Pelaksanaan kegiatan pengembangan diri guru berupa kegiatan kolektif guru mata pelajaran bahasa Indonesia rutin dilaksanakan setiap 2 minggu sekali. Kegiatan ini bertujuan agar guru mata pelajaran bahasa Indonesia di Kabupaten Tanah Laut dapat saling berkomunikasi, berkolaborasi, dan berbagi terhadap masalah atau kendala yang dihadapi di kelas atau pun perkembangan kemajuan pembelajaran. Meskipun letak geografis unit kerja peserta masing-masing berbeda-beda, hal ini tidak akan menyurutkan niat untuk mengikutinya.

Tepatnya di penghujung bulan Februari pada Kamis, 28 Februari 2019. Bertempat di UPTD SMP Negeri 2 Pelaihari, pada ruang Keterampilan,  telah dilaksanakan kegiatan kolektif guru mata pelajaran bahasa Indonesia. Kegiatan kali ini menyajikan topik Ice Breaker atau pemecah suasana dalam pembelajaran. Kegiatan ini dihadiri 49 peserta dari SMP/MTs se-Kabupaten Tanah Laut. Berdasarkan hasil pengamatan penulis, peserta sangat antusias mengikuti seluruh arahan dari pemandu kegiatan.

Kegiatan dimulai pukul 09.30 Wita dengan pengantar pembuka oleh Mahyudin, S.Pd., selaku wakil ketua MGMP. Dalam pengantar awalnya, beliau menyampaikan betapa pentingnya mengelola kelas. Pada saat kelas mengalami kebekuan maka perlu adanya upaya pemecah suasana atau “ice breaker”. Hal ini dilakukan agar suasana kelas menjadi hidup, aktif, dan produktif. Apalagi disisipkan pada kegiatan pembelajaran. Terutama pada jam pelajaran akhir sekolah.

Seusai pengantar awal, pendamping kegiatan,  Suhartoko, S.Pd, guru bahasa Indonesia UPTD SMP Negeri 3 pelaihari memulai aksinya. Beliau memulai dengan pengantar awal berkaitan tentang ice breaker. Berikut pemaparannya:

  1. Ice breaker adalah proses kegiatan peralihan situasi dari kondisi yang menjenuhkan, membosankan, menegangkan serta lainnya menjadi kondisi yang santai dan nyaman, dengan tujuan agar perhatian kembali tertuju pada materi yang diajarkan.
  2. Ice breaker akan menjadi sebuah hal yang menarik saat penerima ice breaking tidak mengetahui alur dari ice breaker Singkatnya ice breaking yang diberikan merupakan hal baru bagi para peserta ice breaking. Jika, penerima atau peserta ice breaker mengetahui alur ice breaker yang akan diberikan, maka ice breaker akan menjadi kurang segar saat diberikan dan tidak menimbulkan efek menghibur yang signifikan.
  3. Macam-macam Ice Breaker yang Sering Dilakukan

Ice breaker atau kegiatan hiburan memiliki jenis yang bermacam-macam dan dapat dilakukan dengan kondisi yang berbeda-beda pula. Secara umum kegiatan ice breaker dapat dilakukan dengan berbagai macam cara, antara lain: Permainan, yel-yel, bernyanyi, senam, bercerita, tepuk tangan, tebak-tebakan

  1. Keterkaitan Antara Ice Breaker Terhadap Pembelajaran

Ice Breaker sangat diperlukan dalam proses pembelajaran karena ice breaker berperan sebagai pemberi energi tambahan. Memanfaatkan ice breaker sebagai selingan akan meningkatkan fokus pelajaran dari peserta didik. Peserta didik yang jenuh memikirkan pelajaran akan merasa diberi sebuah ruang untuk sejenak berpikir ringan (melupakan sebentar pelajaran yang sedang diajarkan).

