Ramadhan & Gaya Hidup Minimalis Selama Pandemi

2
28

Ada kalimat menarik yang tiba-tiba saya ingat dari buku “seni hidup minimalis” yang baru saya khatamkan kira-kira sebulan lalu, kalimatnya begini; “Kita tidak butuh gudang yang penuh dengan peralatan kemah, olahraga, atau renang. Yang kita butuhkan adalah waktu berkualitas dengan keluarga. Bukan setumpuk hadiah yang akan menjadikan hari raya penuh kesan, melainkan berkumpulnya kita dengan orang-orang tercinta.”

Lao Tzu, Filsuf China dan penulis Tao Te┬áChing pernah menulis begini; “Orang yang merasa cukup dengan yang ia miliki adalah orang yang kaya”. Sejalan dengan hadits Rasulullah Saw yang diriwayatkan Ibnu Majah dan di shahihkan oleh Syaikh Al-Albani, beliau bersabda; “Sungguh beruntung orang yang diberi petunjuk dalam Islam, diberi rizki yang cukup, dan qana’ah (merasa cukup) dengan rizki tersebut.”

Kita menyaksikan bahwa wabah pandemi covid-19 mereset seluruh aktivitas kehidupan kita hingga yang paling dasar. Sebab dampak dari pandemi ini tidak hanya menyerang sistem kesehatan manusia tapi tatanan ekonomi, sosial dan politik seluruh dunia. Hingga kemudian virus kecil ini memenjarakan tiga miliar penduduk dunia di rumah masing-masing. Dari situasi ini kemudian orang-orang mengubah kebiasaan-kebiasaan mereka. Salah satunya adalah mengubah gaya hidup minimalis dengan banyak beraktivitas di rumah saja. Gaya hidup ini ditempuh banyak orang, karena masalah keuangan, ekonomi dan kesehatan.

Kita mulai berfikir untuk menahan diri tidak selalu tergoda terhadap hal yang bersifat materiil, konsumtif dan foya-foya. Kita mulai cenderung lebih jujur dan tidak haus pujian dari orang lain, karena hanya bisa memilih untuk menampilkan apa adanya ketika kembali ke rumah dan keluarga. Kita mulai meninggalkan kebiasaan mengumpulkan barang-barang berharga jika memang tak dibutuhkan. Kita mulai belajar bisa menahan godaan untuk tidak terlalu banyak mengeluarkan uang, memprioritaskan barang-barang yang sangat dibutuhkan saat pandemi ini.

Makna puasa yang masyhur kita ketahui adalah menahan diri, tidak mengikuti hawa nafsu, dan mereka yang bisa mengendalikannya adalah yang bisa hidup hemat, minimalis dan tidak berlebihan. Jika saat puasa makanan kita lebih mewah dari biasanya, pengeluaran lebih banyak dari biasanya, kebiasaan lebih konsumtif dari biasanya, bisa jadi puasa kita hanya tentang kemuliaan perut dan hawa nafsu. Maka mungkin tidak berlebihan jika saya mengatakan bahwa salah satu syarat untuk melalui 2 ujian terbesar ini (Ramadhan dan wabah pandemic covid-19) adalah berkumpullah dengan keluarga di rumah, selalu merasa cukup (qanaah) dan mengakrabi diri dengan Qur’an serta ibadah wajib dan sunnah.

 

Views All Time
Views All Time
32
Views Today
Views Today
1

2 COMMENTS

LEAVE A REPLY