PERAN KELUARGA MENDUKUNG SISWA BERPRESTASI

0
5386

Pendidikan merupakan tanggung jawab bersama antara keluarga, masyarakat, dan pemerintah. Konsep tersebut bukanlah hal yang baru dan bukan hanya slogan semata tetapi merupakan perwujudan semangat kebersamaan dalam menyiapkan masa depan anak. Bagi kebanyakan orangtua masih menganggap bahwa pendidikan anak hanyalah tanggung jawab sekolah semata. Keluarga merupakan lembaga pendidikan dan lingkungan pertama dan utama bagi anak berinteraksi. Keluarga merupakan awal bermula terjadinya suatu proses pendidikan bagi anak sebelum dia memasuki sekolah formal. Orangtua berperan sebagai pendidik bagi anak-anaknya. Lingkungan keluarga juga dikatakan lingkungan yang paling utama, karena sebagian besar kehidupan anak di dalam keluarga, sehingga pendidikan yang paling banyak diterima anak adalah dalam keluarga.
Selama ini peran pendidikan dalam keluarga belum difungsikan secara optimal. Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan menerbitkan Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 11 Tahun 2015 tentang Direktorat Pembinaan Pendidikan Keluarga. Direktorat baru ini diharapkan mampu mendorong proses penguatan prestasi belajar siswa, pendidikan kecakapan hidup, serta pendidikan karakter dan kepribadian. Direktorat Pembinaan Pendidikan Keluarga memiliki program penanganan perilaku perundungan (bullying), pendidikan penanganan remaja, serta perilaku destruktif. Semua program tersebut diperuntukkan tak hanya untuk meningkatkan peran aktif orangtua kandung dari siswa, tapi juga wali atau orang dewasa yang bertanggung jawab dalam pendidikan anak.
Menghidupkan dan mengoptimalkan kembali peran keluarga dalam mendukung pendidikan anak adalah sesuatu hal yang wajar dan sangat rasional. Harapannya ke depan ada hubungan yang sangat sinergis antara sekolah dan keluarga dalam membina dan membimbang anak sehingga terjadi hubungan komunikasi yang memberikan dampak positif bagi prestasi belajar anak dan mutu pendidikan Indonesia. Sebagaimana kita ketahui bersama bahwa mutu pendidikan Indonesia secara umum selama ini masih belum memenuhi harapan. Berdasarkan data The Learning Curve Pearson 2014, (http://news.okezone.com/read/2014/05/13/373/984246/) sebuah lembaga pemeringkatan pendidikan dunia, memaparkan jika Indonesia menduduki posisi bontot alias akhir dalam mutu pendidikan di seluruh dunia. Indonesia menempati posisi ke-40 dengan indeks rangking dan nilai secara keseluruhan yakni minus 1,84. Sementara pada kategori kemampuan kognitif indeks rangking 2014 versus 2012, Indonesia diberi nilai -1,71. Sedangkan untuk nilai pencapaian pendidikan yang dimiliki Indonesia, diberi skor -2,11. Posisi Indonesia ini menjadikan yang terburuk. Di mana Meksiko, Brasil, Argentina, Kolombia, dan Thailand, menjadi lima negara dengan rangking terbawah yang berada di atas Indonesia.
Dunia pendidikan Indonesia selama ini masih mengalami dan menghadapi berbagai permasalahan yang kompleks. Namun demikian, berbagai permasalahan tersebut semestinya dapat diatasi dan diurai secara tuntas dan menyeluruh. Salah satu pihak yang perlu dilibatkan dan ditingkatkan kembali fungsinya dalam mendukung mutu pendidikan Indonesia adalah keluarga. Keluarga banyak berperan penting dalam menentukan mutu pendidikan, khususnya prestasi anak. Peran dan fungsi keluarga selama ini belum banyak diberdayakan secara baik dalam rangkan mendukung upaya peningkatan mutu pendidikan Indonesia. Sejumlah penelitian menunjukkan, keterlibatan orangtua yang lebih besar dalam proses belajar berdampak positif pada keberhasilan anak di sekolah. Keterlibatan orangtua juga mendukung prestasi akademik anak pada pendidikan yang lebih tinggi serta berpengaruh juga pada perkembangan emosi dan sosial anak. Orang tua, ibu khususnya karena seorang ibu yang biasanya punya banyak waktu bersama anak dirumah, bisa menjadi guru yang baik bagi anak-anaknya, jika seorang ibu mampu mengarahkan, membimbing dan mengembangkan fitrah dan potensi anak secara maksimal pada tahun-tahun pertama kelahiran anak dimana anak belum disentuh oleh lingkungan lain, dalam artian anak masih suci.
Perwujudan peran keluarga dalam mendukung pendidikan anak selama ini melalui penciptaaan lingkungan belajar yang kondusif di rumah. Kenyatan menunjukkan bahwa anak lebih banyak berada dalam lingkungan keluarga di bandingkan dengan sekolah. Kegiatan pembelajaran di sekolah mungkin hanya 5-6 jam sehari, sedangkan 18-19 jam berada di rumah. Lingkungan rumah yang kondusif sangat diperlukan agar anak dapat betah dan tenang belajar. Kehidupan keluarga yang harmonis merupakan prasyarat yang menentukan kenyamanan dan ketenangan anak belajar di rumah, terlebih jika orangtua secara langsung mendampingi dan membimbing anak dalam belajar di rumah. Pengaturan dan penjadwalan belajar di rumah harusnya disesuaikan dengan kondisi dan situasi yang mendukung anak tenang dan nyaman belajar di rumah. Dengan mengoptimalkan peran orangtua atau keluarga dalam pendidikan anak diharapkan dapat meluruskan kembali pandangan yang kurang tepat bahwa peran keluarga adalah sekunder, alias hanya menjadi pelengkap saja karena pengetahuan formal sudah mereka dapatkan di bangku sekolah.

