Proposal PTK

0
138

BAB I

PENDAHULUAN

 Latar Belakang Masalah

Dunia pendidikan tidak pernah lepas dari permasalahan baik masalah yang  bersumber dari peserta didik, tenaga pendidik maupun faktor penunjang terselenggaranya proses pendidikan. Proses pembelajaran yang diselenggarakan tenaga pendidik atau guru memiliki komponen-komponen penunjang terselenggaranya proses pendidikan yang ideal, diantaranya perangkat pembelajaran yang digunakan, strategi, metode, model pembelajaran, media sebagai penunjang proses, serta kemampauan guru mengsingkronkan komponen-komponen tersebut dalam proses pembelajarannya.

1

Pendidikan sebagai pilar kemajuan bangsa secara terus menerus mengalami perkembangan mengikuti  perkembangan ilmu dan tekhnologi, untuk itu kompetensi seorang guru juga semestinya selalu ditingkatkan terutama kompetensi dalam menyediakan perangkat dan penunjang proses pebelajaran. Selain itu, guru sebagai pemegang kunci keberhasilan pembelajaran seyogiyanya memahami prinsip dasar pembelajaran. Menurut Lufri (2006: 2) prinsip dasar pembelajaran adalah mengembangkan potensi anak didik (kognitif, afektif, psikomotor atau dalam paradigma baru dikenal istilah kecerdasan intelektual, emosional, spiritual dan skill) secara optimal. Strategi pembelajaran tersebut perlu dirancang, yaitu (1) bagaimana guru mengajar, mendidik dan melatih secara tepat, (2) bagaiman guru memotivasi anak didik supaya belajar dan mengembangkan kompetensinya secara optimal, ( 3) bagaimana anak didik memiliki akhlak mulia, (4) faktor-faktor apa saja yang harus diperhatikan untuk mencapai keberhasilan belajar anak didik, (5) bagaimana guru bisa menjadi teladan dalam berperilaku, (6) bagaimana seharusnya peran guru dalam pembelajaran.

Proses pembelajaran yang berkualitas dipengaruhi perangkat pembelajaran yang digunakan. Sebagai salah satu komponen utama  yang harus dimiliki seorang guru dalam melaksanakan proses pembelajarannya, perangkat pembelajaran meliputi program tahunan, program semester, Silabus, RPP, LKS dan Bahan Ajar. Perangkat pembelajaran  berupa bahan ajar secara luas diartikan juga segala bahan yang dipergunakan guru dalam proses pembelajarannya. Silabus, RPP dan LKS dapat juga diartikan sebagai bahan ajar. Tetapi dalam arti sempit Bahan Ajar adalah materi minimal yang dimiliki guru dan siswa yang dapat berupa Modul, Handout, ringkasan materi dan sebagainya .

Materi pembelajaran Biologi mengkaji struktur fisik dan fungsi alat-alat tubuh manusia. Alat-alat tubuh manusia bekerja sendiri-sendiri tetapi tetap saling berhu-bungan dan saling membantu satu sama lain. Biologi juga mengkaji alam beserta komponennya dan dianggap sebagai suatu sistem. Keadaan inilah yang menyebabkan mempelajari biologi memiliki pola berpikir logis yang khas. Hal ini sesuai dengan tujuan mempelajari biologi yaitu: 1) mengembangkan penguasaan konsep dan prinsip biologi dan saling keterkaitannya dengan IPA lainnya; 2) mengembangkan pengetahuan, keterampilan dan sikap percaya diri; 3) membentuk sikap positif terhadap biologi dengan menyadari keteraturan dan keindahan alam serta mengagungkan kebesaran Tuhan Yang Maha Esa; 4) memupuk sikap ilmiah yaitu jujur, objektif, terbuka, ulet, kritis dan dapat bekerjasama dengan orang lain (Permendiknas nomor 22 tahun 2006). Sesuai dengan tujuan pembelajaran biologi tersebut maka seharusnya biologi menjadi mata pelajaran yang menantang sekaligus menyenangkan, sehingga menimbulkan keingintahuan yang kuat bagi  siswa dalam mempelajarinya.

Berdasarkan pengalaman penulis selama mengajar di SMP N 12 Padang, proses pembelajaran yang dirancang dalam  RPP belum menciptakan proses pembelajaran yang berpusat pada siswa. Hal ini terlihat dari dominannya guru berbicara dalam proses pembelajaran dan minimnya aktivitas  yang melibatkan siswa selama proses pembelajaran.

 

Tabel 1. Keaktifan siswa dalam proses pembelajaran pada kelas VII 1 Tahun Ajaran 2014-2015.

NO. Aktivitas Siswa Jumlah siswa % keaktifan siswa
1. Mengajukan pertanyaan 3 9,38%
2. Menjawab pertanyaan 2 6,25%
3. Mengemukakan pendapat 2 6,25%
4. Aktif berdiskusi dengan kelompok 2 orang per kelompok 40%

Catatan: Jumlah siswa 32orang

Penyebab rendahnya aktivitas siswa antara lain takut jawaban salah, kurang memahami materi pelajaran dan proses pembelajaran kurang menarik atau membosankan. Motivasi dan aktivitas yang rendah membuat siswa mengalami kesulitan memahami konsep-konsep pembelajaran dan  sulit  diingat dalam jangka waktu lama, dan berdampak pada hasil ulangan harian yang rendah.

Tabel 2. Nilai Ulangan Harian Semester II IPA Kelas VII1-VII3 Tahun Pelajaran  2014-2015

Ulangan Harian Jumlah siswa Mencapai KKM Tidak mencapai KKM %Pencapaian KKM
I 91 39 52 42,85%
II 92 44 48 47,83%
III 92 45 47 48,91%
Rata-rata % Pencapaian KKM    46,53

                              Sumber Data:  Buku Nilai SMP N 14 Padang kelas VII

Berdasarkan tabel  2 di atas dapat dilihat bahwa rata-rata nilai ulangan harian siswa berada di bawah KKM SMPN 12 Padang yaitu 75. Hasil perbincangan penulis dengan beberapa siswa mereka sulit menjawab soal tes karena mereka memang sulit memahami materi pada saat proses pembelajaran. Selain itu siswa juga kurang mengulang pelajaran di rumah karena keterbatasan sumber belajar. Sumber belajar yang digunakan siswa satu-satunya hanya  bahan ajar berupa ringkasan materi yang diproduksi MGMP kota Padang yang belum teruji kemampuannya meningkatkan hasil belajar siswa karena bahan ajar ini hanya disusun oleh beberapa guru yang kemampuan menulisnya masih terbatas. Sehingga masih diperlukan kemauan guru untuk memilih dan memvariasikan bahan ajar yang lebih baik dan luas cakupannya.

