PROSES MASUK DAN BERKEMBANGNYA HINDU-BUDDHA DI INDONESIA

0
28

Teori Masuknya Hindu – Buddha di Indonesia

Beberapa teori menurut para ahli yang menyatakan proses masuknya budaya Hindu Budha di Indonesia antara lain :

  1. Teori Brahmana

Teori ini telah dikemukakan dan didukung Van Leur. Tokoh tersebut menyatakan kelompok brahmanalah yang telah menyebarkan agama dan budaya Hindu Budha yang terdapat di Indonesia. Bahkan brahmana juga diundang dan dipercaya penguasa negara Indonesia dalam mengangkat raja serta memimpin proses keagamaannya pula

  1. Teori Ksatria

Teori ini dikemukakan oleh F.D.K Bosch tokoh pendukung dalam teori ini. Di dalam teori ini budaya maupun agama Hindu Budha disebarkan dan dikembangkan oleh kaum ksatria. Pada jaman dahulu dalam negara India terdapat peperangan antara masyarakat satu dengan masyaraat lain. Pihak yang mengalami kekalahan tersebut kemudian pergi meninggalkan negaranya karena malu. Bahkan orang orang tersebut juga berada dan menetap di Indonesia. Orang orang tersebutlah yang kemudian membangun kelompok baru serta mengembangkannya di Indonesia. Hal tersebutlah yang membuat agama serta budaya Hindu Budha dapat masuk dan menyebar di Indonesia.

  1. Teori Waisya

Tokoh ahli yang mengemukakan teori ini adalah N.J. Krom. Teori ini mulai disebarkan oleh kaum kaum waisya. Para kaum inilah yang telah menyebarkan Hindu Budha di Indonesia. Tak hanya penyebaran saja namun mereka juga mempunyai hubungan baik antara pengusaha dengan rakyat. Karena hubungan inilah yang membuat agama serta budaya Hindu Budha dapat tersebar.

  1. Teori Sudra

Teori ini menceritakan bahwa kaum sudra telah dibuang dalam peperangan yang terjadi di negara India. Hal tersebut telah dinyatakan oleh Von Van Faber. Kemudian kelompok sudralah yang memiliki prosentase yang besar dalam penyebaran Hindu Budha di Indonesia. Hal tersebut bermula saat kelompok sudra meninggalkan India karena mengikuti jejak kelompok Waisya.

  1. Teori Arus Balik

Tidak hanya para ahli saja yang ikut andil dalam penyebaran agama Hindu Budha di Indonesia. Selain hal tersebut diduga masyarakat Indonesia juga mempelajari dan memahami agama serta budaya Hindu Budha tersebut. Dalam mempelajari agama tersebut diluar negeri mereka membentuk sebuah perkumpulan yang dapat disebut Sanggha. Mereka mempelajari setiap detil Hindu Budha yang berkembang setelah mereka telah paham kemudian kembali menuju negara Indonesia lagi. Penyebaran Hindu Budha tersebut kemudian masuk di Indonesia. Hal tersebut merupakan Teori Arus Balik.

Agama Hindu

Agama Hundu terdapat di negara India sejak tahun 1500 SM. Mereka juga mengajarkan ajarannya berdasarkan Kitab Weda. Kitab Weda terdapat empat Samhit (bagian) yang meliputi:

  1. Reg Weda (lagu pujian kepada dewa),
  2. Yajur Weda (mantera dalam upacara keselamatan),
  3. Sama Weda (suara nyanyian yang bersifat suci), dan
  4. Atharwa Weda (doa yang berfungsi dalam menyembukan penyakit). Selain Kitab Weda agama Hindu mempunyai kitab lain yang juga penting seperti Kitab Upanishad (ajaran dalam mengikuti banyak dewa/Polytheisme) dan Kitab Brahmana (berhubungan dengan sesaji dalam upacara)..

Dalam agama Hindu juga terdapat Dewa Indra atau Dewa Air sebagai penurun hujan dan Dewa Agni atau Dewa Api. Orang orang juga menganggap beberapa tempat suci seperti sungai Gangga yang dapat menghilangkan dosa yang telah dibuat oleh umat umat Hindu sehingga mereka nanti akan dapat menuju Nirwana. Selain itu juga ada tempat Benares yang merupakan bersemayamnya dewa Siwa. Kaum Hindu juga membedakan masyarakat menjadi empat kasta yaitu

  1. Kasta Brahmana berisi pendeta pendeta,
  2. Kasta Ksatria berisi para bangsawan dan raja maupun keluarganya,
  3. Kasta Waisya berisi pedagang menengah dan pengikutnya, serta
  4. Kasta Sudra berisi buruh kecil, budak dan petani. Adapula Kaum Candala yang merupakan pelanggar aturan aturan kasta tersebut dan dikeluarkan dari golongan kasta tadi.

