SAGUSAKU MENJADI SABU-SABU DAN RAGU-RAGU

0
109

Membaca kata SAGUSAKU dalam sebuah informasi pelatihan, saya dibuat penasaran. Saya ingin tahu apa sih SAGUSAKU itu? Lalu saya ketik kata itu untuk kemudian saya cari tahu artinya. Tapi, setiap kali saya ketik kata itu, di HP saya muncul kata SABU-SABU. Saya ulang ketik lagi, eeh…yang muncul malah kata RAGU-RAGU.Kucoba ulangi mengetiknya dengan perlahan. Akhirnya terketik dengan benar kata SAGUSAKU.

Setelah menelusuri dan berselancar ke berbagai laman di dunia maya, didapatlah informasi bahwa SAGUSAKU merupakan akronim bagi Satu Guru Satu Buku. Maksudnya, setiap satu guru dapat membuat atau menulis satu buah buku.

Semakin dibuat penasaran, pelatihan macam apa yg bisa sehebat ini. Bisa membekali pesertanya mampu menulis sebuah buku dalam dua hari pelatihan. Tidak hanya itu, pelatihan ini pun menawarkan desain sampul, tata letak, bahkan mencetaknya hingga mendapat ISBN. Subhanallah….!

Wow…., hebat sekali pikirku. Kapan lagi bisa membuat buku dengan desain bagus, dicetakkan, bahkan sampai mendapat ISBN. Saya harus ikut! Saya akan membuat buku. Saya  yakin saya bisa. Batinku bergolak. Ingin rasanya pelatihan itu segera terlaksana.
Segera saya mendaftarkan diri untuk mengikuti pelatihan ini.

Cukup lama menanti giliran. Terasa tidak sabar menunggu waktunya tiba. Saatnya tiba. Tanggal 8 dan 9 Maret 2017  pelatihan bagi peserta untuk wilayah DKI Jakarta.

Jreng…!!!, muncul grup WhatsApp JKT SAGUSAKU. Dan…, saya termasuk di dalam grup itu.
Tring…tring…, berhamburan percakapan itu muncul dari dalam grup itu. Wah, seru juga pikirku. Ada yang  menanyakan tempatnya di mana. Ada juga yang menanyakan seragamnya apa, siapa pembicaranya, menginap di mana, dan pertanyaan-pertanyaan lainnya yang tampak remehtemeh, tapi sebenarnya penting juga sih.

Saya pastikan ikut pelatihan ini. “Yah, nanti bisa nganter Bunda kan ke kampus STAN?” tanya istriku pada malam hari menjelang esoknya saya harus mengikuti pelatihan ini.
“Ayah besok mau ke Jakarta, mau ikut pelatihan”, jawabku tegas. Tampak raut muka kecewa istriku. Secepatnya saya hampiri istriku, kupeluk, lalu kubisikkan, “Ayah ga bisa nganter sampai ke kampus STAN, tapi bgmn klo kita berangkat bareng. Naik kereta saja. Nanti bunda turun di stasiun Jurang Mangu, Ayah langsung ke Kebayoran,”  rayuku. “Tapi, Bunda kan ga tahu daerah situ, Bunda ga berani”, terang istriku dengan raut muka yg masih cemberut. ” Ya sudah, nanti Ayah turun juga di stasiun Jurang Mangu dan antar Bunda keluar stasiun sampai Bunda dapat kendaraan yg mangantarkan ke kampus STAN. Setelah itu, ayah balik lagi ke stasiun, melanjutkan perjalanan ke stasiun Kebayoran,” terangku sambil merengkuh tubuh istriku ya lumayan subur.

Menjelang tidur, istriku mengingatkan, “Yah, bukannya besok kondangan ke Pa Agus?”

“Oh iya, tapi biarlah nanti ayah sampaikan maaf ke Pa Agus kalau ketemu,” terangku.

Pokoknya acara yang lain harus dikalahkan demi mengikuti pelatihan ini. Pokoknya Sabtu-Minggu , 8–9 April khusus untuk pelatihan, tekadku mantap.

Selanjutnya…, Nantikan Kisah di Pelatihan SAGUSAKU.

Pose Penulis di ruang pelatihan

Views All Time
Views All Time
197
Views Today
Views Today
1

LEAVE A REPLY