Model  pembelajaran  yang sering dimanfaatkan peneliti adalah ceramah,  dan diskusi kelompok. Namun siswa belum termotivasi mendengarkan penjelasan guru dengan serius, siswa sering mengobrol bahkan bercanda dengan temannya pada saat guru menerangkan pelajaran. Dalam pembelajaran kelompok siswa yang aktif mengerjakan tugas diskusi hanya siswa yang itu-itu saja yaitu rata-rata hanya dua orang siswa dari empat atau lima anggota kelompok, sedangkan sisanya hanya menunggu hasil kerja temannya atau bahkan mengerjakan sesuatu yang tidak berhubungan dengan proses pembelajaran, misalnya memukul-mukulkan pena ke meja, menggambar sesuatu ditangan atau kertas  yang tidak ada hubungannya dengan pembelajaran. Pada saat guru mendatangi kelompok dan meminta mereka untuk aktif berdiskusi biasanya siswa menghentikan aktivitas yang tidak ada hubungannya dengan pembelajaran, tetapi hai ini hanya berlangsung beberapa menit saja kemudian mereka akan kembali tidak serius dan sepertinya tidak tau apa yang akan mereka lakukan dalam berdiskusi sehingga kegiatan diskusi kembali didominasi siswa yang sama. Kegitan diskusi klasikal juga akhirnya kembali didominasi guru dan beberapa siswa saja.

Kenyataan yang ditemukan tersebut  tentu tidak dapat dibiarkan  begitu saja, harus ada usaha perbaikan yang dilakukan guru. Hal ini memerlukan perbaikan yang dapat menyentuh kelemahan proses pembelajaran baik dari pihak guru maupun siswa. Memang proses pembelajaran yang berkualitas terletak di tangan guru yang piawai memainkan perannya dalam strategi pembelajaran yang digunakan. Artinya  bahwa yang penting adalah  siapa yang membelajarkan bukan materinya.

Strategi pembelajaran yang diharapkan memperbaiki proses pembelajaran adalah dengan menggunakan model koopreratif. Ada lima tipe model pembelajaran kooperatif dan peneliti menggunakan  tipe Think Pair Share karena berharap dengan pembelajaran kelompok kecil (dua orang siswa) dapat  merubah proses pembelajaran yang selama ini dilakukan.

Interaksi siswa dengan guru yang aktif membuktikan siswa tertarik dengan   proses pembelajaran. Adanya aktivitas belajar siswa secara optimal akan menentukan tingkat pemahaman siswa terhadap materi pelajaran yang disajikan guru. Interaksi dalam proses pembelajaran juga dapat berlangsung antara sesama siswa. Kelas yang diam tanpa gerak dan interaksi bukanlah kelas yang didambakan siswa secara umum, sangat sedikit siswa yang menyenangi suasana kelas yang diam, menerima apa saja yang disajikan guru tanpa berkontribusi dalam kegiatan pembelajaran. Belajar adalah proses berpikir. Belajar berpikir menekankan kepada proses mencari dan menemukan pengetahuan melalui interaksi antara individu dengan lingkungan. Sehingga siswa menjadi terbiasa dalam proses pembelajaran yang menantang untuk memahami dan menemukan konsep konsep materi pelajaran secara mandiri. Menurut Dimyanti dan Mujdiono(1999: 157) pembelajaran adalah proses yang diselenggarakan oleh guru untuk membelajarkan siswa dalam belajar bagaimana belajar memperoleh dan memproses pengetahuan, keterampilan, dan sikap.

Bagaimana proses yang dapat meningkatkan kualitas pembelajaran dengan masalah-masalah yang ada membuat peneliti merasa perlu melakukan perbaikan dengan melakukan suatu tindakan nyata yang dapat meningkatkan kualitas pembelajaran yang dilaksanakan. Namun karena permasalahannya sangat kompleks peneliti memilih komponen yang peneliti anggap lebih berperan dalam meningkatkan kualitas pembelajaran dan tentunya juga berpengaruh terhadap aktivitas dan hasil belajar siswa yaitu model pembelajaran yang dapat mengaktifkan siswa secara optimal adalah model pembelajaran koopertif tipe think pair share.

Think = (berfikir) pendidik mengajukan pertanyaaan atau isu yang berhubungan dengan pelajaran, kemudian anak didik diminta untuk memikirkan jawaban pertanyaan atau isu tersebut secara mandiri beberapa saat. Pair = (berpasangan) pendidik meminta anak didik berpasangan dengan anak didik yang lain untuk mendiskusikan apa yang sudah dipikirkan mereka sebelumnya. Interaksi pada tahap ini diharapkan dapat berbagi jawaban atau ide dari persoalan yang diberikan pendidik. Share = (berbagi) pendidik meminta setiap pasangan anak didik untuk berbagi dengan seluruh anggota kelas tentang apa yang sudah mereka bicarakan . Masing-masing pasangan secara bergiliran akan mempresentasikan tentang apa yang sudah mereka jawab (Muslimin Ibrahim dkk, 2000: 26-27).

Pengoptimalan hasil belajar siswa melalui penerapan model pembelajaran think pait share masih memerlukan media perangsang yang membuat siswa menjadi lebih ikut masuk dan berperan aktif dalam proses pembelajaran. Media sederhana yang dapat bersinggungan langsung dan dapat menghilangkan keabstrakan materi antara lain adalah handout. Handout adalah ringkasan materi minimal yang dirancang guru semenarik mungkin dengan mengambil dari berbagai sumber yang dipercaya sehingga siswa menjadi termotivasi  mengikuti proses pembelajaran. Sesuai dengan pendapat Nasrullah (1989:11) yang menegaskan bahwa penggunaan handout dalam kegiatan belajar mengajar dapat merangsang rasa ingin tahu dalam mengikuti pembelajaran, mengaktifkan kreativitas dan keterlibatan siswa dalam kegiatan belajar mengajar serta memelihara kekonsistenan penyampaian materi pelajaran di kelas oleh guru sesuai dengan perencanaan  pembelajaran.

