IKHTIAR, DOA DAN TAWAKKAL oleh Khairunnisa Fadzilah Wijayanti, Siswa SMPN 1 Lampihong, Balangan , Kalsel

0
12

Hari itu, masih ingat di benak ku hari dimana aku menginjakkan kaki di SMPN 1 Lampihong dengan status yang berbeda, yaitu sebagai salah satu siswi di sana. Di sekolah ini, selama 3 hari aku dan siswa baru lainnya diberi pembekalan dan pengenalan tentang lingkungan sekolah diantaranya fasilitas, ruangan dan para guru pengajar. Masih aku ingat juga, saat pertama kalinya aku dilatih PBB (Peraturan Baris Berbaris) oleh kakak- kakak kelas atau dari pengurus OSIS.

Saat itu aku sangat kagum terhadap semua anggota OSIS SMPN 1 Lampihong. Hal tersebut membuat aku mulai terdorong agar dapat seperti meraka. Aku duduk di kelas 7A. Di sekolah ini aku mendapat banyak teman, pengalaman, dan banyak mendapat pelajaran bernilai serta juga kebahagiaan.

Waktu itu aku ingat sekali, ketika Bapak Ziadi Noor masuk ke kelas kami. Beliau adalah guru mata pelajaran IPA dan sekaligus guru pembimbing OSN IPA. Beliau  mendata murid yang mau ikut seleksi lomba OSN di sekolah. Aku dan dua temanku yang lain terpilih mewakili kelas. Setiap hari aku belajar agar bisa mewakili sekolah ke tingkat Kabupaten. Dan Alhamdulilah, ternyata yang mewakili Lomba OSN ke tingkat Kabupaten adalah diriku. Kurang lebih satu bulan setelah seleksi di sekolah, lomba OSN di tingkat Kabupaten pun di mulai. Betapa takut dan betapa gugupnya aku saat sampai di tempat perlombaan yakni di SMPN 4 Paringin. Sesampainya di dalam ruangan lomba, aku hanya berdoa dan berdoa. “Mungkin hanya diriku saja yang merasa gugup diantara peserta yang lain”, gumamku dihati. Dalam menjawab soal OSN IPA tersebut, kami di beri waktu 2 jam. Aku menyelesaikan soal itu kurang dari satu jam. Disisa waktu yang ada aku terus mencek kembali apakah jawaban ku sudah benar atau masih ada perlu diperbaiki.

Aku pasrahkan semua jawaban  pada Tuhan. Aku jawab semua soal yang aku dapat dikerjakan, dan tidak aku jawab soal-soal yang memang ragu dan tidak dapat aku kerjakan. Waktu itu ada satu soal yang tidak aku jawab,  karena aku ragu dengan jawabanku. Jika salah dalam menjawab soal akan mengakibatkan bobot nilaik berkurang untuk skor totalku nantinya.

Seminggu telah berlalu setelah lomba tersebut, dan aku masih belum tahu dengan hasil lomba  yang sudah ku ikuti. Akupun mendapat kabar baik dari salah satu guru yang mengatakan kepadaku, bahwa aku mendapat juara 2 dalam lomba OSN Kabupaten. Aku merasa sungguh sangat bahagia dan bangga dengan apa yang telah aku raih. Namun tidak hanya sampai disitu, ternyata aku mendapat kesempatan emas dapat  melanjutkan langkah ke tingkat yang lebih tinggi, yaitu ke tingkat provinsi.

Meskipun aku hanya peringkat 2 kabupaten, namun nilai yang aku peroleh melampaui passing grade yang ditentukan,  sehingga aku berhak ikut berkompetsi ke tingkat provinsi. Setiap hari aku diberi arahan dan diberi pelajaran tambahan oleh Bapak Ziadi. Kepercayaan diriku yang berlebihan membuatku lupa kalau di luar sana masih banyak orang yang lebih pintar dan hebat dari diriku.

Saat perlombaan OSN tingkat provinsi dimulai, aku bertemu dengan siswa-siswi hebat dari 13 kabupaten/kota se Kalimantan Selatan. Hari itu,  baru aku sadari bahwa masih ada langit di atas langit. Aku telah salah karena terlalu berbangga dan terlalu percaya diri. Saat lomba berlangsung, aku tidak dapat menjawab 2 soal pertanyaan waktu itu. Terasa sedih dan galau hatiku kala itu.

