PESAN MORAL KARTINI BAGI KELUARGA INDONESIA (2)

0
501

Dari konsultasi Syariah dalam artikel bagian 1 sebelumnya, jelaslah bahwa hanya karena segelintir pemahaman yang tidak benar dalam mengambil hikmah pelajaran dari perjuangan RA. Kartini. Ternyata tidak ada literature yang jelas dan lengkap yang menyatakan bahwa perayaan Kartini harus diidentifikasikan dengan cara berpakaian, kesamaan gender, emansipasi wanita dan sebagainya itu.
Selanjutnya artikel tentang pembahasan Fase kehidupan ke-dua dari ibu kita Kartini juga dikupas secara tuntas dalam buku Artawijaya berikut, lengkap dengan referensi pendukungnya.
Dalam buku ini diceritakan secara gamblang bahwa di akhir penghujung hayatnya RA. Kartini justru mengalami perubahan pola pikir yang sangat dratis, dari pemikiran-pemikiran yang dipengaruhi oleh budaya Barat, (Belanda) dalam fase kegelapan menuju cahaya Keislaman yang memberi pengaruh besar terhadap pandangannya pada keluarga Indonesia.
Sejatinya bahwa, seorang wanita sebaiknya berperan besar dalam keluarga, mendidik anak dengan jiwa raganya dan ikhlas mengabdi kepada suami. Semua tertuang dalam tulisan-tulisannya yang begitu menyentuh. “Kami di sini memohon diusahakan pengajaran dan pendidikan anak perempuan, bukan sekali-kali karena kami menginginkan anak-anak perempuan itu menjadi saingan laki-laki dalam perjuangan hidupnya. Tapi karena kami yakin pengaruhnya yang besar sekali bagi kaum wanita, agar wanita lebih cakap melakukan kewajibannya, kewajiban yang diserahkan alam sendiri ke dalam tangannya: Menjadi Ibu, pendidik manusia yang pertama-tama.” Ra. Kartini [Kepada Prof. Anton dan Nyonya, 4 Okt 1902]

Menjadi ibu, seorang ibu yang seutuhnya. Mendidik anak-anak sebagai tiang utama sebagaimana Rasulullah mencontohkan dalam kehidupan keluarganya. Bukannya malah menjadi wanita, yang jarang berada di rumah sebagaimana yang dianut oleh kaum wanita di Indonesia saat ini. Memberikan pengasuhan sang buah hati di masa-masa emas kehidupannya kepada seorang pengasuh yang bahkan tidak memiliki ilmu dalam mendidik. Demikianlah kesalah pahaman yang masih saja terjadi di kalangan keluarga Indonesia. Semoga kita bisa memilih mana jalan yang terbaik menurut Allah azza wa Jalla dan Rasul-Nya. Semuanya sudah ditakdirkan sesuai kodratnya, inshaAllah Allah lebih mengetahui mana yang terbaik bagi kehidupan hamba-Nya, baik di dunia maupun di akhirat.
Walaupun pada awalnya, ia kecewa dengan system tradisional masyarakat pada kala itu. Mengajarkan tentang Islam dan Al Qur’an, namun tidak mengerti makna maupun artinya karena situasi dan kondisi saat itu bahwa Belanda melarang masyarakat Indonesia untuk lebih mempelajari Al Qur’an secara luas dan dalam hingga mengetahui maknanya.
Berikut penjelasan lebih lanjut tentang fase kehidupan Kartini dalam perjalanannya menemukan hidayah dan cahaya keislaman.

FASE KEDUA DALAM KEHIDUPAN RA. KARTINI

Dalam hal ini penulis buku ini jelas mengupas secara tuntas tentang sejarah tulisan-tulisan Kartini. Awal tulisannya merupakan Fase pertama kehidupannya (Masa Kegelapan), dan berikutnya Fase kedua dalam Kehidupan RA. Kartini. Lebih daripada itu beliau juga mengulas beberapa perkara dimasa akhir hidup kartini, yang hampir tidak di ketahui oleh banyak kalangan.

BERTEMU KYAI SHALEH DARAT

Selain faktor teman buruk di awal fase kehidupannya, kaum muslim di sekeliling Kartini juga punya pemahaman yang salah terhadap Islam. Mereka mengajarkan Islam tanpa memahamkan apa yang diajarkan. Coba kita simak surat Kartini kepada Stella …berikut ini. :
“Bagaimana aku dapat mencintai agamaku kalau aku tidak mengerti dan tidak boleh memahaminya. Al Qur’an terlalu suci, tidak boleh diterjemahkan ke dalam bahasa apapun. Di sini tidak ada yang mengerti bahasa Arab. Orang-orang di sini belajar membaca Al Qur’an tapi tidak mengerti apa yang dibacanya. Kupikir, pekerjaan orang gilakah, orang diajar membaca tapi tidak mengerti apa yg dibacanya.” [Surat kepada Stella, 6 Nov 1899]. .

