REVITALISASI PERAN GURU

1
23

Pademi Covid 19 dan Era Industri 4.0

Pademi Covid-19 ibarat gelombang besar yang membawa perubahan luar biasa pada seluruh aspek kehidupan. Tatanan kehidupan menghadapi goncangan, perusahaan-perusahaan kelas wahid mulai tumbang, perekonomian negara-negara di dunia mengalami devisit. Termasuk dalam aspek pendidikan, banyak institusi pendidikan gulung tikar karena tidak siap dengan perubahan. Hal ini memaksakan setiap insan pendidikan untuk menghadapi kebiasaan baru untuk proses belajar mengajar tetap berjalan. Dan setiap satuan pendidikan harus mampu beradaptasi terhadap perubahan yang terjadi. Saat ini juga dalam sector pendidikan dihadapkan pada perkembangan teknologi yang dikenal dengan Era Industri 4.0.

Era Industri 4.0 diprediksi memiliki potensi manfaat yang besar dalam perkembangan yang pesat dalam pemanfaatan teknologi digital. Hal tersebut berdampak positif terhadap perkembangan ekonomi. Namun  terdapat  tantangan  yang  harus  dihadapi. Menurut Darth   dan   horch   (2014)   (dalam Ishak, 2019) bahwa tantangan yang dihadapi oleh suatu negara ketika menerapkan industri 4.0 adalah munculnya resistensi terhadap perubahan demografi dan aspek sosial, ketidakstabilan kondisi politik, keterbatasan sumber daya, resiko bencana alam dan tuntutan penerapan teknologi yang ramah lingkungan. Perkembangan teknologi yang pesat tentunya mempengaruhi  berbagai  bidang  yang  ada  seperti sosial yang berdampak kepada perkembangan interaksi sosial antar individu maupun masyarakat. Sehingga memunculkan generasi yang lebih modern dalam menghadapi  era  teknologi saat ini.

 

Revitalisasi Peran Guru

Salah satu unsur penting satuan pendidikan pada masa pademi Covid-19 dan Era Industri 4.0 adalah sosok guru. Guru adalah garda didepan mengelola pendidikan saat ini. Oleh karena itu perlu di Revitalisasi peran guru. Paling tidak ada tiga alasan; Pertama, yang dihadapi guru saat ini adalah generasi Z dan Alfa yang sering disebut Generasi Millenial. Menurut Ishak, dkk (2019) dalam jurnal memahami perkembangan anak generasi Alfa di era 4.0, Istilah generasi millenial dikemukakan oleh mark Mc Crindle melalui tulisan di majalah Business Insider (Christina Sterbenz, 2015). Generasi Alpha (2011–2025) generasi yang identik dengan teknologi, atau generasi yang sering bersinggungan dengan internet. Mc Crindler juga memprediksi bahwa generasi Alpha tidak lepas dari gadget, kurang bersosialisasi, kurang daya kreativitas dan bersikap individualis. Melihat kondisi generasi saat ini perlu ada terobosan baru pola pendidikan yang sesuai dengan karakter generasi millennial.

Kedua, Perkembangan teknologi. Adanya perubahan teknologi yang semakin canggih telah membawa pengaruh pada kehidupan manusia. Perkembangan terakhir muncul istilah revolusi industry 4.0, dimana sebuah era mengkolaborasi teknologi siber dengan teknologi serba otomatisasi. Revolusi Industri 4.0 yang sarat akan teknologi yang super cepat akan membawa perubahan dalam sistem pendidikan. Perubahan dalam sistem pendidikan berdampak pada peran guru sebagai tenaga pendidik. Guru dituntut memiliki kompetensi tinggi untuk menghasilkan peserta didik yang mampu menjawab tantangan Revolusi Industri 4.0. Menurut Qusthalani (2019) menyebutkan lima kompetensi yang harus dimiliki oleh guru pada era Revolusi Industri 4.0 ini yaitu: 1) kompetensi mendidik/pembelajaran berbasis internet of thing sebagai basic skill. 2) punya kompetensi untuk mendidik siswa memiliki sikap kewirausahaan berbasis teknologi dan hasil karya inovasi siswa. 3) Kemampuaan yang dibutuhan masyarakat global, karena dunia tanpa sekat, tidak gagap terhadap berbagai budaya, dan sebagai insan problem solver. 4) Guru memiliki kompetensi memprediksi dengan tepat apa yang akan terjadi di masa depan berikut strateginya. 5) Guru mampu berperan sebagai konselor pada siswa mengingat masalah yang dihadapi secara psikologis, stress akibat tekanan keadaan yang makin kompleks dan berat.

