Ramaikan Kantor Pos dengan buku setiap tanggal 17

0
48

Ramaikan Kantor Pos di Tanggal 17
Secara umum, literasi adalah kemampuan individu dalam mengolah dan memahami informasi pada saat menulis ataupun membaca. Pun demikian, kata literasi ini juga merujuk pada keterampilan bahasa yang lainnya yang meliputi pengetahuan bahasa tulis dan lisan yang sebenarnya membutuhkan serangkaian pengetahuan -tentang genre, kultural dan kemampuan kognitif-.
Salah satu cara yang bisa ditempuh untuk meningkatkan kemampuan literasi ini adalah adanya gerakan literasi sekolah. Konteks Gerakan Literasi Sekolah merupakan suatu usaha atau kegiatan yang bersifat partisipatif dengan melibatkan warga sekolah (peserta didik, guru, kepala sekolah, tenaga kependidikan, pengawas sekolah, Komite Sekolah, orang tua/wali murid peserta didik), akademisi, penerbit, media massa, masyarakat (tokoh masyarakat yang dapat merepresentasikan keteladanan, dunia usaha, dll.), dan pemangku kepentingan di bawah koordinasi Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Hal itu dapat mengakses, memahami, dan menggunakan sesuatu secara cerdas melalui berbagai aktivitas, antara lain membaca, melihat, menyimak, menulis, dan/atau berbicara.
Tujuan literasi menjadikan sekolah sebagai taman belajar yang menyenangkan dan ramah anak agar warga sekolah mampu mengelola pengetahuan. Menjaga keberlanjutan pembelajaran dengan menghadirkan beragam buku bacaan dan mewadahi berbagai strategi membaca. Gerakan Literasi Sekolah merupakan gerakan dengan dukungan kolaboratif berbagai elemen.
Semacamnya kelebihan pastinya adanya kekurangan, kekreatifan anak-anak memang diperlukan. Saat ini, geliat berliterasi begitu dicari dan diadakan. Terlebih lagi di era yang semakin modern, ditandai dengan persaingan yang ketat dan pergerakan cepat. Kompetensi individu anak-anak sangat diperlukan agar dapat berlaku dengan baik.
Mitos orang Indonesia tidak suka membaca itu palsu. Buku yang kami kirim ke daerah selalu habis dibaca dalam waktu singkat oleh masyarakat. Malah kami sering dimarahi masyarakat daerah kalau tidak ada buku baru dalam jangka waktu tertentu.(Nirwan Ahmad Arsuka, Pendiri Pengiat Literasi Pustaka Bergerak Indonesia).
Kutipan tersebut sangatlah benar. Palsu sekali jika tidak suka membaca buku. Dapat dibuktikan pula pada acara KBF di Murjani baru-baru ini. Masih tampaknya budaya haus akan membaca. Anak-anak saat ini memang melek akan kecanggihan teknologi dengan membaca buku yang berkualitas dan dilakukan secara online dengan adanya e-book. Namun bagiaman dengan kondisi sebaliknya. Pada penggalan “.. Malah kami sering dimarahi masyarakat daerah kalau tidak ada buku baru…” sudah mengidentifikasikan bahwa minat literasi masih ada.
Salah satu contoh dapat dilihat di SMAN 2 Jorong. Awal mula ruang baca parasiswa ditempatkan sumber referensi di ruang kantor guru, lalu berpindah di ruang lab dan belum dapat dikatakan maksimal di tahun 2017 lalu -sebelum terdapatnya perpustakaan-. Meskipun begitu ucapan terima kasih kepada Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Kalimantan Selatan karena telah berkunjung meski situasi dan kondisi saat penerimaan dari kami tidak mendukung. Waktu dimana anak-anak telah usai melaksanakan classmeeting sehingga hanya beberapa anak yang berada di area sekolah dan lokasi sekolah yang memang belum dikenal serta ruang baca berupa perpustakaan dalam proses pembangunan. Akan tetapi tidak menutup akan antusiasme baik dari beberapa siswa dan petugas tersebut tidak menyurutkan keramaian berliterasi. Begitu pula perpustakaan keliling dari pihak Arutmin yang terjadwal senin pun turut serta dalam mendukung literasi kami.