Agama Buddha

Pada tahun 531 SM mulai berkembanglah agama Budha yang telah dibawa oleh Sidharta Gautama. Sidharta Gautama memiliki ayah sebagai raja yaitu Sudhodana serta memiliki ibu bernama Dewi Maya. Kitab yang digunakan oleh agama Budha ialah Kitab Tripitaka yang menggunakan bahasa Poli yang berarti Tiga Keranjang. Kitab tersebut mengandung beberapa makna seperti Sutrantapittaka yang merupakan ajaran serta larangan yang terdapat dalam Budha, Winayapittaka yang merupakan peraturan serta hukuman bagi pemeluk agama Budha, dan Abdhidarmapittaka yang merupakan tentang hal yang berkaitan dengan agama Budha. Dalam mencapai Nirwana orang Budha harus melakukan kebenaran (Astavidha) yang meliputi niat, pandangan, perkataan, penghidupan, perbuatan, usaha, bersemedi dan perhatian yang dilakukan dengan benar. Adapula tempat tempat yang dianggap suci yang meliputi Kapilawastu (tempat Budha dilahirkan), Bodh Gaya (tempat semedi untuk mendapatkan Bodhi), Benares (tempat pertama kali Budha menyebarkan ajarannya), dan Kusinagara (tempat saat Budha meninggal)

Pengaruh Perkembangan Hindu Budha di Indonesia

Hindu Budha masuk ke Indonesia dengan membawa pengaruh dalam kehidupan warga Indonesia, antara lain :

  1. Kebudayaan yang mengenalkan tulisan kepada rakyat Indonesia serta menghasilkan budaya lain seperti seni sastra, bangunan candi, dan kisah kisah Epos Mahabarata dan Ramayana..
  2. Ekonomi yang pengaruhnya tidak terlalu besar karena sebelumnya rakyat Indonesia telah mengenal perekonomian perdagangan serta pelayaran.
  3. Agama yang merubah kepercayaan dinamisme serta animisme menjadi Hindu Budha sehingga tata krama dapat terkendali.
  4. Arsitektur yang berisi cara pembuatan bangunan maupun candi.
  5. Pemerintahan yang berisi kepercayaan bahwa orang terkuatlah yang dapat dijadikan kepala suku seperti dalam kerajaan Tarumanegara, Kutai maupun Sriwijaya.
  6. Sastra yaitu seperti kisah mahabarata dan ramayana yang telah dibuat sebelumya sehingga anak muda Indonesia dapat membuat karya sastra lain seperti kisah sutasoma, arjunawiwaha dan masih banyak lagi.
  7. Bahasa yang memperkenalkan bahasa Sansekerta maupun Pallawa yang telah dibuktikan dalam penemuan penemuan prasasti jaman dahulu.
  8. Berkembangnya Hindu Budha juga menghasilkan kerajaan yang telah bergaya Hindu Budha seperti kerajaan Kutai yang terdapat di Jawa, kerajaan Salakanagara, kerajaan Sunda Galuh, kerajaan Tarumanegara, kerajaan Mataram Hindu, kerajaan Kalingga, kerajaan Kediri, kerajaan Singasari, kerajaan Majapahit, kerajaan Sriwijaya dan kerajaan Melayu Dharmasraya. Selain itu proses masuk serta perkembangan Hindu Budha juga meninggalkan beberapa peninggalan kerajaan yang telah berdiri seperti:
    1. Seni Bangunan
    2. Seni rupa
    3. seni patung
    4. seni sastra

Seni bangunan tersebut juga menghasilkan candi candi yang bergaya Hindu Budha dari beberapa kerajaan. Kerajaan tersebut meninggalkan candi yang berbeda beda seperti:

1) Peninggalan Kerajaan Mataram Lama

Candi yang bergaya Hindu seperti candi Gunung Wukir (sebelah timur wilyah Muntilan), candi Dieng (di daerah Wonosobo), candi Selogriyo (dikaki Gunung Sumbing), candi Pringapus (sebelah timur Gunung Sundoro), candi Gedong Songo (dilereng Gunung Ungaran), candi Perot dan candi Argopuro (dilereng Gunung Sumbing), candi Ijo (didekat candi Prambanan), candi Gebang dan candi Sambisari (dekat kota Yogyakarta), serta candi Lorojonggrang atau candi Prambanan (perbatasan Yogyakarta dengan Klaten). Selain itu ada pula candi yang bergaya Budha seperti candi Borobudur dan candi Mendut (Magelang), candi Kalasan (Sleman), candi sari (dekat candi kalasan), candi Sajiwan dan candi Banyunibo (dekat candi Prambanan), candi Plaosan dan candi Sewu (dekat candi Prambanan), candi Bubrah dan candi Lumbung (dekat candi Prambanan), candi ngawen (Muntilan) serta candi Pawon (Magelang)..

