PERLUKAH FANATISME DALAM MENULIS??

1
16

Setiap penulis akan merasa sangat senang bila tulisanya dibaca orang. Entah itu orang dekat yang sudah akrab dengan kita maupun oleh orang yang sama sekali belum pernah kita kenal sebelumnya. Aapalagi kalau tulisan kita mendapatkan apresiasi baik berupa komentar yang menyenangkan yang berwujud pujian maupun komentar minor yang berupa kritikan.

Saya pun juga merasakan hal sama seperti mereka karena saya juga manusia. Rasa senang dan bangga itu selalu tersembul dilubuk hati saya. Dan yang lebih asik lagi kalau dari tulisan yang saya posting mendapatkan pertanyaan yang membutuhkan penjelasan. Karena apresiasi semacam itu akan memudahkan kita untuk menulis. Dengan kata lain, pertanyaan tersebut secara langsung telah memberikan ide yang sangat cair. Penuliisannya pun menjadi sangat gampang.

Kejadian semacam ini seringkali saya dapati. Kemarin saya mendapatkan dua macam apresiasi sekaligus dari dua orang ibu guru yang berbeda latar belakangnya. Yang  pertama, rekan guru KKG guru kelas IV telah menulis komentarnya yang mengatakan “saya merasa senang dan ngefan dengan tulisan bapak”. Tentu apresiasi ini membuat hati saya bwerbunga-bunga.  Dan efek dari pernyataan tersebut saya harus bertanggung jawab untuk meningkatkan tuilsan saya baik secara kuantitas maupun kualitasnya secara bersamaan. Tapi tidak masalah karena semangat yang ditimbulkan dari komentar tersebut masih sangat mencukupi.

Sedangkan apresiasi berupa pertanyaan  dari rekan guru penulis yang terdapat di kabupaten yang sama. Kebetulan ibu yang kedua ini berlatar belakang akademik pendidikan kepustakaan dan bertugas sebagai tenaga kepustakaan di salah satu SD di kecamatan Rejotangan Tulungagung. Dari ibu ini saya mendapatkan pertanyaan “mengapa pak, kok tulisannya tidak diposting lewat … agar bisa disharing di group wa kita?”.

Maka dari pertanyaan tersebut terlahirlah tulisan ini sebagai balasannya. Dan tentu saja proses penulisannya terasa sangat mudah. Seperti halnya kita menjelaskan sesuatu yang sangat kita tahu dan pahami kepada si penanya. Ya kita tinggal menjawab dengan argumentasi yang melatari mengapa saya melakukan hal tersebut (sesuatu yang ditanyakan tadi).

Saya pun membalas pertanyaan ibu tadi dengan sebuah penjelasan yang merupakan argument yang saya anggap sebagi pembenar  dari keputusan yang telah saya ambil. Dalam kesempatan tersebut saya menyampaikan tiga items sebagai jawaban pertanyaan tadi, yaitu:

Pertama, Santai sajalah bu,  kita itu bisa nulis dimana saja. Baik itu di surat kabar, majalah, blog, fb, wa atau apapun, yang penting tulisan kita bisa dibaca banyak orang. Dan berarti kita bisa berbagi ilmu atau pengalaman dengan banyak orang. Disini terbuka seluas-luasnya lading pahala yang bisa kita buka dan tanami.

Kedua, dengan menulis diberbagai tempat atau media, kita akan memperoleh banyak teman. Dan dengan banyak teman kita bisa melakukan tukar pengalaman sehingga wawasan kita menjadi semakin lua. Dan jangan lupa, di dalam agama juga diajarkan untuk menjaga silaturrahiim karena banyak keberkahan dicurahkan lewat jalinan komunikasi semacam itu.

Dan yang ketiga, dengan menulis diberbagai media kita bisa membranding diri kita, dan seandainya kita bisa nerbitin buku akan sangat bermanfaat membantu pemasaranya. Ya karena sudah banyak yang kenal dan tahu dengan kualitas tulisan kita.

Jadi dari uraian diatas rasa fanatisme dalam kepenulisan  perlu dibenahi. Seperti halnya kalau kita ingin berobat, kalau tidak ke dokter si A pasti tidak sembuh karena obatnya palsu. Atau kalau kita tidak kuliah disana pasti tidak akan sukses. Mungkin dengan pertimbangan semacam itu lah saya melakukan hal ini. semoga bermanfaat dan menginspirasi bagi kita semua untuk terus berkarya tulis mumpung kita masih hidup, sehat dan memiliki kesempatan. Yang jelas tulislah sesuatu yang baik dengan cara yang baik agar membuahkan sesuatu yang baik pula. Aamiin.

Views All Time
Views All Time
32
Views Today
Views Today
1

1 COMMENT

LEAVE A REPLY