Pesan Pendidikan Kita

0
31

Oleh : Imam Syafii
Guru MAN 1 Musi Rawas

Sengaja penulis mengangkat judul tulisan ini “Pesan Pendidikan Kita” oleh karena keprihatinan mendalam yang penulis rasakan dengan berbagai kasus yang sedang terjadi menimpa dunia pendidikan kita. Setiap kasus yang terjadi di dalamnya terkandung banyak pesan bagi kita (pendidik) untuk lebih menjaga generasi masa depan bangsa ini dalam usahanya menuntut ilmu.

Salah satunya adalah kasus pendidikan yang baru-baru ini yang begitu sangat mencuri perhatian publik hingga di beritakan di salah satu media televisi nasional adalah kasus pembunuhan pelajar putri Kelas VIII SLTP terjadi Kota Lubuklinggau Provinsi Sumatera Selatan pada Jum’at (17/5) yang ternyata dilakukan oleh seorang pelajar juga yang masih duduk di Kelas X salah satu SLTA di Kota Lubuklinggau.(https://www.merdeka.com/peristiwa/kesal-diejek-siswa-sma-di-lubuklinggau-bunuh-siswi-smp.html)

Sontak berita ini menggemparkan warga Kota Lubuklinggau dan Kabupaten di sekitarnya seperti Kabupaten Musi Rawas dan Musi Rawas Utara, sehingga ramai di beritakan di media massa daerah dan media sosial hari itu.

Hanya butuh 1×24 jam setelah kejadian anggota Polresta Lubuklinggau bergerak dan berhasil meringkus sang pelaku dan membawanya ke Polresta Lubuklinggau. Setelah diinterogasi oleh penyidik ternyata motifnya hanyalah masalah remeh temeh “sakit hati” oleh karena merasa dihina dengan kata-kata miskin dan banci harga dirinya merasa terusik

Sang pelaku setelah diselidiki ternyata masih memiliki hubungan kekeluargaan dengan sikorban. Semakin miris hati kita sebagai seorang pendidik. Seorang pelajar menghilangkan nyawa pelajar lainnya yang ternyata masih ada huhungan keluarga dan temannya sepermainan sejak kecil.

Apa yang sebenarnya terjadi?
Dipicu oleh perkataan dan ejekan dari korban yang dimaknai hinaan oleh pelaku menjadi motif pelaku melakukan tindakan pidana melawan hukum dibalut rasa kesal, marah, dan merasa tidak dihargai. Perkataan tersebut acap kali sering diucapkan dan dilontarkan korban.

Menurut hemat penulis ada dua hal yang saling terkait mencermati kejadian tetsebut. Kebiasaan latah dari segi ucapan dan perbuatan yang sering kita temukan di masyarakat secara tidak langsung tertanam dalam jiwa dan kepribadian seorang anak.

Demikian juga halnya kebiasaan perkataan kasar, berkata kotor, suka merendahkan orang lain yang dilakukan orang-orang dewasa di sekitar lingkungan anak acap kali tanpa disadari terekam dalam memori dan langsung diikuti oleh anak.

Seiring dengan proses berjalannya waktu maka akan menjadi kebiasaan dan perilaku sang anak meniru apa yang dilakukan oleh orang-orang yang berada di lingkungannya dan dianggap oleh anak menjadi hal yang benar.

Di sisi lain, kebanyakan orang-orang tua di daerah pedusunan atau yang berada di pinggiran perkotaan, perhatian terhadap perkembangan mental spiritual anak seringkali diabaikan oleh karena faktor pekerjaan ke ladang dari pagi hingga petang yang harus dilakukan untuk memenuhi kebutuhan ekonomi keluarga.

Dampaknya, anak berkembang dengan tanpa perhatian orang tua mengikuti perkembangan yang terjadi di lingkungannya. Pengawasan terhadap perilaku anak juga menjadi sangat kurang. Anak tumbuh sesuai dengan kehendak sendiri jauh dari pengawasan orang tua sehingga menumbuhkan keegoan yang tinggi.

Perasaan inilah yang kemudian membangun persepsi negatif anak, bahwa tanpa orang tuapun mereka mampu mandiri dan berbuat semaunya diri sendiri (semau gue) tanpa mengetahui dampak dan konsekuensi negatif yang ditimbulkan dari setiap perbuatan dan tidak tanduk yang dilakukannya.

Dua hal ini kemudian bertemu dalam satu titk point perselisihan pendapat, pertentangan, pertengkaran dan rasa tidak dihargai sehingga memantik ego yang tak terkendali, gelap mata, tidak ada lagi nasehat yang didengar, maka terjadilah tindak pidana yang berujung korban dan penyesalan seumur hidup. Kondisi tragis yang harus kita terima bagi dunia pendidikan.

