POLEMIK SEKITAR MAULID NABI MUHAMMAD SAW.

0
31

POLEMIK SEKITAR MAULID NABI MUHAMMAD SAW.

            Oleh: H. Muh. Lutfi Tharodli, S.Sos.I. M.Pd.I.

(DIRWIL LPPTKA BKPRMI NTB)

 

           

Setiap tiba bulan Rabi’ul Awwal di negara kita yang mayoritas bependuduk muslim terbesar dunia selalu menyemarakkan dengan sebuah kegiatan yang disebut peringatan maulid Nabi Muhammad SAW. Di negara kita bukan hanya maulid nabi yang dijadikan sebagai hari nasional. Bahkan kita mengenal peringatan isra’ mikraj, Nuzul al-Quran, tahun baru Muharram, dan sejenisnya telah dijadikan sebagai hari nasional juga. Hanya saja hari-hari nasional yang benuansa sejarah Islam tadi tidak disepakati oleh sebagian masyarakat yang menganggap bahwa berbagai bentuk peringatan tersebut adalah kesia-siaan dan perbuatan bidah yang diada-adakan.

Adanya polemik tidak bidah atau bidah inilah yang menjurus kepada pecahnya ukhuwah Islamiyah yang telah dirajut oleh sang pembawa risalah agung Muhammad SAW dan memunculkan kebingungan di tengah-tangah masyarakat tauhid. Mengapa umat yang berkiblat sama, memiliki kitab yang sama, Tuhan yang satu, dan nabi yang sama bisa saling berbeda pendapat bahkan berujung ke ranah saling sesat-menyesatkan? Apakah perbedaan pendapat dari satu umat yang mengakui berTuhan satu hanya berbuah perpecahan? Bisakah perbedaan pendapat tersebut dirajut menjadi saling pengertian dalam bingkai cinta kasih? Ataukah kedua pandangan yang berbeda tersebut akan terus bertarung sampai tidak ada yang kalah ataupun menang? Membawa ego masing-masing sehingga memunculkan sifat ananiyah (keakuan) yang paling disukai syetan atau bisakah umat ini berjalan sesuai fahamnya dengan tidak menggubris atau menyalahkan pendapat faham yang berbeda, sehingga memunculkan kelapangan jiwa menerima perbedaan?.

Bagi penulis, peringatan maulid Nabi adalah sebuah perayaan yang diselenggarakan dengan tujuan mengenang dan memuliakan kelahiran Nabi Muhammad SAW. Pada peringatan tersebut masyarakat dari berbagai lapisan berkumpul di sebuah tempat, baik masjid, sekolah, rumah, ataupun kantor dengan satu tujuan mejalin tali ukhuwah, mendengarkan khatmul Quran, pembacaan sirah Nabawiyah, lantunan shalawat, dan ceramah agama. Inilah hakikat peringatan maulid Nabi Muhammad SAW yang penulis fahami dan saksikan selama ini. Tetapi jika ada sebagian masyarakat dengan dalih memperingati maulid Nabi Muhammad SAW menyelenggarakannya dengan hura-hura, bahkan mabuk-mabukan maka penulis sepakat bahwa hal tersebut adalah bidah yang sesat.

Salah seorang tabi’in yang bernama Imam Hasan Bashri, beliau terkenal dengan kesalehan dan kecerdasan yang menarik perhatian para sahabat ra.. Imam Hasan Bashri berpendapat tentang maulid Nabi Muhammad SAW dengan mengatakan: “Andaikata aku memiliki emas sebesar bukit Uhud, maka akan kudarmakan semuanya untuk penyelenggaraan pembacaan maulid Rasul.”

Ucapan di atas membuktikan bahwa beliau menaruh perhatian yang sangat besar terhadap kelahiran nabi Muhammad SAW. Jadi suatu keanehan, jika hanya untuk mengenang HUT sekolah, hari jadi partai, atau hultah kelahiran, kita rela mengeluarkan banyak uang. Tetapi untuk mengenang kelahiran insan yang sangat agung ada sebagian masyarakat yang berat untuk mendermakan sebagian hartanya di jalan Allah. Di Indonesia, terutama dipesantren, para kyai dulunya hanya membacakan syi’ir dan sajak-sajak tentang sirah nabawiyah, tanpa diisi dengan ceramah. Namun kemudian ada muncul ide untuk memanfaatkan momentum tradisi maulid Nabi SAW yang sudah melekat di masyarakat ini sebagai media dakwah dan pengajaran Islam. Akhirnya ceramah maulid menjadi salah satu inti acara yang harus ada, demikian juga atraksi murid pesantren. Bahkan sebagian organisasi Islam telah mencoba memanfaatkan momentum itu tidak sebatas seremoni dan haflah belaka, tetapi juga untuk melakukan amal-amal kebajikan seperti bakti sosial, santunan kepada fakir miskin, pameran produk Islam, pentas seni dan kegiatan lain yang lebih menyentuh persoalan masyarakat. Sekalipun dalam ada pendapat yang menyatakan bahwa perayaan Maulid Nabi mulai dilakukan pada permulaan abad ke 4 H dan tidak pernah dilakukan oleh Rasulullah, para sahabat dan generasi Salaf. Namun demikian bagi penulis tidak berarti hukum perayaan Maulid Nabi dilarang atau sesuatu yang haram, apalagi sampai menuduh masyarakat yang melaksanakan peringatan maulid Nabi Muhammad sebagai pelaku bid’ah yang sesat. Naudzubillahi min dzalik.

Nabi Muhammad SAW. Merupakan suri tauladan utama semua makhluk. Akhlak mulia beliau diakui oleh Sang Pencipta dan seluruh alam.  Maka sudah sepantasnya kita selaku umatnya untuk memuliakan maulid beliau, terlepas dari pro dan kontra yang ada. Bahwa maulid beliau adalah sebagai awal pencerah bagi gelapnya dunia, dan sebagai tetesan embun pagi yang memberi kesejukan di relung jiwa yang menghajatkan kebenaran. Semoga dengan sekelumit tulisan ini dapat menjadi pencerah di dalam menerima perbedaan pandangan, sebab kita tak ingin selamanya bergumul dengan masalah-masalah furu’ sehingga mengenyampingkan masalah-masalah ushul. Masih banyak PR keumatan yang lebih besar yang harus segera diatasi berupa kemiskinan, kebodohan, korupsi, dan ketidak adilan. Kebenaran mutlak milik Allah, pemahaman insani bukanlah absolut, beda pendapat hal biasa, menganggap diri paling benar adalah kebinasaan. Semoga manfaat!!! Salam ukhuwah!!!

      

 

Views All Time
Views All Time
15
Views Today
Views Today
1

LEAVE A REPLY