PROGRAM LHS DAN DUKUNGAN KELUARGA

0
88

Terkait dengan rencana pelaksanaan “LHS” atau 5 Hari Sekolah  sebagaimana digagas oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, maka tentunya hal tersebut bertujuan untuk lebih memaksimalkan dan  meningkatkan peran sekolah dalam pendidikan peserta didik di lingkungan sekolah, tanpa mengurangi peran orangtua peserta didik itu sendiri. Selama ini peran pendidikan dalam keluarga belum difungsikan secara maksimal. Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan menerbitkan Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 11 Tahun 2015 tentang Direktorat Pembinaan Pendidikan Keluarga. Direktorat baru ini diharapkan mampu mendorong proses penguatan prestasi belajar peserta didik, pendidikan kecakapan hidup, serta pendidikan karakter dan kepribadian. Direktorat Pembinaan Pendidikan Keluarga memiliki program penanganan perilaku perundungan (bullying), pendidikan penanganan remaja, serta perilaku destruktif. Semua program tersebut diperuntukkan tidak hanya untuk meningkatkan peran aktif orangtua kandung dari peserta didik, tapi juga wali atau orang dewasa yang bertanggung jawab dalam pendidikan anak.

Rencana pelaksanaan LHS sudah diwacanakan dan mendapat tanggapan beragam dari berbagai lapisan masyarakat, baik masyarakat umum, orangtua, pemerhati pendidikan, praktisi pendidikan, dan pihak-pihak yang peduli pendidikan lainnya. Memang di era keterbukaan sekarang ini, kebijakan yang menyangkut kepentingan publik seperti rencana full day school, terlebih dulu diwacanakan ke publik untuk mendapat tanggapan dari semua pihak sehingga jika rencana tersebut dilaksanakan akan lebih baik dan bermnafaat bagi semua pihak. Meski demikian, tidak semua rencana yang akan digulirkan oleh Pemerintah mendapat tanggapan positif dari publik. Tentu ada pula pihak-pihak tertentu yang kurang setuju atau bahkan antipati terhadap rencana tersebut. Tentunya hal tersebut dapat dimaklumi di era keterbukaan dan demokrasi sekarang ini. Pada kenyataannnya, sudah banyak sekolah yang telah menerapkan LHS , khususnya sekolah swasta dan beberapa sekolah negeri yang ditetapkan oleh pemerintah daerah kabupaten/kota. Daerah di Kalimantan Selatan yang telah menerapkan pola LHS tahun pelajaran 2016/2017 adalah Kabupaten Tanah Bumbu.

Terlepas dari pro-kontra terhadap rencana LHS yang akan diterapkan di sekolah pada tahun pelajaran 2017/2018 yang akan datang, sekolah dan keluarga patut menyikapinya dengan persiapan yang dini untuk mendukung terlaksananya rencana LHS l. Dengan adanya kegiatan sekolah yang LHS, maka tentunya ada konsekwensi yang harus diterima oleh  sekolah dan keluarga. Sekolah harus menyediakan sarana dan prasarana yang memadai untuk mendukung terlaksananya  LHS dengan baik, seperti penyediaan tempat ibadah (musholla, masjid)  bagi peserta didik yang beragama Islam untuk melaksanakan sholat Dzuhur dan Ashar,  kantin atau warung sekolah yang cukup memadai guna menyediakan makan siang dan keperluan lainnya untuk peserta didik dan pendidik serta tenaga kependidikan di sekolah. Demikian pula dengan sarana dan prasarana lain yang dapat memberikan kenyamanan peserta didik selama di sekolah. Dari pihak keluarga, tentunya menyiapkan lebih baik lagi untuk mendukung LHS, seperti menambah uang saku bagi anak untuk ongkos makan siang dan keperluan lainnya. Keluarga menjadi penyokong dan pendukung utama terlaksananya dengan baik kegiatan sekolah yang menerapkan LHS.

