Prestasi Guru Itu Tuntutan

0
91
adi suprayitno
Prestasi Guru Itu Tuntutan

Tuntutan yang begitu besar terhadap prestasi guru sebenarnya wajar karena guru adalah orang yang memiliki tanggung jawab terhadap pendidikan dan perkembangan anak didiknya. Prestasi seorang siswa apakah maju atau mundur juga banyak tergantung kepada kemampuan guru dalam meningkatkan motivasi belajar siswa. Semakin tinggi pendidikan seorang guru dan semakin luas wawasan yang dimilikinya, kemungkinan besar akan semakin mampu meningkatkan prestasi anak didiknya. Untuk meningkatkan prestasi tersebut para guru hendaknya memiliki wawasan dan pengetahuan yang luas terhadap profesinya. Semakin tinggi pendidikan seorang guru dan wawasan yang dimilikinya dengan sendirinya dapat meningkatkan prestasi anak didiknya. Untuk meningkatkan prestasi tersebut para guru hendaknya harus memiliki wawasan dan pengetahuan yang luas terhadap profesinya. Salah satu cara untuk meningkatkan wawasan adalah dengan banyak mengikuti seminar, membaca buku, memperhatikan berita radio dan televisi, membaca koran, majalah, menulis karya ilmiah, dan berdiskusi sesama rekan.

Dalam upaya lebih memenuhi fungsi pendidikan sebagai wahana pengembangan sumber daya manusia, perlu dikembangkan iklim belajar yang konstruktif bagi berkembangnya potensi kreatif peserta didik.

Pada masa sekarang dimana perkembangan ilmu sangat pesat dalam berbagai sektor kehidupan, diperlukan sumber daya manusia yang berkualitas. Oleh sebab itu, setiap anggota masyarakat dituntut untuk menjadi kreatif, demikian juga dengan guru. Kreativitas sangat dibutuhkan dalam kehidupan. Setiap manusia harus berupaya untuk mengembangkan diri. Dalam setiap upaya manusia untuk mengembangkan diri diperlukan adanya dorongan, pemikiran, sikap dan perilaku yang kreatif.

Misi pendidikan masa depan mencakup : peningkatan produktivitas kerja, peningkatan kemampuan untuk menciptaan dan menerapkan teknologi baru. Hal ini disebabka semakin kuatnya persaingan antar negara, sehingga jika tidak dari sekarang kita menyiapkan generasi muda terdidik yang memiliki keunggulan kompetitif, maka bisa dipastikan beberapa tahun ke depan kita semakin jauh tertinggal dari negara-negara maju, bahkan sesama negara berkembang. Guna menyelenggarakan pendidikan yang memenuhi misi seperti tersebut di atas, diperlukan guru-guru yang profesional. Profesionalisme sebagai syarat dalam kegiatan belajar mengajar mengandung arti bahwa seorang guru harus menguasai secara baik bidang keahliannya.

Sebagai guru, disertai komitmen dan dorongan untuk dapat mengembangkan dan menambah pengetahuan yang dapat meningkatkan hasil belajar mengajar yang setinggi-tingginya. Disamping persyaratan tersedianya guru-guru yang profesional, dalam melakukan pembenahan pendidikan diperlukan kurikulum yang sesuai, untuk melaksanakan misi yang telah dirumuskan. Menurut Muhadjir ada tiga prinsip yang perlu diperhatikan dalam penyusunan suatu kurikulum yaitu : Pertama belajar sesuai dengan kebutuhan tugas. Dengan prinsip ini penyusunan program pendidikan dimulai dengan memperjelas dan mempertegas tugas yang akan dilaksanakan oleh lulusan program pendidikan tersebut, tugas tersebut telah ditetapkan sebagai orientasi program pendidikannya. Selanjutnya tugas tersebut dispesifikasikan menjadi tugas-tugas khusus untuk kemudian dirumuskan kemampuannya yang harus dimiliki oleh lulusan atau subyek didik untuk dapat melaksanakan tugas-tugas tersebut.

