Pimpong dan Cinta

0
88

*****
Puk…puk…puk bunyi suara pantulan bola pimpong bergelinding di atas meja siang itu. Tiga orang lelaki separuh baya sedang asik menikmati permainan yang diakui dunia Internasional. Ada yang bertindak sebagai wasit dan ada yang harus beradu teknik dengan kemampuan dan jurus masing-masing. Yang satu membawa jurus Korea campur Taipei yang satu lagi membawa gaya Indonesia gabungan Jepang..he he. Pecah suara teriakan penuh emosi meramaikan suasana itu. Ada yang merasa puas, ada juga yang merasa keperkasaannya terpancing karena harus mengakui keunggulan lawan.
Tiba-tiba suara sebuah handphone berbunyi menandakan bahwa ada panggilan masuk. Seorang pria ganteng berperawakan sedang dengan ciri khas rambut selalu rapi berhenti dan meraih benda ajaib itu. Aku ikut berhenti dan memperkecil volume suaraku dan mendengarkan percakapan dua insan siang itu.
“Lagi di mana mas?” tanya seorang istri penuh was-was.
“Masih di kantor main pimpong bersama teman-teman,” jawab sang suami polos.
“Gak pulang?”Istri menambahkan.
“Pasti pulang, siapa sih yang gak mau pulang ketemu istri secantik kamu.” Timpal Sang Suami meyakinkan.
Prok….prok…prok…terasa kena tampar mukaku tiga kali saat itu.
Ada rasa yang ingin kusampaikan. Ada keinginan yang aku utarakan.
Ada kegundahan yang berkecamuk disanubariku. Aku mulai lesu. Aku tiba-tiba hilang konsentrasi. Aku keringat dingin.
Tiba tiba kerinduan yang amat sangat kepada gadisku yang berada jauh di sana.
Empat tahun sudah berumah tangga. Kadang kalimat-kalimat seperti itu jarang aku ucapkan. Apakah karena aku sudah lupa mengucapkan itu karena telah dikarunia sang buah hati. Mungkin juga, tapi yang pasti hari ini aku diingatkan untuk memperbarui cinta. Ya cinta, membangkitkan kembali keromantisan rumah tangga. Karena dulu aku pernah mengatakan kata-kata cinta itu walaupun istriku sering menganggapku gombal kelas tinggi. Biar masa lalu yang kulewati begitu saja. Sekarang ingin kunyatakan kembali rasa cinta dan sayangku lewat tulisan ini. Ku mau tidak ada yang hilang di antara aku dan dia. Tetap romantis saat memulai rumah tangga dan aku syah menjadi imamnya. Aku tak mau mendengar ungkapan bahwa aku suaminya cuma sayang di awal-awal saja padanya dan sekarang cuek bebek. Aku akan tepis anggapan-anggapan itu. Aku berusaha tetap menjadi seperti yang dulu yang selalu menjaga dan menyayangi mu beb….i love u my wife.
Cinta harus diperbarui dan romantisme perlu dipertahankan sampai Kakek Nenek.

Views All Time
Views All Time
247
Views Today
Views Today
1

LEAVE A REPLY