PENTINGNYA MENGOPTIMALKAN PERLINDUNGAN PROFESI GURU SEBAGAI AGEN PERUBAHAN

0
2

Astiah, guru di SD Negeri Pa’bangiang, Jalan Andi Tonro, Kecamatan Somba Opu, Gowa, Sulawesi Selatan. Pelaku pengeroyokan merupakan ibu salah satu murid di sana. TribunStyle melansir dari Tribun Timur, Astiah menjelaskan aksi penganiayaan terjadi di dalam kelas ketika aktivitas belajar mengajar sedang berlangsung pada Rabu 4 September 2019, (tribunstyle.com, 05/09/2019).

Melihat penganiayaan terhadap Ibu Guru Astiah baru-baru ini menambah panjang daftar tindakan kekerasan terhadap guru di negeri ini. Bila ditelusuri ke belakang, ada banyak kasus serupa yang menimpa guru. Tindakan kekerasan terhadap guru bukan sekali tetapi berulang kali terjadi. Bagaimanakah nasip bangsa ini jika guru sebagai sosok panutan, menjadi suri teladan yang mencetak karakter anak bangsa dan sebagai agen perubahan bagi bangsa ini terus mengalami tidakan kekerasan dari orang tua yang tidak memahami arti pentingnya pendidikan. Tugas mulia seorang guru dalam memberikan pendidikan dan pengajaran tidak mendapat penghargaan melainkan sebaliknya mendapatkan intimidasi dan perlakuan yang tidak sewajarnya dari para orang tua siswa.

Sebagai sorang guru yang setiap hari bergelut dengan dunia pendidikan, penulis turut menghimbau agar kita semua menyadari bahwa semua yang dilakukan guru kepada peserta didiknya pada dasarnya semata-mata demi kemajuan dan keberhasilan cita-cita dari peserta didiknya. Tidak ada guru yang senang melihat peserta didiknya tidak berhasil, berbagai metode, pendekatan, srtategi harus digunakan, semua itu semata-mata  untuk keberhasilan peserta didik untuk keberhasilan dikemudian hari. Panggilan hati dan panggilan jiwa selalu terngiang ditelinga untuk melaksanakan tugas yang mulia ini.

Orang bijak mengatakan jika kita ingin merubah keadaan generasi penerus bangsa selama 1 tahun maka tanamlah padi. Jika kita ingin merubah keadaan generasi penerus bangsa ini selama 10 tahun kedepan, maka tanamlah pohon yang luas. Jika kita ingin merubah keadaan dan mempersiapkan generasi penerus bangsa sebagai generasi emas abad XXI selama 100 tahun, maka tanamkanlah pendidikan karakter dan didiklah mereka dengan tulus dan iklas.

Kekerasan yang menimpa guru menimbulkan perih dan duka yang mendalam dalam dunia pendidikan di negeri ini. Guru yang merupakan sosok mulia kini sudah tidak dihormati lagi. Sekolah kini tidak menjadi tempat yang aman dan nyaman bagi guru dalam menunaikan tugas mencerdaskan anak bangsa. Kondisi ini memaksa kita untuk menegakkan perlindungan profesi guru demi menghadirkan keamanan dan kenyamanan kepada para pendidik dalam menjalankan tugas yang mulia ini.

Secara yuridis, guru telah diakui sebagai sebuah profesi. Dalam UU No. 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen dijelaskan bahwa guru adalah pendidik profesional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik pada pendidikan anak usia dini jalur pendidikan formal, pendidikan dasar dan pendidikan menengah (Pasal 1 ayat 1). Sebagai sebuah profesi, tentu ada risiko yang dihadapi guru dalam menjalankan tugas keprofesiannya. Karena itu guru perlu mendapat perlindungan.

Beberapa aturan hukum pun diterbitkan. Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2015 tentang Guru dan Dosen, Pasal 39 menegaskan, “Pemerintah, pemerintah daerah, masyarakat, organisasi profesi, dan/atau satuan pendidikan wajib memberikan perlindungan terhadap guru dalam pelaksanaan tugas (ayat 1). Perlindungan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi perlindungan hukum, perlindungan profesi, serta perlindungan keselamatan dan kesehatan kerja (ayat 3).” Peraturan Pemerintah No. 74 tahun 2008 tentang Guru pun menegaskan bahwa guru berhak mendapat perlindungan dalam melaksanakan tugas dalam bentuk rasa aman dan jaminan keselamatan dari pemerintah, pemerintah daerah, satuan pendidikan, organisasi profesi guru, dan/atau masyarakat sesuai dengan kewenangan masing-masing (Pasal 40 ayat 1). Selain itu Permendikbud Nomor 10 Tahun 2017 tentang Perlindungan bagi Pendidik dan Tenaga Kependidikan memperkuat posisi guru dalam menjalankan tugas profesinya. Dalam Pasal 2 dijelaskan bahwa perlindungan merupakan upaya melindungi Pendidik dan Tenaga Kependidikan yang menghadapi permasalahan terkait pelaksanaan tugas (ayat 1). Perlindungan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi perlindungan hukum; profesi; keselamatan dan kesehatan kerja; dan/ atau hak atas kekayaan intelektual (ayat 2).