Perlu diketahui, pada waktu pemerintahan Hindia Belanda, umat muslim memang dibolehkan mengajarkan Al-Qur’an dengan syarat tidak diterjemahkan alias hanya belajar baca huruf arab saja (pengaruh ini masih dapat kita jumpai saat ini, di mana belajar Al-Quran dianggap selesai ketika telah mampu membaca Al-Quran dengan lancar sampai akhir, walaupun tidak paham maknanya –khataman-). Dan ini memang taktik Belanda agar orang-orang Indonesia tidak paham terhadap Al-quran dan akhirnya mereka tidak akan angkat senjata kepada penjajah kafir belanda. .
Suatu ketika, Kartini berkunjung ke rumah pamannya, seorang Bupati Demak. Saat itu sedang berlangsung pengajian bulanan khusus untuk anggota keluarga. Kartini ikut mendengarkan pengajian bersama wanita lain dari balik tabir.
Kartini tertarik kepada materi yang sedang diberikan, tafsir Al Fatihah, oleh Kyai Shaleh Darat. Setelah selesai pengajian, Kartini mendesak pamannya agar bersedia untuk menemaninya menemui Kyai Shaleh Darat. “Kyai, perkenankanlah saya menanyakan, bagaimana hukumnya apabila seorang yang berilmu, namun menyembunyikan ilmunya?“ Pertanyaan ini diajukan Kartini kepada Kyai Haji Muhammad Sholeh bin Umar, atau lebih dikenal dengan Kyai Sholeh Darat, ketika berkunjung ke rumah pamannya Pangeran Ario Hadiningrat, Bupati Demak. Waktu itu sedang berlangsung pengajian bulanan khusus untuk anggota keluarga dan Kartini ikut mendengarkan bersama para raden ayu lainnya dari balik tabir. Karena tertarik pada materi pengajian tentang tafsir Al-Fatihah, setelah selesai Kartini mendesak pamannya agar bersedia menemaninya untuk menemui Kyai tersebut. Tertegun mendengar pertanyaan Kartini, Kyai balik bertanya, “Mengapa Raden Ajeng bertanya demikian?“
“Kyai, selama hidupku baru kali inilah aku sempat mengerti makna dan arti surat pertama (Al-Fatihah), dan induk Al-Quran yang isinya begitu indah menggetarkan sanubariku. Maka bukan buatan rasa syukur hati aku kepada Allah, namun aku heran tak habis-habisnya, mengapa selama ini para ulama kita melarang keras penerjemahan dan penafsiran Al-Quran dalam bahasa Jawa. Bukankah Al-Quran itu justru kitab pimpinan hidup bahagia dan sejahtera bagi manusia?“
Ibu Kartini muda yang di kala itu belajar Islam dari seorang guru mengaji, memang telah lama merasa tidak puas dengan cara mengajar guru itu karena bersifat dogmatis dan indoktrinatif. Walaupun kakeknya Kyai Haji Madirono dan neneknya Nyai Haji Aminah dari garis ibunya, M. A. Ngasirah adalah pasangan guru agama, Kartini merasa belum bisa mencintai agamanya. Betapa tidak? Beliau hanya diajar bagaimana membaca dan menghapal Al-Qurâ’an dan cara melakukan shalat, tapi tidak diajarkan terjemahan, apalagi tafsirnya. Pada waktu itu penjajah Belanda memang memperbolehkan orang mempelajari Al-Qurâ’an asal jangan diterjemahkan. Kartini menceritakan bahwa selama hidupnya baru kali itulah dia sempat mengerti makna dan arti surat Al-Fatihah, yang isinya begitu indah menggetarkan hati. Kemudian atas permintaan Kartini, Kyai Shaleh diminta menerjemahkan Al Qur’an dalam bahasa Jawa di dalam sebuah buku berjudul Faidhur Rahman Fit Tafsiril Quran jilid pertama yang terdiri dari 13 juz, mulai surat Al Fatihah hingga surat Ibrahim.
Buku itu dihadiahkan kepada Kartini saat dia (Kartini) menikah dengan R. M. Joyodiningrat, Bupati Rembang. Kyai Shaleh meninggal saat baru menerjemahkan jilid pertama tersebut. Namun, hal ini sudah cukup membuka pikiran Kartini dalam mengenal Islam.
Tahukah anda? Sebenarnya ungkapan “Habis Gelap Terbitlah Terang” itu sebenarnya ditemukan Kartini dalam surat Al Baqarah ayat 257, yaitu firman Allah“ …minazh-zhulumaati ilan-nuur” yang artinya “ dari kegelapan-kegelapan (kekufuran) menuju cahaya (Islam)”
Oleh Kartini diungkapkan dalam bahasa Belanda “Door Duisternis Tot Licht”. Dan kemudian, oleh Armien pane yang menerjemahkan kumpulan surat-surat Kartini diungkapkan menjadi “Habis Gelap Terbitlah Terang”. .