Dalam rangka membangun sinergi yang kuat untuk mewujudkan mutu pendidikan, khususnya prestasi belajar anak, maka orangtua dan sekolah perlu membangun hubungan komunikasi yang baik. Komunikasi yang terjalin selama ini antara orangtua dan sekolah pada kenyataannya lebih bersifat satu arah dan terkesan formalitas belaka. Orangtua datang dan bertemu guru atau pihak sekolah hanya pada saat tertentu saja, seperti mengambil rapor dan ijazah anaknya, sedangkan selebihnya sangat jarang bertemu dan berkomunikasi secara langsung. Kondisi ini menyebabkan terjadi ‘miskomunikasi’ yang terkadang berdampak negatif kepada anak. Pihak orangtua dengan segala kesibukan dan aktivitasnya terkadang tidak punya waktu untuk bertemu guru di sekolah guna menanyakan bagaimana perkembangan dan prestasi belajar anaknya. Sementara itu pihak sekolah atau guru tidak mampu menemui langsung satu per satu orangtua anak dengan berbagai kendala dan masalah yang ada. Komunikasi yang baik dapat membangun semangat kerja sama di antara orangtua dan anak. Proses komunikasi juga dapat mengikis perasaan anak sebagai obyek yang menanggung beban, terutama dari tekanan dan tuntutan untuk berprestasi. Orangtua dan pihak sekolah memiliki visi dan misi yang sama dalam meningkatkan mutu pendidikan.

Views All Time
Views All Time
4088
Views Today
Views Today
1
Previous articleKELUARGA ,SEKOLAH , DAN TAYANGAN TV
Next articleNara Sumber : Editing Penting dalam Proses Menerbitkan Buku
Lahir dari keluarga petani dan sederhana di Martapura (Banjar) Kalsel, 5 Nopember 1963. Kini menjalani profesi sebagai guru sejak tahun 1988. Mata pelajaran PPKn/PKn. Saat ini (2017) bertugas di SMPN 4 Pelaihari Kab.Tanah Laut Kalsel. Mulai menulis artikel tentang pendidikan secara rutin sejak tahun 2013. Tulisan artikel banyak dikirim dan terbit pada koran lokal, Banjarmasin Post dan Radar Banjarmasin. Tahun 2015, penulis membukukan artikel-artikel yang pernah terbit pada koran lokal dalam sebuah buku "OPINI SANG GURU" (edisi pertama,2015) lalu buku " OPINI SANG GURU "Edisi Kedua (2017),dan insyaallah akan dilanjutkan dengan buku "OPINI SANG GURU" edisi ketiga ,dan seterusnya.Dalam bentuk tulisan ilmiah, penulis bersama dengan guru-guru Kalsel yang pernah mengikuiti Lomba Inovasi Pembelajaran Kemdikbud tahun 2015, 2016,dan 2017, sedang menyusun dan menerbitkan buku " INOVASI PEMBELAJARAN' ,yang akan diterbitkan dalam beberapa edisi. Setiap edisi terbit diisi oleh 5-6 guru penulis. Buku "INOVASI PEMBELAJARAN" berisi naskah karya tulis inovasi pembelajaran yang pernah masuk worshop dan finalis Lomba Inovasi Pembelajaran, rencananya akan diterbitkan pada akhir tahun 2017 untuk edisi pertama, dan awal tahun 2018 untuk edisi kedua... dan seterusnya. Penulis, bertindak sebagai koordinator pengumpulan naskah tulisan,mengedit, dan mengirimkannya ke penerbit buku di Kalsel. Semoga buku " INOVASI PEMBELAJARAN' karya guru 'Banua' untuk Indonesia akan dapat menginspirasi guru untuk membuat inovasi pembelajaran, menulis, dan membukukannya. Semoga.

LEAVE A REPLY