Berpedoman kepada permasalahan dan akibat yang ditimbulkannya terhadap rendahnya aktivitas dan hasil belajar siswa maka akan dilakukan penelitian tindakan kelas dengan judul “Peningkatan Aktifitas dan Hasil Belajar IPA dengan Penerapan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Think Pair Share (TPS) dilengkapi Handout Siswa Kelas VII SMP Negeri 12 Padang”

Identifikasi Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah yang dikemukakan, dapat diidentifikasi masalah-masalah yang ditemui pada kegiatan pembelajaran  sebagai berikut.

  1. Aktivitas dan hasil belajar siswa masih rendah, ini terlihat dari nilai Ulangan Harian siswa kelas VII 1-VII 3 yang mewakili 3 kelas dari 8 kelas siswa kelas VII di SMP N 12 Padang masih banyak di bawah nilai KKM, yaitu 75.
  2. Model pembelajaran yang digunakan guru masih didominasi model ceramah dan pembelajaran diskusi kelompok  tipe umum sehingga siswa yang aktif masih sedikit.
  3. Sumber pembelajaran berupa bahan ajar yang dimiliki siswa masih minim dan cenderung hanya mengandalkan sumber belajar dari guru saja.
  4. Siswa masih mengalami kesulitan memahami konsep-konsep biologi terutama dalam hal memahami istilah istilah yang menggunakan bahasa latin.

 

  1. Batasan Masalah

Berdasarkan identifikasi masalah yang dikemukakan, maka masalah dalam penelitian ini difokuskan pada rendahnya aktivitas dan hasil belajar Biologi siswa kelas VII  SMP N 12 Padang yang disebabkan proses pembelajaran Biologi masih berlangsung monoton dengan model pembelajaran yang kurang menarik dan menantang sehingga belum  memotivasi siswa belajar lebih baik, untuk itu akan diatasi dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe think pair share dengan bantuan bahan ajar berupa handout.

 

  1. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang dan batasan masalah yang dikemukakan, maka rumusan masalah dalam penelitian ini adalah:

  1. Apakah terjadi peningkatan aktivitas belajar IPA Biologi dengan melakukan pembelajaran model kooperatif tipe think pair share disertai bahan ajar berupa handout, siswa kelas VII  SMPN 12 Padang ?

 

  1. Apakah terjadi peningkatan hasil belajar IPA Biologi dengan melakukan pembelajaran model kooperatif tipe think pair share disertai bahan ajar berupa handout, siswa kelas VII  SMPN 12 Padang ?
  2. Tujuan Penelitian

Berdasarkan latar belakang dan rumusan masalah, maka tujuan penelitian ini adalah meningkatkan aktivitas dan hasil belajar  IPA Biologi dengan menggunakan  model pembelajaran Kooperatif tipe Think Pair Share disertai bahan ajar berupa Handout siswa di kelas VII SMP N 12 Padang.

 

  1. Manfaat Penelitian

Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat sebagai berikut.

  1. Bagi siswa: dapat meningkatkan aktivitas dan motivasi belajar siswa khususnya pada mata pelajaran Biologi sehingga dapat meningkatkan proses dan hasil belajar siswa.
  2. Bagi guru peneliti : memperbaiki sekaligus meningkatkan kualitas pembelajaran serta sebagai variasi didalam model pembelajaran.
  3. Bagi rekan sesama guru : sebagai alternatif pilihan model pembelajaran untuk meningkatkan kualitas proses pembelajaran.

 

BAB II

KAJIAN PUSTAKA

 Landasan Teori

 Proses Pembelajaran

Menurut Grinder (dalam Silberman, 2006: 28) hanya ada sedikit siswa yang mutlak memiliki satu jenis cara belajar, dari 30 siswa 22 diantaranya rata-rata dapat belajar secara efektif selama gurunya menghadirkan kegiatan belajar yang berkom-binasi antara visual, audiotori dan kinestetik, namun 8 siswa sisanya menyukai salah satu bentuk pengajaran dibanding dua lainnya sehingga mereka mesti berupaya keras untuk memahami pelajaran. Manusia adalah makhluk heterogen yang memiliki sifat-sifat yang bervariasi dan unik. Seorang pendidik juga harus menyadari bahwa siswanya memiliki karakter beragam dan gaya belajar yang berbeda-beda.

Secara umum ada 3 tipe belajar siswa, yaitu pertama tipe visual adalah siswa yang senang dengan belajar pada suasana hening dan melihat apa yang dijelaskan guru, tipe ini menyukai penyajian informasi secara runtut dan suka menuliskan apa yang dikatakan guru, kedua tipe auditori  adalah tipe mengandalkan kemampuan mendengar dan mengingat, kadang dalam pross pembelajaran banyak bicara dan mudah teralihkan perhatiannya. Ketiga  tipe kinestik adalah tipe yang suka aktif dalam proses pembelajaran, cenderung implusif, seenaknya dan kurang sabaran. Disinilah  peran guru sangat dibutuhkan demi memenuhi kebutuhan gaya belajar setiap siswa yaitu dengan menyajikan pembelajaran yang bersifat multisensori dan penuh dengan variasi.

11

Proses pembelajaran adalah kegiatan interaksi antara guru dan siswa yang berlangsung dalam proses yang edukatif untuk mencapai tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan sebelum proses pembelajaran berlangsung. Menurut Nuryani R (2005:5) proses belajar mengajar adalah kesatuan dua proses antara siswa yang belajar dan guru yang membelajarkan, kedua proses ini menjalin interaksi yang saling menunjang agar hasil belajar siswa dapat tercapai secara optimal lewat proses belajar mengajar itu. Mengajar dan pembelajaran adalah dua kata yang saling melengkapi dalam kegiatan dikelas. Antara keduanya tercipta suatu kegiatan yang sinergis yang diharapkan menumbuhkan suasana kegiatan kelas menjadi bermakna. Pembelajaran adalah kegiatan guru secara terprogram dalam  desain instruksional, untuk membuat siswa belajar secara aktif, yang menekankan pada penyediaan sumber belajar (Dimiyati dan Mudjono 2006:297). Demikian juga dengan pembelajaran Biologi siswa diharapkan berperan aktif tidak hanya sebagai objek tetapi juga sebagai subjek. Menurut Sudjana (2000:37) mengajar adalah sebagai alat yang direncanakan melalui pengaturan dan penyediaan kondisi yang memungkinkan siswa melakukan berbagai kegiatan belajar seoptimal mungkin.