Hal seperti ini tentunya akan memberikan dampak yang positif bagi peserta didik. Mengapa demikian? Karena pesrta didik akan dibawa ke dalam sebuah pemikiran yang tidak mereka terka-terka sebelumnya. Pemberian ice breaker akan menjadi sebuah hal yang baru dan segar bagi peserta didik. Namun, jika ice breaker yang diberikan merupakan produk lama maka akan menjadikan hal yang membosankan. Karena sudah tentu bisa menerka hal yang akan terjadi selama ice breaker atau alur ice breaker tersebut sudah dibaca di awal sehingga menjadi tidak menarik.

  1. Bagaimana Cara Guru Memberikan Ice Breaker?

Kita akan berfokus pada ice breaker yang diberikan oleh guru. Sebenarnya kalau kita melihat di sekolah banyak sekali guru yang melakukan ice breaker dengan atau tanpa mereka sadari. Guru akan memberikan selingan ditengah-tengah kegiatan pembelajaran agar peserta didiknya kembali fokus kepada materi yang diajarkan.

Pendidik tentunya tidak menutup mata dan telinga mereka rapat-rapat, mereka tentu tahu bahwa kemampuan menyimak dan fokus peserta didiknya memiliki ketahanan yang terbatas. Artinya jika ambang batas ke kuatan mereka menyimak sudah selesai maka materi yang diberikan pun akan terbuang sia-sia dan siswa cenderung untuk tidak mampu menerima pelajaran lebih lanjut (berubah menjadi jenuh).

Pemberian ice breaker paling tepat diberikan pada waktu yang kritis, yaitu saat kondisi siswa mengalami kelelahan dan kejenuhan yang sangat tinggi. Kondisi ini terjadi biasanya saat mereka menerima pembelajaran yang sangat berat atau materi yang sulit, pelajaran pada waktu siang hari (mendekati pulang sekolah) dan kondisi lainnya. Kondisi-kondisi kritis seperti ini paling tepat untuk dihadirkan ice breaking.

  1. Siapa Saja yang Perlu Diberi Ice Breaker?

Bukan hanya anak kecil yang perlu diberikan ice breaking tetapi orang dewasa pun memerlukan ice breaker. Kondisi ini biasanya terjadi saat melakukan kegiatan pelatihan yang memakan waktu berhari-hari dan berjam-jam duduk untuk mendengarkan pemateri. Kondisi seperti ini wajib diselingi dengan kegiatan ice breaking untuk mengusir kantuk dan menambah fokus yang telah menurun akibat kegiatan monoton dalam waktu lama.

Selain dalam pertemuan resmi, ice breaking juga bisa diberikan saat kegiatan gotong royong, gunanya untuk menambah semangat saat melakukan kegiatan kerja bakti atau pun lainnya. Pemberian ice breaker dalam kegiatan diluar ruangan tentunya berbeda dengan pemberian ice breaking pada saat kegiatan didalam ruangan. Kegiatan ice breaker diluar ruangan umumnya dilakukan dengan bercanda, bernyanyi bersama atau pun tebak-tebakan, semua tindakan tersebut dapat dilakukan secara spontan.

Setelah memaparkan teori secara singkat, Bapak Suhartoko memulai praktik dan mengarahkan peserta untuk mengikuti simulasi ice breaker yang akan dipandunya. Dimulai dengan menggunakan tepuk konsentrasi, dengan beberapa tepukan tangan, untuk memeriksa kesiapan peserta simulasi. Tepukan satu kali, dua kali, dan tiga kali. Kemudian beliau juga memperkenalkan tepuk karakter, yang berisi religius, nasionalis, mandiri, gotong royong, dan integritas. Kegiatan tersebut dilakukan sebanyak 2 kali simulasi kepada peserta. Setelah peserta mulai berkosentrasi, Suhartoko, pemandu kegiatan, membagi kelompok peserta laki-laki dan perempuan dengan urutan ukuran sepatu dari yang terkecil. Setelah kelompok terbentuk, peserta kelompok laki-laki dan perempuan yang terpisah agar saling berhadapan.

