“Jadilah seperti bunga yg memberikan keharuman bahkan kepada tangan yg telah menghancurkannya..”- Ali bin Abi Thalib

Bagi sebagian orang mengutarakan isi hati tidak mudah dilakukan. Seorang pria yang jatuh cinta misalnya, akan sangat sulit baginya mengatakan isi hati pada pujaannya. Bunga dianggap universal  untuk mengatakan berbagai isi hati baik ungkapan suka maupun duka cita. Meskipun tidak selalu mudah untuk mengetahui apa yang harus dikatakan kepada orang yang telah kehilangan, bunga adalah ekspresi perhatian yang bisa membawa kenyamanan dan keindahan untuk belasungkawa.

Harga sebuah rangkaian bunga tidaklah murah. Ada yang mencapai jutaan rupiah. Namun demikian, harga bukanlah halangan untuk mengekspresikan isi hati. Pada peringatan hari guru, siswa-siswa banyak yang mengutarakan sayang mereka pada guru dengan rangkaian bunga yang indah.  Ucapan selamat menempuh hidup baru juga banyak diberikan pada acara resepsi pernikahan. Ungkapan kegembiraan selebrasi wisuda juga sekarang umum digunakan karangan bunga. Mengunjungi  orang sakit, dan menunjukkan duka cita atas kematian seseorang juga menggunakan bunga. Make your moment and keep your relationship, demikian salah satu motto toko bunga.

Tanggal 24 April yang lalu, warga ibu kota dikejutkan dengan hadirnya ribuan karangan bunga di Balai Kota. Jumlah papan atau karangan bunga untuk Ahok dan Djarot pada Selasa (2/5/2017) pagi mencapai 5.016 buah. Jumlah yang fantastis ini menyebabkan pendiri Museum Rekor Indonesia (Muri), Jaya Suprana memberikan piagam rekor “Parade Papan Bunga terpanjang” kepada Gubernur dan Wakil Gubernur DKI Jakarta, Basuki “Ahok” Tjahaja Purnama dan Djarot Saiful Hidayat.

Berbeda dengan MURI, Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) malah diminta menyelidiki ribuan karangan bunga kepada Gubernur DKI Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama (Ahok), yang dikirimkan ke balai kota. Pasalnya, kata Ketua Koalisi Rakyat Pemerhati Jakarta Baru (Katar), Sugiyanto, jumlahnya tidak wajar dan berpotensi masuk kategori gratifikasi serta suap. Sugiyanto (5/5) menyatakan :

“Pemberian ucapan berupa karangan bunga kepada Ahok dengan jumlah yang melebihi batas kewajaran itu, berpotensi dan dapat dikatagorikan gratifikasi serta suap, karena jika dikonvensikan dalam rupiah, jumlahnya mencapai miliaran…”

Sehingga, KPK harus mengusut dengan meminta data lengkap nama dan alamat pengirim bunga. Bila dianggap gratifikasi dan Ahok menolak melaporkan maka dapat diangap suap.

Demam karangan bunga tidak hanya terjadi di Jakarta. Di Surabaya, sejumlah karangan bunga dengan tema yang tidak jauh beda dengan yang ada di Jakarta juga terpantau di sejumlah lokasi. Rabu (3/5/2017) di beberapa perempatan jalan ada karangan bunga yang diletakkan di trotoar. Ungkapan yang tertera pada karangan bunga berisi ucapan untuk Ahok– Djarot dari warga Surabaya. Bahkan belakangan, sejumlah instansi turut dikirimi karangan bunga, termasuk Markas Besar POLRI dan Istana Kepresidenan.

Tradisi mengirim rangkaian bunga untuk menyatakan isi hati bukan berasal dari Indonesia, bukan pula dari Islam yang merupakan agama mayoritas penduduknya. Kehadiran buket bunga pada acara pernikahan, konon berasal dari Eropa.alah satu alasan seorang pengantin membawa karangan bunga adalah untuk menutupi bau badan, agar terlihat cantik dan wangi di hari yang spesial. Jika Anda pernah pergi ke salah satu kota tua di Eropa seperti Edinburgh misalnya, mandi merupakan kegiatan yang jarang sekali dilakukan sejak tahun 1600-an. Sehingga, menjadi sebuah tradisi bagi pengantin wanita untuk membawa karangan bunga di hari penikahannya. Bahkan pada era Victoria, pelamar yang melamar seorang gadis akan diberi jawaban lewat bunga. Tussie – mussie bouquet menjadi penentu apakah pelamar akan mendapatkan kebahagiaan dan penerimaan. Apabila tussie – mussie bouquet digerakkan ke bawah, maka terjadi tanda penolakan.

Islam sendiri melarang umatnya untuk meniru, mengikuti dan menyerupai tradisi, perilaku, sikap dan perbuatan non muslim. Perbuatan ini dikenal dengan istilah tasyabbuh. Dalam menyikapi kemenangan, Islam sendiri sudah memberikan tuntunan yang jelas seperti yang dilakukan Rasulullah SAW yaitu sujud syukur. Pada peristiwa duka, seperti kematian, seorang muslim fardlu kifayah untuk memandikan, mengkafankan, menshalatkan dan menguburkan. Bukan mengirim bunga.

Selain tasyabbuh, tradisi mengirimkan karangan bunga untuk berbagai kesempatan juga lebih banyak unsur mubazir atau berlebih-lebihan. Islam sendiri sangat melarang perilaku mubazir yang sangat dekat dengan perbuatan syetan.  Bila sang pengirim bunga untuk Ahok-Jarot mendonasikan uang belanja bunganya untuk membangun jembatan gantung yang rusak, tentu akan jauh lebih bermanfaat. Padahal untuk pembangunan jembatan gantung hanya dibutuhkan biaya belasan juta/m. Betapa banyak jembatan yang bisa dibangun dengan uang milyaran dan akan banyak orang yang terbantu, bukan?

Perjalanan karir orang-orang yang arif bijaksana ada dua jenis: pertama,  Ia yang baik dan dihormati oleh semua orang di dunia, layaknya ‘seperti sekuntum bunga yang selalu melambaikan mahkotanya’; Atau ke-dua Ia yang menghilang ke dalam hutan dan diam. ~LaoTzu

DAFTAR PUSTAKA

http://www.jawapos.com/read/2017/05/05/127912/kpk-didesak-usut-karangan-bunga-untuk-ahok-ini-alasannya

http://regional.kompas.com/read/2017/05/03/15021581/karangan.bunga.untuk.ahok-djarot.juga.sampai.surabaya

beritatrans.com/2016/10/22/10-jembatan-gantung-horor-buat-pelajar-di-indonesia/

Views All Time
Views All Time
111
Views Today
Views Today
1

LEAVE A REPLY