Kedua materi atau bahan yang dipelajari mendukung tugas, setalah ditegaskan tentang tugas yang diinginkan dan telah dirumuskan kemampuannya (kompetensi) yang harus dicapai oleh subyek didik, selanjutnya dipilih materi yang mendukung terbentuknya kompetensi yang dibutuhkan. Ini tidak berarti seluruh suatu disiplin ilmu dipelajari, tetapi yang mendukung untuk menjalankan tugas tersebut.

Ketiga menggunakan metode belajar yang mendukung tercapainya kemampuan untuk melaksanakan tugas, dengan prinsip ini belajar tidak menjadi sekedar bersifat teoritis tetapi juga dalam bentuk praktek.

Untuk menyiapkan SDM yang kuat pembenahan pendidikan terus dilakukan, dengan adanya upaya pemerintah memperbaharui kurikulum 1994 dengan kurikulum 1999. Kurikulum memegang peran penting dalam proses pendidikan sebab menentukan kearah mana sasaran dan tujuan peserta didik akan dibawa atau dikembangkan, pengetahuan dan kemampuan dan mengembangkan kemampuan tersebut, ibarat tubuh kurikulum merupakan jantung pendidikan (Zamroni, 1997).

Kurikulum 1994 mempunyai karakteristik menjembatani adanya perubahan zaman menuju era restrukturisasi negara industri, selain memiliki muatan ilmu pengetahuan dan teknologi, serta iman dan taqwa dan integrated learning. Kurikulum 1994 dirancang untuk benar-benar ramping dan dinamik, mengandung arti memberi kesempatan kepada guru untuk mengembangkannya lebih kreatif. Seperti dijelaskan Suyanto (1997a), “kurikulum 1994 menuntut kreativitas guru yang tinggi untuk mengembangkan menjadi pemikiran kurikulum yang operasional, instruksional dan eksperiensial”. Misi utama dari desain itu untuk menjaga relevansi dengan pertumbuhan dan perkembangan fenomena yang terjadi di masyarakat yang luar biasa pesatnya.

Menurut Amijaya yang dikutip Partini (1997), menyatakan bahwa “kualitas pendidikan banyak bergantung pada tenaga kependidikan yang mengelola sekolah sebab makin disadari bahwa titik manapun pembangunan hendak dilaksanakan faktor tenaga kependidikan harus menjadi perhatian utama untuk menyusun gagasan menjadi realitas”. Partini (1997), dalam penelitiannya menyebutkan bahwa guru merupakan ujung tombak dalam pembangunan pendidikan dan sekaligus merupakan salah satu faktor yang menentukan keberhasilan pendidikan. Dalam kurikulum 1994 peran guru sebagai pengembang kurikulum jauh lebih luas, perannya sangat penting dan strategis, guru harus membuat keputusan mengenai berbagai hal secara profesional sehingga proses belajar siswa yang dinyatakan dalam GBPP dapat dilaksanakan secara maksimal. Sependapat dengan Hasan (1997), guru harus juga menentukan sumber belajar yang akan digunakan siswa dan memanfaatkan sumber belajar yang tersedia di lingkungan sosial, budaya dan alam, guru dituntut kreatif untuk menterjemahkan ke dalam program-program pengajaran. Untuk pencapaian program belajar dari aspek kognitif, pembelajaran siswa sebaiknya dititik beratkan pada upaya guru dalam mendorong dan membiasakan siswa untuk berfikir kreatif, guru harus memikirkan cara-cara baru agar materi pembelajaran yang diberikan kepada siswa mudah dipelajari dan dipahami, dan menjadikan mata pelajaran itu disukai yang pada akhirnya akan membantu siswa mampu menyelesaikan persoalan-persoalan sosial yang dialaminya di sekolah maupun di masyarakat.

Views All Time
Views All Time
256
Views Today
Views Today
1

LEAVE A REPLY