Berdasarkan pendapat ahli yang dikemukakan tersebut  mengajar bukanlah sekedar menyampaikan atau transfer ilmu dari seorang guru kepada siswanya tetapi lebih dalam maknanya adalah membuat siswa mau belajar. Lebih tepatnya dalam proses belajar mengajar siswa harus dijadikan sebagai pusat dari kegiatan  yang bertujuan membentuk watak, peradapan, dan meningkatkan mutu kehidupan peserta didik. Jadi pada hakekatnya proses mengajar adalah proses membimbing siswa untuk melakukan proses belajar.

Peningkatan mutu pendidikan akan tercapai apabila proses belajar mengajar yang diselenggarakan di kelas benar-benar efektif dan berguna untuk mencapai kemampuan pengetahuan, sikap dan keterampilan yang diharapkan. Posisi guru sebagai sentral proses pendidikan khususnya pendidikan sains mestinya bisa menumbuhkan minat dan motivasi peserta didiknya, dengan cara melakukan berbagai kegiatan proses pembelajaran yang menarik dan menantang. Sehingga siswa senantiasa merindukan kegiatan-kegiatan dalam proses pembelajaran.

  1. Model pembelajaran kooperatif (cooperative learning)

Pembelajaran kooperatif merupakan model pembelajaran dimana siswa dibagi kedalam kelompok kecil untuk menyelesaikan suatu permasalahan dalam pelajaran. Menurut Roger dan David dalam Lufri (2007:51) tidak semua kerja kelompok dianggap sebagai kooperatif learning. Ada lima unsur yang terdapat dalam pembelajaran kooperative, yaitu: 1) saling tergantung positif, 2) tanggung jawab perorangan, 3) tatap muka,4) komunikasi antar anggota, 5)evaluasi proses kelompok.

Menurut Slavin (2009: 4) pembelajaran kooperatif merupakan metode pengajaran dimana para siswa bekerja dalam kelompok-kelompok kecil untuk saling membantu satu sama lainnya  dalam mempelajari materi pelajaran. Dalam kelas kooperatif, para siswa diharapkan dapat saling membantu, saling mendiskusikan dan berargumentasi, untuk mengasah pengetahuan yang mereka kuasai saat itu dan menutup kesenjangan dalam pemahaman masing-masing.

Setiap model pembelajaran memiliki kelebihan dan kekurangan, dalam model pembelajaran  kooperatif siswa dapat lebih aktif  bekerjasama dalam melakukan proses pembelajaran bersama-sama dengan temannya. Siswa dilatih mencari, menemukan dan menyimpulkan informasi yang telah diperoleh tersebut untuk  memecahkan masalah. Siswa juga diberi kesempatan bertanggung jawab terhadap kelompok dan dirinya sendiri dalam menyelesaikan tugas-tugas pembelajarannya, Aktivitas yang didominasi siswa akan mengembangkan kreativitas mereka, mengembangkan potensi sosial sehingga memudahkan siswa berinteraksi dalam kehidupan sehari-harinya.

  1. Pembelajaran Kooperatif tipe Think Pair Share

Model pembelajaran Think Pair Share (TPS) dikembangkan oleh Frank Lyman dkk dari Universitas Maryland pada tahun 1985. Model pembelajaran Think Pair Share (TPS) merupakan salah satu model pembelajaran kooperatif sederhana. Teknik ini memberi kesempatan pada siswa untuk bekerja sendiri serta bekerja sama dengan orang lain. Keunggulan teknik ini adalah optimalisasi partisipasi siswa (Lie, 2004:56). Strategi ini menantang asumsi bahwa seluruh resitasi dan diskusi perlu dilakukan didalam setting seluruh kelompok.

Model pembelajaran Think Pair Share (TPS) adalah salah satu model pembelajaran yang memberi kesempatan kepada setiap siswa untuk menunjukkan partisipasi kepada orang lain. Dengan metode klasikal yang memungkinkan hanya satu siswa maju dan membagikan hasilnya untuk seluruh kelas, tipe Think-Pair-Share (TPS) ini memberi kesempatan sedikitnya delapan kali lebih banyak kepada siswa untuk dikenali dan menunjukkan partisipasi mereka kepada orang lain (Lie, 2004: 56). Disamping mempunyai keunggulan, model pembelajaran Think Pair Share (TPS) juga mempunyai kelemahan. Kelemahannya, yaitu (1) metode pembelajaran Think Pair Share (TPS) belum banyak diterapkan di sekolah, (2) sangat memerlukan kemampuan dan keterampilan guru, waktu pembelajaran berlangsung guru melakukan intervensi secara maksimal, (3) menyusun bahan ajar setiap pertemuan dengan tingkat kesulitan yang sesuai dengan taraf berfikir anak dan, (4) mengubah kebiasaan siswa belajar dari yang dengan cara mendengarkan ceramah diganti dengan belajar berfikir memecahkan masalah secara kelompok, hal ini merupakan kesulitan sendiri bagi siswa (Lie, 2004: 47).

Adapun langkah-langkah dalam pembelajaran Think Pair Share (TPS), yaitu (1) guru membagi siswa dalam kelompok berempat dan memberikan tugas kepada semua kelompok, (2) setiap siswa memikirkan dan mengerjakan tugas tersebut sendiri, (3) siswa berpasangan dengan salah satu rekan dalam kelompok dan berdiskusi dengan pasangannya, (4) kedua pasangan bertemu kembali dalam kelompok berempat. Siswa mempunyai kesempatan untuk membagikan hasil kerjanya kepada kelompok berempat (Lie, 2004: 57).

Think Pair Share (TPS) memiliki prosedur ynag ditetapkan secara eksplisit untuk memberi siswa waktu lebih banyak untuk berpikir, menjawab, dan saling membantu satu sama lain. Sebagai contoh, guru baru saja menyajikan suatu topik atau siswa baru saja selesai membaca suatu tugas, selanjutnya guru meminta siswa untuk memikirkan permasalahan yang ada dalam topik  atau bacaan tersebut.

