Masa Pandemi Covid 19 sudah berlangsung hampir satu tahun. Indonesia sendiri telah mencatatkan 1.000.000 lebih kasus. Pada Akhir 2020, 82 ribu anak-anak terpaapr Covid-19 dan 568 diantaranya meninggal dunia. Catatan kasus harian tertinggi menyentuh angka 8.844 kasus. Berbagai upaya pemerintah dan inisiatif masyarakat telah dilakukan. Namun, lamanya penanganan pandemi memunculkan sikap jenuh masyarakat yang pada akhirnya merebak Pseudosains dan Pseudokognitif. Alih-alih ingin cepat selesai, yang terjadi justru semakin meningkatnya kasus harian.

Suasana kebatinan yang jenuh ini tentunya juga dialami kalangan para siswa. Jika tidak disikapi dengan bijak, sangat dikhawatirkan tidak hanya berpengaruh pada prestasi belajarnya, namun sangat disayangkan jika membahayakan keselamatan jiwanya.

Agar siswa tidak jenuh dengan rutinitas 3 M yang digalakkan pemerintah, maka berlandaskan prinsip perubahan Trikon (Kontinu, Konvergen Dan Konsentris) Ki Hajar Dewantara dan dengan menggunakan pendekatan Inkuiri Apresiatif/BAGJA dipandang perlu adanya program khusus yang sesuai kodrat keadaan siswa, Kodrat alam dan kodrat zaman.

Rancangan Program class meeting pasca PAS kali ini adalah upaya kolaboratif para pemangku kebijakan dalam menciptakan ruang gerak siswa agar tetap produktif di masa pandemi. Pemangku kebijakan dalam dunia pendidikan adalah para pelaku tri pusat pendidikan, baik lingkungan rumah-sekolah-masyarakat. Lebih fokus lagi, program ini memantik upaya kolaboratif masing-masing siswa dan orang tuanya dalam merancang komunitas baik di lingkungannya. Ruang lingkup program yang direncanakan bisa di lingkungan keluarga (rumah), antar rekan rekan dan atau masyarakat sekitar lingkungan rumah.

Adapun tema yang diusung dalam program ini adalah  “Adapting To Pandemic Covid19 : Santri Al Kahfi Siap Beradaptasi”

Program ini bertujuan selain pelaksaaan kegiatan masa jeda pasca PAS yang biasanya dilakukan class meeting yang dimodifikasi menjadi kegiatan produktif siswa di lingkungannya, juga bertujuan diantaanya : 1.Meningkatkan komuniaksi efektif antara orang tua dan anak; 2.Memperkaya referensi alternatif kegiatan liburan yang produktif; 3.Memberi ruang siswa untuk berinteraksi sosial di lingkungannya dengan tetap menjaga protokol kesehatan, 3 M; 4.Syiar aktifitas siswa ke khalayak umum. Kegiatan PMP ini diperuntukkan bagi seluruh siswa SMPIT AL Kahfi. Namun, mengingat kondisi pandemi covid19, maka pelaksanaan kegiatan bersifat sukarela.

Adapun linimasa program ini dilaksanakan dengan durasi masa satu pekan, dengan rincian sebagai berikut : 1.Rabu, 9 Desember 2020 : sosialisasi dan jaringan aspirasi program ke pemangku kebijakan sekolah (Kepsek, Tim Sekolah, GWS); 2.Kamis, 10 Desember 2020 : sosialisasi dan jaringan aspirasi program ke wali murid dan siswa. (via WAG Kelas dan WAG siswa per level); 3.Jumat-Kamis, 11-17 Desember 2020 : proses perencanaan program di internal masing-masing siswa dengan melibatkan orang tua dan sekaligus pelaksanaan program masing-masing siswa di lingkungannya. (Panduan juknis terlampir); 4.Jumat, 18 Desember 2020 : pelaporan kegiatan dan saling memberi umpan balik antar sesama, baik siswa-wali murid-GWS di fb ikhwan/akhwat; 5.Sabtu, 19 Desember 2020 : Apresiasi sekolah .

Agar kegiatan program PMP ini dapat berjalan dengan baik, Kepala Sekolah SMPIT AL Kahfi, Yeyen Nurohmah, S.Pd., MM., menununjuk Rima L. Mikrimah, SP. sebagai Penanggung Jawab program di bawah arahan Wakasek Kesiswaan, Rina Rachmawati, S.P. Dalam praktik di lapangan, PJ PMP berkolaborasi dengan Sholahuddin Al Ayubi,SEI., Calon Guru Penggerak dari SMPIT Al Kahfi Bogor, dalam merancang, mengeksekusi, hingga melaporkan keterlaksanaan program.

Sedari awal, target utama program ini memang tidak terlalu muluk-muluk berharap semua siswa terlibat. Mengingat kondisi pandemi, maka kegiatan PMP didesign bersifat sukarela. Hal ini penting agar siswa yang sedang fokus pemulihan karena terdampak covid tidak terganggu konsentrasinya. Melalui serangkaian tahapan sosialisasi, baik kepada pada dewan guru, khususnya wali kelas, juga sosialisasi teknis program kepada wali siswa dan siswa di WAG yang tersedia.

Pengumpulan tugas melalui media sosial (Facebook) dengan pertimbangan FB adalah medsos yang paling memungkinkan diakses mayoritas civitas akademika. Dalam perjalanan, media Instagram-pun disediakan untuk mengakomodir siswa yang cenderung aktif di IG.