Setelah perlombaan selesai, tim perwakilan OSN Kabupaten Balangan kembali ke penginapan untuk menggambil barang-barang. Kami bersiap-siap untuk kembali ke Balangan. Aku masih ingat waktu itu,  aku sangat bahagia karena aku tidak hanya mendapat banyak teman dan pengalaman, tetapi juga aku mendapat baju batik sasirangan untuk keberangkaan ke provinsi, berbagai bonus dan juga uang pembinaan baik dari Dinas Pendidikan Kabupaten maupun dari Dinas Pendidikan Provinsi.

Dua minggu telah berlalu semenjak lomba OSN tingkat provinsi, aku belum juga mendapat kabar tentang hasil lomba tersebut. Beberapa hari berlalu kemudian, Bapak Ziadi memanggilku dan mengabarkan bahwa aku masih belum bisa masuk ke dalam daftar peserta yang akan di kirim ke tingkat nasional. Sungguh saat itu aku tak bisa berkata apa-apa, aku angat sedih dan rasanya ingin menangis, aku telah mengecewakan diriku dan keluargaku.

Beberapa bulan berlalu dan ulangan semester pun sudah terlewati. Tibalah waktunya pengumuman kenaikan kelas. Aku sagat gugup dan takut. Dalam hati aku berdoa dan berdoa, semoga Tuhan memberikan yang terbaik bagiku hari ini. Alhamdulillah, doa ku terkabulkan. Aku menjadi juara 1 di kelas 7A. Sekarang kami semua telah menjadi kakak kelas, sebuah kebanggan dan kebahagiaan,  namun ada tanggung jawab besar yang  harus kami jaga dan kami laksanakan.

Setelah libur kenaikan kelas selesai, aku merasa sangat rindu dan sangat bersemangat untuk kembali ke sekolah serta mengikuti kembali pelajaran dari guru-guru kami. Di bangku kelas 8 tersebut aku duduk di kelas 8A. Kami adalah pengurus OSIS SMPN 1 Lampihong tahun pelajaran 2017-20018. Dipenghujung masa jabatan kami ini, kami ikut membantu melaksanakan kegiatan PLS (Pengenalan Lingkungan Sekolah) siswa baru.

Aku dan teman-teman lainnya terutama anggota OSIS menyiapkan segala sesuatu yang berkaitan dengan kegiatan PLS tersebut. Selama tiga hari kami membantu memberi bimbingan dan arahan kepada adik-adik kelas kami yang baru masuk sekolah. Sebuah pengalaman yang sangat berkesan dan bermakna bagi kami semua anggota OSIS waktu itu.

Waktu pun berjalan seiring hembusan angin yang berlalu. Tiba-tiba terdengar olehku, ada panggilan dari pengeras suara sekolah. Terdengar namaku waktu itu aku dipanggil oleh Bapak Ahmadiyanto untuk menemuinya di kantor. Dari kelas aku sudah memikirkan apakah gerangan yang membuat Bapak Ahmadiyanto atau yang kami biasa panggil Pak Anto memanggilku, dalam benak ku penuh tanda tanya.

Akhirnya, aku mendapatkan jawaban atas pertanyaan yang ada di benakku itu. Menurut beliau, aku terpilih dan akan dipersiapkan untuk mewakili sekolah dalam lomba Cerdas Cermat Baca Statistik tingkat SMP sederajat se Kabupaten Balangan tahun 2018. Bersama dengan dua orang kakak kelas ku yang keren dan pintar yakni Muhammad Lodry dari kelas 9A dan Yusrijal dari kelas 9B. Begitu gembiranya hatiku karena dapat  berkolaborasi bersama dengan kakak-kakak kelas aku yang terkenal dengan kepintarannya itu. Dalam lomba cerdas cermat baca statistik ini kami diberi beberapa materi pengetahuan umum oleh Bapak Ahmadiyanto untuk dipelajari dan dihafal.

Didalam materi yang diberikan oleh Bapak Ahmadiyanto tersebut, juga terdapat beberapa materi yang berkaiatan dengan hitung menghitung. Hal inilah yang menjadi tantangan bagiku. Jujur saja, sebenarnya aku agak lemah dalam hal hitung menghitung atau dalam hal matematika. Tetapi untungnya, Lodry dan Rijal mengerti akan keadaaanku. Kalau aku kurang menguasai materi yang berkaitan dengan hitung-hitungan, mereka berdua yang mengajariku cara menghitung dan menghafal rumusnya.