Ketiga, Kondisi Pademi Covid-19. Sadar atau tidak bahwa pademi Covid-19 ini memaksakan kita semua memanfaatkan teknologi untuk kebutuhan hidup manusia. Termasuk dalam aspek pendidikan, kebutuhan dalam proses belajar mengajar siswa harus tetap diberikan. Bisa jadi pademi covid-19 ini cara Allah SWT membelajarkan guru agar melek teknologi untuk kebutuhan masa depan. Jika guru mampu beradaptasi dengan perkembangan teknologi, maka para siswa masih mendapat pelayanan yang prima dalam proses belajar mengajar, meskipun tidak ketemu secara langsung. Secara essensi para siswa masih tetap mendapat pembelajaran.

 

Peran Guru Masa Pademi dan Era Industri 4.0

Bagaimanakah sikap guru di tengah pademi Covid 19 dan menghadapi Era teknologi 4.0? Ada beberapa hal yang bisa dilakukan seorang guru; Pertama, Seorang guru harus  merubah mindset. Dari pola pikir dan sikap lama sebelum pademi, dengan kebiasaan baru. Dalam buku ,”The Scret Of mindset “(2008:4) yang ditulis Adi W Gunawan. Dalam buku itu dijelaskan bahwa Mindset adalah cara berpikir yang mempengaruhi perilaku, dan sikap seseorang. Yang pada akhirnya menentukan berhasil atau tidak seseorang. Merubah mindset bukan perkara mudah, butuh waktu untuk merubahnya karena melakukan sesuatu yang tidak biasa dilakukan itu sangat berat. Masih banyak guru yang menganggap pendekatan pembelajaran lama masih relevan, banyak siswa yang tidak mampu mengelola teknologi sehingga bertahan pada pola lama. Asumsi ini kurang tetap, mengingat generasi saat ini tidak lepas dari teknologi tinggal bagaimana kita mengarahkan kemampuan memanfaatkan teknologi. Semoga kondisi pademi saat ini, memudahkan merubah mindset setiap guru.

Kedua, Guru harus mampu beradaptasi dan Inovasi. Saat ini banyak program dari Kemendikbud misalanya program guru penggerak, guru belajar di musim pademi dan guru berbagi dengan sistem Pendidikan dan Latihan (diklat) dalam jaringan. Saya sendiri merasa banyak manfaat mengikuti program diatas. Dapat mengetahui dan memahami metode dan strategi pembelajaran daring. Ada berbagai media pembelajaran yang bisa digunakan, misalnya google slide, Jambroad, Quiziz, Kahoot, Slido, Seesaw, mentimeter dan lain sebagainya. Dengan berbagai media diatas, guru bisa berinovasi atau menemukan hal baru dalam pembelajaran dengan berbagai sumber pembelajaran yang ada, sehingga generasi millennial mendapat pembelajaran menarik dan menyenangkan. Peran guru harus lebih dari mengajar, tetapi juga mengelola belajar siswa. Guru perlu lebih fleksibel, kreatif, menarik, dan lebih menyenangkan bagi siswa. Apabila ini dilakukan kita termasuk sebagai guru pembelajar.

Ketiga, Guru tetap konsisten pembentuk karakter. Guru di Era revolusi industri 4.0 perannya tak akan tergantikan oleh teknologi. Peran guru tak tergantikan karena guru adalah pembentuk karakter anak didik melalui pendidikan budi pekerti, toleransi, dan nilai kebaikan. Namun demikian, guru perlu mengubah cara mengajar agar lebih menyenangkan dan menarik. Jadi peran guru tidak saja mahir dalam mengelola pemebelajaran, akan tetapi tetap motivator, inspirator, mentor, penguatan nilai-nilai karakter yang tidak dapat digantikan oleh teknologi.

Peringatan Hari Guru setiap tanggal 25 Nopember, menjadi momentum yang tetap untuk merevitalisasi peran guru di musim pademi dan Era Industri 4.0. Setiap guru bisa untuk muhasabah pada dirinya. Apakah sudah beradaptasi apa belum? Apakah sudah melakukan inovasi dalam pembelajaran? pertanyaan-pertanyaan ini menjadi renungan bersama sebagai insan pendidikan. Jika kita tidak mampu beradaptasi atau berinovasi, maka bisa digilas zaman, pada akhirnya peran guru sejatinya mati. Saat ini kita dihadapkan pilihan inovasi atau mati? Waallahulam bishowab…

*Sriyanto, M.Pd

SMP Al Hikmah Surabaya

Views All Time
Views All Time
27
Views Today
Views Today
1

1 COMMENT

LEAVE A REPLY