Sebagai alat ukur efektifitas program, Penanggung jawab kegiatan menyebarkan kuesioner yang berisi pertanyaan berdasarkan indikator-indikator penilaian program. Pengisian kuesioner berdasarkan hasil diskusi antara siswa dengan orang tuanya, dan didapat laporan sebagai berikut :

Dari total populasi siswa SMPIT Al Kahfi (798 siswa), tercatat 332 siswa merespon kuesioner. Sebanyak  139 siswa dari siswa yang merespon menyatakan berpartisipasi dalam program PMP hingga pelaporan di laman medsos sekolah yang ditentukan, dan sisanya (193 siswa) menyatakan belum bisa berpartisipasi.

Kolaborasi antara siswa dengan keluarganya dan atau lingkungan sekitarnya diwujudkan dalam berbagai jenis kegiatan. Sebaran jenis kegiatan didominasi program bersifat kerohanian (43,6%) dan program kegiatan rutin di rumah (36,4%).

Pada satu sisi, hal ini menandakan nilai-nilai kepesantrenan dapat diterapkan oleh siswa selama di rumah, namun di sisi lain perlu usaha lebih untuk mendorong munculnya program-program inovatif dan berdampak sosial maupun ekonomis bagi lingkungan sekitar yang bisa dilakukan siswa selama belajar di rumah.

Patut diapresiasi kesediaan siswa dalam mengisi kuesioner meski belum bisa terlibat dalam kegiatan PMP dengan berbagai latar belakang kendala.  Selain kendala lain-lain yang tidak dapat diungkapkan, kendala teknis perlu mendapat sorotan. Kendala jaringan, peralatan penunjang pelaporan kegiatan, akun FB sebagai wadah ekspose laporan kegiatan, menjadi penghambat siswa dalam mengikuti PMP sebesar 31,1%. Besar dugaan, siswa yang tidak merespon kuesioner juga memiliki kendala yang sama. Hal ini tentunya menjadi catatan perbaikan pelaksanaan program semisal di masa mendatang dengan menyediakan sarana alternatif yang memudahkan siswa dalam memenuhi standar kegiatan.

Latar belakang karena malu, minat rendah, belum memiliki ide, dan waktu yang kurang, pada rancangan program berikutnya bisa diantisipasi dengan meningkatkan jaring komunikasi antara wali kelas dengan siswa serta orang tua siswa lebih intens lagi. Pendampingan dalam pelaksanaan progam harus lebih intens lagi meski dalam kondisi yang kurang menguntungkan. Peran wali kelas harus lebih dioptimalkan dalam menjembatani alur komunikasi antara PJ Pelaksana program dengan pihak orang tua dan siswa. Adanya endorse program kegiatan yang dilakukan secara masif dan berulang diharapkan dapat menjadi pengingat sekaligus motivasi bagi siswa yang belum turut serta terlibat dalam kegiatan.

Hal yang perlu diperhatikan juga adalah rendahnya kendala dengan latar belakang sakit (3,2%). Dalam kondisi pandemi serta cuaca yang kurang mendukung, patut diduga siswa yang tidak merespon kuesioner juga memiliki kendala yang sama. Perlu upaya lebih detil dalam mendata kondisi kesehatan siswa serta upaya-upaya preventif agar siswa tetap prima dalam menjaga kesehatannya.

Tiga indikator yang digunakan untuk mengukur efektifitas kegiatan PMP dalam survey yang disebar yaitu  : Ketersesuaia program, Inspirasi (untuk) liburan yang aman selama pandemi, dan (harapan) Kelanjutan program. Berdasarkan hasil olahan data, di dapat tingkat efektifitas program cukup tinggi (83%).

Tiga indikator yang digunakan untuk mengukur daya pengaruh kegiatan PMP dalam survey yang disebar yaitu  : Meningkatkan komunikasi orang tua dan anak, Terjalin interaksi anak dengan lingkungan, komunikasi antara pihak sekolah dengan orang tua dan anak. Berdasarkan hasil olahan data , di dapat tingkat efektifitas program cukup tinggi (83,9%).

Sebagai kesimpilan, meski program PMP bersifat sukarela, rendahnya keiikutsertaan siswa (193 siswa dari 798 siswa) disebabkan berbagai kendala yang dihadapi, perlu mendapat perhatian, agar setiap kendala dapat diantsipasi kedepannya. Secara keseluruhan program PMP dapat direkomendasikan untuk dilaksanakan pada kesempatan berikutnya. Menciptakan pembelajaran kolaboratif antara pihak sekolah, orang tua siswa, siswa dan lingkungan siswa, dengan harapan semakin memperkaya pengalaman siswa dalam mempersiapkan masa depan yang dicita-citakannya.

Sebagai bahan perbaikan ke depan, dapat dirumuskan beberapa saran diantaanya : 1.Meningkatkan intensitas komunikasi antar pihak yang terlibat; 2.Meningkatkan kualitas sosialisasi dan pendampingan program; 3.Membuat berbagai pilihan kantong tugas yang dapat diakses siswa dan hasilnya juga dapat diakses masyarakat secara luas.

https://youtu.be/kin63SFRnYU

Views All Time
Views All Time
9
Views Today
Views Today
2

LEAVE A REPLY