Ice breaker yang pertama, beliau meminta peserta untuk berhitung dengan kelipatan 4 dan peserta ke-5 bertepuk tangan, kemudian kelipatan 8 dan peserta ke-9 bertepuk tangan. Setelah peserta berkonsentrasi, mereka diajak untuk berhitung dengan kelipatan 3, peserta ke-4 menyebutkan kata benda. Hal itu dilakukan kepada semua peserta. Berikut langkah-langkahnya:

  1. Peserta membentuk lingkaran dengan pemandu berada di tengahnya.
  2. Pemandu menjelaskan aturan main yaitu setiap hitungan kelipatan 2, maka peserta dilarang menyebutkan kelipatan itu dan diwajibkan menggantinya dengan menyebutkan bertepuk tangan
  3. Pemandu dapat mengubah permainan menjadi tiap kelipatan dua peserta harus menyebutkan nama peserta lain, lalu peserta yang namanya disebut harus melanjutkan hitungan.
  4. Trainer dapat mempersulit permainan dengan melarang peserta menyebutkan kelipatan 3, 2, 4. Ketika kelipatan tiga peserta harus bertepuk tangan, tiba di kelipatan 2 peserta harus menyebut door, tiba di kelipatan 4 peserta harus berdiri.
  5. Peserta yang salah dianggap gugur atau keluar permainan.

Ice breaker yang kedua, menggunakan simbol gerakan “gajah dan semut”. Apabila pemandu mengucap kata gajah, maka peserta menggerakan tangan membuka melingkar di depan dengan ekspresi berkata, “besar.” Apabila pemandu mengucap kata semut, maka peserta menggerakan tangan menunjukan jari kelingking dengan ekspresi berkata, “kecil”. Kemudian langkah tersebut ditukar cara pengekspresiannya. Apabila pemandu mengucap kata gajah, peserta menggerakkan tangan menunjukan jari kelingkingnya dengan mengucap kata, “besar”. Begitu juga kata semut, peserta diminta menunjukan gerakan tangan melingkar di depan dengan kata, “kecil”. Berikut langkah-langkahnya:

  1. Pemandu berbaris dengan mengatur jarak antarpeserta.
  2. Pemandu mencotohkan kata gajah dengan ekspresi tangan melingkar di depan menyebut kata “besar”, dan kata semut dengan ekspresi gerakan menunjukan jari kelingkingnya dengan kata, “kecil”.
  3. Peserta diminta mengekspresikan pengucapan kata gajah dan semut diikuti gerakan,
  4. Kemudian, ekspresi gerakan tersebut ditukar atau berkebalikan.
  5. Gajah = besar, dengan ekspresi menujukan jari kelingking,
  6. Semut = kecil, dengan ekspresi menujukan tangan melingkar.

Ice breaker yang ketiga, melempar bola antarpeserta. Pertama bola dilempar oleh pemandu. Peserta yang menangkap bola diminta utuk menyebutan 1 kata benda. Setelah menyebutkan kata tersebut, bola dilempar ke peserta lain. Peserta yang menerima bola dimita untuk menyebutkan kata berdasarkan huruf terakhir dari kata pelempar sebelumnya. Begitu juga seterusnya. Berikut langkah-langkahnya:

  1. Peserta membuat sebuah lingkaran.
  2. Masing-masing peserta hanya dapat menyebutkan satu kata.
  3. Pemandu menyebutkan satu kata lalu peserta yang ditunjuk pemandu harus melanjutkan kata yang disebut. Rangkaian kata itu haruslah masuk akal atau logis.
  4. Setelah menyebut rangkaian kata, peserta selanjutnya menyambung kata terakhir yang disebutkan peserta sebelumnya.
  5. Contohnya: andi, andi sehat, sehat itu harus, harus mandi, dan seterusnya
  6. Jika rangkaian kata yang disebutkan tidak masuk akal, maka peserta harus keluar dari permainan dan diberi hukuman.

