetapi hanya terjadi karena perubahan prilaku guru dalam tindak pembelajaran. Supervisi klinis telah mendorong guru mata pelajaran untuk menyesuaikan perencanaan dengan kebutuhan peserta didik. Perubahan gaya mengajar dan model pengelolaan ruang kelas bisa mendorong peserta didik untuk lebih aktif bertanya, menjawab pertanyaan dan terlibat dalam penyelesaian tugas-tugas yang diberikan.

Pendekatan pembelajaran yang menempatkan peserta didik sebagai pusat orientasi sangat diperlukan dalam rangka peningkatan mutu pembelajaran di kelas. Model pembelajaran sperti ini menurut Moh. Uzer Usman (1990 : 25) lebih mendorong peserta didik untuk aktif dalam pembelajaran. Terkait merencanakan pendekatan pembelajaran guru harus cukup memiliki kompetensi yang berhubungan dengan penguasaan metode pembelajaran serta karakteristik peserta didik.

PENUTUP

Dari hasil analisa data dan pembahasannya dapat ditarik kesimpulan bahwa : Pelaksanaan supervisi klinis terprogram dan berkelanjutan dapat meningkatkan kompetensi pedagogis guru dan tanggapan positif peserta didik terhadap model pembelajaran yang disajikan pada SMP Negeri Tujuh Maret Hadakewa.

Untuk meningkatkan kemampuan guru dalam memanfaatkan sarana komputer dalam pembelajaran disarankan supaya diadakan pelatihan ketrampilan guru dalam mengoperasikan power point. Untuk mendukung pembelajaran berpusat pada siswa sekolah juga diminta supaya melengkapi fasilitas ruang kelas termasuk buku-buku sumber.

.DAFTAR PUSTAKA

Balgis Putri, dkk. 2014. Kompetensi pedagogik guru Dalam Meningkatkan Motivasi Belajar Siswa pada SMPN 3 Ingin Jaya Kabupaten Aceh Besar, Jurnal Administrasi Pendidikan, Pascasarjana Universitas Syiah Kuala, Volume 2, Nomor 1, Agustus 2014.

Hasim Wahid, 2013. Supervisi Pembelajaran Kepala Madrasah Dalam Meningkatkan Kompetensi Guru, Tesis, Salatiga : STAIN

Iriyani Dwi, 2008. Pengembangan Supervisi Klinis Untuk Meningkatkan Ketrampilan Dasar Mengajar Guru, Jurnal Didaktika, Vol. 2, No. 2, Maret 2008.

Maemunah, 2015. Peningkatan Kompetensi Pedagogik Guru Melalui Supervisi Klinis, Jurnal Penelitian Tindakan Kelas, Vol . 16, No. 5, Oktober 2015.

Mulyasa E. 2009. Standar Kompetensi dan Sertifikasi Guru, Bandung : Remaja Rosdakarya.

Pidarta Made, 1992. Landasan Kependidikan, Stimulus Kependidikan Bercorak Indonesia, Jakarta : Rineka Cipta.

Sagala Syaiful, 2010. Supervisi Pembelajaran dalam Profesi Pendidikan, Bandung : Alfabeta.

Southon, 2009. Membangun Semangat kerja Guru, Yogyakarta : Laks Bangun Pressindo.

Sri Banun, Muslim, 2009. Supervisi Pendidikan Meningkatkan Kwalitas Profesionalisme Guru, Bandung : Alfabeta.

Suhardan Dadang, 2006. Supervisi Profesional (Layanan Dalam Meningkatkan Mutu Pembelajaran di Era Otomi Daerah), Bandung : Alfabeta.
Suryana Nana, 2011. Supervisi Pendidikan, Konsep dan Aplikasinya Bagi Pengawas Sekolah, Bekasi : Binamitra Publishing.

Seriani N.G.N, dkk. 2014. Implementasi Supervisi Klinis Oleh Pengawas Untuk Meningkatkan Kinerja Guru TK, e-Journal Prorgam Pasca Sarjana Universitas Pendidikan Ganesha, Program Studi Pendidikan Dasar, Volume 4 Tahun 2014.

Views All Time
Views All Time
22
Views Today
Views Today
1

LEAVE A REPLY