Menurut Spencer Kagan (dalam Jones, 2002) manfaat Think-Pair-Share (TPS) adalah: (1) para siswa menggunakan waktu yang lebih banyak untuk mengerjakan tugasnya dan untuk mendengarkan satu sama lain ketika mereka terlibat dalam kegiatan Think-Pair-Share (TPS) lebih banyak siswa yang mengangkat tangan mereka untuk menjawab setelah berlatih dalam pasangannya. Para siswa mungkin mengingat secara lebih seiring penambahan waktu tunggu dan kualitas jawaban mungkin menjadi lebih baik, dan (2) para guru juga mungkin mempunyai waktu yang lebih banyak untuk berpikir ketika menggunakan Think Pair Share (TPS). Mereka dapat berkonsentrasi mendengarkan jawaban siswa, mengamati reaksi siswa, dan mengajukan pertanyaaan tingkat tinggi. Selanjutnya siswa akan memperoleh penghargaan berupa nilai kelompok maupun pribadi. Nilai secara pribadi diperoleh setelah tahap think dan akan memperoleh nilai secara kelompok setelah tahap pair dan share.

  1. Handout

Menurut Sapta (2009: 389) “handout is prepared statement given”handout adalah bahan tertulis yang disiapkan oleh guru untuk memperkaya pengetahuan peserta didik. Senada dengan hal tersebut Elfis (2010: ) mengemukakan Handout adalah bahan tertulis yang disiapkan oleh seorang guru dan dilengkapi dengan gambar-gambar yang sesuai dan bermakna untuk memperkaya pengetahuan peserta didik. Handout  biasanya diambil dari beberapa literatur yang memiliki relevansi dengan materi yang diajarkan/kompetensi dasar dan materi pokok yang harus dikuasai oleh peserta didik. Sehingga Handout dapat digunakan sebagai sarana siswa dalam mendapatkan informasi suatu pelajaran dengan biaya lebih murah karena informasi yang disampaikan menggunakan bahasa yang simple, jelas dan mudah dimengerti.

Selanjutnya Elfis (2010), menjelaskan langkah-langkah dalam menyusun handout  bergambar, yaitu:

  1. melakukan analisis kurikulum
  2. menentukan judul handout, sesuaikan dengan KD dan materi pokok yang akan dicapai.
  3. Mengumpulkan referensi sebagai bahan penulisan dan gambar-gambar yang bermakna dan sesuai dengan materi. Gambar harus mengandung sesuatu yang dapat dilihat dan penuh dengan informasi dan data. Sehingga gambar tidak hanya sekedar gambar yang tidak mengandung arti atau tidak ada yang dapat dipelajari. Upayakan referensi terkini dan relevan dengan materi pokoknya.
  4. d) Menulis handout serta mengatur tata letak gambar. Dalam menulis upayakan agar kalimat yang digunakan tidak terlalu panjang, untuk siswa SMA diperkirakan jumlah kata per kalimatnya tidak lebih dari 25 kata dan dalam satu paragraph usahakan jumlah kalimatnya antara 3-7 kalimat saja. Dan untuk pengaturan tata letak dan ukuran gambar juga sangat harus diperhatikan. Letak gambar harus sesuai dengan keterangan yang ada sehinga tidak menimbulkan kekeliruan ataupun kesalah pahaman dalam mengerti makna sebuah. Ukuran gambar harus disesuaikan, jangan terlalu kecil atau terlalu besar.
  5. e) Mengevaluasi hasil tulisan dan gambar-gambar dengan cara dibaca berulang-ulang, bila perlu bantuan dari orang lain untuk mendapatkan masukan.
  6. f) Memperbaiki handout sesuai dengan kekurangan-kekurangan yang ditemukan.
  7. Gunakan berbagai sumber belajar yang dapat memperkaya materi baik dari segi penjelasan isi materi maupun gambar-gambar yang menarik dan sesuai misalnya buku, majalah, internet, jurnal hasil penelitian.
  8. Aktivitas belajar

Menurut Dimyanti dan Mudjiono (2006: 45) dalam setiap proses belajar mengajar, siswa selalu menampakkan keaktifan. Aktivitas siswa kearah positif akan menimbulkan efek yang baik bagi proses pembelajaran. Sehingga guru perlu merangsang keaktifan siswa dengan merancang kegiatan pembelajaran yang menciptakan suasana kelas dimana siswa melakukan segala aktivitas yang mendukung keberhasilan dalam proses pembelajaran. Menurut Diedrch (dalam Sardiman, 2008: 101) jenis aktivitas dalam belajar terdiri atas :

  1. 1. Visual Activities, seperti membaca, memperhatikan, demonstrasi, percobaan pekerjaan orang lain dan sebagainya.
  2. 2. Oral Activities, seperti menyatakan, merumuskan, bertanya, memberi saran, mengeluarkan pendapat, diskusi dan sebagainya.
  3. 3. Listening Activities, seperti mendengarkan uraian, percakapan, diskusi, dan sebagainya.
  4. 4. Writing Activities, seperti laporan rangkuman materi pelajaran, mengisi lembaran kerja, menulis, mencatat, dan sebagainya.
  5. 5. Drawing Activities, seperti menggambar, membuat grafik, dan sebagainya.
  6. Mental Activities, seperti menanggapi, mengingat, mengerjakan soal, melihat hubungan, mengambil keputusan, kesimpulan, dan sebagainya.
  7. 7. Emotional Activities, seperti menaruh minat, merasa bosan, senang, gembira, berani, gugup, sedih, takut,dan sebagainya.

Berdasarkan jenis aktivitas yang diuraikan di atas menunjukkan aktivitas dalam proses pembelajaran cukup kompleks dan bervariasi. Guru yang dapat menciptakan suasana pembelajaran dengan aktivitas yang beragam dengan sendirinya membuat siswa menjadi termotivasi dalam kegiatan pembelajaran. Aktivitas belajar siswa dalam penelitian ini diamati menggunakan indikator yang akan digunakan peneliti  berupa: mencatat ringkasan materi pembelajaran,  menanggapi pendapat teman, mengajukan pertanyaan, bekerja sama dalam kelompok, mengerjakan Lembaran Kerja Siswa, berdiskusi berpasangan, kesediaan  tampil didepan kelas. Dapat disimpulkan bahwa keaktifan siswa dalam proses pembelajaran merupakan suatu hal yang perlu mendapat perhatian untuk keberhasilan suatu proses pembelajaran.