Sebenarnya aku merasa minder, karena aku tidak sepintar Lodry dan Rijal. Aku kurang mampu dalam hal menghitung atau penjumlahan. Kemudian, untuk memperdalam dan menambah bekal kami terutama tentang materi yang berkaitan dengan hitung-hitungan, kami juga di bekali pembinaan oleh Ibu Noor Hayati, guru mata pelajaran Matematika di sekolah kami yang hebat dan pintar.

Kegiatan lomba yang kami tunggu pun akhirnya tiba. Seingatku, lomba itu dilaksanakan di hari minggu. Kami bertiga diminta berkumpul dulu di rumah Bapak Ahmadiyanto di Paringin setelah perjalanan cukup jauh  dari Lampihong. Kebetulan rumah Bapak Ahmadiyanto di Paringin, jadi beliau menunggu di sana. Setelah istirahat sejenak,  kemudian kami berangkat bersama ke tempat pelaksanaan lomba.

Hari itu aku diantar oleh Abah, sebutan bagi orang tua laki-laki dalam bahasa Banjar. Aku diantar beliau sampai di depan rumah Bapak Ahmadiyanto. Berhubung abah ada urusan yang mau diselesaikan di tempat kerjanya, sehingga abah tidak sempat bertemu dengan Bapak Ahmadiyanto. Ternyata aku orang pertama yang datang lebih dulu di rumah Bapak Ahmadiyanto di pagi itu. Selang waktu sekitar 10 menit aku menunggu, Yusrijal pun datang di tempat kami janji berkumpul.

Beberapa saat kemudian, Lodry juga datang di rumah Bapak Ahmadiyanto. Lodry datang dengan mengenakan baju biasa, belum mengenakan baju seragam sekolah. Kemudian Lodry kemudian diminta agar segera berganti baju oleh Bapak Ahmadiyanto. Baju seragamnya ternyata dia masukkan dalam tas ranselnya, malu katanya berangkat di hari minggu, kok mengenakan baju seragam sekolah, sambil tersenyum.

Bapak Ahamdiyanto sebelumnya sudah meminta kepada kami agar jangan naik sepeda motor sendiri, dan jika diantar oleh orang tua masing-masing demi  keamanan dan kenyamanan bersama. Namun,  karena berbagai alasan dan kondisi yang kurang memungkinkan, maka Rijal dan Lodry berangkat sendiri ke rumah Bapak Ahmadiyanto.

Setelah selesai ganti baju, ada hal lucu yang terjadi. Kancing celana Lodry rusak, sehingga tidak dapat ditutup,  dan lebih lucunya lagi dia tidak membawa ikat pinggang. Dengan tingkah dan wajah lucunya, Lodry membuat aku dan Rijal tertawa. Lodry lupa membawa ikat pinggang sehingga  terpaksa dia memakai ikat pinggang yang dipinjamkan oleh Bapak Ahmadiyanto kepadanya.

Ikat pinggangnya  agak  berbeda dengan yang biasa dia gunakan,  sehingga dia pun merasa bingung bagaimana caranya mengenakan ikat pinggang tersebut. Lagi-lagi Lodry sukses membuat kami kembali tertawa. Akhirnya, dibantu oleh Bap ak Ahmadiyanto ikat pinggang itu pun dapat dipasang dan dikenakan sebagaimana mestinya.

Sambil menunggu Bapak Ahmadiyanto yang masih bersiap-siap, kami pun kembali membuka dan mempelajari materi-materi yang sudah kami pelajari. Tiba-tiba Bapak Ahmadiyanto datang dari belakang menghampiri kami yang sedang asyik mempelajari  materinya masing-masing. “Udahkah belajarnya?”, kata beliau kepada kami. “Sudah Pa ai“, jawab kami serempak. “Tadi malam pang belajar lah jua buhan mu?” tanya Bapak Ahamdiyanto kembali kepada kami. “Belajar ae pa ae, tapi sadikit” sahut kami bertiga sambil tersenyum. “Amun udah belajarnya siap ai kalo dah” kata Bapak Ahamdiyanto kembali. “Inggih Pa ai, Insyaa Allah siap ja dah pa” jawab kami dengan semangat. “Mun sudah, ayu dah kita tulakan” ujar Bapak Ahmadiyanto dengan  penuh harap.