KARTINI KEMUDIAN

Kartini yang mulai mengenal Islam pun berubah. Pandangannya terhadap Islam menjadi positif. .
“Moga-moga kami mendapat rahmat, dapat bekerja membuat umat agama lain memandang agama Islam patut disukai.” [Surat kepada Ny. Van Ko…l, 21 Juli 1902]. .
Kartini kemudian merumuskan arti pentingnya pendidikan untuk wanita, bukan untuk menyaingi kaum laki-laki seperti yang diyakini oleh pejuang feminisme dan emansipasi saat ini (sebenarnya lebih cocok disebut sebagai westernisasi), namun agar para wanita lebih cakap menjalankan kewajibannya sebagai Ibu. Kartini menulis dalam suratnya:
“Kami di sini memohon diusahakan pengajaran dan pendidikan anak perempuan, bukan sekali-kali karena kami menginginkan anak-anak perempuan itu menjadi saingan laki-laki dalam perjuangan hidupnya. Tapi karena kami yakin pengaruhnya yang besar sekali bagi kaum wanita, agar wanita lebih cakap melakukan kewajibannya, kewajiban yang diserahkan alam sendiri ke dalam tangannya: Menjadi Ibu, pendidik manusia yang pertama-tama.” [Kepada Prof. Anton dan Nyonya, 4 Okt 1902]. .

Dan tidak hanya itu, pandangannya terhadap Barat pun berubah. Kartini menulis. :

“Dan saya menjawab, “Tidak ada Tuhan kecuali Allah. Kami mengatakan bahwa kami beriman kepada Allah dan kami tetap beriman kepada-Nya. Kami ingin mengabdi kepada Allah dan bukan kepada manusia. Jika sebaliknya, tentulah kami sudah memuja orang dan bukan Allah.” [Kepada Ny. Abendanon, 12 Okt 1902]. .

“Sudah lewat masanya, tadinya kami mengira bahwa masyarakat Eropa itu benar-benar satu-satunya yang paling baik, tiada taranya. Maafkan kami, tetapi apakah Ibu sendiri menganggap masyarakat Eropa itu sempurna? Dapatkah Ibu menyangkal bahwa di balik hal yang indah dalam masyarakat Ibu, terdapat banyak hal-hal yang sama sekali tidak patut disebut sebagai peradaban?” [Surat kepada Ny. Abendanon, 27 Okt 1902].
Dalam tulisannya Kartini justru menyatakan bahwa masyarakat Eropa yang selama ini selalu disanjung dengan keindahan gaya hidupnya sebagaimana yang diceritakan oleh Nyonya Abendanon kepada Kartini bukanlah sebuah peradaban. Ketika awal pengetahuan beliau tentang Barat akhirnya berubah secara dratis sesuai dengan pemahamannya yang semakin baik terhadap Islam kala itu.
Kartini meninggal dalam usia muda, 25 tahun, empat hari setelah melahirkan putranya. Ia tak sempat belajar Islam lebih dalam. Namun yang patut disayangkan, kebanyakan orang mengetahui Ibu Kartini hanyalah sekedar sebagai pejuang emansipasi wanita. Banyak orang yang tidak tahu perjalanan Kartini menemukan Islam dan perubahan pola pikirnya.

Semoga tulisan ini dapat menggugah kita untuk tahu lebih dalam tentang “IBU KITA KARTINI” (dalam upayanya mempelajari Islam), daripada sekedar peringatan tahunan tanpa makna. .
Catatan Al Akh Abu Muhammad Herman.
[Dari Majalah Elfata dengan sedikit penambahan dan penyesuaian pada beberapa kata].

Views All Time
Views All Time
483
Views Today
Views Today
1

LEAVE A REPLY