Sedangkan upaya yang dilakukan peneliti dalam meningkatkan aktivitas siswa dapat diamati melalui pengelolaan pembelajaran yang  dilakukan guru dengan melakukan   berbagai aktivitas seperti memotivasi siswa untuk bertanya, membimbing siswa berdiskusi berpasangan, memberi penguatan , memupuk sikap berani, membimbing siswa menyusun kesimpulan dan sebagainya.

  1. Hasil belajar

Proses pembelajaran yang ideal ditandai dengan hasil belajar degan terjadinya perubahan sikap, perubahan pola pikir maupun perubahan sikap jasmaniah. Untuk mengukur perubahan–perubahan yang terjadi pada diri siswa perlu dilakukan evaluasi. Dimyanti (1994: 186) mengatakan, evaluasi dari hasil belajar merupakan proses untuk mengukur tingkat kemampuan siswa  untuk menentukan nilai belajar siswa baik melalui kegiatan penilaian maupun pengukuran hasil belajar. Evaluasi yang dilakukan terhadap hasil belajar siswa utamanya adalah untuk mengetahui tingkat keberhasilan yang telah dicapai oleh siswa setelah mengikuti suatu pembelajaran, dimana tingkat keberhasilan ini ditandai dengan skala nilai berupa hurup, angka kata-kata atau simbol. Dalam hal ini evaluasi dilakukan adalah untuk mengukur kemampuan yang berada pada ranah kognitif, afektif dan psikomotor.

Akhirnya hasil evaluasi  berupa prestasi, sikap, nilai yang sudah dicapai dalam pembelajaran berguna untuk menentukan program tindak lanjut (Nuryani R, 2005: 68). Jadi hasil belajar merupakan sesuatu yang didapatkan, dikuasai, atau dimiliki setelah proses pembelajaran berlangsung yang bisa dilihat dari prestasi belajar yang dicapai siswa. Sehingga  hasil belajar merupakan tolak ukur yang digunakan untuk mengetahui keberhasilan siswa dalam memahami suatu pelajaran. Gagne (dalam Sutikno, 2009: 7) menyebutkan ada lima macam hasil belajar sebagai berikut.

  1. Keterampilan intelektual atau keterampilan prosedural yang mencakup belajar diskriminasi, konsep, prinsip, dan pemecahan masalah yang kesemuanya diperoleh melalui materi yang disajikan oleh guru di sekolah.
  2. Strategi kognitif, yaitu kemampuan untuk memecahkan masalah-masalah baru dengan jalan mengatur proses internal masing-masing individu dalam memperhatikan, mengingat, dan berpikir.
  3. Informasi verbal, yaitu kemampuan untuk mendeskripsikan sesuatu dengan kata-kata dengan jalan mengatur informasi-informasi yang relevan.
  4. Keterampilan motorik, kemampuan untuk melaksanakan dan mengkoordinasikan gerakan-gerakan yang berhubungan dengan otot.
  5. Sikap, yaitu suatu kemampuan internal yang mempengaruhi tingkahlaku seseorang didasari oleh emosi, kepercayaan-kepercayaan, serta faktor intelektual.

Hasil belajar merupakan bukti keberhasilan suatu proses pembelajaran. Pengukuran hasil belajar yang paling umum adalah melalui ulangan harian, walaupun ranah kompetensi yang dapat diukur baru sebatas kognitifnya saja, sedangkan ranah psykomotor dan afektif dapat diukur pada saat proses pembelajaran. Selanjutnya, Hamalik (2008: 15), menjelaskan bahwa hasil dan bukti belajar ialah adanya perubahan tingkah laku pada orang tersebut, misalnya dari tidak tahu menjadi tahu, dan dari tidak mengerti menjadi mengerti. Hasil belajar siswa dalam penelitian ini diperoleh dari tes kuis sesudah proses pembelajaran dan tes ulangan harian setelah selesai siklus. Tes dibuat berdasarkan indikator dalam RPP dan digunakan untuk mendata hasil belajar Biologi siswa tentang pemahaman materi pembelajaran. Langkah-langkah penyusunan tes hasil belajar adalah: 1)penyusunan kisi-kisi soal, 2)merakit soal sesuai dengan kisi-kisi, 3)memvalidasi soal tes dan, 4)menyusun jawaban tes dan penskoran.

  1. Hasil Penelitian yang Relevan

Beberapa hasil penelitian yang relevan dengan penelitian ini sebagai berikut.

  1. Hasil penelitian Reno Warni Pratiwi (2011) berjudul Pengaruh Penerapan Pembelajaran Kooperatif Think Pair Share terhadap kemampuan matematika siswa kelas VII SMP N 1 Kecamatan Situjuh Limo Nagari. Mengungkapkan bahwa hasil belajar matematika siswa dengan model pembelajara kooperatif tipe think pair share di kelas VII SMP N 1 Kecamatan Situjuh Limo Nagari meningkat karena model TPS efektif untuk meningkatkan kemampuan pemecahan masalah matematika siswa.
  2. Hasil penelitian Yon Hendri Y berjudul Penggunaan Media Pengajaran Berbasis Teknologi Informasi Komunikasi (TIK) dalam pembelajaran kooperatif Tipe Think-Pair-Share (TPS) untuk meningkatkan motivasi, aktivitas, dan hasil belajar fisika siswa kelas XII IPA SMAN 1 Siak Hulu Kampar 2011/2012, menunjukkan penggunaan model pembelajaran koperatif tipe Think Pair Share dapat meningkatkan aktivitas siswa dari siklus I ke siklus II dan hasil belajar siswa, hal ini bisa terlihat dari perbandingan hasil belajar siswa pada siklus I yang belum mencapai KKM 40% sedangkan pada siklus II 22,50%.
  3. Hasil penelitian Irawati berjudul Pengaruh Penggunaan Model Pembelajaran Kooperatif Jigsaw Disertai Handout terhadap aktivitas dan hasil belajar siswa kelas IX SMPN 31 Padang Tahun Pelajaran 2011/2012. Melalui penelitian Irawati menunjukkan pemanfaatan handout dapat meningkatkan aktivitas dan hasil belajar Biologi.
  4. Kerangka Berpikir

Pengelolaan pembelajaran yang tidak menarik dan menantang siswa mengakibatkan proses pembelajaran berlangsung monoton dan membosankan. Keadaan ini akan berdampak terhadap aktivitas yang kurang dan hasil belajar yang rendah pada pembelajaran biologi. Diperlukan peranan guru untuk mengobah strategi pembelajaran yang dapat membuat siswa termotivasi aktif dalam proses pembelajaran, karena keaktifan siswa merupakan salah satu indikator pembelajaran yang berpusat pada siswa. Dalam model pembelajaran kooperatif  siswa dituntut mengembangkan potensi diri masing-masing dan diselaraskan dengan potensi yang dimiliki anggota kelompok lainnya.