Selanjutnya kami berangkat ke SDN Batu Piring. Aku dengan Rijal dan Lodry dengan Bapak Ahmadiyanto atau yang sering kami panggil dengan sebutan Pak Anto.  Sesampainya kami di sana, ternyata sudah ada beberapa perwakilan dari sekolah lain yang sudah datang. Kami di suruh oleh Pak Anto untuk menuju salah satu pojok sekolah agar dapat kembali membaca materi-materi lomba tadi. Beliau sengaja menunjuk salah satu pojok sekolah itu agar kami fokus dan tetap konsentrasi membaca materi yang sudah disiapkan.

Seingat saya terasa masih duduk di depan kelas IVA, sehingga  kami hanya duduk dan mengobrol sambil sesekali bercanda.  Kami lupa akan arahan dan nasihat dari Pak Anto tadi. Kebetulan beliau berada di bagian sekolah yang berbeda dan terdengar oleh kami beliau sedang bercakap-cakap dengan teman-temannya. Lebih dari 15 menit kami menunggu akhirnya pembukaan lomba pun di mulai.

Sebelum kami ke ruang kegiatan, kami disuruh berkumpul dulu di lapangan sekolah karena ada yang mau disampaikan oleh pihak panitia pelaksana,  yakni dari Dinas Komunikasi dan Informasi Kabupaten Balangan. Ketika aku menuju ke lapangan sekolah, aku bertemu dengan Ibu Azizah, Guru mata pelajaran IPS yang baru beberapa bulan pindah kerja ke sekolah yang lain karena adanya mutasi dan pemerataan guru.

Sambil bejalan menuju lapangan aku dan beliau berbincang-bincang. “Kaya apa Sa habar?” sapa Bu Azizah. “Alhamdulillah, baik haja bu ai, ibu pang kaya apa?” Sahutku. “Alhamdulillah habar ibu baik ja jua Sa” kata Ibu Azizah menjawab pertanyaanku. Kemudian aku berbaris dengan siswa yang lain. Aku berbaris di barisan paling depan. Di belakangku ada Rijal dan di belakangnya Rijal  ada Lodry yang berdiri santai sambil sesekali tersenyum dan berbicara dengan siswa yang lain.

Saat perwakilan dari Dinas Kominfo menyampaikan arahan, Lodry terdengar masih berbicara. Aku meminta Lodry  untuk berhenti berbicara dan memperhatikan arahan panitia. “Lodry, diam pang satumat, tuh ada arahan dari panitia” ujarku. “Inggih bu”, ucap Lodry sambil tersenyum. Tingkah lucu dan perkataan Lodry itu membuat orang-orang yang berada di sebelah kami tertawa kecil.

Setelah acara pembukaan selesai seluruh peserta dipersilahkan menuju ke ruang lomba. Terlihat ada 2 buah ruang kelas yang  dialaihfungsikan  menjadi ruang kegiatan. Dalam  ruangan kelas yang disediakan oleh panitia, aku, Rijal, dan Lodry duduk di kursi barisan tengah.  Di saat semua peserta sibuk menyiapkan peralatan tulis, kami bertiga masih sibuk menikmati snack yang telah di siapkan oleh panitia.

Hampir 1 jam lewat kami semua berada di dalam ruangan tersebut mengerjakan soal. Setelah berjalan selama 1 jam , maka terlihat sudah ada beberapa peserta yang mengumpulkan hasil pekerjaannya. Kami masih mengecek kembali jawaban kami,  dan  sesuai dengan pesan dari Pak Anto agar kami santai dan tidak tergesa- gesa untuk mengumpul jawaban. Ada beberapa soal yang masih perlu kami cermati.

Sambil menyelesaikan jawaban soal itu, sesekali kami masih terlihat bercanda kecil. Tinggal satu soal lagi yang belum kami selesaikan, karena soal tersebut tidak dapat  kami jawab, maka soal tersebut tidak kami jawab. Soal yang jawabananya salah, skornya minus 1 seperti penjelasan dari panitia tadi. Soal yang tidak dijawab nilainya 0,  dan soal yang jawabannya betul mendapat skor 1. Aku beranjak dari kursi guna mengumpulkan jawaban kami bertiga. Kemudian kami bertiga keluar ruangan itu. Saat keluar ruangan, kami bertiga diberi nasi kotak untuk makan siang.

