REFORMASI PENDIDIKAN HARUS DILAKUKAN di TENGAH PANDEMI INI Oleh Isteri Sakti Andayani, S.Pd , Guru MTsN 2 Tanah Laut, Kalsel

0
12

Di tengah semakin bertambahnya angka korban terpapar COVID-19 di Kalimantan Selatan, tentunya sangat berdampak pada dunia pendidikan. Pada kenyataannya, pandemi covid-19 sampai pertengahan tahun 2020 ini masih belum normal. Kita sadar betul bahwa situasi seperti sekarang ini banyak menimbulkan kecemasan kalangan orang tua siswa, jika anak-anaknya kembali ke sekolah pada tahun pelajaran ini.

Baru-baru tadi (1/7/2020) Dinas Pendidikan dan Kebudayaan  Kabupaten Tanah Laut menggelar kegiatan Webinar pendidikan untuk menyambut tahun pelajaran baru 2020/2021 melalui zoom meeting. Tema kegiatan,”Mengelola Kurikulum, Pembelajaran, Penilaian di Masa Pandemi Covid-19. Narasumber Dr. Zaenal Fanani,M.Ed. Plt. Kepala LPMP Kalimantan Selatan. Moderator pada kegiatan tersebut adalah Bapak Maslani S.Pd. Kegiatan juga dibuka oleh Plt. Kadisdikbud Tanah Laut. Dengan host Bapak Ahmad Muzan, M.Pd.I.

Pemerintah mengeluarkan aturan bahwa daerah zona merah tidak boleh melakukan pembelajaran tatap muka. Yang boleh hanya zona hijau. Itupun harus mengikuti ketentuan yang berlaku.

Beragai strategi pembelajaran jarak jauh ditawarkan agar pembelajaran tetap berjalan di tengah wabah ini. Pemerintah juga mengatur sistem pembelajaran selama masa pandemi covid-19 ini diantaranya adalah melalui daring, luring dan kombinasi daring dan luring.

Pembelajaran melalui daring/ online menekankan pada penggunaan teknologi dan informasi yang didukung dengan fasilitas handphone android atau laptop. Selain itu harus ada akses internet dan kouta. Yang menjadi pemikiran penulis, barangkali sekolah-sekolah yang berada di perkotaan tidak banyak mengalami masalah dalam menerapkan proses kegiatan belajar mengajar melalui sistem daring ini. Namun, bagi sekolah yang berada di pelosok desa, terutama akses internet dan fasilitas lainnya seperti hp dan pulsa kouta tidak ada. Belum lagi orang tua yang dituntut bisa menjadi pendamping anak ketika proses pembelajaran berlangsung. Karena tidak semua orang tua mampu dan memiliki basic pengetahuan dalam memberikan pembelajaran buat anak-anaknya.

Dalam kegiatan webinar ini, keresahan penulis terjawab. Narasumber menyampaikan salah satu cara adalah guru mendatangi siswanya ke rumah (luring). Apabila masa pandemi ini mendorong guru untuk door to door, harus diatur oleh kepala sekolah bersama gurunya. Ini merupakan tantangan, ucap Bapak DR. Zaenal Fanani. Tugas untuk siswa dibuat sesederhana mungkin tapi menantang. Ini yang dinamakan kurikulum berbasis project atau berbasis masalah. Siswa jangan diberi dalam bentuk soal-soal saja, karena ini cenderung akan sangat membosankan.

Pembelajaran yang hanya menitikberatkan pada soal-soal berarti pembelajaran yang menekankan pada penguasaan materi saja. Oleh karena itu,berikanlah tugas siswa berupa aktivitas-aktivitas misalnya eksprimen, aktivitas membuat alat tertentu, atau  aktivitas menganalisis kasus-kasus. Sumbernya bisa diambil dari goegle. Tapi dengan catatan, kasus harus sesuai dengan konsep. Jadi tidak lagi mengikuti teks book. Pastikan tidak memberatkan gurunya dan tidak memberatkan siswanya. Tapi tugasnya menarik. Karena tuntutan menteri bukan penguasaan materi, tapi yang penting adalah tujuan kompetensinya. Pembelajarannya harus bermakna. Pembelajaran bermakna adalah pembelajaran yang menantang siswa-siswanya untuk mampu menalar .

Di akhir tulisan ini, penulis berharap jangan sampai nasib pendidikan anak-anak diabaikan dimasa pandemi covid-19 ini. Persoalan yang menyangkut kualitas pendidikan serta hak untuk mendapatkan pendidikan yang layak secepatnya bisa teratasi.

Demikian yang dapat penulis sampaikan menyangkut kegiatan webinar. Penulis sangat bersyukur dapat mengikuti kegiatan ini, karena selain mendapatkan banyak ilmu secara gratis. Kita juga dapat bersilaturrahmi dengan kawan-kawan sesama guru di Kabupaten Tanah Laut ini.

 

Views All Time
Views All Time
12
Views Today
Views Today
1
Previous article“Tak tampak terhijab dunia yang tampak hanyalah logika dari kenyataan bayangan semu yang tak setia”
Next articleMENGELOLA PEMBELAJARAN DI MASA PANDEMI, SEBUAH TANTANGAN BAGI GURU MASA KINI Oleh Ridhawati, S.Pd, Guru UPTD SMPN 2 Pelaihari, Tanah Laut, Kalsel
Lahir dari keluarga petani dan sederhana di Martapura (Banjar) Kalsel, 5 Nopember 1963. Kini menjalani profesi sebagai guru sejak tahun 1988. Mata pelajaran PPKn/PKn. Saat ini (2017) bertugas di SMPN 4 Pelaihari Kab.Tanah Laut Kalsel. Mulai menulis artikel tentang pendidikan secara rutin sejak tahun 2013. Tulisan artikel banyak dikirim dan terbit pada koran lokal, Banjarmasin Post dan Radar Banjarmasin. Tahun 2015, penulis membukukan artikel-artikel yang pernah terbit pada koran lokal dalam sebuah buku "OPINI SANG GURU" (edisi pertama,2015) lalu buku " OPINI SANG GURU "Edisi Kedua (2017),dan insyaallah akan dilanjutkan dengan buku "OPINI SANG GURU" edisi ketiga ,dan seterusnya.Dalam bentuk tulisan ilmiah, penulis bersama dengan guru-guru Kalsel yang pernah mengikuiti Lomba Inovasi Pembelajaran Kemdikbud tahun 2015, 2016,dan 2017, sedang menyusun dan menerbitkan buku " INOVASI PEMBELAJARAN' ,yang akan diterbitkan dalam beberapa edisi. Setiap edisi terbit diisi oleh 5-6 guru penulis. Buku "INOVASI PEMBELAJARAN" berisi naskah karya tulis inovasi pembelajaran yang pernah masuk worshop dan finalis Lomba Inovasi Pembelajaran, rencananya akan diterbitkan pada akhir tahun 2017 untuk edisi pertama, dan awal tahun 2018 untuk edisi kedua... dan seterusnya. Penulis, bertindak sebagai koordinator pengumpulan naskah tulisan,mengedit, dan mengirimkannya ke penerbit buku di Kalsel. Semoga buku " INOVASI PEMBELAJARAN' karya guru 'Banua' untuk Indonesia akan dapat menginspirasi guru untuk membuat inovasi pembelajaran, menulis, dan membukukannya. Semoga.

LEAVE A REPLY