Landasan yuridis sudah ada. Namun, dalam kenyataan guru masih mengalami kekerasan. Ancaman, intimidasi, bentakan hingga pemukulan terus diterima guru. Ironisnya, sikap tidak terpuji itu justru diterima guru dari orangtua yang anaknya dididik guru. Hal ini menunjukkan bahwa; pertama, implementasi peraturan tersebut belum benar-benar berjalan optimal. Rantai kekerasan yang terus membelenggu guru membuktikan masih lemahnya perlindungan hukum terhadap pendidik. Lemahnya perlindungan terhadap guru adalah akibat belum tersosialisasi aturan hukum perlindungan guru. Karena itu pemerintah harus mensosialisasikan. Sosialisasi ini selain melibatkan pihak terkait, perlu juga menggandeng tokoh agama dan tokoh masyarakat.

Orangtua belum memahami peran pendidik dalam menjalankan tugas keprofesian. Tugas guru bukan hanya mengajar tetapi juga mendidik, membina, dan membimbing siswa. Pembinaan sebagaimana dilakukan guru adalah dalam konteks menjalankan tugas profesi. Karena itu bila orangtua tidak menerima tindakan yang diberikan guru kepada anaknya, maka harus membangun dialog dengan sekolah untuk menyikapi hal tersebut, bukannya langsung menghakimi sang guru.

Apa pun alasannya tindakan kekerasan terhadap guru tidak boleh dibiarkan karena akan membuat guru menjadi takut. Takut dibelit persoalan hukum dan takut dianiaya orangtua. Selain itu guru bisa menjadi apatis dengan tugas mendidik. Jika kondisi ini yang muncul dalam diri guru, maka boleh jadi guru akan mengabaikan salah satu tugasnya yaitu mendidik. Sebuah tugas penting berkaitan dengan pembentukan watak dan karakter siswa. Mendidik melampaui tugas mengajar yang hanya mentransfer pengetahuan.

Bapak Pendidikan Indonesia Ki Hajar Dewantara menghadirkan konsep Trisentra Pendidikan. Menurut Dewantara, ada tiga tempat pergaulan yang menjadi pusat pendidikan anak-anak, yaitu alam keluarga, alam perguruan, dan alam pergerakan. Karena itu dalam mewujudkan lingkungan pendidikan aman dan nyaman perlu keterlibatan keluarga, sekolah dan masyarakat.

Tindakan kekerasan dalam dunia pendidikan terjadi karena hubungan antara tiga komponen pendidikan tersebut tidak terjalin dengan baik. Karena itu perlu dibangun komunikasi antara sekolah, keluarga, dan masyarakat. Jika komunikasi terjalin dengan baik, akan terbangun ikatan emosional yang kuat. Dengan demikian setiap persoalan yang muncul tidak akan dihadapi dengan kekerasan. Akhirnya, kerja sama semua pihak dalam memberi perlindungan bagi guru sangat diperlukan agar guru benar-benar merasa aman dan nyaman menjalankan tugas profesinya.

Pelibatan Keluarga pada Penyelenggaraan Pendidikan menurut Permendikbud 30 tahun 2017 Pasal 2 adalah (1) Meningkatkan kepedulian dan tanggung jawab bersama antara Satuan Pendidikan, Keluarga, dan Masyarakat terhadap Penyelenggaraan Pendidikan; (2) Mendorong Penguatan Pendidikan Karakter Anak; (3) Meningkatkan kepedulian Keluarga terhadap pendidikan Anak; (4) Membangun sinergitas antara Satuan Pendidikan, Keluarga, dan Masyarakat; dan (5) Mewujudkan lingkungan Satuan Pendidikan yang aman, nyaman, dan menyenangkan.

Dalam Pasal 5 Permendikbud 30/2018 tentang Pelibatan Keluarga pada Penyelenggaraan Pendidikan, ketentuannya membahas tentang bentuk Pelibatan keluarga dalam pendidikan yang kemudian didetailkan dalam Pasal-pasal selanjutnya dari Pasal 6 hingga Pasal 11. Pelibatan Keluarga pada Penyelenggaraan Pendidikan dilaksanakan sesuai dengan norma yang berlaku, sumber daya/potensi, dan kearifan lokal. Berdasarkan dari peraturan tersebut untuk mengantisipasi hal yang tidak diinginkan, maka penulis telah melaksanakan sesuai yang diamanatkan oleh peraturan tersebut dengan membentuk kelas orang tua yang dilaksanakan satu bulan sekali. Mudah-mudahan dengan terbentuknya kerjasama yang baik antara orang tua dengan sekolah. Tindakan mengintimidasi, pengeroyokan dan tindakan kekerasan terhadap pendidik tidak akan terjadi.

Kebahagiaan dan kebangga seorang pendidik bukanlah menginginkan dari salah satu peserta didiknya kelak mengajak liburan ke luar negeri atau memberikan uang berjuta-juta. Kebahagiaan dan kebanggan seorang pendidik adalah melihat dan mendengar peserta didiknya telah tuumbuh dan berkembang menjadi manusia yang mempunyai ahlak mulia, berbudipekerti tinggi, berilmu tinggi, bermoral, dan memiliki spiritualitas tinggi diwujudkan hubungan antara manusia dengan manusia dan manusia dengan Tuhan.

Views All Time
Views All Time
8
Views Today
Views Today
1

LEAVE A REPLY