Model pembelajaran koperatif tipe think  pair share yang dilengkapi dengan handout menciptakan suasana pembelajaran yang menantang siswa berani mengemukakan ide secara individual maupun berpasangan baik di dalam kelompok maupun melalui presentasi di depan kelas. Selain itu kesempatan mendengarkan presentasi dari kelompok yang bergantian membuat siswa lebih mudah memahami konsep-konsep pembelajaran yang dianggap sulit sekaligus mampu mengingat konsep pembelajaran dalam jangka waktu yang lebih lama. Sehingga hasil tes ulangan harian dapat mencapai KKM bahkan mungkin diatas KKM yang ditetapkan sekolah yaitu 75.

Berdasarkan latar belakang dan kajian teori yang telah dikemukakan, maka kerangka berpikir dari penelitian yang akan dilakukan adalah:

                                   Guru      Pembelajaran masih didominasi   model pembelajaran

Ceramah  dan diskusi kelompok tipe umum

 

Kondisi Awal


                                    Siswa          Aktivitas siswa dalam pembelajaran masih rendah

Hasil belajar siswa rendah

    Tindakan                             Penerapan model pembelajaran  think paire share

                                             Dilengkapi  bahan ajar berupa handout

 

Aktivitas belajar siswa                                                  Hasil belajar siswa

 

Mencatat ringkasan materi                               Memahami konsep-konsep sulit

Menanggapi pendapat teman                           Hasil tes sesuai KKM/diatas KKM

Mengajukan pertanyaan

Bekerja sama dalam kelompok

Mengerjakan Lembaran Kerja Siswa

Berdiskusi berpasangan

Kesediaan tampil didepan kelas

Kondisi akhir                      Aktivitas dan hasil belajar  siswa dalam pembelajaran

IPA Biologi  meningkat

 

BAB III      METODOLOGI  PENELITIAN

 Jenis Penelitian

Jenis penelitian ini adalah Penelitian Tindakan Kelas (Classroom Action Research) yaitu penelitian di dalam kelas yang dilakukan guru bertujuan memperbaiki proses pembelajaran. Tindakan yang diberikan guru merupakan model pembelajaran baru  bagi guru maupun  siswa. Dengan demikian, tindakan yang dila-kukan oleh siswa bukan tindakan  yang sudah biasa dilakukan. Andaikan tindakan itu sudah pernah dilakukan, harus ada yang berbeda dari biasanya, mungkin merupakan modifikasi atau penyempurnan dari tindakan-tindakan yang sudah pernah dilaksanakan pada masa lalu (Arikunto, 2010:8). Harapan peneliti dengan tindakan baru ini dapat memperbaiki kualitas pembelajaran sekaligus meningkatkan aktivitas dan hasil pembelajaran siswa. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan pendekatan kualitatif .

  1. Setting dan Waktu Penelitian

Penelitian ini akan dilaksanakan pada tempat peneliti mengajar, yaitu di SMPN 12 Padang jalan Jhoni Anwar Kecamatan Namggalo Kota Padang. Keseharian peneliti mengajar di SMPN 12 Padang sebanyak 5 lokal (2 lokal kelas IX dan 3 lokal kelas VII) dengan mata pelajaran IPA dan jam tatap muka 5 jam /minggu. Kelas yang diteliti adalah kelas VII 7 dengan jumlah siswa 32 mewakili kelas yang diajar peneliti, yaitu kelas VII 4-VII 7. Direncanakan penelitian dilaksanakan ada semester genap bulan Pebruari-April Tahun Pelajaran 2015-2016.

  1. Prosedur Penelitian
20 PENINGKATAN AKTIVITAS DAN HASIL BELAJAR IPA DENGAN PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF

TIPE THINK PAIR SHARE (TPS) DILENGKAPI  HANDOUT  

SISWA KELAS VII  SMP N 12 PADANG

 

Penelitian ini direncanakan akan dilaksanakan dengan bentuk siklus. Menurut Suhardjono (2006: 74) penelitian tindakan kelas terdiri atas empat kegiatan yang dilakukan dalam siklus berulang. Keempat kegiatan utama yang ada pada setiap siklus, yaitu 1. Perencanaan, 2. Tindakan, 3. Pengamatan dan 4. Refleksi. Mengacu pada penelitian kelas model Kemmis Stephan & Mc Taggart dalam Arikunto (2010:17) siklus penelitian dengan tahapannya digambarkan sebagai berikut.

Gambar 1. Hubungan Tahap Penelitian Tindakan Kelas (Arikunto,  2010: 17)

Adapun langkah-langkah dalam penelitian ini adalah:

  1. Tahap perencanaan

Pada tahap perencanaan, rencana tindakan yang akan dilakukan peneliti adalah:

  1. Menyusun jadwal pelaksanaan penelitian
  2. Menyiapkan perangkat pembelajaran yang meliputi Silabus, RPP, Bahan Ajar dalam bentuk Handout dan Lembaran Kerja Siswa (LKS).
  3. Menyusun Evaluasi proses pembelajaran dan hasil yang diharapkan sesuai dengan target KKM.
  4. Menyusun lembar observasi aktivitas siswa dan guru.
  5. Menetapkan kolaborator
  6. Menyusun kelompok belajar dengan berpedoman kepada pasangan yang dapat saling membantu.
  7. Menyiapkan peralatan pendukung seperti absensi siswa, spidol, penghapus, LCD, lap top dan buku catatan kemajuan belajar siswa.

 

  1. Tahap pelaksanaan tindakan

Dalam rancangan penelitian ini tindakan dilakukan menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe think pair share dengan prosedur sebagai berikut:

1) peneliti meminta siswa duduk atas kelompok/pasangan yang namanya sudah dipersiapkan sebelumnya sesuai dengan hasil UH pada Kompetensi Dasar sebelumnya.

2) mengecek daftar hadir siswa.

