PERJALANAN PELAIHARI-TANJUNG 2019. Bagian 7. Membantu Acara Resepsi Perkawinan

0
14

Setelah menikmati suasana di taman kota Tanjung, Tanjung Expo  Center dan Tanjung Berseri Park,  pada Sabtu, 2 Februari 2019, maka pada sekitar pukul 20.30 WIT penulis bersama anak dan keponakan kembali rumah penginapan yang berada di Jl.Batuah, Kelurahan Mabu’un, Kecamatan Murung Pudak, Tanjung. Sesampai di rumah penginapan,  penulis bersama anak dan keponakan menuju rumah yang melaksanakan resepsi perkawinan untuk makan malam.  Tinggal kami saja yang belum makan, karena baru datang dari taman kota.

Sehabis makan malam, penulis kembali ke rumah penginapan untuk mandi dan beristihat setelah seharian melakukan perjalanan jauh dan berbagai aktivitas lainnya. Waktu saat itu sudah menunjukkan sekitar pukul 22.15 WIT, dan rasa mengantuk pun sudah mulai terasa. Beberapa penghuni rumah penginapan masih belum datang dari rumah yang melaksanakan resepsi perkawinan untuk membantu persiapan resepsi perkawinan besok, termasuk isteri dan adik ipar penulis.

Malam itu penulis tidur di ruang tengah dengan beralaskan ambal dan bantal  dari sajadah yang dilipat, dan demikian pula penghuni rumah penginapan lainnya. Sekitar pukul 04.30 WIT penulis bangun, dan selanjutnya bersiap-siap berangkat ke masjid yang didatangi saat shalat Magrib sebelumnya. Penulis menghidupkan mesin mobil dulu sekitar 5 menit, dan kemudian penulis bersama anak penulis, Muhammad Munawir Akbari berangkat ke masjid menjelang azan shalat Subuh, sekitar pukul 05.00 WIT.

Selesai melaksanakan shalat Subuh berjamaah di Masjid Muhlisin, Kelurahan Mabu’un Kecamatan Murung Pudak, Tanjung, penulis kembali ke rumah penginapan. Suasana pagi itu sepi dari lalu lalang kendaraan bermotor, hanya terlihat beberapa bus dari perusahaan tambang batubara yang antar jemput pengangkut pekerjanya. Perlu diketahui, bahwa di Kabupaten Tabalong ini banyak perubahan tambang batubara yang berskala nasional dan internasional yang beroperasi di daerah ini, sehingga di kota Tanjung dan sekitarnya banyak didapati bus-bus pengangkut pekerja perusahaan tambang batubara tersebut.

Pagi itu, Ahad, 3 Februari 2019,  kondisi cuaca di kota Tanjung dan sekitarnya  terlihat mendung.  Penulis sesampai di rumah penginapan melanjutkan berjalan ke rumah yang akan melaksanakan resepsi perkawinan untuk membantu persiapan resepsi hari ini, seperti menata meja-kursi, mengangkat makanan ke tenda makan, dan sebagainya. Sekitar pukul 06.00 WIT  dilaksanakan ‘salamatan’ agar resepsi perkawinan hari ini berjalan selamat dan lancar, yang dihadiri oleh beberapa keluarga yang pagi itu membantu persiapan resepsi perkawinan Helda dan Irfan.

Pagi itu penulis bersiap-siap untuk membantu penyambutan tamu dan undangan yang datang menghadiri resepsi perkawinan. Sekitar pukul 08.30 WIT mulai berdatangan undangan dari lingkungan sekitar, dan kemudian diteruskan undangan yang lainnya hingga semakin banyak menjelang tengah hari.  Menjelang pukul 12.30 undangan yang datang semakin sedikit. Ahmadiyanto bersama isteri dan anaknya, teman penulis dari Paringin,  juga datang di atas pukul 12.00 WIT.

Diantara undangan yang hadir, tidak sedikit undangan yang berasal dari berbagai perusahaan tambang batubara, karena ayah dan anak yang menggelar resepsi perkawinan ini merupakan karyawan sebuah perusahaan tambang batubara internasional yang beroperasi di daerah ini.  Kehadiran undangan dari perusahaan tambang batubara ini nampak terlihat dari pakaian pekerja tambang yang tetap mereka pakai untuk menghadiri undangan perkawinan ini. Mereka datang secara bergantian dan berkelompok.

Sekitar pukul 14.00 WIT undangan sudah tidak ada yang datang lagi, sehingga penulis bersama isteri dan anak-anak mohon pamit dengan orangtua dan kedua mempelai untuk bersiap-siap pulang ke Martapura dan selanjutnya menuju Pelaihari pada hari itu juga. Setelah semua barang bawaan dan keperluannya sudah dimasukkan ke mobil, maka perjalanan pulang pun dimulai. Waktu saat berangkat dari rumah penginapan di Kelurahan Mabu’un sekitar pukul 14.15 WIT, dengan kondisi cuaca cukup cerah.

###1332###

Views All Time
Views All Time
22
Views Today
Views Today
1
Previous articlePERJALANAN PELAIHARI-TANJUNG 2019. Bagian 6. Berkunjung ke Taman Kota Tanjung
Next articlePERJALANAN PELAIHARI-TANJUNG 2019. Bagian 8. Perjalanan Pulang ke Martapura
Lahir dari keluarga petani dan sederhana di Martapura (Banjar) Kalsel, 5 Nopember 1963. Kini menjalani profesi sebagai guru sejak tahun 1988. Mata pelajaran PPKn/PKn. Saat ini (2017) bertugas di SMPN 4 Pelaihari Kab.Tanah Laut Kalsel. Mulai menulis artikel tentang pendidikan secara rutin sejak tahun 2013. Tulisan artikel banyak dikirim dan terbit pada koran lokal, Banjarmasin Post dan Radar Banjarmasin. Tahun 2015, penulis membukukan artikel-artikel yang pernah terbit pada koran lokal dalam sebuah buku "OPINI SANG GURU" (edisi pertama,2015) lalu buku " OPINI SANG GURU "Edisi Kedua (2017),dan insyaallah akan dilanjutkan dengan buku "OPINI SANG GURU" edisi ketiga ,dan seterusnya.Dalam bentuk tulisan ilmiah, penulis bersama dengan guru-guru Kalsel yang pernah mengikuiti Lomba Inovasi Pembelajaran Kemdikbud tahun 2015, 2016,dan 2017, sedang menyusun dan menerbitkan buku " INOVASI PEMBELAJARAN' ,yang akan diterbitkan dalam beberapa edisi. Setiap edisi terbit diisi oleh 5-6 guru penulis. Buku "INOVASI PEMBELAJARAN" berisi naskah karya tulis inovasi pembelajaran yang pernah masuk worshop dan finalis Lomba Inovasi Pembelajaran, rencananya akan diterbitkan pada akhir tahun 2017 untuk edisi pertama, dan awal tahun 2018 untuk edisi kedua... dan seterusnya. Penulis, bertindak sebagai koordinator pengumpulan naskah tulisan,mengedit, dan mengirimkannya ke penerbit buku di Kalsel. Semoga buku " INOVASI PEMBELAJARAN' karya guru 'Banua' untuk Indonesia akan dapat menginspirasi guru untuk membuat inovasi pembelajaran, menulis, dan membukukannya. Semoga.

LEAVE A REPLY