Peran Guru

0
87
adi suprayitno
Peran Guru

Di sekolah, guru memegang peranan penting dalam proses belajar mengajar. Keberhasilan proses belajar mengajar adalah tercapainya tujuan pembelajaran, yaitu “Mengantarkan para siswa untuk menuju pada perubahan-perubahan pada perubahan tingkah laku, baik intelektual, perasaan maupun psikomotor agar siswa dapat mandiri sebagai makhluk individu dan makhluk sosial” (Winataputra, 1997 : 6.3).

Isbani (1985 : 23) berpendapat bahwa “Belajar dapat berhasil kalau ada tujuan yang mengandung arti bagi individu”. Dampaknya guru memerlukan metode dan media pembelajaran agar proses belajar mengajar berhasil atau tujuan pembelajaran tercapai.

Surya (1988 : 3) menyatakan tugas guru adalah :

 

Tugas profesional, selalu menghadapi tantangan apabila ingin menjadikan pendidik yang kreatif, dinamis, kritis dan ilmiah, sebelum ia menentukan tujuan instruksional yang sesuai dengan tingkat kemampuan siswa, kemampuan apa yang dikembangkan, menyusun kegiatan belajar mengajar, untuk itu ia harus menentukan media dan metode yang benar.

 

Penggunaan media pembelajaran dalam proses belajar mengajar pada siswa, khususnya bagi siswa di sekolah lanjutan atas yang tidak mampu berpikir secara abstrak adalah penting dan bermanfaat.

Media pembelajaran yang merupakan salah satu komponen proses belajar mengajar di samping guru dan murid, juga termasuk sarana alat bantu yang dapat memberikan pengalaman visual kepada siswa, dapat memperjelas konsep yang abstrak, mendorong motivasi belajar, dan mempertinggi daya serap siswa.

Sadiman (1983 : 7), menyatakan :

 

Media pembelajaran adalah segala sesuatu yang dapat digunakan untuk menyampaikan pesan dari pembawa ke penerima, sehingga dapat merangsang pikiran, perasaan, minat, dan perhatian siswa demikian rupa sehingga proses belajar mengajar terjadi.

 

Ahli lain mengemukakan : “Media dapat dbahasa inggris  kai untuk memberi motivasi, untuk menarik perhatian, untuk mempertinggi proses, untuk menilai, untuk berpikir, untuk reaksi (respon) dan untuk menguji daya transfer”   (Isbani, 1986 : 46).

Media pembelajaran dalam proses belajar mengajar bidang studi bahasa inggris   sangat penting untuk membantu konsep pengertian anak pada materi pembelajaran memotivasi minat dan perhatian anak, serta membantu tugas guru menyampaikan informasi pembelajaran menjadi efisien. Ichrom dan Sholeh mengemukakan bahwa “Media pembelajaran mengajar bidang studi bahasa inggris   berfungsi sebagai alat pemahaman melalui apa yang ia lihat” (Ichrom dan Sholeh, 1986 : 44).

Media pembelajaran tersebut dapat dibagi menjadi “media visual, media audio, dan media audio visual” (Winataputra dkk, 1977 : 5.10). Dari beberapa media tersebut di sekolah-sekolah sering menggunakan media visual/grafis/media gambar yang disebut juga media dua dimensi.

“Media grafis/gambar merupakan media yang mengkombinasi fakta gagasan secara jelas dan kuat melalui satu pengungkapan kata-kata gambar” (Isbani dan Sardjono, 1986 : 3), karena media grafis/gambar mempunyai kelebihan seperti mudah dalam pembuatan, mudah diperoleh, tidak banyak membutuhkan tenaga dan waktu serta dapat mengatasi  batasan ruang. Menurut Isbani dan Sardjono (1986 : 30) “Media grafis mempunyai keuntungan yakni sederhana, murah, mudah digunakan tujuan tertentu dan mudah disimpan”.

Ahli mengemukakan :

Banyak penelitian tentang keefektifan gambar diam untuk belajar, baik yang diproyeksikan atau gambar, studi print terhadap kemampuan baca visual. Mendesain suatu media harus memperhatikan ciri-ciri atau karakteristik dari sasaran/penerima pesan (umur, latar belakang, sosial budaya, pendidikan, cacad badaniah dan sebagainya) dan ini dapat mempengaruhi timbulnya kegiatan belajar mengajar (Miarso, 1986 : 25).

 

Anak di sekolah lanjutan atas yang juga termasuk anak cacad mental penggunaan media pembelajaran yang direncanakan sesuai bahan pembelajaran mengajar bidang studi bahasa inggris   yang mempunyai karakteristik bahwa setiap individu berlainan akan membantu pemahaman anak berpikir konkrit dan menentukan hasil belajar, untuk itu perlunya berbagai media sebagai fasilitas belajar. Hal ini disebabkan anak di sekolah lanjutan atas mempunyai kemampuan intelektual/kecerdasan di bawah rata-rata. Untuk memperjelas pengertian anak di sekolah lanjutan atas, peneliti mengemukakan pendapat ahli Juwono, bahwa anak di sekolah lanjutan atas atau cacad mental adalah “suatu keadaan di mana tidak terdapatnya perkembangan mental yang wajar, biasa dan normal sehingga akibatnya ketidakmampuan dalam bidang intelektual, kemampuan rasa, penyesuaian dan sebagainya” (Juwono, 1981 : 5).

Views All Time
Views All Time
180
Views Today
Views Today
1

LEAVE A REPLY