Ice breaker yang keempat, menyebutkan nama hewan berdasarkan ukuran. Pertama, pemandu memberikan nama hewan, kemudian melempar bola kepada peserta. Kata pertama yang pemandu ucapkan misalnya harimau, maka peserta menyebutkan nama hewan yang berawalan huruf u. adapun langkah-langkanya sebagai berikut;

  1. Peserta membentuk lingkaran
  2. Pemandu berada di dalam lingkaran yang dibuat peserta
  3. Pemandu meminta peserta untuk menyebutkan nama objek, misal nama hewan yang sesuai dengan huruf akhiran dari yang disebutkan trainer. Misal Pemandu menyebutkan harimau,maka peserta yang ditunjuk pemandu harus menyebutkan nama hewan yang sesuai dengan huruf akhir hariamau yaitu “U” berarti udang.
  4. Peserta yang menyebutkan kata setelah pemandu lalu berhak menunjuk perserta lainnya untuk menjawab nama hewan yang sesuai dengan huruf akhir udang. Sampai seterusnya
  5. Peserta yang salah dianggap gugur dalam permainan.

Ice breaker yang kelima, menggunakan jika dan maka. Pemandu meminta peserta untuk berpasangan kelompok. Satu peserta menulis kata “jika”, dan pasangannya menulis kata “maka”. Adapun langkah-langkahnya sebagai berikut:

  1. Peserta dibagi menjadi dua kelompok
  2. Peserta menyiapkan kertas dan pena
  3. Satu kelompok dinamai jika dan bertugas menuliskan kalimat yang diawali kata jika, kelompok lain dinamai maka dan ditugaskan menulis kalimat yang diawali dengan kata maka.
  4. Trainer memerintahkan tiap kelompok untuk menuliskan kalimat yang diawali dnegan kata jika maka sebanyak 4 kali.
  5. Setelah selesai, tiap kelompok mengutus satu peserta untuk membacakan kalimat yang telah dibuat
  6. Tulisan dibaca bergiliran antarpeserta tulisan “jika” dan “maka”.
  7. Setelah kelompok jika membacakan satu kalimatnya maka kelompok maka harus segera menyambung kalimatnya dengan apa yang sudah ditulis bersama
  8. Maka biasanya akan terjadi kerancuan yang lucu seperti “jika saya menjadi sastrawan hebat, maka Ahmad belum mandi”.

Ice breaker yang keenam, rumus BB (benar-benar) BS (benar-salah) diikuti gerakan. Pemandu meminta peserta untuk berbaris berdasarkan kelompok. Peserta diminta untuk mengikuti arahan, pertama peserta diminta untuk berlompat maju apabila pemandu mengucapkan maju, dan maju untuk rumus BB. Sedangkan maju-mundur untuk rumus BS, maka peserta berlompat maju-maju. Adapun langkah-langkahnya sebagai berikut:

  1. Pemandu menerangkan tentang aturan main benar salah (BS).
  2. Peserta diharapakan berbaris rapi menghadap trainer
  3. Jika pemandu mengatakan mundur-maju, maka tiap peserta harus mundur-mundur (diucapkan dnegan keras) karena rumusnya benar salah.
  4. Pemandu dapat mengganti rumusnya menjadi salah-benar atau benar-benar-salah-salah
  5. Peserta yang salah diharuskan mundur dari permainan hingga menyidakan satu pemain yang bertahan.

Ice breaker yang ketujuh, harimau memakan harimau. Pemandu meminta peserta kelompok untuk membetuk lingkaran untuk mendengarkan cerita yang memuat kata harimau. Berikut langkah-langkahnya:

  1. Pemandu memerintahkan peserta untuk membentuk sebuah lingkaran.
  2. Kedua telapak tangan peserta diangkat setinggi bahu. Tangan kanan dibuka lebar, sedangkan tangan kiri diletakkan di atas tangan kanan teman sebelahnya.
  3. Peserta harus secepat mungkin menghindar dari tangkapan tangan disebelahnya ketika pemandu menyebutkan kata harimau saat sedang bercerita
  4. Peserta yang jarinya tertangkap oleh peserta lain diharuskan mundur dari permainan.