Setelah mendapatkan jatah nasi kotak kami berjalan menuju tempat parkir. Saat kami berada di parkiran tersebut, ada alah seorang ibu guru yang memanggil Pak Anto. “Pak Anto, Pak Anto, tolongi pang anak murid ulun nih nah, sapida motornya kada kawa di hidupi” kata beliau. Dengan segera Pak Anto membantu siswi tersebut. Terlihat beberapa kali Pak Anto mencoba menyalakan mesin sepeda motor tersebut dengan kick starter. Namun,  mesin sepeda motor tersebut masih juga belum mau menyala. Lalu Rijal pun ikut membantu menghidupkan mesin sepeda motor itu. Beberapa kali Rijal menekan kick starter menggunakan kakinya, namun mesin sepeda motor tersebut belum kunjung menyala. Beberapa saat kemudian, Booom, Boooom, Boooooom, terdengar bunyi mesin sepeda motor.

Akhirnya motor tersebut bisa menyala dan bisa pakai kembali.  Kami pun pamitan dan berangkat menuju kediaman Pak Anto. Di rumah Pak Anto ini  kami kembali  makan siang bersama-sama. Setelah selesai makan siang, kami berbincang-bincang sebentar. Tidak lama kemudian terdengar suara adzan dari mushola dekat rumah Pak Anto.

Pak  Anto pun mengajak Rijal dan Lodry untuk melaksanakan sholat Dzuhur berjemaah di mushola dekat rumahnya. Sedangkan aku sholat dzuhur di rumah Pak Anto menggunakan mukena istri beliau. Setelah selesai sholat, beberapa menit kemudian terdengar  suara motor dari luar. Ternyata Lodry, Rijal dan Pak Anto sudah datang dari mushola.

Setelah kami selesai membereskan barang-barang kami, kami pun pamit untuk pulang. Namun,  karena tadi pagi aku diantar oleh Abah,  jadi ketika mau pulang aku harus menelepon beliau dulu. Saat aku mau menelepon, Pak Anto menyuruhku untuk pulang bersama dengan Rijal saja karena arah rumah kami masih satu arah. Kami pun pulang bersama.

Saat kami pulang, awan hitam terlihat berarak memayungi dan langitpun sudah tak tahan untuk segera menumpahkan air hujan ke bumi. Gerimis dan riak-riak kecil mulai menemani kepulangan kami, untungnya hujan turun saat aku sudah sampai di rumah. Terima kasih yaa Allah dan terimakasih juga untuk teman-temanku Rijal dan Lodry yang sudah sama-sama berjuang.

 

Views All Time
Views All Time
20
Views Today
Views Today
1
Previous articlebest bridal makeup in bangalore
Next articleKapan Sekolah Akan Dibuka Kembali?
Lahir dari keluarga petani dan sederhana di Martapura (Banjar) Kalsel, 5 Nopember 1963. Kini menjalani profesi sebagai guru sejak tahun 1988. Mata pelajaran PPKn/PKn. Saat ini (2017) bertugas di SMPN 4 Pelaihari Kab.Tanah Laut Kalsel. Mulai menulis artikel tentang pendidikan secara rutin sejak tahun 2013. Tulisan artikel banyak dikirim dan terbit pada koran lokal, Banjarmasin Post dan Radar Banjarmasin. Tahun 2015, penulis membukukan artikel-artikel yang pernah terbit pada koran lokal dalam sebuah buku "OPINI SANG GURU" (edisi pertama,2015) lalu buku " OPINI SANG GURU "Edisi Kedua (2017),dan insyaallah akan dilanjutkan dengan buku "OPINI SANG GURU" edisi ketiga ,dan seterusnya.Dalam bentuk tulisan ilmiah, penulis bersama dengan guru-guru Kalsel yang pernah mengikuiti Lomba Inovasi Pembelajaran Kemdikbud tahun 2015, 2016,dan 2017, sedang menyusun dan menerbitkan buku " INOVASI PEMBELAJARAN' ,yang akan diterbitkan dalam beberapa edisi. Setiap edisi terbit diisi oleh 5-6 guru penulis. Buku "INOVASI PEMBELAJARAN" berisi naskah karya tulis inovasi pembelajaran yang pernah masuk worshop dan finalis Lomba Inovasi Pembelajaran, rencananya akan diterbitkan pada akhir tahun 2017 untuk edisi pertama, dan awal tahun 2018 untuk edisi kedua... dan seterusnya. Penulis, bertindak sebagai koordinator pengumpulan naskah tulisan,mengedit, dan mengirimkannya ke penerbit buku di Kalsel. Semoga buku " INOVASI PEMBELAJARAN' karya guru 'Banua' untuk Indonesia akan dapat menginspirasi guru untuk membuat inovasi pembelajaran, menulis, dan membukukannya. Semoga.

LEAVE A REPLY