3) menyampaikan apersepsi dan motivasi

4) menyampaikan tujuan pembelajaran sekaligus menjelaskan model pembelajaran Think Pair Share yang akan dilaksanakan.

5) guru membagikan LKS dan handout serta menjelaskan cara kerja dan menjelaskan proses kerja dalam LKS.

6) guru meminta siswa memikirkan pertanyaan di dalam LKS secara perorangan selama  lebih kurang  5-8 menit.

7) kemudian siswa diminta mendiskusikan jawaban masing-masing dengan pasangannya lebih kurang 5-10 menit.

8) guru meminta kelompok yang selesai terlebih dahulu tampil ke depan mempresentasikan jawabannya dan siswa lain diberi kesempatan menanggapi.

9) guru memberi penekanan terhadap jawaban yang paling benar ..

  1. Tahap pengamatan (observation)

Obervasi dilakukan terhadap aktivitas siswa dan aktivitas guru dalam proses pembelajaran oleh seorang teman sejawat sebagai kolaborator dengan mengisi lembaran observasi yang telah disediakan. Kolaborator juga dapat membuat catatan lapangan terhadap fakta yang terjadi dilapangan yang tidak terdapat dalam lembaran obserbvasi. Kegiatan ini juga dilakukan perekaman shooting video sebagai bahan pengamatan ulang bagi  peneliti yang juga bertindak sebagai observer.

Tahap refleksi

Hasil pengamatan didiskusikan dengan observer secara kritis dengan cara:

  1. Menganalisis temuan saat melakukan observasi
  2. Menganalisis kelemahan dan keberhasilan model pembelajara koopertif tipe think pair share.
  3. Menganalisis tindakan yang dilakukan guru selama proses pembelajaran.
  4. Menganalisis keterpakaian handout selamaproses pembelajaran.
  5. Menginterpretasi, memaknai dan menyimpulkan data yang telah diperoleh.

Hasil refleksi data yang dilaksanakan pada siklus I akan digunakan sebagai acuan merencanakan tindakan pada  siklus selanjutnya.

  1. Instrumen Penelitian

Untuk mengumpulkan data yang diperlukan dalam penelitian ini digunakan instrument yang terdiri dari.

  1. Lembar observasi kegiatan siswa dan guru
  2. Lembaran Tes hasil belajar

c . Catatan lapangan

  1. Dokumentasi (foto dan video)
  2. Teknik pengumpulan dan Analisis data
  3. Teknik pengumpulan data

Uraian teknik pengumpulan data adalah sebagai berikut.

  1. Observasi

Observasi dilakukan pada saat proses pembelajaran dengan melihat, mengamati, mencatat kejadian sebenarnya dan peneliti dibantu observer. Dengan menggunakan pedoman observasi kegiatan pembelajaran , catatan lapangan, foto dan shooting video akan diperoleh data aktivitas siswa dan guru selama proses pembelajaran. Lembar observasi digunakan untuk memperoleh data jenis aktivitas belajar siswa, meliputi  mengeluarkan pendapat,  menanggapi pertanyaan  teman,  mengajukan pertanyaan, bekerja sama dalam kelompok, mengerjakan Lembaran Kerja Siswa, berdiskusi berpasangan  dan kesediaan  tampil didepan kelas.

2.Tes

Data tentang hasil belajar siswa diperoleh dari skor yang didapat siswa setelah mengikuti post tes yang dilaksanakan setelah proses belajar mengajar dan ulangan harian disetiap akhir siklus. Skor hasil belajar siswa didapat dengan memberikan skor pada setiap penjelasan jawaban pertanyaan tes uraian berstruktur dan pilihan jawaban option yang benar.

  1. Catatan lapangan

Merupakan catatan harian guru untuk menemukan hambatan–hambatan dan kemajuan-kemajuan proses pembelajaran dan dapat diperjelas dengan memutar kembali shooting video.

  1. Dokumentasi berupa foto dan video

Selain sebagai dokumen penelitian foto dan rekaman video dapat dipakai untuk  bahan observasi dan refleksi bagi peneliti maupun observer.

 

  1. Analisis Data

Data tentang aktivitas siswa yang diambil oleh observer diolah dengan teknik persentase (kuantitatif) yang dikemukan oleh Sudjana (2005: 131), yaitu:

Keterangan:

P          =  persentase aktivitas siswa.

F          =  jumlah siswa yang aktif.

N         =  jumlah siswa keseluruhan yang diteliti

Untuk mengetahui kriteria aktivitas siswa secara kualitatif, dipakai kriteria yang dikemukakan oleh Arikunto (2008: 71), yaitu:

  1. 80 – 100 : Aktivitas siswa sangat baik
  • 60 – 79 : Aktivitas siswa baik
  1. 40 – 59 : Aktivitas siswa cukup
  2. 20 – 39            : Aktivitas siswa rendah
  3. 0 – 19 : Aktifitas siswa sangat rendah

Data hasil belajar diukur dengan melihat ketuntasan dalam menguasai aspek kognitif, yaitu berdasarkan ketuntasan individu melalui hasil tes tertulis dengan batas ketuntasan minimal (KKM) =75. Siswa dinyatakan tuntas ketika memperoleh hasil belajar ≥ 75. Untuk mengetahui hasil hasil belajar secara individu digunakan persamaan.

Jumlah skor yang diperoleh peserta didik

Ketuntasan individu      =                                                                        x 100%

Skor maksimum

Banyaknya siswa yang tuntas secara individu, akan mempengaruhi ketuntasan secara klasikal. Ketuntasan klasikal maksutnya siswa yang telah tuntas secara individu berjumlah besar atau sama dengan ≥ 85 dari jumlah seluruh peserta didik. Untuk mengetahui ketuntasan siswa secara klasikal digunakan persamaan:

Jumlah peserta didik yang tuntas

Ketuntasan klasikal   =                                                                X 100%

Jumlah seluruh  peserta didik

     

  1. Pemeriksaan Keabsahan Data.

Pengecekan keabsahan data merupakan konsep penting dalam penelitian tindakan kelas. Maka sebelum instrument penelitian digunakan terlebih dahulu dilakukan validasi. Validasi yang dilakukan adalah validasi isi, yaitu dengan mengkonsultasikan kepada pakar dan teman sejawat.

 

Views All Time
Views All Time
292
Views Today
Views Today
1

LEAVE A REPLY