 

Ice breaker yang kedelapan, mengulang petujuk. Pemandu meminta peserta untuk memerhatikan penjelasan. Pemandu mengguakan “jari jempol” untuk menyebut “saya”,  “jari telunjuk” untuk menyebut “kamu”, “jari tengah” untuk menyebut “dia”, “jari manis” untuk menyebut “kami”, dan “jari kelingking” untuk menyebut “kalian”. Ada pun langkah-lagkahnya sebagai berikut:

  1. Pemandu menjelaskan aturan permainan.
  2. Pemandu menjelaskan jika jempol adalah saya, telunjuk itu kamu, tengah itu dia, manis itu kami, dan kelingking itu kalian.
  3. Jika pemandu mengangkat telunjuk, maka pseserta harus menjawab kamu. Jika pemandu mengangkat jempol dan kelingking, maka peserta harus menjawab saya dan kalian.
  4. Biasanya peserta akan lambat merespon pertanyaannya.

Ice breaker yang kesembilan, ikuti apa yang didengar. Pemandu meminta peserta agar mengikuti apa yang dikatakannya. Peserta harus benar-benar berkonsentrasi. Ada pun langkah-langkahnya sebagai berikut:

  1. Pemandu menerangkan tentang aturan permainan.
  2. Peserta diharuskan mengikuti apa yang dikatak oleh pemandu.
  3. Contoh “bebek, bebek, rusa, bebek, rusa, bebek” lalu peserta mengikutnya
  4. Kemudian, pemandu bertanya, “berapa jumlah bebek?’
  5. Jika peserta kebingungan dan tidak ingat, pemandu dapat mengulang apa yang ia katakan

Tak terasa, waktu sudah menujukan pukul 12.00 Wita. Setelah melakukan simulasi yang begitu menguras tenaga. Hal ini terlihat peserta begitu antusias mengikutinya. Pemandu kemudian mengadakan refleksi. Satu orang peserta, Hj. Nikmah, S.Pd., Guru UPTD SMP Negeri 1 Pelaihari menyatakan begitu berkesannya terhadap simulasi yang disampaikan oleh pemandu dan kelak akan dilaksanakannya di kelas nanti. Kemudian satu orang lagi bertanya, Istri Sakti Handayani, Guru MTs. Negeri 2 Tanah Laut, dengan pertanyaan kapan waktu yang tepat untuk menyisipkan ice breaker pada pembelajaran? Kemudian pemandu memberikan penjelasan waktu yang tepat pada pembelajaran, yakni pada saat awal pembelajaran dan tengah pembelajaran (jeda).

Tepat pukul 12.45 Wita, pemandu kemudian memberikan penjelasan sisipan tentang pengajaran quantum atau quantum teaching dengan strategi “TANDUR”, yakni Tanyakan, Alami, Namai, Demonstrasikan, Ulangi, dan Rayakan. Strategi tersebut sekilas dipaparkan untuk pembelajaran mengidentifikasi struktur teks deskripsi pada kelas VII semester 1. Hal ini terlihat ketika pemandu menyimulasikan kepada peserta untuk mengidentifikasi struktur teks deskripsi pada media papan tulis.

Pukul 13.00 Wita, kegiatan MGMP selesai dan ditutup oleh Ketua MGMP, semua peserta pulang membawa bekal pengalaman mengenai ice breaker. Harapan Ketua MGMP bahwa apa yang telah disimulasikan, dibagi, dan dikolaborasikan oleh pemandu hendaknya diterapkan di sekolah kelak. Sehingga memberikan pengalaman bagi peserta didik dalam mengolah kinestesis dan rangsangan kesesimbangan otak kiri dan otak kanan. Ice breaker tidak hanya sebatas dalam kelas saja tetapi juga dapat dilakukan pada kegiatan di luar kelas. Ice breaker dapat dilakukan pada saat kegiatan mancakrida atau outbond. Semoga dengan adanya ice breaker dapat menjadi alternatif dalam mengatur pengelolaan kelas.

#catatan guru yang selalu mendambakan siswa kreatif, guru inovatif!

Pelaihari, 28 Februari 2019

Views All Time
Views All Time
137
Views Today
Views Today
1

1 COMMENT

LEAVE A REPLY