Pesan pendidikan untuk kita
Selaku pendidik kejadian ini tentunya memberikan pesan langsung kepada kita, bahwa proses pendidikan itu memang harus holistik memenuhi tiga aspek kognitif, afektif, dan psikomotorik.

Sering kali kita selalu menitik beratkan kepada aspek kognitif semata untuk memenuhi standar capaian kompetensi pengetahuan dan keterampilan, akan tetapi satu aspek afektif terkait dengan perilaku, karakter dan sikap peserta didik, seringkali terabaikan dan hanya sekedar mengisi komponen penilaian sikap semata.

Esensinya pembentukan sikap dan perilaku perserta didik dalam aspek afektif lebih didorong untuk menumbuhkembangkan karakter-karakter yang jauh dari kekerasan, jauh kata-kata kasar, kata-kata kotor, cacian, makian, ejekan dan saling merendahkan satu sama lain.

Caranya adalah dengan memberikan perhatian lebih dan memberikan bimbingan serta nasehat untuk perkembangan afektif peserta didik melalui tutur kata dan perilaku yang santun. Selain itu sebagai pendidik perlu selalu membangun komunikasi dan memberi keteladanan yang baik kepada peserta didik kita melalui pengembangan aspek afektif yang positif.

Selaku orang tua, pendidikan anak hendaknya menjadi prioritas utama tidak saja di sekolah/madrasah semata. Pendidikan karakter di lingkungan rumah tangga menjadi faktor yang memberikan kontribusi besar terhadap keprbadian seorang anak.

Oleh karenanya rasa kasih sayang, keteladanan dan perhatian orang tua terhadap perkembangan psikologi mental spiritual harus lebih diprioritaskan demi keselamatan anak dalam lingkungan masyarakat yang lebih luas.

Harapannya adalah anak akan memiliki sikap mental yang baik dan mampu mengendalikan diri saat berada di masyarakatnya. Masa depan anak bangsa ini tidak saja menjadi tanggung jawab guru, tetapi orang tua dan masyarakat harus saling bekerjasama dalam melahirkan generasi bangsa yang maju dan berbudi pekerti luhur.

Views All Time
Views All Time
87
Views Today
Views Today
1
Previous articleMengaji : Mengenal Jati Diri
Next articleRENUNGAN DI MALAM NUZULUL QUR’AN
Imam Syafii, M.Si. Guru di MAN 1 Musi Rawas Prov. Sumatera Selatan. Lahir di Desa Tebat Jaya, BK 0 (OKU Timur-Sumsel) 22 Pebruari 1978. Pendidikan dasar saya tempuh pertama kali di SDN Inpres Balikpapan Kalimantan Timur pada tahun 1984 hingga kelas 3 dan melanjutkan pendidikan dasar kelas 4 di SDN Patok Songo Kec. Buay Madang Kab. OKU Timur- Sumsel lulus tahun 1990. Kemudian melanjutkan ke MTsN Martapura Kab. OKU Timur lulus pada tahun 1993. Pendidikan menengah atas saya tempuh di Pondok Pesantrean Nurul Huda Sukaraja Kec. Buay Madang Kab. OKU Timur di MA Nurul Huda Jurusan A3 (Biologi) lulus pada tahun 1996. Saya menlanjutkan Pendidikan S1 di Universitas Lancang Kuning Pekanbaru-Riau jurusan Agronomi dan meraih predikat lulusan terbaik pada tahun 2001. Setelah enam bulan menjalani profesi sebagai asisten dosen memperoleh kesempatan beasiswa dari Pemerintah Provinsi Riau untuk melanjutkan Pendidikan Pascasarjana di Institut Pertanian Bogor (IPB-Bogor) masuk tahun 2002 dan lulus pada tahun 2004. Profesi guru saya jalani sejak lulus dari Bogor dengan menjadi guru honorer di MTsN 1 Muara Kelingi, di SMAN 1 Muara Kelingi, di MA Hidayatullah Muara Kelingi , SMAN Karya Sakti Kec. Muara Kelingi, MAN Muara Kelingi, SMAN 2 Muara Kelingi Kab. Musi Rawas. dI Tahun 2008 saya mendapatkan SK Bupati sebagai Guru TKS di SMAN 1 Muara Kelingi, dan di tahun 2009 kuliah kembali mengambil program Akta IV Pendidikan Biologi di Universitas Bengkulu dan pada tahun 2014 mendapatkan SK sebagai PNS di MAN 1 Musi Rawas.

LEAVE A REPLY