Akhirnya di awal tahun ini, perpustakaan dapat beroperasional sebagaomana mestinya untuk menyalurkan keinginan literasi para siswa tetapi minimnya sumber-sumber referensi pendukung, ibarat sayur ‘masih kurang’ garam. Kendalanya adalah sumber buku-buku pengisi lemari-lemari belum seluruhnya memenuhi. Maka tidak mengherankan diperlukan buku-buku pendukung lainnya. Bantuan dari lingkungan terdekat, baik perusahaan atau sekitar telah terjadi namun tidak melulu selalu meminta. Untuk itu pencarian info dilakukan melalui media internet.
Peranan positif teknologi telah membantu kami dalam mencari dan melengkapi sumber-sumber pengisi lemari perpustakaan. Pesatnya kemajuan teknologi ketika dibarengi oleh kreatifitas dan keinginan yang positif maka terjadilah panen yang dihasilkan dengan sesuai dengan keinginan. Bagaimana cara memberikan kami panen pengisi lemari.
Terdapatnya informasi Program Buku Bergerak menjadikan ide dengan mengikuti program tersebut yang,dimana program tersebut bekerjasama dengan lembaga biro jasa, yakni kantor pos. Dimana Lembaga-lembaga -baik secara dinas dan nondinas- yang telah menjadi anggota program buku bergerak akan dijadwalkan secara terprogram untuk mendapatkan donasi buku atau sumbangan buku-buku layak baca dari berbagai donatur yang disarankan atau kita inginkan. Nantinya akan diminta untuk mengirimkan ajuan proposal permintaan donasi buku baik secara off dan online dan akan dilakukan proses order pengiriman pos tanpda dikenai pungutan biaya kirim barang.
Bagaimana cara lembaga kantor pos dapat mengratiskan pengiriman paketan tersebut?
Lembaga Pos Indonesia telah memulai program kirim buku bebas biaya ke seluruh penjuru tanah air. Untuk selanjutnya pengiriman buku bebas biaya tersebut akan berlaku pada tanggal 17 setiap bulannya.
Program ini merupakan bentuk implementasi “BUMN Hadir untuk Negeri” yang sudah dicanangkan beberapa tahun lalu. Melalui “BUMN Hadir untuk Negeri” setiap perusahaan BUMN memberikan kontribusi nyata dalam membantu masyarakat. Peran Lembaga Pos Indonesia pun kembali menyemarakkan pertumbuhan cinta terhadap literasi.
Berkat adanya program ini maka si donator dan calon donatur yang mau memberikan sumber ilmu berupa buku-buku dapat dipermudah begitupula bagi si penerima. Ketentuan tidak ada biaya kirim (gratis ongkir), Lembaga Taman Baca Masyarakat harus mendaftarkan diri di program Lembaga Kantor Pos sedangkan Agenpos belum menyediakan layanan ini. Dapat dilihat cara programnya di situs Pos Indonesia atau bertanya ke pihak yang bersangkutan itu –atau bisa juga dari penulis ini. Alamat-alamat taman baca yang telah terdaftar tertera pula di situ. Dapat pula, kita berbagi dengan mereka. Saling membantu.
Begitu banyak manfaat yang diperoleh dari program itu yang telah diikuti. Jadi, pengiriman paketan buku di taman baca kami setiap tanggal 17 maka tidak dikenai biaya kirim. Paketan-paketan buku akhirnya berkunjung di perpustakaan kami. Selain itu, kenyamanan mendapatkan sumber referansi lain, mengenalkan kembali jasa kantor pos dan menambah tali silahturahmi dengan sesama. Tidak lupa memberikan ucapan terima kasih pula kepada yang mendonasikan buku, khususnya di daerah sendiri Forum Lingkar Pena Tanah Laut dan Inspiralova.
Dari tulisan pengalaman ini diharapkan berbagi untuk menyemarakkan literasi. Kembali. Di sini kita saling asih. Dimana tangan di atas lebih baik, nantinya semoga akan berkebalikan dimana kami akan seperti itu. Apabila kita tidak memulai hal dari yang sederhana dan kecil untuk menumbuh kembangkan budaya literasi, janganlah menganggap diri telah berkontribusi dalam hal tersebut. Mari semua, berikan jendela-jendela dunia di mata anak-anak generasi kita. Ayo,semarakkan kantor pos di tanggal 17 ini.(ELBR)

 

Surel lilssurya@gmail.com
ig : l.suryani28

Views All Time
Views All Time
230
Views Today
Views Today
1

LEAVE A REPLY