Komunikasi dan kerjasama antara keluarga dengan pihak sekolah dalam mendukung LHS menjadi kunci sukses terlaksananya kegiatan tersebut.  Keluarga yang memiliki anak yang mengikuti sekolah LHS tentunya dapat memahami kondisi yang dialami oleh sang anak ketika  pulang dari sekolah. Kemungkinan besar kondisi fisik anak lelah dan capek akibat mengikuti berbagai kegiatan di sekolah yang relatif padat. Sejak pagi sampai siang hari anak mengikuti proses pembelajaran, dan kemudian di siang menjelang sore mengikuti kegiatan atau aktivitas ekstrakurikuler  atau kegiatan lainnya yang telah diprogram oleh sekolah. Melibatkan anak atau peserta didik dalam kegiatan sekolah yang padat dapat berdampak melelahkan dan menguras tenaga dan  fisik meraka atau mungkin dapat pula berakibat stres. Namun demikian,  proses pembelajaran dan kegiatan ekstrakurikuler atau kegiatan yang dilaksanakan sekolah dengan LHS tidak bermaksud untuk membuat peserta didik lelah , capek, apalagi stres. Semua dilakukan dengan dengan maksud untuk membentuk peserta didik yang lebih   Memang sudah hukumnya bahwa  sesuatu yang baru akan sulit berjalan disaat awalnya, tetapi jika sudah lama dan terbiasa, maka akan berjalan baik dan lancar. Demikian pula dengan rencana diterapkannya LHS. Kendala dan hambatan pasri akan ada, terlebih bagi sekolah yang berada di pedesaan dengan sarana dan prasarana yang terbatas.

Views All Time
Views All Time
171
Views Today
Views Today
1
Previous articleUNBK, SIAPA TAKUT?
Next articlePERLUKAH GURU BERTINDAK KERAS ?
Lahir dari keluarga petani dan sederhana di Martapura (Banjar) Kalsel, 5 Nopember 1963. Kini menjalani profesi sebagai guru sejak tahun 1988. Mata pelajaran PPKn/PKn. Saat ini (2017) bertugas di SMPN 4 Pelaihari Kab.Tanah Laut Kalsel. Mulai menulis artikel tentang pendidikan secara rutin sejak tahun 2013. Tulisan artikel banyak dikirim dan terbit pada koran lokal, Banjarmasin Post dan Radar Banjarmasin. Tahun 2015, penulis membukukan artikel-artikel yang pernah terbit pada koran lokal dalam sebuah buku "OPINI SANG GURU" (edisi pertama,2015) lalu buku " OPINI SANG GURU "Edisi Kedua (2017),dan insyaallah akan dilanjutkan dengan buku "OPINI SANG GURU" edisi ketiga ,dan seterusnya.Dalam bentuk tulisan ilmiah, penulis bersama dengan guru-guru Kalsel yang pernah mengikuiti Lomba Inovasi Pembelajaran Kemdikbud tahun 2015, 2016,dan 2017, sedang menyusun dan menerbitkan buku " INOVASI PEMBELAJARAN' ,yang akan diterbitkan dalam beberapa edisi. Setiap edisi terbit diisi oleh 5-6 guru penulis. Buku "INOVASI PEMBELAJARAN" berisi naskah karya tulis inovasi pembelajaran yang pernah masuk worshop dan finalis Lomba Inovasi Pembelajaran, rencananya akan diterbitkan pada akhir tahun 2017 untuk edisi pertama, dan awal tahun 2018 untuk edisi kedua... dan seterusnya. Penulis, bertindak sebagai koordinator pengumpulan naskah tulisan,mengedit, dan mengirimkannya ke penerbit buku di Kalsel. Semoga buku " INOVASI PEMBELAJARAN' karya guru 'Banua' untuk Indonesia akan dapat menginspirasi guru untuk membuat inovasi pembelajaran, menulis, dan membukukannya. Semoga.

LEAVE A REPLY