2) Peninggalan Kerajaan Medang, antara lain :

candi Lor (Nganjuk), candi Songgoroti (Batu Malang), candi Gunung Gangsir (Bangil), candi Belahan, candi Sumber Nanas (Blitar) dan Pertapaan Pucangan (di Gunung Penanggungan).

3) Peninggalan Kerajaan Sriwijaya, antara lain :

candi Muara Takus (Riau), candi Gunung Tua (Sumut).

4)Peninggalan Kerajaan Singasari antara lain :

Candi Kidal (Malang), candi Jawi (dekat Pringen), candi Singasari (Malang), dan candi Jago (Malang).

5) Peninggalan Kerajaan Majapahit :

Candi candi peninggalan yaitu candi Rimbi (Mojokerto), candi Simping, candi Panggih, candi Surawana (Kediri), candi Kalicilik (Blitar), candi Tigawangi (Pare), candi Pari (Porong), candi Jabung (Kraksaan Probolinggo), candi Tikus (Mojokerto), candi Panataran (Blitar), candi Brahu (Mojokerto), candi Samentar (Blitar), serta candi Sukuh (Karanganyar).

6) Peninggalan Kerajaan Kanjuruhan berupa candi, antara lain :

candi Gunung Kawi (Tampaksiring), Candi Badut (Malang)

2. Seni Rupa (relief)

Hasil dari seni rupa yang dihasilkan dari perkembangan Hindu Budha di Indonesia adalah seni relief. Relief merupakan karya seni yang berupa pengisian bidang yang terdapat pada dinding candi . Seperti halnya pada candi Borobudur terdapat relief karmawibbhangga dan pada candi Prambanan terdapat relief Ramayana, relief Kresnayana, relief Jajaghu, relief Surowono dan relief Panataran.

  1. Seni Patung

Pada peninggalan perkembangan Hindu Budha yang masuk di Indonesia juga menghasilkan seni patung yang biasanya merupakan patung Dewa Dewi.

  1. Seni Sastra

Seni sastra juga telah ditinggalkan oleh beberapa kerajaan. Kerajaan tersebut seperti Kerajaan Kediri menghasilkan  karya sastra Baratayudha, Hariwangsa, Gatotkacasraya, Wratasancaya, Smaradhana, dan Krenayana. Adapula Kerajaan Majapahit dengan hasil karya sastraya yaitu Kertagama, Sutasoma, Sundayana, serta karya sastra berupa kitab Sorandoko.

Demikianlah penjelasan mengenai proses masuk dan berkembangna Hindu Budha di Indonesia. Dengan adanya agama serta budaya baru yang dibawa oleh Hindu Budha dapat membuat keberagaman peninggalan serta karya lainnya yang terdapat di Indonesia.

Views All Time
Views All Time
50
Views Today
Views Today
2
Previous articleSekolah Ramah Lingkungan
Next articleSEKOLAH UNGGULAN JENJANG SMP, SEBUAH HARAPAN
Lahir di Kebumen, Jawa Tengah. Pendidikan S1 IKIP Semarang. Kota singgah : Kebumen (1982-1985), Bogor (1981), Semarang (1986-191), Jakarta (1985, 1992), Lampung (1985) Bengkulu (1991), Makasar, Balikpapan, Tarakan, Bulungan (Kalimantan Timur 1991), Malang (2017), Yogyakarta (2018). Adventure : 1. Hutan lindung Bengkulu 1991, Sepeda motor pulang pergi : Purbalingga-Jakarta (2002), Purbalingga-Bandung (2012-2016), Purbalingga-Semarang (2012-2018), Mengelilingi Gunung Slamet melalui Pratin - Guci - Bumi Jawa- Bumi Ayu- Baturaden - Purbalinga - Pratin.(2017). Mengajar tahun 1985 di SD Kretek 1 Kebumen (1985), SMP Muhamadiyah Ayah, Kebumen (1986), SMP PGRI Sempor, Kebumen1993-1995), SMP N 2 Bukateja (1996-2014), SMK N1 Bukateja, Purbalingga ( 2014-sekarang).

LEAVE A REPLY